
Kinanti tersenyum penuh arti lalu meminta Cakra duduk di sebelahnya. Mengusap lembut bahu kokoh putranya agar Cakra sedikit lebih tenang setelah mendengar ucapan Lendra barusan.
Lendra, memilih menyandarkan tubuh dan kepala di sofa kontrakan Kinanti yang mungkin rasanya tak seempuk sofa di rumah.
Masalah ini lebih rumit dari rumus matematika karena ulah Sagara. Pria dominan itu benar-benar mengacaukan hati Lendra dan Cakra secara bersamaan.Sementara Kinanti yang paling tenang karena ia benar-benar tak merasa akan menikah dengan Sagara meski sebelumnya mereka adalah sepasang kekasih di masa muda. Sifat Sagara di mata Kinanti sama buruknya seperti Lendra. Bedanya, Lendra lebih lembut saat-saat tertentu sementara Sagara susah sekali ditebak.
"Cakra, kamu cukup tenang dan belajar dengan baik. Mama nggak akan nikah dengan Om Sagara, dan nggak akan pernah," bujuk Kinanti mencoba menghapus raut mendung di wajah putranya.
Cakra masih diam, enggan menjawabnya karena mungkin memang benar Om Sagara berniat melamar mamanya.
Brumm...
Bunyi mobil berhenti di depan membuat ketiga orang yang sedang tegang itu tersadar. Dengan segera Kinanti bangkit mengecek siapa yang datang lagi ke kontrakannya.
"Mas Sagara!" pekik Kinan membeku diambang pintu. Sontak hal itu membuat Cakra dan Lendra menoleh bahkan langsung menghampirinya.
Benar-benar Sagara mendatangi Kinanti ke kontrakan.
"Sore Kinan." Sagara mengulas senyumnya. Senyum yang dimata Lendra lebih mengerikan.
"Bapak ngapain kesini?" tanya Lendra.
"Menurutmu Len?" Sagara menyeringai, membuat Lendra seketika terdiam karena ucapan Sagara siang tadi.
"Mas Sagara mending pulang, karena aku nggak akan berfikir untuk menikah lagi apalagi itu dengan Mas," tolak halus Kinanti langsung pada inti.
Sagara malah menyeringai, "kenapa? Lendra saja boleh tinggal kenapa aku tidak Kinan?"
"Mas Lendra bertemu Cakra, kalau kamu tidak lupa itu mas. Ada Cakra diantara kami," kekeh Kinan, berharap Sagara tak mengusik apapun itu alasannya.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita membuat ikatan juga!"
"Pak!" tegur Lendra, antara berani, kesal dan takut jadi satu.
"Bukan begitu, Len?" Sagara melirik Lendra. Masih diambang pintu Cakra ikut melihat kesana dan mendengar sendiri penuturan Sagara yang terkesan serius.
"Papa dan mama mau rujuk, jadi Om lebih baik pulang saja."
"Om belum mendengarnya sendiri dari Kinan, jadi masih ada kesempatan dong!" seru Sagara.
"Om, please!" mohon Cakra memelas. Ia sungguh tak ingin membangun ikatan dengan Sahara sebagai kakak beradik, ia ingin Sahara kelak jadi istrinya.
Jika Sahara bukan jodohnya, Cakra tetap berdoa semoga dijodohkan dengan gadis itu.
"Setidaknya demi Cakra," batin Kinan menenangkan diri sementara Lendra sudah tersenyum tipis meski tak terlihat.
Sagara malah mengangguk, "kalau kamu disuruh pilih kerja denganku atau Kinan, apa pilihanmu Len?"
"Jika bapak tak lagi berkenan mempekerjakan saya, saya akan undur diri Pak! Kami bisa membuka usaha bersama," jawab Lendra mantap.
Kinan tertegun, bukan seperti ini harusnya. Lendra tak harus mengorbankan pekerjaan dan karir hanya demi rujuk dengannya bukan?
"Mas, tapi..."
"Ya sudah, aku pergi." Sagara berbalik dan kembali dalam mobilnya. Hingga mobil suv putih itu menghilang, Kinan, Cakra dan Lendra masih diam di tempat.
"Aneh," decak Cakra.
"Papanya Sahara itu benar-benar tak bisa ditebak Cakra, kemarin bilang ini besok bilang begitu," ujar Lendra diiringi helaan napas berat.
"Memang, tua-tua labil." kali ini Kinan bersuara.
"Ya sudah kalian rujuk lagi saja," bujuk Cakra.
"Keputusan kan ada di mamamu, kalau iya papa bisa langsung mengurusnya!"
"Hufff, kesannya kok egois banget, Mas. Kamu nggak harus keluar kerja demi aku," gumam Kinanti pelan.
"Aku juga gak akan kalau kamu terpaksa." Lendra bergumam pelan, beralih menatap Cakra lekat.
"Cakra, mungkin ke depannya hubungan kamu dan Sahara akan lebih rumit dari rumus matematika. Bisa jadi Pak Sagara tak merestui kalian karena kejadian hari ini."
Kenapa Cakra tak berfikir sampai sejauh itu? Bukankah setelah ini hubungan kedua orang tuanya dengan Om Sagara semakin buruk?
"Ck!" Berdecak pelan Cakra pun ikut pusing memikirkannya.
Lendra pamit, memberi waktu untuk Kinan. Ia akan pulang ke rumah orang tuanya, sementara Cakra semakin dilema. Apalagi sampai malam Sahara belum mengirimnya satu pesan.
"Komunikasi itu dua arah Sahara, kalau satu arah namanya kutbah!" Cakra berdecak pelan menatap layar ponselnya. Sahara sedang mode online tapi kenapa sama sekali tak berinisiatif menghubunginya.
"Selamat istirahat Sahara!"
Cakra akhirnya mengalah untuk mengirim pesan. Tak ada balasan hingga larut Cakra hanya berdiam termenung menatap layar ponselnya dimana foto Sahara menjadi walpaper disana.