MY FIRST LOVE Story

MY FIRST LOVE Story
Lesung Pipi



Sore menjelang malam, kezia baru tiba di rumahnya. Seperti biasa rumah tampak sepi dan hanya lampu depan yang baru menyala otomatis. Kezia membuka pintu rumahnya dan semuanya masih gelap. Ia mencari nomor Eliana dan berusaha menghubunginya.


“ Ya sayang….” Sapa suara di sebrang sana.


“Mah, mamah sama papah kemana sih? Kok sepi gini di rumah?” tanya Kezia seraya menjatuhkan tubuhnya di sofa.


“Ya ampun mamah lupa ngabarin, mamah lagi nengok temen mamah di rumah sakit.” terang Eliana


“ Oooo zia kira mamah kemana..”


“ Paling sebentar lagi mamah pulang nak, kalo kamu udah laper, nanti makan duluan aja”


“ Iya mah, bye....”


Panggilan pun terputus. Kezia menghembuskan nafasnya kasar. Sudah beberapa bulan ini, rumah sellau sepi. Eliana dan Martin kadang pulang saat Kezia hampir terlelap. Di hari liburpun masing-masing disibukkan dengan pekerjaannya dan kembali Kezia hanya sendirian di kamarnya. Hanya saat sarapan mereka bisa berkumpul.


Tak berselang lama terdengar seseorang mengetuk pintu rumahnya. Kezia segera berjalan hendak membuka pintu.


“Kakak….. “ Alangkah terkejutnya Kezia ketika seseorang yang berada di balik pintu adalah Tyo. Ia tersenyum manis menatap Kezia yang mematung di hadapannya.


“ Sorry key ganggu malem-malem, aku ada perlu dikit.” ungkap Tyo dengan canggung.


“ Iya gimana kak, tapi maaf aku gag bisa ngajak masuk soalnya gag ada orang di rumah.” tutur Kezia


“ Ohh gag pa-pa kok. Duduk di sini boleh?” timpal Tyo seraya menunjuk kursi yang tersusun rapi di teras rumah.


“ Boleh kak..” Keduanya duduk berhadapan di teras rumah.


“ Ini key, ada titipan buku matematika dari pak amar dan ini dua buku yang biasa aku pake latihan kalo olympiade.“ Tyo mengeluarkan beberapa Buku dari dalam tas ranselnya.


“ Ooo makasih kak… Padahal besok juga kita ketemu di sekolah, kakak gag usah repot-repot jauh ngaterin ke sini.”


“ Gag pa-pa key, takutnya mau kamu pake belajar.” Terang Tyo. Kezia pun hanya tersenyum.


Kezia mulai tertarik untuk membuka-buka buku yang ada dihadapannya. Sesekali Tyo memperhatikan Kezia dengan lekat. Beberapa helai rambut jatuh menutupi wajah Kezia yang serius membaca buku di pangkuannya. Kezia menyelipkan rambutnya di belakang telinga. Tyo tersenyum tipis saat bisa melihat Kezia dengan leluasa dan jarak yang sangat dekat.


Dikejauhan terdengar suara motor berbunyi nyaring. Kezia mengalihkan pandangannya. Kezia mengira mamahnya pulang. Tapi ternyata motor tersebut berlalu begitu saja.


“ Key, aku pulang dulu yaa…” pamit Tyo yang tidak ingin mengganggu Kezia lebih lama. Lebih tepatnya, tidak ingin terkena serangan jantung karena jantungnya yang sejak tadi berdetak tak menentu.


“ Ya kak, makasih yaa.” sahut Kezia seraya tersenyum


Tyo hanya mengangguk seraya melambaikan tangannya. Dengan mengendarai motor sport berwarna hitam Tyo meninggalkan rumah Kezia.


Tiba di kamarnya, Kezia segera menaruh buku yang diberikan tyo di atas meja belajarnya. Ia mengibas-ibaskan tangannya yang terasa pegal karena membawa buku yang cukup banyak. Ia berbaring di atas tempat tidurnya dan mengeluarkan ponsel dari dalam saku rok abunya. Dahinya tampak berkerut saat melihat notifikasi satu pesan masuk


“ Hay anak Iseng...” tulis pengirim pesan yang membuat Kezia tersenyum simpul.


“ Kenapa?” Ketus Kezia.


Tak lama handphone Kezia berdering. Kezia tersenyum kecil melihat nama yang tercantum di layar perseginya.


“ Iya pak hendra , ada yang bisa di bantu?” Kezia mengulum bibirnya menahan senyum.


“ Bapak, bapak mulu.. kamu gag baca chat terakhir saya?” seru suara di sebrang sana


Terdengar decikan kesal dari sebrang sana. “Dengernya, nama saya angga dan bukan bapak-bapak. Saya masih muda, masih tergolong kakak-kakak. ” tegas suara di sebrang sana.


” Wah, terima kasih informasi pentingnya...” cetus Kezia seraya terkekeh lirih.


“ tut tut tut” sambungan pun terputus


“ Issshh gila ni orang ambekan banget. Dibecandain begitu aja marah. Ah bodo amat!” gumam Kezia seraya menelungkupkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Tak lama berselang, ada panggilan Video yang membuat layar ponselnya menyala terang. Nama Angga kembali muncul. Kezia tampak berfikir, untuk apa juga laki-laki ini melakukan panggilan video. Sembari bangkit dari rebahannya Kezia menjawab panggilan tersebut. Tampilah wajah seorang laki-laki khas timur tengah dengan rambut kelimis yang agak gondrong. Sangat maskulin.


Ia mengenakan kemeja hitam yang  ia gulung bagian lengannya hingga batas sikut. Ya, sangat tampan. Wajar kalau dia sedikit songong.


“ Heeyy, gag usah terpesona gitu dong” Angga mengibas-ibaskan tangannya di hadapan Kezia saat melihat Kezia yang terpaku untuk beberapa saat.


“ Iisshh kayak begini ngelabelin diri dengan panggilan kakak? Sok muda lo!?” Ketus kezia yang dengan segera tersadar dari pesona Angga.


“ Emang kamu fikir usia saya berapa?” tantang Angga.


“ Yaaa… sekitar 30 atau 35 tahunan kali yaa? Dan untuk orang seusia kamu harusnya aku panggil om!” ledek Kezia seraya tertawa renyah. Terlihat lesung pipi dengan gigi putih berderet rapi berhasil membuat Angga terdiam sejenak.


“ Enak aja! 27 aja belum!” Gerutu angga. Tapi kezia malah kembali tertawa. “ Bisa saya tebak, kamu pasti sering kalo lagi mikir sambil menopang dagu kamu dengan tangan kanan dan mengetuk-ngetukan telunjuk kamu di pipi, ya kan?” terka Angga


“ Kok kamu tau” Kezia mengernyitkan dahi karena tebakan Angga benar.


“ Yaa karena pipi kamu lesungnya cuma sebelah kanan! Hahahahha” gelak Angga dengan puasnya. Kezia melotot dengan mengepalkan tangan ke arah angga. Tak ada kecanggungan di antara mereka layaknya orang yang sudah


lama berteman.


“ Kamu video call niatnya emang cuma buat ngeledek ya?” Kezia terlihat kesal dengan raut wajah tertekuk.


“ Bukan lah… “


“ Terus mau apa?”


“ Eemmm cuma mau minta maaf  aja, waktu itu sempet bohong sama kamu.” Tutur angga dengan tatapan tulus. Kezia terhenyak dengan kata-kata angga. Tak disangka kecerobohannya waktu itu ternyata hal serius buat orang lain.


“ Yaaa.. Aku juga minta maaf waktu itu ganggu-ganggu kamu” sahut kezia.


“ Okeyy gag pa-pa, berarti kita impas yaa… Kedepannya bisa lah kita berteman” tawar Angga


“ Aku fikir-fikir dulu.” jawab Kezia dengan gaya seperti orang berfikir, mengetuk-ngetuk pipinya dengan tangan kanan.


“ Tambah banyak tuh lesung pipi” cetus Angga, seraya terkekeh. Kezia hanya menanggapinya dengan tertawa.


Obrolanpun berlanjut hingga larut malam. Sejak saat itu hampir setiap hari Kezia dan Angga sering berbagi cerita tentang apapun. Dia merasa kakaknya yang dahulu pergi telah kembali dan menemani hari-harinya.


*****


Jadi kalian tim mana nih? Arland, Angga apa Tyo?


Jangan Lupaa Like dan Komen yaa, biar lebih semangat nulisnya.