
Jejak digital memang mudah untuk dikenali, apalagi untuk Cakra yang notabenenya anak Semarang. Ia sering keluar nongkrong bersama Rival dimana-mana. Namun, beberapa hari ini lebih sibuk diam di rumah, banyak merenung, atau pura-pura sibuk dengan membantu Kinanti mengantar pesanan.
Potret Sahara di kota tua menjadi puncak dari buyarnya fokus Cakra. Sahara di kota tua? Sahara di Semarang? Kenapa gadis itu tak memberitahu sama sekali, pikirnya.
"Bisa minta tolong?" pesan Sahara.
Baru saja Cakra ming kem mendumel karena keberadaan Sahara yang tak mengabarinya. Panjang umur, di minggu pagi gadis itu mengabarinya di jam segini, yang menurut Cakra cukup uwahh karena masih di jam orang-orang molor karena libur tiba.
"Ya, Dek?" Ih Dek, pasti meleleh itu anak orang, pikir Cakra. Karena gak ada angin, hujan bledek ia memanggil Sahara dengan kata keramat yang selama ini berusaha Cakra tahan.
"Jemput aku di Simpang lima," balas Sahara.
Awalnya ia ingin memberi kejutan Cakra di sekolah barunya besok. Namun, sepertinya Sahara benar-benar gabut tak memiliki teman di Semarang. Alhasil, pagi buta tadi ia meminta izin pada Sagara untuk keluar jalan-jalan.
Mata Cakra membola demi mendengar balasan Sahara, sudah ia duga jikalau gadis itu ada di Semarang entah bagaimana ceritanya.
"Tunggu! Aku akan segera sampai," pesan Cakra.
Padahal yang terjadi, ia masih menyampirkan handuknya di bahu belum mandi.
"Tumben, mau kemana Cakra?" tanya Kinanti.
Cakra mesam mesem manis, "ketemu bidadari, Ma."
"Mana ada bidadari, ngaco kamu!"
"Ini bidadarinya di depanku, lagi ngomong." Sebelum kena damprat Kinanti, ia lebih dulu masuk kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur.
"Dasar, udah pintar-pintar gombal kamu," gerutu Kinanti.
Cakra hanya terkekeh sebagai jawaban. Bersyukur, ia bisa membuat mamanya kembali senyum dengan tingkah konyolnya.
"Cak, mau pakai mobil atau motor?" tanya Kinanti.
"Motor, Ma!"
Cakra harus bersyukur karena papanya mengantar motor gedenya ke kontrakan.
"Ya sudah, mama pergi bawa mobil. Kamu hati-hati," pesan Kinanti.
Cakra sudah siap dengan outfit-nya, jaket jeans hitam, kaos putih, celana chinos coklat dan sepatu putih. Mengendarai motornya ia menuju Simpang lima.
Turun dari motor, membuka helm ia celingukan mencari keberadaan Sahara.
"Cakra, Hey!"
Cakra menoleh, dan benar seorang gadis cantik melambaikan tangan ke arahnya.
"Sahara bukan sih?" batin Cakra ragu sebab gadis itu tampak berbeda sekali penampilannya. Bukan menghampiri, Cakra malah terbengong di tempat demi memastikan dugaannya salah.
"Hey, ish... Nyebelin kok malah bengong," dumel Sahara. Dengan menghentakkan kaki menghampiri Cakra dan memukul lengannya.
"Bengong, aku beneran Sahara tau."
"Siapa yang jadian, janjian ish..."
"Iya janjian dan jadian dek, cantik banget. Kamu kok bisa sampai Semarang?"
"Ada deh, sekarang boncengin aku jalan-jalan," serunya langsung naik.
"Eh!"
"Kenapa? Keberatan?" Sahara mencebik.
"Enggak, dek! Yaudah naik," serunya langsung diangguki Sahara. Ia naik ke boncengan Cakra segera.
"Kemana kita?" tanya Cakra.
"Keliling Semarang, aku nggak mau ntar kalau sudah jadi warga sini nyasar kemana-mana," serunya mantap. Mendengar itu sontak Cakra mengerutkan alisnya, akan tetapi melihat tak ada senyum jail di wajah Sahara ia pikir gadis itu sedang bicara serius.
"Cakra ih, dengerin enggak!"
"Denger dek."
Motor gede merah melaju keliling jalanan Semarang di pagi hari. Cakra tak membiarkan Sahara duduk begitu saja, ia tarik tangan mungil itu agar berpegangan pada pinggangnya.
"Sejak dari kapan di Semarang? Aku lihat foto-foto kamu...?" tanya Cakra. Ia menghentikan motornya di dekat pantai Mari na.
Semilir angin pagi menyapa mereka, menerbangkan rambut panjang Sahara yang tergerai hingga berantakan.
"Seminggu-an sebenarnya."
Cakra terkejut, tapi sudah menduga apalagi saat Sahara bilang ingin bertemu.
"Kok gak ngasih tau?"
"Ini udah aku kasih tahu, Cakra kamu tahu nggak kalau,---"
"Enggak!" balas Cakra membuat Sahara menekuk wajahnya. Kok sekarang ia yang jadi ngambekan sih, bukannya dari awal dia yang gak bisa balas perasaan Cakra.
"Aku mau ngomong, kamu tahu nggak kalau sekarang aku tinggal di Semarang!"
Cakra semakin mengenyit, "tinggal?"
Sahara mengangguk antusias, tapi untuk mengatakan kalau mereka akan satu sekolah masih urung.
"Eh mau es krim deh, ada yang jual tuh tuh!" tunjuk Sahara pada seseabang yang mangkal agak jauh dari mereka berada.
"Tunggu disini, aku beliin sebentar."
Belum sempat menjawab, Cakra sudah berjalan ke arah sana membeli es krim.
Suasana pagi masih tampak sepi, hanya beberapa orang yang sedang menikmati keindahan laut utara Semarang.
Marina tak seperti pantai sungguhan, tak ada bibir pantai berupa pasir putih atau hitam. Hanya ada bebatuan yang menghiasi sisi-sisinya. Namun, udara yang sejuk sangat cocok bagi kawula muda sekedar nongkrong atau berfoto di area sana.