
“ Key,, lo kok diem aja sih?” sapa Kania yang duduk di samping Kezia.
“ Gue gag apa-apa.” Jawab Kezia sambil tetap memainkan benda pipih di tangannya dengan game tetris yang membantunya memunculkan kembali moodnya yang telah rusak.
“ Girls.. jalan yuk! Pindah tempat kita.” Tutur Dena sambil mengipas-ngipaskan beberapa lembar tiket di tangganya.
"Yuk cabut, gue gag mood d sini..” seru Kezia sambil berdiri.
" Kita pake mobil sherly aja ya," tawar Dena pada Sherly yang sejak tadi asyik berbincang dengan Ricko.
" Siaapp! Yuk cabut…” Ajak sherly sambil menekan unlock pada kunci mobilnya. “ Ketemu di sana ya?” seru Sherly pada Ricko sambil melambaikan tangannya. Ricko hanya mengangguk dengan segaris senyum di bibirnya.
"Emang kita mau kemana?” Kezia kembali bertanya.
"Ricko ngajak kita main ice skating, pasti seru!” Sherly terlihat bersemangat. “ Lo ikut kan key?” tanya Sherly dengan tatapan berbinar. Kezia pun tak tega menolak keinginan sahabatnya.
" Lo kan tau gue gag bisa main ice skating. Paling gue nonton aja ya…” timpak Kezia sambil tersenyum tipis.
" Yeeaayy gak pa-pa, yang penting ada lo!” Seru sherly.
" Seneng banget lo, mau ngedate di anter sama rombongan segala.” ledek Dena. Kania, Kezia dan Sherlypun tertawa mendengar celetukan Dena.
Merekapun mulai berangkat menuju tempat yang di tuju.
***
Mereka telah tiba di parkiran salah satu mall terbesar dengan fasilitas lengkap.
" Yuk turun!” ajak Kania sambil membuka pintu depan sebelah kiri.
Kezia, Dena dan Sherly pun turun beriringan menuju sebuah lift yang akan membawa mereka menuju ke lantai dasar tempat permainan ice skating. Banyak sekali orang berkumpul menikmati wahana tersebut terutama anak-anak.
"Kok pada diem di luar ya orang-orang, bukannya masuk…” gumam Kania.
"Mana gue tau, lo tanya aja sama mereka.” Sahut Dena dengan ketus.
" Terus kita kemana nih sekarang?” tanya Sherly yang kebingungan.
" Tau nih, yang ngajak juga pada gag ada.” Seru Dena dengan mata yang mencari teman-teman laki-lakinya. Terlihat Dena tengah menekan-nekan layar ponselnya dengan lincah dan menghubungi seseorang. "Masuk aja katanya.” imbuhnya.
"Kata siapa?” selidik Sherly
" Kata si andes, puas lo?” sahut Dena.
" Ciieeee… sama andes nniihhh ceritanyaaaa….” Ledek ketiga sahabat Dena bersamaan.
"Tau ah, gue masuk aja sendiri.” Dena melangkah masuk dengan wajah memerah. Namun ketiga sahabatnya malah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Dena.
Mereka segera masuk ke wahana salju. Dari pintu masukpun udaranya sudah terasa sangat dingin.
" Gila, beku nih gue. Pake baju tipis begini…” tutur Kezia sambil memasukan tangannya ke dalam jacket denimnya.
"Cuma lo doang key yang salah kostum!” seru Kania sambil terkekeh.
"Ya mana gue tau mau main ke tempat gini..”gerutu Kezia.
Tampak disekitar mereka seperti hutan salju. Beberapa pohon cemara tampak tertutup salju buatan membuat orang bergidik dingin. Terdapat pula lampu–lampu menyala indah dengan cahaya yang tidak terlalu terang.
" Kok sepi yah?” tanya Kania
" Ucap salam lo, biar gag kesambet!!” Cetus Dena yang berjalan paling depan.
Dan setibanya di area yang lebih luas, terlihat hamparan bunga mawar merah begitu kontras bersanding dengan putihnya salju. Di tengah-tengah mereka ada sebuah meja dengan dua kursi di sampingnya. Dua gelas minuman tertata dengan indah di atas meja tersebut. Pemandangannya sungguh membuat tercengang dan meleleh.
Dari kejauhan tampak seorang laki-laki berjalan mendekati mereka. Semakin lama wajahnya semakin jelas.
" Rickooo….” Lirih sherly sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Cieeeee….” Sahut ketiga sahabat Sherly bersamaan.
" Gue gag mimpi kan na?” tanya Sherly sambil menggenggam tangan Dena yang juga dingin.
" Ini beneran sher…. “ jawab Dena yang ikut terkejut. Walau sebenarnya Dena sudah tahu rencana Ricko akan menyatakan perasaannya pada Sherly tapi ia tidak menyangka akan seromantis ini.
Ricko berdiri tepat di hadapan Sherly dengan setangkai mawar merah di tangannya. Di samping Sherly ada Dena dan Kezia sementara Kania di belakang, sibuk mengabadikan moment dengan smartphonenya. Di belakang Ricko tampak Arland dan Andes yang berdiri dengan santai.
“Sher, aku suka sama kamu sejak pertama dengar tawa kamu. Aku merasa hidupku yang sepi akan lebih hangat dan berwarna kalau kamu ada disisiku. Bisakah aku menjadi satu-satunya lelaki di hati kamu?” tutur Ricko dengan tulus.
" Ciieeee…. Terima dong…” seru Dena sambil mengelus punggung Sherly. Sherly hanya tersipu dengan rasa haru dan tak lama ia pun terangguk.
" Kamu emang satu-satunya di hati aku..” timpal Sherly dengan malu-malu.
" Ciieee….” Seru kelima sahabat mereka bersamaan dan Sherly menerima bunga mawar merah yang diberikan oleh Ricko. Kemudian dengan perlahan mencium bunga tersebut.
" Akhirnya lo sold out sher, ranking 1 pula. Siapa nih jomblo selanjutnya yang akan berganti status?” ujar Dena sambil tersenyum pada Kezia.
"Ngapain juga gue ngelirik dia?" rutuk Kezia dalam hati.
****
“ Key gue ke toilet dulu ya, gag kuat gue tadi dingin banget di dalem.” Cerocos Dena. Kezia hanya mengangguk sebagai respon.
kezia sndirian di salah satu sudut mall, ia meneguk coklat hangat yang ada digenggamannya. Kezia menyandarkan tangannya pada pinggiran pembatas yang terbuat dari besi dan kaca. Dipandanginya cahaya lampion warna–warni di lantai bawah yang terlihat begitu indah.
“Brug!!” tiba-tiba seorang anak yang sedang berlari menabraknya dan menumpahkan minuman yang ada di genggamannya. Anak tersebut pun terjatuh.
" Kamu gag apa-apa de?” tanya Kezia pada anak lak-laki yang berusia sekitar 5 tahunan. Anak tersebut hanya menatap Kezia dengan wajah ketakutan. "Kamu gag apa-apa? Mamahmu mana?” Kezia mengulang pertanyaannya seraya ikut berjongkok mensejajari anak tersebut.
"Itu, maaf sepatu kakak jadi basah…” ujar anak tersebut dengan wajah bersalahnya.
" Gag apa-apa, yang penting kamu ga apa-apa kan?” Kezia tersenyum manis seraya mengelus kepala anak tampan tersebut. Tersungging senyum di wajah sang anak. Tak lama terdengar seorang ibu memanggil anaknya yang membuat anak tersebut segera berpaling ke arah datangnya suara.
"Aku gag apa –apa kakak cantik.” timpal sang anak yang berlari meninggalkan Kezia. Kezia hanya tersenyum melihat tingkah anak tersebut.
Kezia melihat sepatunya yang basah dan kotor karena tumpahan coklat hangat. Dipungutnya gelas kertas yang terjatuh tadi dan membuangnya ke tempat sampah. Lalu ia mencari bangku kosong dan berjalan ke bangku kosong yang ada di pojokan. Kezia duduk di sana sambil melap sepatunya dengan tissue basah.
Dari kejauhan tampak Arland tersenyum memperhatikan Kezia. Arland berjalan menghampiri Kezia yang duduk sendirian. Arland duduk disamping Kezia dan menyodorkan coklat hangat di tangannya. Kezia meliriknya dan baru tersadar Arland ada di sampingnya.
"Aku udah minum.” cetus Kezia sambil kembali menunduk dan melap sepatunya.
"Bukannya tadi tumpah?” tanya Arland sambil terus menyodorkan minumannya.
"Itu bekas kamu?” tanya Kezia sambil menunjuk
"Baru aku minum seteguk.” Jawab Arland dengan terus terang
"Gag ah, mana ada cewek minum bekas cowok” gumam Kezia.
Arland menyandarkan tubuhnya ke dinding yang ada di belakangnya lalu melirik kembali Kezia dan tersenyum.
"Kamu takut seolah itu menciumku ya?” tutur Arland dengan santai.
"Isshh porno banget omongannya.” Kezia menatap aneh pada Arland. Arland hanya terkekeh.
"Bukannya kamu udah pernah mencium laki-laki?” tanya Arland.
"Enak aja, jangan nuduh tanpa bukti ya!” seru kezia dengan wajah merona.
Dipukulnya dada Arland dengan tinju Kezia. Arland mendengus pelan untuk kemudian kembali tersenyum. Entah mengapa tinjuan kezia terasa seperti belaian halus bagi Arland.
"Aku punya buktinya.” tutur Arland sambil mengeluarkan ponselnya. “ Nih!” seru Arland sambil memperlihatkan sekilas foto tersebut pada Kezia.
Kezia merasa mengenali postur tubuh tersebut. Ia tercengang dengan mata melotot ketika ia sadar tempat itu sepertinya perpustakaan dan saat itu ia tertidur di sana. Tampak kepalanya berada di atas meja sedikit tertutup
oleh kepala seorang laki-laki persis seperti sepasang kekasih yang sedang berciuman. Tapi Arland segera mematikan layar handphone nya.
"Hey bentar aku mau liat!” seru Kezia yang berusaha merebut ponsel Arland.
"Gag! “ kata Arland sambil menghindarkan handphonenya dari jangkauan Kezia.
Kezia masih terus berusaha merebut handphone Arland. Arland mengangkat handphonenya tinggi-tinggi membuat Kezia terus berjinjit berusaha menyamai tinggi Arland. Tanpa Kezia sadari tubuhnya tak seimbang dan terjatuh di dada Arland dengan posisi memeluk Arland. Wajahnya berjarak sangat dekat dengan wajah Arland. Mata mereka saling memandang tidak berkedip dengan jantung yang berdegub kencang. Kezia bisa merasakan detakan jantung Arland yang tak beraturan. Suara nafasnya terdengar jelas di telinga Kezia.
"Kamu gag gemuk, tapi berat banget.” bisik Arland.
Kezia segera tersadar kemudian melangkah mudur menjauh dari Arland kemudian berbalik pergi meninggalkan Arland dengan perasaan tidak menentu.
Arland terkekeh melihat Kezia yang salah tingkah. Diusapnya dada Arland yang masih berdegub tak beraturan. Arland menarik nafas perlahan kemudian membuangnya. Ia berlari kecil mengejar Kezia yang tidak lama sudah berada di sampingnya.
"Hapus foto itu. Jangan bikin orang salah paham!” cetus Kezia tanpa memandang Arland.
"Emang gag terjadi?” Tanya Arland ingin meyakinkan.
"Mana ada orang yang gag ada perasaan ngelakuin hal kayak gitu. Kecuali playboy dan tukang selingkuh kayak kamu.” Tutur Kezia sambil menunjuk wajah Arland.
Arland tersenyum mendengar jawaban Kezia. Di rongga kepalanya ada sorakan “YES!” dengan penuh semangat.
" Emang aku selingkuhin siapa dan selingkuh dengan siapa?” Tanya Arland sambil menahan tawa. Ia berjalan di depan kezia dengan langkah mundur agar tidak lepas pandangannya dari Kezia.
"Ya mana aku tau…” jawab Kezia dengan pipi merona. Kezia berbelok kemudian mempercepat langkahnya.
"Hey tunggu! Kemana?” Tanya Arland yang ikut mempercepat langkahnya.
"Pulang!” Jawab Kezia.
" Aku parkir di Blok C” bisik Arland sambil berlari menuju Lift. “ Cepeett!” seru Arland saat sudah berada di pintu lift. Tangannya menghadang pintu lift agar pintu tidak tertutup.
Kezia masih berjalan dengan santai seolah masa bodoh. Sesekali dia membuang pandangannya dari Arland yang terus melihat ke arahnya dengan senyuman tipis yang membuat hatinya berdesir. Dan Arland menunggunya dengan setia di pintu lift sambil terus memandangi Kezia dengan tatapan hangat.
****