
Hampir seharian Sahara pergi bersama Cakra, hal itu tentu membuat Sagara sedikit khawatir. Ia pun meminta Lendra menghubungi putranya sebab Sahara bilang akan pergi bersama Cakra.
"Bentar Papa nelpon," seru Cakra melihat ke layar pipihnya.
"Angkat dulu, siapa tahu penting."
Cakra mengangguk, "ya, Hallo pa?"
"Kamu dimana Cakra? Apa bener kata Om Sagara kalau Sahara sama kamu." Lendra yang sudah tahu nama asli Bintang pun mengubah panggilannya.
"Papa kenal Sahara?" tanya Cakra kebingungan.
"Ya kenal, Sahara kan anaknya Om Sagara. Gimana sih kamu, jadi Sahara dimana sekarang?"
Cakra terdiam beberapa saat, hingga panggilan Lendra kembali membuyarkan lamunannya.
"Cakra..."
"Iya, Sahara sama aku, Pa!"
"Ya, sudah. Papa pikir kemana Sahara. Kata Om Sagara jangan pulang malem-malem," pesan Lendra.
"Ah, iya oke Pa." Cakra menutup panggilannya lantas menatap Sahara. Meneliti wajah gadis itu dari dekat.
"Pantes wajah kamu kata mama nggak asing."
Sahara membeo, "ha?"
Cakra menangkup pipi Sahara, "wajah kamu nggak asing. Taunya anak Om Saga yang hilang," ujar Cakra sekali lagi.
"He he he, iya. Aku juga nggak nyangka." Sahara menunduk, ia sibuk menyerot es boba miliknya. Setelah menandaskan es krim, cilok, batagor dan sekarang es boba. Namun, mau sebanyak apapun makannya Sahara tetap kurus.
"Aku lebih nggak nyangka, karena gini... Tadinya aku sama mama tuh lagi ngomongin wajah kamu yang mirip Om Sagara, dan secepat itu kalian bertemu."
"Terus kamu kenapa jarang ngabarin aku?"
Cakra terdiam, "Papa sama Mama cerai, jadi aku sibuk."
Ada rasa sedih menyeruak dalam dada kala mengingat hal itu. Tapi, Kinan sudah mewanti pada Cakra bahwa ini yang terbaik. Meski perceraian tetap jalan, mereka tak akan mengurangi sedikitpun kasih sayang untuknya.
"Maaf aku nggak tahu," seru Sahara. Tanpa sadar, tangannya terulur lembut mengusap pipi Cakra hingga pemuda itu menoleh dan keduanya saling pandang.
"Sahara, aku tuh sebenarnya sayang kamu. Tapi juga takut."
"Takut kenapa?"
Cakra menggenggam tangan Sahara, "pindah yuk! Udah mau sore, mendung juga."
"Cakra kita belum foto," rengeknya.
"Nanti aja." Cakra menggeret tangan Sahara menuju motor lantas memintanya naik.
"Tapi pengen foto," ulangnya lagi dengan suara lebih pelan.
"Nanti aja di pelaminan." Balas Cakra seraya mengacak rambutnya.
"Cakraaaaa, pelaminan siapa? Nggak mau nikah sama kamu," cebiknya.
Cakra hanya terkekeh, "naik atau ku tinggal."
Sahara menurut, ia naik ke boncengan belakang Cakra dan melingkarkan tangannya erat di pinggang laki-laki itu. Nempel erat macam cicak dan dinding.
"Mampir ke rumah bentar ya," ajaknya.
"Ke rumah kamu?" tanya Sahara.
Cakra mengangguk, "bentar doang, Ra! Aku mau sekalian nganter buku ke rumah Rival setelah mulangin kamu."
"Oh Mas Rival."
"Rival bukan, Mas." Cakra mendelik protes. Hingga motor Cakra melaju Sahara masih asik dengan keterdiamannya.
"Cakra," panggil Sahara. Cakra tak menyahut karena pada dasarnya saat fokus bermotor ia pendengarannya akan berkurang. Di tambah bisingnya kendaraan lain yang lewat. Sahara melipat bibir, tapi matanya terfokus pada kaca spion yang menampilkan kegantengan makhluk di depannya saat ini. Sungguh, kenapa Sahara baru sadar kalau Cakra lebih dari sekedar ganteng?
Menyadari tatapan Sahara lewat spion, Cakra menutup helm fullface-nya tiba-tiba.
"Ishhh, siapa juga yang liatin kamu Cakra. Kenapa di tutup wajahnya," seru Sahara.
"Kamu lagi ngapain emang kalau gak lihatin wajahku dari spion hm?"
"Lagi nilai-nilai, kamu sama Devon gantengan mana?" Cibir Sahara.
"Ck Ck Ck, kamu suka sama dia?"
Padahal jelas, Cakra tak pernah tahu siapa Devon, bagaimana hubungannya dengan Sahara? Tapi kenapa sebal sekali saat dengar Sahara ngomongin dia? Dia yang jadi penyusup di kencan pertama mereka.
"Shittt... Saharaaaa," kesal Sinta. Ia, Rian dan Devon sedang menuju Semarang karena kesal Sahara pergi tanpa pamit dengan teman-teman kecuali Devon yang memang tahu kepindahan gadis itu.
"Sabar." Rian mengusap-usap pundak Sinta.
"Berasa nggak dianggap temen gue, ya Allah. Mana Devon lebih dulu tahu, kalian ini ish..." Tak kuasa menahan kesal, Sinta menjadikan Rian dan Devon pelampiasan omelannya.