
"Itu tuh, mumpung senior pada healing. Dari pada gabut berujung healang. Mending gangguin neng Sahara. Mumpung pawangnya lagi gak ada, kesel gue. Masih gak terima tuh anak bikin usaha palak gue hancur di sekolah," seru Baron.
Kebetulan Sonia dan Ririn lewat di sebelah mereka.
"Suttt, Son Son..." panggil Baron.
"Oiii?"
"Tuh, pawangnya gak ada! Jadi kita ngerjain dia? Mumpung Mey-mey susanti gak barengan juga," tunjuk Baron pada Sahara.
Sonia sontak menoleh, Sahara keluar gerbang sendirian. Jika biasanya gadis itu pulang sekolah akan bersama Cakra. Tidak dengan hari ini, Sahara pulang sendiri. Papanya pun gak bisa jemput karena ada pertemuan penting. Alhasil, gadis itu akan jalan kaki sampai jalan umum dan menstop bus disana.
Sonia mengerjap, sebenarnya ia tak terlalu terobsesi dengan Cakra. Tapi sejak tahu gadis itu dekat dengan laki-laki idolanya, apalagi sampai ngaku-ngaku adiknya Cakkra, aura kesal sering kali menyelimuti Sonia hingga ingin sesekali mengerjai Sahara.
"Main-main dikit boleh kan?" serunya berbinar menyenggol lengan Ririn.
"Let's go!" seru Ririn antusias.
Sahara berjalan pelan di depan gerbang, masih tak menyadari keberadaan Sonia cs yang ada tak jauh darinya. Dengan segera berjalan ke arah halte untuk mencari bis.
"Gak enak juga ya gak ada Cakra?" gumamnya pelan. Sahara meringis, otaknya teringat masa-masa bersama teman di Ambarawa.
Kehidupan di Semarang memang jauh lebih baik kecuali dalam hal teman, Sahara cenderung sulit membaur dengan yang lain.
"Sendirian aja, Neng? Pulang sama gue mau nggak? tapi mampir ke hotel." Baron terkekeh melihat Sahara berubah masam.
"Apaan sih, gak jelas!" rutuknya kemudian mempercepat langkah.
"Et, tunggu dulu!" Baron menarik tas yang ada di gendongan Sahara sampai gadis itu hampir terjungkal ke belakang.
"Hahahaha, enak gak? Kayaknya seru nih."
Sonia sudah lebih dulu sampai di ujung jalan, menunggu Baron menggiring Sahara dari belakang. Benar, baru saja memantau di balik tembok bangunan ruko, ia melihat Sahara berjalan cepat-cepat ke arahnya.
"Surprizeeee..." pekik Sonia menarik tangan Sahara tanpa terduga.
Sahara tersentak saat mendapati Sonia dan Ririn memegang kedua tangannya.
"Awas minggir!" Sahara menginjak kaki Sonia hingga terlepas dan melarikan diri.
Aaaa....
Brukkk...
Tubuh mungil Sahara terpental menghantam mobil yang tengah melaju cepat.
"Astaga!" Sonia maupun Ririn memekik kaget. Baron sampai berlari disusul teman-temannya mendekat. Si pemilik mobil keluar, belum reda rasa syoknya. Si gadis yang menghantam mobilnya tak sadarkan diri dengan cairan darah kental mengalir di tangan dan kakinya.
"Shitttt," umpat Baron. Bagaimanapun, akhir dari mengerjai Sahara bukan seperti ini. Alhasil, ia dan teman-teman turut ikut ke rumah sakit dimana si penabrak membawa pergi serta Sahara dalam kepanikan.
"Si al, mana gue gak tahu keluarganya siapa?" gumam Baron setengah berdecak.
"Ya mana gue tahu kalau bakal gini," cicit Sonia ketakutan.
"Dia yang mundur sendiri kok, kita kan masih di pinggir tadi," elak Ririn.
"Suttt! Kalian lebih baik bantu hubungi keluarganya, bukan malah berdebat," seru seseorang dengan wajah syok. Jelas ia syok, karena Sahara muncul tak terduga.
Cakra masih menikmati momennya di Bali bersama teman-teman, hingga telepon berulang dari nomor baru membuat dahinya seketika berkerut.
"Siapa ini?" gumamnya pelan. Lalu merasa aneh, Cakra mencoba mengangkatnya.
"Cakra!" suara Sonia yang jelas pemuda itu cukup tahu.
"Hm."
"Cak, bisa tolong hubungi keluarganya Sahara? Dia kecelakaan."
Deg...
Bluk...
Ponsel Cakra seketika merosot jatuh mendengar kabar bahwa si gadis pujaannya kecelakaan.