
Arume kembang, mekar ing wayah sore
(Harumnya bunga mekar di sore hari)
Arum ambune, isih biso tak rasakne
(Harum baunya masih bisa kurasakan)
Nanging nanging, nanging arume rambutmu
(Tapi, tapi, tapi harumnya rambutmu)
Amung biso tak bayangne,
(Hanya bisa kubayangkan)
Mergo kowe ra ning kene
(karena kamu tak di sini)
Simpang Lima ninggal Janji~
***
Cakra mengusap wajahnya kasar, disaat pergi motoran dengan Rival kenapa pikirannya malah pada Sahara, inget Sahara dan terus Sahara? Apalagi saat gadis itu memberinya kabar akan ke Ambarawa dan menginap disana. Perasaan Cakra mendadak takut, gimana kalau Sahara kecantol cowok keren disana. Ada banyak teman-teman Sahara mengingat beberapa waktu Cakra sempat melihatnya datang ke Semarang.
Perasaan overthingkingnya semakin menjadi kala melihat story sang pujaan tengah qtime bersama para sahabat. Bukan reuni, malah terkesan dobel date karena mereka berempat, cowok dua dan cewek dua.
Mendadak ada yang panas tapi bukan api, Cakra tipe pemuda yang realistis, selalu menggunakan logika meski pada dasarnya bucin level tinggi pada Sahara.
"Jangan-jangan Om Sagara mewarning Sahara agar tak lagi dekat-dekat dengannya," pikir Cakra.
"Mikirin apa?" seru Rival. Ia malah menyodorkan satu bungkus rokok ke hadapan Cakra, "cobain, udah gede kan!"
Cakra baru tahu kalau Rival merokok, perasaan ia sering menginap di rumahnya pun belum pernah melihat Rival merokok, apa memang dasar Cakra yang belum tahu?
"Sejak kapan kamu ngerokok?" tanya Cakra memicing. Bukan meraih atau paling tidak mengambil barang sebatang, Cakra malah mengembalikannya di hadapan Rival.
"Enak kali, bikin plong kalau ada masalah. Dari pada minum mending ini," Seloroh Rival dengan jawaban melenceng dari pertanyaan Cakra.
"Aku sayang banget sama Sahara, tapi tembok kita besar. Ada hubungan rumit orang tua diantara kita." Cakra mende sah pelan. Kemudian memutuskan melakukan persis yang Rival lakukan, menghisap rokok.
"Kau kira tembok lapangan, heh!"
"Ya anggap aja gitu, betewe udah mulai menggelap. Kita cari tempat nongkrong yang lebih keren kuy, nggak di pinggir jalan gini kaya jomblo ngenes!" ajak Rival akhirnya diangguki Cakra.
Lalu mereka ke caffe shop terdekat buat ngopi keren layaknya yang dilakukan pemuda jomblo di malam minggu. Nongkrong-nongkrong, dengerin musik di caffe sambil ngopi dan cari inspirasi.
"Mau pesen apa?"
"Cappucino latte." Jawab Cakra diangguki Rival. Tak berselang lama kembali bergabung dengan Cakra setelah memastikan pesanan mereka akan datang dalam beberapa menit.
"Enak kali ya nyanyi gitu, nongkrongnya dapet duitnya dapet!" seloroh Cakra.
Dia memang hobi nyanyi tapi sejauh ini hanya sebatas konser di kamar mandi. Bukan di muka umum seperti musisi lokal yang saat ini bernyanyi lagunya pamungkas, to the bone di depan sana. Musik yang mengalun membuat Cakra melupakan Sahara barang sejenak. Bukan, bukan melupakan lebih tepatnya berhenti memikirkan. Mana mungkin Cakra bisa melupakan Sahara si bintang di hatinya.
"Kayaknya aku ada ide buat nyari kerja part time deh!" seru Cakra menemukan ide.
Rival menggeleng tak setuju, "emang uang jajan kamu kurang?"
"Ya enggak, seenggaknya aku bisa nyenengin Sahara pake uang aku sendiri."
Rival terdiam, bagi dia yang belum pernah merasakan benar-benar jatuh cinta menganggap pikiran Cakra itu terlalu jauh.
"Kita ini masih kelas tiga SMA, Cak! Kayaknya lebih cocok mikir nilai ujian nanti dari pada cinta-cintaan. Ya aku sadar sih sayang kamu ke Sahara itu nggak biasa, tapi minimal kalau kamu mau bahagiain dia, pantesin diri dulu! suksesin diri dulu."
"Dan kamu benar, realitanya aku sayang Sahara tapi juga nggak mau terburu-buru! Untuk bahagiain dia paling tidak aku harus berguna buat orang tuaku dulu."
"Nih, ada kuota beasiswa kuliah di Jakarta kalau nilai ujian kita masuk 5 besar." Rival menunjukkan informasi di ponselnya pada Cakra.
Hari ini ia berhasil membuka pikiran Cakra lebih luas lagi, tak melulu soal percintaan tapi juga soal cita-cita dan masa depan.
"Tapi Sahara..."
"Realistis saja, Sahara gak akan kemana-mana kalau dia jodoh kamu Cak! Masa depan itu penting loh, apalagi kamu mau bersanding dengan Sahara yang notabenenya anak pembisnis. Minimal kalau kamu belum bisa punya perusahaan, harus punya ilmu managemen bisnis yang mumpuni."
Dan lagi-lagi Cakra tertohok oleh ucapan sahabatnya.
"Kalau kita masuk lima besar, kamu mau gak ambil beasiswa ke Jakarta sama aku?" Rival menaikkan alisnya. Ia sama Cakra memang sebelas dua belas, sama sama encer otaknya.
"Bismillah aja!" Meski terkesan berat, ia tetap mengamini ucapan Rival. Perkara Sahara, mungkin benar kalau memang gadis itu jodohnya pasti akan berakhir bersama.