MY LOVELY, SAHARA

MY LOVELY, SAHARA
31. Doa ibu di sepanjang waktu



Dua minggu sejak pagi itu, hubungan Cakra dan Sahara berangsur membaik. Meski saat ini, jalan berdua bukan lagi prioritas mengingat Cakra sedang mempersiapkan diri menghadapi Ujian Nasional. Cakra berharap, nilainya bisa mumpuni untuk meraih beasiswa ke Jakarta.


Sebenarnya dibanding dengan Rival, Cakra berada jauh di bawah sahabatnya itu. Namun, entah kenapa melihat Lendra dan Kinanti memilih hidup sederhana dengan usaha membuka usaha rumah makan dan menerima pesanan catering membuat Cakra mendapatkan tekat kuatnya.


Dukungan Sahara membuat laki-laki itu optimis, apalagi si gadis pujaan hati berjanji akan menjaga hati sampai Cakra kembali.


"Kita akan sering-sering ketemu Cakra, kalau kamu pulang! kejar cita-citamu, buat tante Kinanti dan Om Lendra bangga."


Mendapat dukungan dari Sahara membuatnya belajar dengan keras akhir-akhir ini pun dengan Kinanti. Meski berat, ia meridhoi pilihan sang anak untuk kuliah di ibu kota.


"Doa ibu sepanjang waktu buat kamu sayang, apapun hasilnya nanti tetaplah bersyukur."


Sungguh baik Kinan maupun Lendra tak akan menuntut Cakra terlalu banyak, mereka tak ingin menjadi orang tua yang egois.


"Ma aku berangkat, do'ain lancar ya!" pamitnya pada Kinanti.


Terkhusus kali ini, Cakra berangkat diantar Lendra dengan naik motor.


"Cakra kamu yakin mau kuliah di Jakarta?" tanya Lendra setelah motor melaju dengan pelan.


"Insyaallah kalau lolos bea siswa, Pa! Do'ain aja, biar papa sama mama nggak perlu uang banyak buat kuliahin aku."


Lendra melirik putranya dari spion, Cakra memang tipe pemuda yang serius. Dalam hati, Lendra yakin putranya akan lolos mengingat akhir-akhir ini Cakra belajar dengan giat bahkan sampai larut.


Cakra sempat bersitatap dengan Sahara yang menunggunya di ujung koridor kelas tiga. Setelah memastikan melihat Cakra, gadis itu segera berbalik melarikan diri.


"Lucu sekali," batin Cakra melihat tingkah Sahara.


Sempat melihat jam di pergelangan tangan, sayang sekali sebentar lagi waktu ujian mata pelajaran pertama akan dimulai.


"See you, pulang sekolah nanti Sahara! Do'ain aku ya," batin Cakra.


Ia masuk ke dalam kelas yang akan digunakan ujian. Jarak meja satu meter membuat Cakra berada jauh dari jangkauan Rival pun sebaliknya.


Siswa siswi kelas tiga mengerjakan ujian dengan tenang. Bahkan pengawas ujian memasang pengumuman di ujung koridor agar adik kelas tak membuat gaduh yang mengganggu ketertiban. Sahara sedang duduk mengobrol bersama Mey, menanti guru bahasa yang sepertinya tak akan datang.


"Enak juga ya kalau kakak kelas ujian, kita masuknya jadi giliran gini. Mana gak boleh berisik, masuk cuma buat absen doang!" seru Mey dengan mata berbinar.


"Tapi sedih tau, bentar lagi Cakra lulus." Sahara tampak murung, sebenarnya bukan kelulusan Cakra yang membuat gadis itu bersedih. Melainkan keputusan Cakra bila lolos lima besar akan kuliah di Jakarta bersama Rival.


"Udah lah, sans! Kalau jodoh gak kemana-mana!"


"Ambigu banget," cibir Sahara.


***


Mapel pertama dan kedua Cakra lewati dengan lancar mudah, semoga hasilnya memuaskan. Pun dengan Rival yang sedari tadi anteng tanpa menoleh saat mengerjakan soal-soal ujian.


"Gimana? Gampang kan?" tanya Rival.


"Dih, biasa. Nggak gampang juga. Aku curiga kamu minum abu bakaran dari buku, makanya pinter!" sindir Cakra dibalas gelak tawa Rival.


"Belajar dong! Eh Sahara tuh, kayaknya sengaja nungguin kamu biar dijajanin cilok," ledek Rival.


"Dih, cilok mah buat ganjel kalau Sahara, masih butuh jajan-jajan yang lain."


"Aku duluan," pamit Rival diangguki Cakra.


Cakra mendekat ke arah Sahara, "kok nungguin di gerbang, kaya satpam aja. Kan parkiran juga luas, gak panas lagi."


"Ngapain nunggu di parkiran kalau kamu aja berangkat gak bawa motor?" Sahara tentu mengernyit, apalagi seingatnya tadi pagi Cakra berangkat diantar Om Lendra.


"Oh iya, lupa! Kalau gitu kita naik bis yuk?" ajak Cakra diangguki antusias oleh Sahara. Tentu saja gadis itu tak keberatan mengingat dulunya Sahara suka sekali naik bis saat berada di Ambarawa.


Cakra membiarkan Sahara naik lebih dulu, "jangan jauh-jauh dari aku!" ujar Cakra padahal jelas sedari keluar gerbang pelita harapan tangan mereka terus bertaut.


"Sini aja ya, aku mau duduk dekat jendela."


Take me home, I'm fallin'


Bawa aku pulang, aku jatuh cinta


Love me long, I'm rollin'


Cintaiku lama, aku bahagia


Losing control, body and soul


Hilang kendali, raga, dan jiwa


Mind too for sure, I'm already yours


Pikiran pun pasti, aku sudah milikmu


Walk you down, I'm all in


Menuntunmu, aku bersungguh-sungguh


Hold you tight, you call and


Menggenggamu erat, kau memanggil dan


I'll take control, body and soul


Aku pegang kendali, raga dan jiwa


Mind too for sure, I'm already yours


Pikiran pun pasti, aku sudah milikmu


Would that be alright?


Apakah itu tak apa?


Hey, would that be alright?


Apakah itu tak apa?


I want you to the bone


Aku menginginkanmu


So bad I can't breathe


Sangat ingin hingga aku tak bisa bernapas


I want you to the bone


Aku menginginkanmu


Of all the ones that begged to stay


Dari semua permohonan tuk tinggal


I'm still longing for you


Aku masih mendambakanmu


Of all the ones that cried their way


Dari semua yang menangis


To the bone - pamungkas.