MY LOVELY, SAHARA

MY LOVELY, SAHARA
Bab 7 - Kala Cinta menggoda



Patah hatinya anak laki-laki adalah, saat melihat wanita yang telah melahirkannya disakiti...


"Kamu sudah ikhlas kan kalau Mama sama Papa pisah?" tanya Kinanti.


Meski berat, menjalani pernikahan yang sehat juga bukan opsi terbaik. Apalagi makin kesini Lendra semakin tak punya hati. Dan Kinanti khawatir Cakra akan semakin melihat sisi buruk Papanya.


Cakra mengangguk, "kalau mama bahagia dengan perpisahan kenapa tidak? Jangan mikirin aku, Ma! Aku sudah delapan belas tahun sudah cukup mengerti permasalahan pelik Mama dan Papa!"


Namun, definisi nggak apa-apa, hanya berlaku di hadapan Kinanti. Di belakangnya, Cakra merasa hancur, apalagi hubungannya dengan Lendra semakin buruk karena kejadian beberapa waktu lalu. Andai membunuh bukanlah sesuatu yang berdosa atau sesuatu yang akan dijerat hukum mungkin Cakra akan menghabisi wanita yang sudah merebut Papanya.


***


"Areta ini semua kamu yang masak?" tanya Lendra dengan mata berbinar.


"Bukanlah Mas, ada pembantu kenapa aku harus repot-repot," serunya seraya sibuk mengurus kuku-kuku yang habis ia meni pedi di salon.


"Terus seharian ini kamu ngapain?" tanyanya terduduk sambil memijat pelimpis.


"Di caffe juga gak ada," sambung Lendra lagi.


"Hm, tadi aku nyalon. Ngerawat diri, oh ya satu lagi Mas. Uang cass yang kamu kasih tadi pagi aku pakai buat nyalon, sudah habis" seru Areta cuek.


Padahal pagi tadi Lendra memberinya satu juta lebih dan itu habis sekejap hanya untuk nyalon.


Terduduk lemas, ia yang terbiasa makan masakan Kinanti merasa kelu. Bukan manja, tapi memang untuk urusan perut, Lendra termanjakan oleh Kinanti.


"Mas, motor anak kamu itu mau diambil apa enggak? Kalau nggak, di jual juga lumayan," ujar Areta melihat motor gede hanya nganggur di bagasi tanpa pergerakan.


"Kamu tuh ya?" Lendra mengepalkan tangan di udara. Ia baru membawa Areta dua hari di rumah tapi wanita itu sudah berhasil membuat darahnya mendidih.


Mendadak kepalanya pening disertai mata kunang-kunang karena memikirkan Kinanti, bukankah selama ini wanita itu sudah sangat baik menjadi istrinya.


Lendra kembali meraih kunci mobil dan keluar rumah, tentu tanpa Areta. Sontak wanita itu kesal bukan main karena Lendra pergi begitu saja.


Menyusuri malam kelam yang semakin pekat, Lendra melajukan mobilnya tanpa arah. Kesal dengan keputusannya sendiri. Lendra merogoh ponselnya menghubungi Cakra.


"Hallo," suara berat khas di seberang mengangkat telpon.


"C-Cakra," panggil Lendra.


"Papa?" Cakra mengernyit, untuk memastikan si pemanggil. Apakah penglihatannya salah atau tidak.


"Ya, ini Papa."


"Ada apa?" tanya Cakra.


"Kamu dan Mama dimana? dimana kalian tinggal, Papa,--" suara Lendra terdengar lirih dan menyedihkan. Dia menyesal telah menyia-nyiakan Kinanti dan Cakra, sesingkat itu Tuhan membolak-balikkan hatinya.


Cakra yang semula tiduran di kamar pun terduduk.


"Mau apa?"


"Papa mau memperbaiki semuanya, semuanya Cakra!"


"Sepertinya sudah terlambat, Pa! Tadi pagi mama mengajukan berkas cerai ke pengadilan." Cakra menghela napas, andai dan andai yang dikatakan Papanya saat ini benar adanya.


Mau memperbaiki semuanya, mungkin Cakra-lah orang yang paling bahagia.


"Buktikan aja kalau gitu," seru Cakra. Terdengar helaan napas panjang di seberang tak lain adalah Lendra.


"Terus, bukankah baru tadi siang Papa memintaku memohon? Kenapa sekarang kebalikannya?" tanya Cakra.


Lendra semakin terdiam, "Oke maaf,"


Selepas Lendra menutup telepon, Cakra menghampiri mamanya yang ternyata masih duduk di sofa ruang tengah seorang diri.


"Ma, mikirin apa?" tanya Cakra. Sebab Kinanti terus memijat pelipisnya.


"Lagi mikirin Sahara sama Om Sagara," ujar Kinanti terus terang.


"Kenapa? Mama cinta sama Om Sagara?" pertanyaan Cakra membuat Kinanti membulat sempurna.


"E-enggak lah, mama sudah tua Cakra!"


"Jadi kalau masih muda iya, Ma?"


Kinanti menggeleng, "kita cuma masalalu."


"Kalau Papa nyesel dan mau balik sama mama lagi gimana?"


Kinanti mengernyit, "gak mungkin."


"Mungkin saja! Barusan Papa sendiri yang bilang ke aku," gumam Cakra.


"Papa nelpon aku, dia bilang nyesel dan pengen minta maaf ke mama. Ma, nggak ada anak yang pengen orang tuanya pisah, rumahnya hancur berantakan. Tapi kalau misal kesalahan Papa tak termaafkan, keputusan juga ada di mama."


"Mama cuma mikirin kebahagiaan kamu, itu saja."


"Aku sudah cukup bahagia melihat mama bahagia." Cakra tersenyum, meski berat pilihan tetap ada di tangan mamanya.


Kinanti mengalihkan pembicaraan, mungkin bisa saja ia memaafkan Lendra. Namun, untuk kembali apakah itu adil? Bagaimana kalau suaminya itu sudah pernah tidur dengan ja langnya. Kinanti tak bisa membayangkan hal itu, memikirkannya tiap Lendra mendekat kalau semisal mereka kembali.


"Kamu fokus aja sekolah, mama istirahat dulu." Kinanti mengusap lembut pundak putranya.


***


Hari berganti hari, bulan berlalu. Sahara tak pernah mendapati Cakra datang lagi. Malam ia selalu termenung di depan panti menunggu. Barangkali, pria itu tiba-tiba datang, barangkali saja.


"Semoga saja kamu ada rezeki agar bisa datang lagi kesini," doa Sahara.


Tiba-tiba sebuah mobil jazzy masuk ke dalam pekarangan panti. Sahara sempat mengernyit, akan tetapi melihat plat yang masih satu area dengannya membuat Sahara menepis bahwa itu Cakra.


"Hey girl," Sinta melongokkan kepala, tersenyum sumringah melihat Sahara dari kaca mobil.


"Huft, kirain!" Sahara meringis. Namun, ia tetap menyambut Rian dan Sinta lalu mempersilahkan mereka masuk.


"Aku izin Ibu dulu ya," ujar Sahara.


Hari ini, salah siswa terganteng di sekolah ulang tahun. Awalnya Sahara ragu untuk ikut, akan tetapi Sinta dan Rian terus memohon mengingat ini semua atas permintaan Devon si pemilik acara.


"Ah, tapi aku gak ada baju yang pantes?" keluhnya setelah mendapatkan izin dari Arimbi.


"Pake baju gue, udah langsung aja nanti biar gue yang make over. Lagian wajah lo udah cantik dari orok."


"Hm..."