
Pertemuan Lendra dan Sahara berkesan baik, bahkan Papanya Cakra itu juga mengantar Sahara sampai ke depan sekolah setelah membawa lukanya ke klinik terdekat. Dengan perban membalut lutut, ia turun dari mobil.
"Makasih, Om!" serunya dengan senyum lebar.
"Sama-sama, hati-hati ya? Kalau kamu nggak keberatan, nanti om jemput lagi dan ini kartu nama Om," seru Lendra.
"Gak usah, Om. Nanti malah ngrepotin, ada temen-temen Bintang disini juga nanti bisa nganterin pulang." Sahara meraih selembar kartu nama itu dan memasukkannya ke dalam saku tanpa membacanya lebih dulu.
Lendra mengangguk, lantas melambaikan tangannya sebelum benar-benar pergi.
"Siapa tuh Sahara?" tanya Sinta, apalagi ia sempat mendengar sahabatnya itu mengaku sebagai Bintang. Seorang Sahara, pertama kalinya memakai nama Bintang?
"Tadi gak sengaja nabrak, baik banget. Sampai nganterin ke klinik segala. Nih!" tunjuk Sahara pada lututnya.
"Ya ampun Baby, itu kenapa?"
"Udah ah, gak apa-apa ini. Yuk ke kelas." Sahara menggandeng Sinta, melewati lapangan juga koridor kelas lain.
Devon yang melihat kaki Sahara terluka lantas menghampiri gadis itu dan menyamai langkahnya menuju kelas.
"Kamu kenapa?" tanya Devon khawatir.
"Habis jatuh tadi di jalan," jawabnya.
"Cie perhatian banget," ledek Sinta.
"Bukan ayang aja udah perhatian apalagi kalau udah jadi ayang. Nganan gue," sambungnya lagi membuat Devon tersenyum. Namun, tidak dengan Sahara. Terus terang, ia risih dijodoh-jodohkan. Sinta dan Rian tak tahu kalau saat ini ada cowok yang lebih dekat dengan Sahara selain Devon.
**
Jam istirahat, Sahara memilih menyendiri di perpustakaan. Membaca buku atau sekedar mencari buku dan meminjamnya untuk dibawa pulang. Perpustakaan adalah tempat persembunyian terbaiknya karena tempat itu tak pernah dijangkau Devon pun Sinta dan Rian. Sahara akan aman berada disana sendiri, di tempat paling sudut. Sahara mengeluarkan kartu nama dari sakunya.
"Pak Lendra? Kok Lendra sih? Bukannya jelas-jelas ibu bilang namanya Sagara. Aku juga inget plat mobilnya sama," gerutu Sahara.
"Manager?" serunya sekali lagi membaca dengan seksama.
Sahara lantas kembali menyimpan kartu nama itu, barangkali suatu saat nanti berguna.
Saat pulang sekolah, ia keluar gerbang. Niat hati ingin menebeng Sinta tapi gadis itu akan pergi bersama Rian. Alhasil Sahara hanya bisa menunggu angkutan umum di depan sekolah.
"Mau bareng?" tawar Devon.
"Boleh..." Sahara terpaksa ikut mengingat sedari tadi belum ada satupun angkutan umum yang lewat.
"Bisa naik nggak? Pelan-pelan kaki kamu sakit," seru Devon.
Sahara akhirnya naik ke boncengan Devon meski kepayahan.
"Udah!" Seru Sahara.
"Oke, jangan lupa pegangan."
Sahara mengangguk, akan tetapi bukan berpegangan pada pinggang Devon tapi malah berpegangan pada belakang jok.
"Kita mau kemana?" tanya Sahara saat melihat jalan yang dilalui bukan ke arah pantinya.
"Yaudah gak apa-apa."
Devon menghentikan motornya di depan butik milik mamanya.
Melepas helm lantas turun, "ikut masuk yuk?" ajaknya.
"Aku disini aja deh, gak enak."
"Gak apa-apa, Mama aku nggak galak kok!" Devon meminta Sahara turun dan menggandengnya masuk ke dalam butik.
Pemandangan pertama, ia melihat wanita paruh baya dan seorang pria berjass duduk disofa tunggu.
Deg.
Almira menyambut Devon dan memintanya masuk. Akan tetapi saat matanya bertemu dengan Sahara malah berteriak.
"Gara..." pekiknya.
Hal pertama, Almira memegangi bahu Sahara, bahkan meraba wajah gadis itu.
Sagara bangkit, ia mendekati Almira. Namun, matanya masih belum melihat keberadaan Sahara disana.
"Gara, mirip sama kamu ya?"
Sagara menoleh dan membeku di tempat, benar-benar mirip.
Sama dengan Sahara, ia juga menatap Sagara tanpa kedip.
"Lho apa maksudnya, Ma?" tanya Devon tak mengerti.
"Ayo kita bicara di dalam," ajak Almira dan Sagara.
Mereka kini duduk sofa ruang kerja Almira.
"Siapa namamu, nak?" tanya Sagara.
"Apa benar nama Om adalah Sagara?" bukan menjawab Sahara malah langsung bertanya untuk memastikannya sendiri.
"Ya, itu benar." Mata Sagara berkaca-kaca, binar bahagia tercetak jelas di wajahnya.
"Siapa nama kamu?"
"Sahara, Om. Bintang Sahara," serunya.
"Von, ikut mama sebentar!" ajak Almira. Ia ingin memberi adiknya dan gadis itu ruang untuk bicara.
Devon mengangguk, batinnya mendadak cemas. Gimana kalau sebenarnya Sahara itu adalah anak Om-nya? Pupus sudah cinta untuk Sahara sebelum berkembang. Susah-susah berusaha cari celah, malah tau-tau jadi saudara, kan gak lucu.
"Ma, jangan bilang---"
"Sepertinya," seru Almira melirik ke dalam. Dimana Sahara dan Sagara saling tatap dan bicara.