
Dengan wajah tertunduk, Lendra kembali ke ruangan Sahara menemui Kinanti. Disana istrinya sedang berusaha menghibur gadis kecil kesayangan putranya itu.
"Sahara, gimana keadaan kamu?" tanya Lendra khawatir.
"Baik, Om! Cuma luka-luka aja kena mobil sama aspal," jelas Sahara. Tampak perban putih membalut siku dan lututnya.
"Calon mantu mama kan kuat, pa!" kelakar Kinanti membuat gadis itu merona malu.
"Jangan digodain, ma! Malu tuh," seru Lendra kemudian ikut duduk memperhatikan Sahara. Berulang kali ia meraup udara, menghela napas kasar dengan berbagai pertimbangan di kepala.
Malam itu Lendra dan Kinanti benar-benar terjaga demi Sahara dan Sagara. Meski harus merahasiakan jikalau putri Sagara di rawat di rumah sakit yang sama, Lendra terus berusaha mencari alasan.
Keesokan harinya, pagi sekali Lendra mengunjungi kamar rawat Sagara.
"Gimana keadaanmu, Pak?" tanya Lendra.
Sagara mengusap wajahnya pelan, "dimana putriku, Len?" tanya Sagara membuat Lendra menelan saliva berat.
"Sahara sedang menuju kesini, semalam dia kesini pas kamu sedang istirahat, Pak!" bohongnya.
Cakra baru sampai di rumah dan meletakkan asal ranselnya. Setelah mengganti baju, ia gegas ke rumah sakit dimana Sahara sedang dirawat. Raut wajah khawatir sudah pasti, ia berharap wanita kesayangannya dalam keadaan baik-baik saja.
Cakra memacu motornya pelan, ia sempat membeli setangkai bunga mawar dan coklat sebelum akhirnya melesat ke rumah sakit.
Dadanya berdegup kencang, meski papanya sudah mengabari kalau Sahara keadaannya baik hal itu tak cukup membuat Cakra tenang.
Ceklek...
Handle pintu kamar rawat Sahara terbuka, pemuda dengan balutan kemeja flanel itu masuk menghampiri Sahara yang tengah duduk memakan buburnya.
"Pagi bidadari," sapa Cakra mengulurkan setangkai mawar ke hadapan Sahara.
"Cakra, kok kamu!" mata Sahara tak bisa sembunyi, binar bahagia tercetak jelas menyambut kedatangan pemuda yang sudah lama mencuri hati, jantung beserta paru-parunya. Mati dong!
"Makasih," cicit Sahara meletakkan mangkuk bubur makanan rumah sakit.
Kinanti keluar dari toilet setelah bebersih.
"Ma," sapa Cakra memeluk Kinanti.
"Ish malu tuh udah gede, diliatin Sahara tar dia cemburu sama mama!" ledek Kinanti memecah gelak tawa.
"Sahara jadi?" tanya Kinanti.
"Ets mau pada kemana?" tanya Cakra.
Sahara menoleh ke arahnya, "mau ke ruang rawat papa!"
Cakra pun akhirnya ikut, ia mendorong kursi roda Sahara sedangkan Kinanti berjalan disisinya. Lendra sudah menunggu, pun dengan Sagara yang kondisi sebenarnya masih belum stabil.
"Papa?" sambut Sahara dengan mata berkaca-kaca setelah memasuki ruang rawat Sagara.
"Sayang," lirih Sagara, kemudian beralih menatap Cakra lebih lama. Menelisik lebih dalam kemudian...
Tes...
Air mata Sagara menetes membasahi pipi, hal itu sungguh membuat Sahara segera mendekat demi mengusapnya.
"Pa, kenapa nangis? Papa harus kuat, ada aku yang akan selalu berdoa untuk kesembuhan papa."
"Sahara, umur kamu sudah delapan belas tahun sebentar lagi tapi papa,--" suara Sagara tertahan lama di tenggorokan seolah tak sanggup, napasnya mulai sesak seiring bulir air mata yang terus berjatuhan.
"Sahara, papa mau kamu menikah dengan Cakra!"
Deg...
"Pa,"
"Om,"
"Pak,"
Bukan hanya Sahara yang terkejut, Cakra dan Lendra pun sama. Sementara Kinanti sedari tadi lebih banyak diam menahan air mata, melihat Sagara tak berdaya membuatnya turut sedih.
"Len, bisakah?" tuntut Saga meminta kepastian.
Lendra terdiam, ia memilih menatap Kinanti sebagai tanya apa istrinya itu setuju atau tidak.
"Len saya minta tolong, uhuk--" Sagara terbatuk-batuk. Tangannya membekap bibir hingga detik berikutnya bercak darah keluar saat ia batuk.
"Pa, papa sakit apa?"
Sagara menggeleng, ia menuntut jawaban keluarga Lendra.
Cakra terdiam, tapi tatapan matanya memohon pada Lendra untuk mengabulkan permintaan papanya Sahara, meski ia sendiri bingung harus seperti apa. Menikah bukanlah hal yang simple untuk mereka yang usianya masih terlalu muda.