MY LOVELY, SAHARA

MY LOVELY, SAHARA
14. Assalamu'alaikum Semarang



Seminggu sudah waktu yang ditentukan oleh Sagara. Kini, Sahara sudah siap dengan ransel besar berisi barang-barang berharga miliknya. Lendra tak dapat ikut karena meminta cuti kerja. Beberapa hari yang lalu ia resmi berpisah dengan Kinanti.


"Hati-hati, jaga diri baik-baik dan jangan lupakan sholat. Sahara sering-seringlah main kesini," pesan Arimbi.


Sahara mengangguk, ia kembali memeluk ibu panti itu dengan haru.


Wahyu lebih banyak diam, sementara mendung terlihat di wajah Nana dan Syla. Mereka yang paling dekat dengan Sahara di panti.


"Kak... Jangan tinggalin Syila."


Sahara memeluk Nana dan Syla, lalu Wahyu ikut nyempil karena tak ingin melewatkan perpisahannya dengan Sahara.


Mbak Asih mengusap air matanya, tak kuasa.


"Sahara..."


Sahara beralih ke Mbak Asih, "jangan lupain kami."


"Ar, aku dan Sahara pamit. Assalamu'alaikum," seru Sagara.


Hingga lambaian tangan dan senyum dibalik jendela menjadi pamitan terakhir mereka bersama mobil SUV yang semakin jauh.


Selamat jalan Ambarawa.


"Papa minta maaf, sudah misahin kamu sama mereka. Tapi, kapanpun kamu mau kesana papa siap mengantar," seru Sagara.


"Iya, Pa."


Sahara lebih banyak diam, ia bahkan belum sempat pamit pada Sinta dan Rian, dua sahabat koplaknya.


Mungkin mereka akan tahu kabar perginya dari Devon saat masuk nanti. Sementara kepindahannya sudah diurus kemarin.


***


Sampailah mereka di kediaman Sagara. Kediaman besar dua lantai bercat putih dan abu itu menarik perhatian Sahara.


"Rumah Papa besar," gumamnya pelan.


"Ya, tapi sejujurnya Papa takut kamu enggak betah. Ayo turun," ajaknya.


Kedatangan mereka langsung disambut beberapa pelayan.


"Liam, kenalkan dia Sahara anak saya. Mulai sekarang, kamu urus semua kebutuhannya," seru Sagara.


"Assalamu'alaikum," sapa Sahara.


"Waalaikumsalam," jawab mereka sambil tersenyum.


"Mari, biar tasnya bibi yang bawa," tawar Liam.


Sahara dan papanya masuk setelah menyerahkan tas dan perlengkapannya pada bi Liam. Rumah dua lantai itu jauh lebih besar dalamnya hingga Sahara hanya bisa berdecak kagum dalam hati.


"Duduk dulu sini," ajak Sagara menepuk sofa sebelahnya.


Namun, pandangan mata Sahara terfokus pada foto-foto wedding menggantung di dinding dengan ukuran lumayan besar.


"Papa tinggal sendiri?" tanya Sahara.


"Enggak."


"Terus sama?"


"Sama kamu Sahara," godanya. Seorang Sagara bisa mencairkan suasana kaku di sekitarnya? Hey, itu hanya berlaku buat si princess Sahara.


"Sampai," ujar Sagara membuka sebuah pintu kamar. Pandangan pertama Sahara langsung dibuat takjub, bagaimana bisa papanya menyiapkan kamar dengan nuansa pinky-pinky seperti ini.


"Kok papa tahu warna favorit aku?" tanya Sahara.


"Gak jauh beda sama mama kamu, maaf ya sudah buat kamu menderita cukup lama di luaran sana." Sagara kembali memeluk putrinya.


"Gak apa-apa, Pa. Setidaknya aku ketemu Bu Arimbi, Mbak Asih, Wahyu, Nana dan yang lain. Mereka semua sayang sama aku," ujarnya.


"Papa bangga sama kamu. Ayo masuk."


Sahara masuk, ia mendudukkan tubuhnya di ranjang. Empuk, batin Sahara.


Dibandingkan dengan ranjang kecil di panti, dimana sekamar dihuni berempat, ini luar biasa. Ingin bereuforia, tapi ia masih malu-malu sama papanya. Akhirnya Sahara hanya bisa mode kalem sementara waktu.


Malam itu, Sahara sudah rapi dengan outfitnya. Hari ini Sagara akan mengajaknya keluar jalan-jalan.


"Mau makan apa hari ini?" tanya Sagara menyambut putrinya.


"Makan? Enggak makan di rumah, Pa?" tanyanya.


"Terkhusus hari ini pengen ngajak anak papa kencan," kelakarnya disambut senyum Sahara.


"Masa kencan sama bapak-bapak, hehe."


"Jangan salah, biar bapak gini gak kalah keren dari Devon."


"Iya-iya, Papa paling keren deh. Tapi Om Lendra juga keren," pujinya.


"Dih mana boleh muji papa lain," cebik Sagara membuat Sahara langsung tertawa.


Semarang malam itu lumayan ramai, apalagi Sagara mengajak putrinya jelajah kota tua.


Selain menjadi tempat nongkrong, swafoto yang estetic, disana juga terdapat aneka ragam kuliner khas Semarang.


Baru juga menjejaki sehari, rasanya Sahara sudah tak sabar mengenal Semarang lebih dekat lagi.


"Cakra, aku ada di Semarang lho, kita dekat!" batin Sahara. Ia memang masih bertukar pesan dengan Cakra tapi masih belum memberitahu pemuda itu dimana keberadaannya.


Puas berkeliling dan banyak cerita, mereka sempatkan mampir untuk makan.


Hingga pukul sembilan lebih memutuskan pulang karena jalan sudah mulai sepi, tak seperti di Ibu kota yang selalu non stop ramai.


"Assalamu'alaikum Semarang," pekik Sahara dalam hati.