MY LOVELY, SAHARA

MY LOVELY, SAHARA
34. Otw bali



"Kamu duduk sama siapa? Jangan deket-deket sama si Nisa, apalagi berniat menciptakan kenangan bersama."


Cakra senyum-senyum sendiri dibuatnya, membaca pesan terakhir Sahara sebelum ia benar-benar masuk ke dalam bus dan tak akan bertemu dengan gadis itu dalam tiga hari ini.


Awalnya, Sahara ngambek akan tetapi ia sendiri juga yang memilih luluh, rasanya tak enak berjauhan dengan Cakra dalam keadaan tidak baik-baik saja. Mengendurkan ego, Sahara memilih mengirim pesan weha


untuk Cakra.


"Apaan senyam senyum gak jelas!" ledek Rival yang duduknya bersebelahan dengan Cakra.


"Biasa," cibir Arman yang duduk di belakang.


"Biasa, kesambet pesona neng Sahara!" kali ini Rio. Sontak bukannya Cakra menjawab, ia malah semakin melebarkan senyumnya.


"Kita mah apa attuh he, cuma nyamuk!" Rio dengan logatnya khas sunda.


Mengabaikan Arman dan Rio, Cakra lebih memilih bicara serius dengan Rival.


"Val, kayaknya aku gak bisa ambil beasiswa ke Jakarta sama kamu!" Cakra menghela napas pelan, ketidak setujuan Lendra memang benar adanya. Apalagi ia, papa dan mamanya baru kehilangan kakek dan nenek.


Waktu memang bergulir cepat, bahkan mungkin papanya sudah bisa menutupi sedihnya lagi. Tapi perpisahan terakhir dengan orang tua meninggalkan trauma bagi kedua orang tuanya untuk melepas Cakra pergi. Bukan egois, tapi lebih ke sayang. Apalagi Cakra anak satu-satunya.


"Kenapa? Karena Sahara?" tanya Rival.


"Bukan!"


"Bilang aja karena Sahara, kamu gak jadi ambil beasiswa karena gak mau jauh sama Sahara kan?" Rival terlihat kecewa, ia tak tahu kalau dua minggu yang lalu Cakra kehilangan kakek neneknya sekaligus.


"Ini gak ada kaitannya sama Sahara!" tegas Cakra.


"Terus? Gak mungkin lo berubah fikiran kalau bukan karena Sahara. Pasti dia gak bolehin lo pergi karena ada Nisa, kita bakalan satu kampus sama Nisa." Bahkan sekarang Rival sudah menggunakan lo gue ke Cakra.


Penjelasan Cakra tentu tak membuat Rival puas. Ia tetap kecewa, dan berfikir kalau ini semua karena Sahara.


"Lo lebih banyak waktu ke Sahara dibanding sama temen-temen lo," sindir Rival.


Arman dan Rio memilih diam di belakang dengan tangan saling sikut kode kode pergerakan.


"Lo salah kalau mikir gitu, justru gue sama sekali gak ada waktu buat Sahara akhir-akhir ini. Adil gak sih lo nyalahin dia atas apa yang jadi keputusan gue?" tanya balik Cakra. Perjalanan jauh itu terasa membosankan dengan perdebatan mereka.


"Akhir-akhir ini gue emang lebih banyak waktu di rumah nemenin bokap. Apalagi kakek nenek gue udah gak ada, bokap kaya kehilangan dunianya lagi. Dan keputusan final gue itu karena, ya karena kedua orang tua gue. Gue tahu, cita-cita itu penting men. Ada opsi kedua selain di Jakarta, toh kampus-kampus sini gak kalah keren."


"Sorry, gue gak tau kalau,--" Rival menyesal terbawa emosi, ia pikir sahabatnya sudah berubah karena seorang yang baru hadir, yaitu Sahara.


"It's oke. Gak apa-apa. Lo sama Sahara itu support system gue, jadi gue gak mungkin jadiin salah satunya alasan buat berhenti raih mimpi. Tapi sekali lagi gue minta maaf Val, impian kita buat satu kampus gak terlaksana." sesal Cakra.


Rival mengangguk berat, "ya, gue ngerti. Kapan-kapan gue ke rumah lo, belakangan gue juga sibuk jadi sorry, gue sampai gak tau soal Oma sama Opa yang udah berpulang."


"Cieee akur lagi..." Arman melongokkan kepala.


"Nih makan-makan. Biar gak tegang," seloroh Rio sambil menyodorkan sekantong kresek camilan indo april.


***


Dear Sahara,


Saat kapal ini mulai berlabuh aku berharap kelak bisa mengulangnya bersamamu.


Cakra.