
Sabtu sore, Sahara mengajak papanya ke panti. Sudah sejak pertama pergi ia belum lagi kesana. Sahara rindu Ibu Arimbi, Mbak Asih, wahyu, Nana dan lainnya. Selain karena papanya sibuk dan janji yang diucap akan sering mengajaknya ke panti belum terealisasi. Sedikit memaksa, Sagara akhirnya meluangkan waktu ke Ambarawa bersama putri tercinta.
"Papa kenapa sih, akhir-akhir ini cuek banget sama Cakra!" jauh dari tujuan pergi, Sahara malah mengintimidasi papanya soal sikap cuek Sagara ke Cakra.
"Bukan apa-apa sayang," jawab Sagara singkat.
"Yakin, gak ada masalah lain. Atau ini ada kaitannya dengan om Lendra? Tante Kinanti?" tebak Sahara menerka-nerka.
Sebenarnya, Sahara hanya ingin semua berjalan semestinya. Apalagi dua minggu lagi Cakra akan menjalani ujian akhir yang artinya Cakra akan lulus dan mereka kembali jarang bertemu.
"Tidak ada." Lagi dan lagi Saga menjawab singkat pertanyaan putrinya. Namun, bagi Sahara itu adalah jawaban ambigu. Akhir-akhir ini, Sahara tau informasi penting kalau Papanya berusaha mendekati mamanya Cakra berujung gagal karena mendadak papa dan mama Cakra memutuskan rujuk kembali.
Ada rasa tak rela dalam hati Sahara kalau sampai papanya menikah lagi. Sahara baru bertemu dengan Sagara dan rasanya ia tak siap akan perubahan sebuah hubungan. Apalagi itu mamanya Cakra, mertua idamannya! Oh no, Sahara tidak rela ia dan Cakra berakhir menjadi saudara tiri.
Sudah cukup gadis-gadis di sekolah membuatnya pusing, Sahara tak ingin hubungan papanya dan kedua orang tua Cakra semakin rumit.
"Papa suka sama tante Kinan?" tanya Sahara tiba-tiba.
"Kamu kan tahu kalau papa nggak berniat menikah lagi," jelas Sagara bertolak belakang dengan apa yang terjadi. Bahkan Lendra sampai rela resign dan memilih membuka usaha bersama Kinanti, menjalani hidup sederhananya bersama wanita yang dicintai lebih baik dari pada harus berada di bawah tekanan Sagara.
"Tapi kenyataannya gak gitu kan pa, papa juga tahu kalau aku dekat dengan Cakra bahkan dari sebelum aku tahu papa masih ada." Sahara memalingkan wajahnya tak kuasa menatap Papanya. Memilih menatap keluar jendela dimana kendaraan lain juga berlalu lalang disana. Mobil Sagara memelan, sempat menepi kemudian berhenti. Sagara menyandarkan tubuhnya ke kursi dan menghela napas panjang.
"Papa cuma,--"
Sagara terdiam, ia raih tangan putrinya.
"Maaf, papa salah. Memang papa ada niat ke arah situ, tapi sedikit." Akunya membuat Sahara cukup terkejut. Papanya type manusia susah ditebak, kadang A kadang B dan itu benar-benar membuat Sahara kaget.
Atau jangan-jangan yang dibilang Ibu Arimbi soal mamanya itu benar. Mungkin saja, Mama Kinara tertekan dan merasa papanya adalah ancaman.
"Boleh aku tanya sesuatu, Pa? Mungkin sedikit sensitif, tapi entah kenapa aku ingin tahu dan mencocokkannya dengan papa."
Salah jika menganggap Arimbi berbohong pada kenyataannya papanya juga menyimpan banyak kebohongan yang sama.
"Tanya saja, papa pasti akan menjawabnya," Seru Sagara kemudian menatap lembut.
"Boleh papa sambil melajukan mobilnya sayang?"
"Apa papa pernah berfikir untuk membunuhku waktu masih di dalam kandungan! Aku rasa papa punya jawabannya, minimal alasan jika papa tidak bisa menjawabnya."
"Ya, itu benar." tanpa diduga Sagara menjawabnya dengan amat tenang akan tetapi menyimpan kegetiran.
"Dan itu yang membuat papa dihantui rasa bersalah hingga sekarang. Bahkan setelah bertemu denganmu papa rasa masih belum cukup menebus semuanya, semuanya!" aku Sagara dengan suara parau.
"Tapi kenapa papa harus berniat menikahi Tante Kinan, Pa! Papa tahu kan kalau aku sama Cakra bukan sekedar teman." Sahara menunduk dalam matanya sudah berkaca-kaca.
"Ya, papa pikir gak ada salahnya menggertak papanya Cakra. Dan rencana papa berhasil, mereka rujuk!"
Deg.
Benar-benar papanya Sahara ini, menyebalkan sekali. Ternyata selain wanita, papanya juga hobi berdrama. Sahara bahkan sampai tak bisa tidur memikirkan kalau-kalau ia dan Cakra jadi saudara. Rasanya sungguh sangat tak rela.
Mobil Sagara sudah memasuki gapura kota selamat datang di Ambarawa. Sahara senang bisa memijakkan lagi di kota ini, kota yang memiliki banyak kenangan untuknya dari kecil sampai sebesar ini.
Tiba-tiba rindu juga dengan Sinta, Rian dan Devon. Apakah mereka sempat pergi bersama?
Tinggal beberapa kilo lagi mereka sampai panti, Sahara sempat mengajak papanya mampir membeli beberapa buah tangan. Selain sembako yang memang sudah Sagara siapkan di bagasi belakang.
Sahara memberi kabar Rian dan Sinta, mungkin mereka bisa hangout bareng sore nanti. Karena melihat antusias Sahara, tak ada salahnya mereka menginap mengingat besok hari minggu.
"Ibu," panggil Sahara begitu sampai di panti. Mereka yang memang selesai makan siang terkejut sekaligus senang menyambut kedatangan Sahara dan papanya.
"Sayang, apa kabar!" Arimbi memeluk Sahara penuh kerinduan. Kemudian ada Nana dan Cyla meringsek ikut.
"Kak Sahara kangen gak sama kita?" tanya mereka kompak.
"Kangen dong, Kakak bawa oleh-oleh nih." Tanpa di duga, Sagara membagikan oleh-oleh untuk mereka semua. Ia juga menyiapkan seikat amplop berisi uang jajan yang akan dibagikan pada anak-anak panti.
Berbincang lama, saling tanya kabar hingga sore dan Sahara masih enggan pulang karena rindu membuat Sagara mau tak mau menginap di panti tempat putrinya di besarkan. Padahal Sagara berencana mengajak putrinya menginap di rumah Orang tua Kinara. Namun, hal itu pupus saat Sahara memohon sekali saja dan berjanji besok pagi akan langsung pulang ke rumah lama bersama papanya membuat Sagara tak tega.
Sahara masih menempati kamar yang sama. Sementara Sagara yang tidur di kamar sempit tak terbiasa apalagi melihat keadaan kamar-kamar panti membuatnya melipat bibir dan meringis. Bertahun-tahun putrinya tinggal di tempat sederhana ini dan Sagar mulai berfikir untuk menawarkan perbaikan pada Arimbi. Sepertinya uang Sagara akan lebih berguna untuk orang lain.