
Jam sudah menunjukan pukul 9 malam. Kezia pulang dengan di antar ketiga sahabatnya menggunakan mobil Sherly.
“Girls, nanti jangan bilang apa-apa ya sama mamah soal kejadian hari ini.” pinta Kezia dengan wajah sendu.
“Loh emang ? Dia kan nyokap lo key, masa gag boleh tau anaknya celaka?” tanya Kania dengan serius.
“Iyaa lagian lo pulang pake baju pasien, kita mau jawab apa nanti?” tanya Dena.
“Jawab aja, ini piyama punya kalian okey. Udah case closed!” seru Kezia tak ingin di protes. Ketiga sahabatnya hanya saling pandang mendengar ujaran Kezia.
"Ya udah," sahut ketiganya bersamaan.
Tak lama berselang Kezia sampai di halaman rumahnya. Suasana rumah terasa begitu sepi. Lampu depan menyala dengan cahaya tidak terlalu terang, seolah menggambarkan kondisi keluarganya yang tengah terpuruk.
“Girls, makasih yaa… Kalian langsung pulang aja, kayaknya mamah juga udah tidur.” Ujar kezia yang sudah berada di luar mobil Sherly.
“Tapi key..”
“Gue mohon, hem…” sela kezia memotong kalimat Dena.
Ketiga sahabatnya sepertinya paham, Kezia sudah di ingin di debat, ia pun tidak ingin mendapatkan pertanyaan atau pernyataan lebih lanjut.
“Okey sampe jumpa besok yaa..” seru Sherly.
Kezia terangguk seraya melambaikan tangan pada ketiga sahabatnya yang kemudian berlalu pergi.
Sepeninggal ketiga sahabatnya, Kezia masuk ke rumahnya. Di dorongnya pintu utama rumah tersebut lalu di tutupnya kembali. Saat Kezia melewati ruang keluarga, terlihat Eliana sedang duduk di sofa sambil memangku laptop.
“Malem mah…” sapa Kezia sambil menghampiri Eliana.
“Malem sayang…” Eliana melepaskan kacamatanya dan menyambut Kezia dengan pelukan.
Sudah tidak terlihat lagi mata sembab di wajah Eliana. Rupanya kemarin , Eliana memang benar-benar memerlukan waktu untuk sendiri.
“Kamu darimana nak? Kok pakai baju begini?” tanya Eliana sambil memperhatikan tubuh anaknya yang terlihat berbeda.
“Eemm ini mah, tadinya zia mau nginep di rumah sherly, tapi zia kangen mamah, jadi pulang deh malem-malem.” Jawab Kezia sambil memeluk Eliana dari samping. Eliana mengecup pucuk kepala Kezia dengan lembut.
“Makan dulu nak, mamah udah masak makanan kesukaan kamu.” Ujar Eliana sambil memindahkan laptop di atas
pangkuannya ke atas meja yang ada di hadapannya.
"Zia boleh minta di suapin mamah?”
“Boleh nak, yukk!!!” Eliana beranjak dari duduknya sambil menarik tangan Kezia.
Kezia duduk berdampingan dengan Eliana. Diambilnya nasi dan lauk untuk mereka makan. Ada ayam rica-rica favorit Kezia. Eliana mulai mengumpulkan nasi dan ayam rica-rica di tangannya kemudian menyuapkannya pada Kezia. Kezia membuka mulutnya lebar-lebar, rasa ayam yang enak berpadu dengan rasa haru yang menderu di dada kezia.
“Enak banget mah…” tutur Kezia sambil menahan air mata yang hampir menetes dari matanya. Betapa ia sangat merindukan kebersamaan bersama keluarganya.
"Mah, akan kah semua kembali seperti dulu?" batin Kezia.
*****
Malam itu, Arland tengah duduk sendirian di bangku café, di temani segelas lemon hangat yang ada di hadapannya.
“Hay, udah nunggu lama ya?” sapa seorang gadis
“Hem” sahut Arland tanpa menoleh sedikitpun. Ia sudah tahu benar siapa yang menghampirinya.
Gadis itu duduk di hadapan Arland dan memandanginya dengan penuh perasaan.
“Aku seneng banget kamu ngajak kita ketemu malem-malem gini, romantis banget sih.” Ujar Irene seraya meraih tangan Arland yang ada di hadapannya dengan sunggingan senyum penuh rasa bahagia.
Arland mengibaskan tangan Irene lalu menatapnya dengan tajam.
“Aku gag suka kamu bermain-main dengan nyawa orang lain.” ujar Arland dengan tegas.
Irene tersenyum, ia mengibaskan rambutnya kemudian menatap Arland dengan senyum penuh kemenangan.
“Aku lebih gag suka dengan laki-laki yang suka ingkar. Tapi, karena aku cinta, aku akan kasih satu kesempatan lagi.” Tutur Irene tak kalah tegas.
“Ren, aku udah bilang sama kamu, kita cuma bisa sebagai temen. Aku gag ada perasaan apa-apa sama kamu.” Arland mulai geram
“Tapi aku gag mau kita cuma sebatas teman. 1 tahun aku nunggu kamu untuk membuka hati, semua usaha udah aku coba, tapi kamu gag pernah sekalipun ngelirik aku, ngehargain keberadaan aku. Aku kurang apa buat kamu land? Hah?” gertak Irene dengan mata berkaca-kaca.
Arland mendengus kesal.
“Aku gag cinta sama kamu ren, cuma itu alasannya.” Tegas Arland. “Aku rasa, aku udah cukup ngeladenin kamu
main-main. Aku gag bisa lebih lama lagi duduk diam di samping kamu.” Sambung Arland seraya beranjak dari tempatnya.
“Arland!” Irene menahan tangan Arland dengan segera, namun Arland mengibaskannya. “Kamu akan menyesal kalau kamu memilih pergi dari aku!” ancam Irene dengan wajah merah padam.
Arland tak memperdulikannya. Ia segera berlalu meninggalkan Irene sendirian.
Irene jatuh terduduk. Air matanya berderai. Usahanya selama ini tak berarti apa-apa untuk Arland.
Dimatanya terlihat jelas kilatan kebencian dengan bibir yang tersenyum penuh kelicikan.
*****
“Wah buku catatanku basah lagi.” gumam Kezia yang sedang mengeluarkan satu per satu buku dari dalam tasnya. Dikeluarkannya pula handphone yang ditaruhnya di bagian depan tasnya.
Diambilnya kabel charger dan dihubungkannya dengan Handphonenya. Beberapa lama kemudian handphonenya menyala. Kezia melihat banyak sekali pesan yang masuk dan salah satunya dari Angga. Dibukanya pesan itu dengan segera. Sudah hampir seminggu Kezia tidak berkabar dengan Angga sejak Angga bilang tiga hari tidak bisa menghubunginya.
“Hay key..”
“Lagi sibuk key?”
“Keeyy..”
“Kamu baik-baik aja kan key?”
“Key kamu marah kah”
“Kamu kemana aja gag pernah bales pesan aku key?”
Banyak sekali pesan yang dikirim Angga tapi belum ada yang Kezia balas. Kezia hanya tersenyum memandangi foto Angga dengan wajah tampannya.
“Aku baik-baik aja kak..” balas Kezia.
Ditaruhnya kembali handphone Kezia di samping tas ranselnya yang agak basah. Kezia melanjutkan membongkar bukunya. Beberapa buku latihan juga ikut basah.
“Maaf kak tyo, aku gag menjaga buku kakak dengan baik…” gumam Kezia dengan penuh sesal.
Kezia mengambil buku baru dari rak bukunya. Dia mulai mencatat kembali soalnya yang sebelumnya dia tandai. Beberapa buku tak berani Kezia buka karena takut sobek jadi menunggu bukunya agak kering. Tangannya mulai lincah menulis di atas lembaran kosong tersebut. Sesekali dia tampak berfikir mengingat soal yang sebelumnya tidak bisa ia jawab.
“ Dddrrttt… dddrrttt…” Handphone Kezia bergetar dan menampilkan notifikasi panggilan video dari Angga. Kezia pun menjawabnya.
“Hayyy!” sapa Kezia dengan senyuman ramah.
“Hay gadis iseng, kamu kemana aja?” tanya Angga dengan wajah kesal
“Bukannya kakak yang gag mau di hubungi sama aku?” balas Kezia dengan mata melotot
“Aku kan cuma tiga hari doang minta tolong jangan hubunginya, kenapa kamu ngebalesnya dengan seminggu?” protes Angga masih dengan wajah kesalnya.
“Kamu sampe segitunya kangen sama aku.” goda kezia pada Angga
“Enteng banget kamu ngomong. Tiap hari aku hampir gila nunggu kabar dari kamu. Dikrimin pesan gag dibales. Di telpon gag aktif, sekalinya aktif malah gag di angkat. Kamu fikir aku gag cemas, takut kamu sakit, kamu ada musibah, kamu di kerjain orang, kamu gag makan dan kamu cuma bilang sampe segitunya?” cerocos Angga masih dengan nada kesal. Kezia tercengang mendengar ucapan Angga.
“Kak, aku udah gede, bukan anak kecil. Aku laper aku akan makan, aku haus aku akan minum, aku ngantuk aku
akan tidur, jadi jangan sok baik perhatian sama aku dan ujung-ujungnya akan mengabaikan aku saat aku dalam kondisi sulit!” tegas Kezia.
Angga hanya terdiam mendengar kata-kata Kezia. Dia masih belum bisa mencerna apa yang diutarakan Kezia.
“Okey aku minta maaf kalo aku salah key!” ujar Angga dengan lirih.
“Semua yang aku alami aku ceritain sama kakak, semua rahasiaku aku kasih tau kak. Tapi kakak gag pernah terbuka sama aku. Sudah beberapa kali kakak minta supaya aku gag ngehubungin kakak. Bahkan saat aku sedih dan ingin ada yang mendengarkan, kakak masih tetap tidak bisa dihubungi. Kalau aku begitu mengganggu, kenapa kakak masih terus menghubungi aku?” tutur Kezia dengan air mata berurai. Kezia merasa, Angga adalah orang kedua yang mengabaikannya setelah papahnya dan ia tidak bisa menerima.
Penuturan Kezia membuat Angga salah tingkah. Di tambah air mata yang berderai membuat perasaannya miris. “Okeyy, aku terima kemarahan kamu. Aku cuma nggak mau kamu kasihani saat aku sedang dalam kondisi terpuruk.” Angga sedikit maninggikan nada suaranya. “ Aku akan terbuka , aku akan cerita semuanya. Tapi aku gag tau setelah aku cerita kamu apa kamu masih akan tetap menjadi adikku yang baik atau menjauh, itu pilihan kamu.” Tutur Angga sambil tertunduk.
“Aku akan dengarkan kak. Tidak peduli apapun kondisinya kamu sudah ku anggap sebagai kakakku.” tegas Kezia.
Angga menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Matanya tampak berkaca-kaca, entah apa yang membuatnya tiba-tiba terlihat sedih.
“Key, aku adalah seorang pasien leukemia." Angga memulai pengakuannya, membuat Kezia terpaku di tempatnya.
"Aku mengikuti chemotheraphy sesuai jadwal yang ditentukan dokter. Sudah hampir enam bulan penyakit ini menggerogoti tubuhku. Sebelumnya aku gag mau diobatin. Ibuku hampir bunuh diri karena aku menolak pengobatan. Sampai akhirnya, aku bisa kembali tertawa karena mendengar suara ketakutan kamu saat salah sambung tempo hari. Aku berfikir aku ada tujuan hidup baru, yaitu ketemu kamu. Aku minta waktu 3 hari setiap habis Chemo, karena itu adalah masa paling mengerikan buat aku. Saat kamu melihatku kesakitan atau muntah –muntah tak jelas, mungkin kamu akan berfikir kalau aku adalah orang yang menyedihkan. Aku…”
“Cukup kak, cukup! Aku gag bisa denger lebih jauh lagii…” ujar kezia dengan air mata yang menetes entah sejak
kapan.
Angga tertunduk lesu. Tangis yang coba di tahannya, pecah begitu saja. Angga menekan sudut matanya agar berhenti mengalirkan cairan bening yang membuatnya terlihat semakin menyedihkan. Ditatapnya mata Kezia dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan. Perlahan Angga memundurkan kursinya.
“Lihat key, aku gag bisa jalan, kemana-mana harus pakai kursi roda. Dan lihat, rambutku mulai rontok sedikit demi sedikit.” Lanjut Angga sambil menahan tangis di dadanya.
Kezia tidak mampu berkata apapun. Dadanya terasa begitu sesak. Ingin sekali Kezia berlari ke hadapan Angga dan memeluknya dengan erat.
“Kak udah cukup, maafin aku yang beberapa hari ini mengabaikan kakak. Aku hanya merasa ini kali keduanya
aku di abaikan. Sehinga aku…” Kezia tidak mampu meneruskan kalimatnya. Dia tersungkur di atas kedua tangannya. Sementara Angga terus memandanginya.
Angga menyentuh layar ponsel yang menampilkan wajah Kezia. Ia mengusapnya, berharap sentuhannya dapat di rasakan Kezia.
“Key, kalo suatu hari kita ketemu, kamu jangan lari ya…” lanjut Angga sambil tersenyum pilu. Kezia hanya menggelengkan kepalanya.
Kali ini, Kezia merasa masih harus bersyukur. Betapa ia masih lebih beruntung dari siapapun, termasuk Angga.
*****