
“ Maaf saya terlambat…” ujar Amar yang baru datang. “ Kalian berdua udah lama nunggu?” Amar mengambil tempat duduk di hadapan Kezia dan Tyo.
“ Belum lama kok pak…” Jawab Tyo.
“ Okey, kita mulai aja. Key, kamu udah pelajari semua materinya?” tanya pria berkacamata dan berambut klimis tersebut dengan serius.
“ Sudah sih pak, tapi ada beberapa soal yang saya belum yakin jawabannya, jadi masih saya lingkari.” Kezia membuka halaman buku yang ada dihadapannya.
“ Yang mana key?” Tyo mencondongkan tubuhnya ke arah Kezia yang sedang menunduk. Jarak wajah mereka hanya sekitar satu jengkal saja. Amar terlihat gerah sendiri melihat pemandangan dihadapannya.
“ Okeeyy kamu bikin alur cara kamu jawab, besok bawa ke meja saya ya…” tutur Amar.
“ DUGG!!” tanpa sengaja kepala Kezia dan Tyo beradu saat Kezia mengangkat kepalanya.
“ Awww….” Kezia mengaduh pelan.
“ Sory key, aku gag sengaja… “ ujar Tyo sambil mengelus kepala Kezia.
“ Gag pa-pa kak, kepala kakak juga pasti sakit.” Kezia reflek menyentuh kepala Tyo. Wajah Tyo memerah dengan mata terbelalak melihat wajah Kezia yang begitu dekatnya.
“Aku gag apa-apa key…” Tyo terlihat gelagapan sekali lalu memalingkan wajahnya menghadap Amar yang sedang menatapnya dengan sinis. Tyo berusaha tersenyum tapi Amar hanya menggeleng.
Berulang kali Tyo mengatur nafasnya dan mencoba menenangkan jantung Tyo berdegub sangat kencang. Selama 18 tahun, baru akhir-akhir ini Tyo merasakan yang namanya Disritmia.
****
Di lapangan Basket
" Dari mana lo land?” tanya Andes setengah berteriak dari kejauhan.
Arland berjalan masuk ke lapangan basket dan tidak mengindahkan pertanyaan sahabatnya. Ia duduk di tembokan samping pintu masuk lapang basket dan menyandarkan tubuhnya dengan malas pada pagar kawat. Sesekali ia menarik nafas dalam dna menghembuskannya dengan kasar seraya memejamkan mata.
“ Wooyyy! Lo dari mana bro!” Andes menepuk tangan Arland yang kemudian duduk disampingnya.
“ Dari toilet!” jawab Arland tanpa membuka matanya.
“ Kenapa lo bete gitu?” Andes memperhatikan wajah Arland yang tampan mirip Mario Maurer.
“ Gag apa-apa.” cetus Arland singkat. Andes hanya mendengus kesal melihat tingkat Arland yang memang dingin.
Tak lama berselang terdengar sorakan teman-temannya dari sudut lapangan basket. Andes pun menoleh ke arah sumber suara.
“ Keeyy!! Siniii…” terdengar teriakan Dena dari sebrang lapangan dan melambaikan tangannya pada Kezia yang
baru masuk ke lapangan.
Kezia berjalan santai dan menutupi kepalanya dengan kedua tangannya.Ia merasa matahari begitu terik menyinarinya.
“Land, liat noh!” Seru andes sambil menepuk bahu Arland. Perlahan Arland membuka matanya lalu menoleh ke arah yang di tunjuk Andes. Tampak Kezia sedang berjalan menuju teman-temannya.
Hari itu ia mengenakan baju olahraga berwarna putih strip merah hitam di pinggiran jahitannya dengan celana selutut dan kaos pres body (karena baju Dena). Lekuk tubuhnya terlihat jelas. Sepatu olahraga berwarna putih semata kaki, membuat kakinya terlihat makin jenjang. Rambutnya diikat ekor kuda dengan leher putih jenjang yang menyilaukan mata. Poni depannya menutupi dahinya dengan rapi. Sementara beberapa helai rambut yang tidak terikat, berjatuhan di samping kiri dan kanan pipinya.
Arland terbelalak hingga beberapa kali Andes mengibaskan tangannya di depan mata Arland, namun Arland masih mematung. Andes hanya tertawa sambil berteriak pada teman-temannya.
“ Yuu mulai yuuu latihannya.” Teriak Andes dengan suara Kencang. Arland mulai tersadar dari lamunannya. Ia segera berlari menghampiri teman-temannya yang berkumpul di lapangan.
“ Lo kenapa barusan, kesambet bidadari lapang basket?” tanya Ricko seraya menyenggol lengan Arland. Arland hanya tersenyum kecil sambil memalingkan wajahnya ke arah Kezia.
“ Ya udah gimana nih sistem latihannya?” tanya Ricko
“ Berpasangan aja kali ya, biar seru?” goda Andes sambil mengedipkan mata kanannya pada Arland.
“ Ya terserah lo!” Arland menimpali dan mulai salah tingkah.
“ Ya udah lo panggil gebetan lo sama temen-temennya.” Seru Andes pada Ricko. Ricko pun melambaikan tangan pada Sherly dan sahabatnya. Sherly berjalan beriringan menghampiri Ricko dan kawan-kawan di tengah lapangan.
“ Okeeyy girls, kita bagi berpasangan. Besok itu testnya passing sama dribbling. Jadi nanti anak cowok ngajarin anak cewek cara long passing sama short passing terus bergerak ke dribbling. Untuk Pasangannya, andes bantu dena, tedy lo bantu kania, gue bareng sherly, dan lo land, bantu kezia okey!” terang Ricko sambil menepuk bahu Arland. Arland memalingkan wajahnya berusaha menyembunyikan senyuman yang ia tahan.
Mereka sepakat dan latihan pun di mulai. Setiap pasangan memilih tempat latihan masing-masing. Terlihat Dena yang mulai melempar bola pada Andes, tapi saat Andes berbalik melempar, Dena malah berlari.
Berbeda dengan Kania dan Tedy, beberapa kali Tedy mendapat omelan dari Kania yang merasa Tedy terlalu keras melakukan passing dan nyaris frustasi.
Dan di sudut lain lapangan, terlihat Kezia yang memegangi Bola dengan Arland di hadapannya yang berjarak sekitar setengah meter. Tangan Kezia sedikit gemetar dengan bola basket di tangannya terlebih karena Arland menatap tajam padanya.
“ Ayo lempar!” seru Arland pada Kezia “ Lempar dari Dada.” Arland mencontohkan dengan kedua tangannya di depan dadanya. Kezia mulai memposisikan bola dan mulai melemparnya. Namun lemparannya terlalu pelan dan terjatuh di kaki Arland.
“ Pake tenaga dikit key!” Seru Arland sambil melempar bola ke arah Kezia. Untuk pertama kali Arland memanggil namanya membuat Kezia tersenyum simpul.
“Happ!” Kezia menangkapnya dengan tepat, kemudian tertawa karena puas merasa telah berhasil. Arland ikut tersenyum melihat tingkah Kezia.
“ Ayo lempar balik pake tenaga!” seru Arland. Kezia kembali melempar bola, kali ini lebih keras dan..
“DUG!!!” bola dengan keras menghantam dada Arland.
“ Aww” ujar Arland mengaduh. Dipeganginya dada sebelah kiri. Kezia pun berlari mendekati Arland yang jatuh terduduk.
Dipegangnya dada Arland dengan lembut. Wajahnya begitu panik. “ Kamu gag apa-apa kan?” tanya Kezia sambil menatap Arland dengan jarak yang sangat dekat. Arland mendekati Kezia lalu berbisik di telinganya. “ Satu kosong” bisik Arland Perlahan.
Terasa hawa hangat meniup telinga Kezia membuat bulu kuduk Kezia meremang. Sejenak Kezia terpaku dengan pikiran yang mendadak kosong.
Arland beranjak dari tempatnya dan mengulurkan tangannya pada Kezia. Kesadaran Kezia pun kembali dan ia meraih tangan Arland yang membantunya berdiri. Sadar sepenuhnya Kezia tampak menggelengkan kepalanya berusaha memfokuskan fikirannya. Arland berjalan mundur beberapa langkah seraya memegangi bola basket.
Kezia ikut mengatur jaraknya dan menatap Arland dengan sinis saat ia sadar Arland hanya mengerjainya. Namun Arland hanya tersenyum sambil memutar bola di telunjuk kanannya membuatnya etrlihat keren.
“ Keeyy sadar, dia punya pacar. Jangan suka ngambil punya orang lain…” Bisik malaikat di samping Kezia.
Arland kembali mendekat. “Okeeyy sekarang cobain dribbling…” ujar Arland sambil melempar Bola pada Kezia.
Kezia mulai memantul-mantulkan bolanya di tempat.
“Sini maju, keliling di sini..” Arland memberi isyarat untuk mengelilinginya. Kezia mulai berjalan sambil terus memantul-mantulkan bola ke lantai lapang basket. Perlahan berputar mengelilingi Arland namun..
“ Dub…” Arland mengambil bola dari Kezia dan mulai memantu-mantulkannya.
“ Kamu gag ada pertahanan sama sekali.” Keluh Arland sambil terus memantul-mantulkan bola. “ Nih liat” ujar Arland sambil berjalan mendekati Kezia seraya memantulkan bola basket. Perlahan gerakannya semakin cepat dan mengelilingi tubuh Kezia dan
“ Seerrttt” Arland menarik ikatan rambut Kezia hingga membuatnya jatuh terurai menutupi wajahnya. “ Dua kosong” Arland kembali berbisik di telinga Kezia dengan seringai penuh kemenangan.
Kezia kembali terpaku melihat tingkat Arland. Lagi-lagi Kezia dikerjainnya. Kezia segera memalingkan wajahnya yang terasa memerah seperti tomat matang lalu berlari menuju meja tempatnya menyimpan tas ransel dan air minum. Diambilnya air minum dalam tas dan meneguknya. Tanpa Dia sadari Arland sudah ada di sampingnya dan memperhatikannya. Kezia melirik Arland sambil terus meneguk air mineralnya.
“ Ohokk ohookk” Kezia terbatuk karena kaget.
“ Pelan-pelan, aku gag minta.” Ujar Arland dengan ekpresi datar.
“ Ngapain kamu ke sini?” tanya Kezia yang kesal bercampur gugup.
“ Kamu murid macam apa, lagi latian tiba-tiba pergi, terus minum sendirian.” protes Arland.
“ Oh mohon maaf pak guru, saya lelah!” ujar Kezia sambil menenteng tas ranselnya.
“ Hey, kamu mau kemana?” tanya Arland yang mulai kebingungan.
“ I'm done!.” Tegas Kezia.
Tanpa Kezia dan Arland sadari enam pasang mata sedang memperhatikan mereka. Dena berlari menghampiri Kezia yang terlihat sedang bersitegang. Yang lainnya pun menyusul.
“ Kok udahan key?” tanya Dena sambil terengah.
“ Iyaa, capek gue…” terlihat keringat mengucur dari tubuh dan wajah Kezia membuat siluete tubuhnya terlihat makin sempurna.
“ Baju ganti lo di tas gue” Sherly segera mengambil tasnya dan mengeluarkan satu stel seragam putih abu.
“ Gag usah gue pake ini aja sher…” Jawab Kezia. “ Gue duluan ya…” Ujar Kezia pada teman-temannya. “ Terima
kasih pak guru atas ajarannya.” lanjut Kezia sambil merunduk dengan senyum kesal pada Arland. Arland hanya memalingkan wajahnya sambil menggaruk kepalanya. Lalu berjalan ke pinggir lapangan. Ia merutuki dirinya sendiri yang menyia-nyiakan kesempatannya begitu saja.
*****