
# flash Back on
Seusai Jam istirahat, Arland dan teman-temannya masuk ke dalam kelas. Tak lama , Bu Ratih masuk dan membuat anak-anak yang ribut jadi terdiam.
“ Baik anak-anak, karena hari ini orangtua salah satu guru kita meninggal, maka Ibu dan guru-guru yang lain akan melayat ke rumah almarhum. Sementara itu, kalian bisa mengerjalan tugas di LKS halaman 39.” Terang Bu Ratih
“ Baikk bu…” jawab para siswa bersamaan. Bu Ratih pun undur diri.
Sementara teman sekelas Arland kembali riuh dengan candaan mereka, Arland pergi menuju toilet. Langkahnya terhenti saat dia melihat seseorang yang sedang duduk sendirian di perpustakaan. Disandarkannya tubuh Arland ke pintu perpustakaan, dengan mata yang masih terus memperhatikan gadis yang ada di dalam perpustakaan. Ya, gadis itu adalah Kezia.
Sesekali Kezia tampak bergumam sendiri, lalu mencoret-coret bukunya, kadang ia mengepalkan tangannya dan memukulkannya ke atas buku tulis dihadapannya. Arland tersenyum melihat tingkah Kezia. Sekitar lima belas menit berlalu Arland masih mematung di sana. Tiba-tiba Kezia menelungkupkan wajahnya di atas meja dan tangan kanannya dijadikan bantal.
Melihat kezia yang sepertinya tertidur, Arland pun berjalan untuk melihatnya. Ia duduk di samping Kezia dan di tatapnya wajah polos Kezia yang tampak kelelahan. Beberapa helai anak rambut menutupi wajahnya. Lehernya tampak jenjang dengan rambut diikat seperti ekor kuda.
Arland menelan ludahnya sendiri melihat leher Kezia, sesaat pikirannya membayangkan jika laki-laki lain memikirkan hal yang sama dengannya. Entah apa yang membuatnya merasa tidak rela.
“ Aku lebih suka kamu tidak memperlihatkan lehermu pada orang lain.” batin Arland seraya tersenyum memandangi wajah Kezia. entah sejak kapan ia sangat suka memandangi Kezia dari kejauhan tanpa Kezia tahu namun kali ini ia memutuskan untuk mendekat.
Ditariknya ikat rambut yang sedari tadi menyatukan helaian rambut Kezia. Rambut lurus Kezia jatuh menutupi wajahnya. Perlahan tangan Arland mengibaskan beberapa helai rambut Kezia yang menutupi wajah putih mulusnya. Tangannya bergerak begitu saja tanpa keraguan. Arland tersenyum ia begitu menikmati pemandangan di hadapannya. Beberapa buku tampak bertumpuk di hadapan Kezia. Ada buku latihan, rumus-rumus dan latihan ujian.
“ Kamu berusaha sangat keras.” Arland Kembali berbisik dalam hati.
Diambilnya pensil yang berada di hadapannya. Ditulisnya beberapa kata di buku catatan Kezia dengan emoticon strong di sana. Arland mulai beranjak meninggalkan Kezia. Di dorongnya kursi yang dia duduki ke belakang dengan perlahan agar tidak bersuara. Lalu berjalan menjauhi Kezia. Sesekali dia melihat ke belakang untuk melihat punggung Kezia yang masih terbungkuk, lalu kembali berjalan menuju toilet.
“ Land, dari mana aja lo? Perasaan tadi lo duluan ke toilet, kok baru dateng sekarang.” selidik remaja dengan rambut warna warni bernama Andes.
“ Gue ada urusan sebentar.” Jawab Arland sambil mencuci tangannya di wastafel.
“ Gue kira lo ke kelas IPA 6 tanpa minta anter gue…” ledek Andes sambil menepuk bahu Arland. Arland mengangkat wajahnya dan memberi senyuman pada cermin yang ada dihadapannya dan memantulkan wajah Andes.
"Sejak kapan lo jadi sok tau kayak gini?" Arland menyeringai sebal mendengar ledekan Andes.
"Hallaahh sok masih d tutupi segala. Ketikung orang baru tau rasa lo!" ledek Andes dengan bibir mencibir.
Arland mencipratkan sisa air di tangannya pada Andes. Andes terkekeh begitu saja.“ Yuk cabut” imbuh Andes.
Arland dan Andes berjalan beriringan. Tangan Andes melingkari pundak Arland dan mereka berbincang santai. Sesampainya di depan perpustakaan , langkah Arland kembali terhenti. Kezia masih tertidur dengan di temani Tyo di sampingnya. Tak disangka, Arland melihat Tyo mendekatkan wajahnya ke arah Kezia, lalu kepala keduanya terlihat seolah bersatu. Arland mengepalkan tangannya dan menggertakan giginya. Ada hawa panas didalam tubuhnya yang rasanya akan segera keluar dan membakar tubuhnya.
“ Sialan tuh si ketua osis cari kesempatan dalam kesempitan” Gerutu Andes yang didengar Arland. Arland pun bergegas pergi setelah sebelumnya menonjok dinding perpustakaan.
# Flash Back Off
“ O iya, ini Irene” lanjut Arland memperkenalkan gadis yang ada disampingnya.
“ Kenalin, gue temen deketnya Arland.” tegas wanita tersebut dengan penuh penekanan seraya mengulurkan tangan kanannya.
“ Temen kan yaaa, bukan pacar…” sinis Dena.
“ Menurut lo?” jawab gadis tersebut tidak kalah sinis.
“ Dubb!!!!”
Terasa sesuatu menghantam dada Kezia. Kezia hanya mematung seraya menunduk mendengar jawaban Irene.
Ada rasa kecewa yang tidak bisa digambarkan dan ada rasa sakit yang tidak bisa diceritakan. Ingin rasanya waktu berhenti berputar kemudian dia bisa berlari keluar meninggalkan orang-orang yang ada dihadapannya
“ Eemm okeeyy, kami pamit duluan yaaa..” tutur Arland sambil melirik Kezia yang hanya tertunduk.
“ Okkeeyy !! Byee!!!” Sahut Kania dengan kesalnya. Sementara Dena hanya tersenyum ke arah Kezia. Kezia memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan bulir air mata yang berkumpul di pelupuk matanya.
Arland dan Irene pun berjalan keluar toko setelah menyelesaikan pembayaran. Setelah di luar mereka tampak berdebat. Arland segera naik motor miliknya, meninggalkan Irene yang terlihat kesal. Tak lama Irene pun masuk ke mobilnya.
****
“ Gurls, gue duluan yaa….” Seru Kania yang sudah terduduk di jok sebelah kiri pengemudi.
Selesai membeli beberapa kado untuk anak panti, Kania pulang dengan dijemput orangtuanya. Arah rumah Kania, Dena dan Kezia memang tidak searah, sehingga mereka tidak pulang bersama-sama.
Kania dan Sherly adalah saudara sepupu. Mereka terlahir dari keluarga kaya raya. Papah Kania adalah Adik dari Ibu Sherly. Usaha mereka tersebar dimana-mana. Sempat beberapa kali usaha mereka di kabarkan bangkrut, namun Sherly dan Kania selalu menegaskan bahwa itu hanyalah ulah dari saingan bisnis orangtuanya. Tapi meskipun mereka terlahir dari keluarga kaya raya mereka tetap bersikap sederhana.
“ Keyy, lo baik-baik aja kan?” tanya Dena dengan perlahan
“ Iya na, gue baik-baik aja. “ Jawab Kezia tanpa melihat wajah Dena. Dia sibuk dengan handphonenya. “ Gue pulang naik ojek online aja yaa, biar cepet nyampe.” Lanjut Kezia yang masih sibuk menekan-nekan layar ponselnya.
“ Keyyy….” Seru Dena sambil menarik tangan Kezia.
Kezia mengangkat wajahnya dan tersenyum pada Dena. Dipeluknya tubuh Dena dengan erat.
“ Gue baik-baik aja okeeyyy…” bisik Kezia di telinga Dena. Dena hanya mengangguk. Tak lama ojek online pesanan Kezia pun datang. “ Okeeyy, gue juga duluan yaaa…” ujar Kezia sambil melambaikan tangannya.
“ Okeyy, hati-hati di jalan” sahut Dena yang membalas lambaian tangan Kezia
Di tempat lain, Arland tengah menunggu Ricko yang masih makan siang dengan calon pacarnya. Ia duduk sendirian di atas motor dengan kacamata hitam bertengger menutupi kedua matanya. pikirannya masih mengingat kejadian di toko buku dan perpustakaan tadi.
Rasa kesal masih kuat menggelayuti perasaannya, entah sejak kapan ia mulai berani untuk melangkah mendekati gadis yang kerap muncul di pikirannya.
"Ini Gila!" dengusnya yang tak sadar dengan semua yang ia lakukan selama ini.
****