
Dengan senyum merekah, Sahara tampak menjalani paginya di Pelita Harapan. Mengabaikan beberapa pasang mata yang menatap ke arahnya datar. Lebih memilih menyapa Mey yang menunggunya di depan kelas.
"Seneng banget kaya habis dapat lotre?" seru Mey meraih tangan Sahara dan mengajaknya masuk ke kelas.
"Lo yakin itu orangnya? Cantik kalem gitu?" tanya Sonia pada seorang laki-laki. Si preman kelas sebelas yang beberapa waktu lalu rencananya malak gagal oleh Sahara.
"Iya itu, meski anak baru dia bisa dengan mudah mendatangkan senior dan lo tau nggak siapa senior yang dateng nyamper?"
Laki-laki gendut itu tahu betul kalau Sonia menyukai Cakra, si laki-laki kulkas anak senior. Maka ia akan memanfaatkan Sonia untuk membalas Sahara.
"Siapa namanya?"
"Ya mana gue tahu! Kan kejadiannya cepet banget, mana sempet gue nanya nama-nama. Atau nggak lo tanya si culun, dia kan awalnya nolong si culun."
"Culun yang sekelas sama dia?" tanya Sonia.
"Yoi, gak penting juga menurut gue namanya yang harus lo tahu dan catet adalah, dia gadis kesayangannya bang Cakra. Bang Bayu Cakrawala," terang si laki-laki pada Sonia.
Mendengar nama sang idola disebut-sebut dekat dengan gadis baru membuat Sonia menggeram. Bagaimana bisa anak baru dengan status adik kelas Cakra malah berhasil dekat dengan laki-laki dingin bak kulkas itu?
Dengan langkah pelan Sonia menuju kelas Sahara.
Tak lupa ia mengajak sahabatnya Ririn. Bukan untuk melabrak, hanya memastikan bahwa informasi yang ia dapatkan barusan benar-benar akurat. Sementara Sonia akan bergerak diam menjadi musuh dibalik selimut.
"Hay, lo yang namanya Sahara ya?" Sonia menghampiri Sahara ke kelasnya. Kebetulan bell masuk kelas masih lima belas menit lagi. Masih cukup waktu buat Sonia mengorek informasi langsung dari empunya dari pada pingsan penasaran.
"Iya? Siapa ya?" tanya balik Sahara.
"Gue Sonia, si bunga sekolah kata orang-orang," selorohnya percaya diri.
Mey menarik-narik seragam Sahara memberi kode pada temannya itu agar tak menyinggung Sonia.
"Ngapain sih Sonia kita kemari? Kurang kerjaan banget," omel Ririn.
Sahara terkejut, bagaimana mereka bisa mudah menebak itu.
"Maaf aku bukan ceweknya bang Cakra," ujar Sahara cari aman.
"Tapi adiknya," gumamnya lagi membuat Sonia kikuk karena malu.
"Sia lan si gendut, salah kasih info. Kalau gitu salam kenal aja deh, dari calon kakak ipar lo," ujar Sonia lembut seraya menyodorkan tangannya ke arah Sahara.
Tanpa ragu Sahara menyambutnya, sedikit melirik jam tangan di tangan Sahara yang menurut Sonia sama persis milik Cakra yang dipakai tadi pagi.
"Abang kamu so sweet juga ya, jam aja sampai couple-an sama adek!"
Glekkk...
Sahara melupakan sesuatu, kalau mulai hari ini ia memakai jam tangan yang sama dengan milik Cakra.
"Ya, soalnya kita sama-sama jomblo," alibi
Sahara membuat Sonia percaya begitu saja.
***
Lalu saat jam istirahat seharusnya menjadi jam tenang Sahara. Sonia kembali menghampiri kali ini bersama laki-laki yang beberapa waktu lalu menjadi preman pungli di sekolah.
"Bagi duit," serunya kali ini pada Sahara.
"Lo kan ngelarang gue minta sama culun, jadi lo yang bagi."
Sonia pura-pura tak tahu akan hal itu, ia ingin lihat apakah gadis itu akan memanggil Cakra untuk menghadapi Baron si preman sekolah atau tidak. Jika iya, mungkin Sonia pikir ada baiknya memanfaatkan Sahara untuk mendekati Cakra.
Namun, di luar duga karena Baron sendiri bisa dilumpuhkan oleh Sahara.