
" Ddrrtt… Ddrrttt..” Handphone Sherly bergetar dan menampilkan notifikasi pesan masuk. Nama Ricko tertera di sana membuat senyuman lebar terkembang di bibirnya.
“ Yang, bisa tolong tinggalkan kezia sendiri? Arland mau ngomong berdua katanya.” ujar Ricko dari sebrang sana.
Sherly memandang ke arah Ricko yang berdiri di kejauhan bersama teman-teman club basketnya. Sherly mengangguk sebagai respon.
“ Key, gue nyamperin dulu ricko yaa…” tutur Sherly tanpa ragu.
“ Okey…” jawab Kezia yang tengah memainkan benda persegi di tangannya.
“ Ka, katanya lo mau ke toilet,minta anter dena aja gih, gue nyamperin Ricko dulu.” Seru Sherly seraya mengedipkan matanya sebagai isyarat pada Kania dan dena, lalu matanya melirik ke arah Arland yang sedang berjalan menghampiri mereka.
“ Ooohhh.. Okeyy, ayo gue anter. Kita ke toilet bentar ya key…” seru Dena yang sepertinya paham isyarat mata yang diberikan Sherly.
“ Mau boncengan lo, ke toilet berdua?” cetus Kezia yang terkekeh geli.
“ Takut gue key…” jawab Kania.
“ Ya udah sana, jangan ngompol di sini.”
Kania dan dena pun berlalu.
Tidak lama berselang, Arland tiba dan berhadapan dengan Kezia. “ Sendiri Key?” sapanya, canggung.
“ Hem,” jawab Kezia tanpa mengangkat kepalanya.
“ Hey, ngapain sih, sibuk amat?” tanya Arland sambil menarik ponsel dari tangan Kezia.
“ Ihh apa siihh?” gerutu Kezia dengan kesal. “ Mau ngapain ke sini?” tanyanya dengan jutek.
“ Loh emang gag boleh? Kamu sendirian, aku sendirian kenapa enggak duduk semeja.” Jawab Arland sekali lalu tersenyum.
“ Kamu sendirian?” tanya Kezia dengan wajah ceria
“ Iya, emang kenapa?” tanya Arland mendekatkan wajahnya ke Kezia
“ KA - SI - AN!!!!” ledek Kezia dengan mata mendelik tajam.
Arland tertawa dengan mulut di tutupi kepalnya. “ Cepet banget ekspresi kamu berubahnya.”
“ Cepet banget ekspresi kamu berubahnya.” Kezia mengulang ucapan Arland dengan bibir yang mencibir.
“ Kok malah ngikutin?” tutur Arland lagi
“ Kok malah ngikutin?” ulang Kezia dengan ekspresi mengejek
“ Nyesel loh ngulang omongan aku?” ceracau Arland
“ Nyesel loh ngulang omongan aku?” sepertinya Kezia tidak peduli.
“ I love You!” bisik Arland
“ I love You!” tanpa sadar Kezia pun mengulangnya.
“ Love you too…” jawab Arland sambil tersenyum
“ Iihh apaan sih kamu!” Kezia memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan rona wajahnya yang memerah.
Arland tergelak karena berhasil menggoda Kezia. Di tatapnya Kezia dengan jarak yang dekat, namun Kezia hanya tertunduk menatap wallpapper jam yang berdetak di handphonenya. Salah tingkah rupanya.
“ Key aku mau ngomong, “ tutur Arland dengan wajah serius.
“ Bukannya dari tadi kamu udah banyak ngomong?” sahut Kezia tanpa mengangkat wajahnya
“ Ayoolaahh, ikut aku sebentar..” Arland menarik tangan Kezia dan menggenggamnya dengar erat.
Rasanya seperti dejavu, kejadian ini sama dengan saat pertama ia bertemu dengan Arland. Genggaman tangannya, ketenangan wajahnya dan wangi parfum yang menenangkan saraf hidung Kezia membuat jantung Kezia bertalu tidak menentu.
“ Mau kemana sih ini?” Kezia berusaha memfokuskan dirinya lagi. Logika berfikir untuk menolak, tapi tubuhnya dengan senang hati ikut melangkah di samping Arland.
Arland tidak menjawabnya, ia terus menarik tangan Kezia dan membawanya ke taman tempat mereka bertemu. Arland duduk di bangku yang pernah mereka duduki bersama.
“ Ngapain kamu ngajak ke sini? Ini kan markas aku.” Cetus Kezia sambil bersidekap.
“ Aku tau, tempat ini tempat yang paling tenang buat kamu, jadi aku ingin ngajak kamu bicara dengan tenang.” Arland menatap wajah Kezia dengan seksama.
“ Aku kan jadi gag tenang gara-gara kamu gangguin. Sebelumnya aku baik-baik aja.” Cetus kezia sambil memalingkan wajahnya karena tatapan Arlandnya rasanya akan menyeretnya untuk tenggelam dalam sebuah perasaan yang tidak bisa ia jelaskan.
“ Sejauh mana aku ngeganggu kamu?” tanya Arland dengan senyum tersungging.
“ Ya sejauuhhh….” Kezia tidak bisa meneruskan kata-katanya. Entah mengapa pikirannya blank seketika. Melihat wajah Arland di sampingnya, membuat darahnya berdesir.
“ Kamu juga selalu ganggu aku key…” tutur Arland yang memandang lurus kedepan, melihat dedaunan meliuk ke kanan dan ke kiri terkena hembusan angin yang bertiup lembut. “ Kemarin, sebelumnya, semalam, barusan dan saat ini masih menggangguku.” Tutur Arland sambil tersenyum. Disandarkannya tubuhnya ke sandaran bangku taman. “ Sebagian besar waktu ku sudah kamu ganggu.” Lanjut Arland dengan perlahan.
Kezia hanya terdiam. Entah mengapa ia begitu suka mendengar ujaran Arland barusan.
“ Irene itu, dia anak teman sekaligus bos mamahku. Irene meminta mamahnya untuk menjodohkan dia sama aku. Aku sudah menolaknya, tapi dia terus mengancam untuk merusak bisnis mamah kalau aku tidak setuju. Dan beberapa kali, bahkan dia mencelakai kamu.” Terang Arland sambil menatap Kezia yang sejak tadi tertegun. "Maaf key, gara-gara aku, dia gangguin bahkan celakain kamu…” lanjut Arland dengan wajah sendunya.
“ Kenapa kamu gag jauhin aku aja biar kita gag sama-sama diganggu…” tanya Kezia dengan tatapan polosnya yang kemudian tertunduk. Rasanya jantungnya nyaris remuk saat kalimat itu terucap dari bibirnya sendiri. Lagi-lagi mulutnya benar-benar telah mengkhianati hatinya.
“ Kamu bener-bener pengen aku menjauh?” tanya Arland sambil mengangkat dagu Kezia agar menatapnya.
Kezia mengibaskan tangan Arland kemudian kembali menunduk. Menatap Arland membuatnya sukar bernafas.
“Kalau kamu minta aku menjauh, sepertinya udah terlambat. Kamu udah ada di sini…” tutur Arland sambil
menempatkan tangan Kezia di dada kirinya.
Kezia tertegun mendengar ucapan Arland. Wajahnya terangkat dengan sendirinya. Arland mengubah posisi duduknya menghadap Kezia.
“ Apa kamu mau berjalan di samping ku key, sebagai satu-satunya yang mengisi hatiku?” lanjut Arland dengan genggaman yang sangat erat.
Kezia menarik nafas dalam-dalam. Entah berapa lama ia tak bernafas, menikmati setiap kata yang keluar dari mulut Arland yang terdengar seperti sajak lagu yang menggetarkan jiwanya.
Arland terpaku, nafasnya tertahan menunggu jawaban Kezia yang sangat ia nantikan. Dalam hatinya, berharap perasaannya bisa bersambut.
“ Land, kamu belum mengenal aku dan aku belum mengenal kamu. Aku rasa semua terlalu cepat. Kita masih usia
sekolah, masih banyak mimpi yang harus di kejar. Kamu memilih aku dan meninggalkan Irene yang begitu sempurna. Aku gag mau kamu menyesal.” Terang Kezia dengan cairan bening yang terkumpul di sudut matanya.
“ Heyy, aku bukan akan mengajakmu menikah besok, tapi aku memang serius dengan perasaan aku sama kamu.” Tanya Arland sambil memegangi kedua belah pipi Kezia dengan lembut. “ Aku ingin kamu tau, ada kamu di hati aku dan tidak ada orang lain di sana. Aku akan menunggu kalau kamu merasa belum cukup mengenalku. Tapi paling tidak, jangan pergi dan marah saat ada irene mendekatiku.” Terang Arland seraya tersenyum.
Kezia tersenyum tipis seraya terangguk. Wajahnya yang putih terlihat merona. Ia tidak pernah menyangka bahwa Arland merasakan hal yang sama dengannya. Sedetik kemudian, ia kembali merasakan kegugupan saat matanya bertemu pandang dengan kedua manik hitam milik Arland, membuat hatinya tak karuan.
“ Ya okey-okeeyy, tapi untuk sekarang kita tetap teman yaaa…” cetus Kezia. Entah mengapa harus jawaban itu yang keluar begitu saja dari mulutnya.
"Cepet banget kamu jawabnya key, bikin aku patah hati." dengus Arland dengan raut kecewa.
Kezia segera memalingkan wajahnya, ia menggigit bibirnya sendiri dan mengupati mulutnya yang asal bicara.
“ Oohh my gosh! Is it real?” pekik Kezia dalam hatinya. Bibirnya senyam senyum sendiri. Rasanya ia masih belum bisa mencerna seluruh kalimat yang arland sampaikan.
“ Key… “ bisik Arland dengan perlahan.
“ Ya…” suara Kezia terdengar serak karena gugup.
“ Makan yuk, laper…” cetus Arland dengan wajah berkerut manja.
"Astaga, ternyata arland lebih pinter ngerusak suasana!" rutuk Kezia yang hanya bisa menggelengkan kepala.
Melihat sikap Arland saat ini rasanya membuat Kezia semakin mengenal sosok yang biasanya bersikap dingin dan acuh.
Arland menarik tangan Kezia dan mengajaknya berdiri.
“ Gag usah narik juga kali, aku bisa jalan sendiri…” Kezia melepaskan genggaman tangan Arland dan segera berjalan di depan Arland.
Arland melebarkan langkahnya agar untuk mensejajarkan tubhnya berdampingan dengan Kezia. Terlihat tangan Kezia memilin pinggiran rok yang dikenakannya. Ingin sekali Arland meraih jemari lentik itu dan menggenggamnya dengan erat. Namun Ia mengurungkannya, ia ingin memberi Kezia waktu. Arland tersenyum sendiri, melihat ekspresi gusar Kezia yang menurutnya sangat menggemaskan. Pipi yang memerah, mata yang sayu dan bibir yang tersenyum tipis, Ah semuanya telah berhasil menyihir Arland. Mungkin untuk sekarang memang harus seperti ini.
****
“ Malem mah, pah…” sapa Kezia setibanya di rumah.
“ Malem sayang , baru pulang?” tanya Eliana yang sedang duduk di kursi ruang keluarga bersama Martin.
Kezia mengangguk sambil tersenyum.
“ Kamu pulang di anter siapa nak, kok gag di suruh masuk?” tanya Martin sambil menurunkan kacamatanya.
“ Temen pah… “ jawab Kezia yang segera duduk di samping Eliana. Martin melihat ada senyuman yang berbeda dari bibir putrinya.
“ Emmm, temen yaaa…” Martin menatap Kezia dengan menyelidik.
" Beneran temen pah…..” sengit Kezia yang mulai salah tingkah. Ia mengusap tengkuknya sendiri dengan canggung.
“ Tau nih si papah, kayak gag pernah muda aja. Ya udah, sana kamu mandi dulu, nanti kita makan malam.” Eliana sepertinya paham benar apa yang terjadi pada putrinya.
“ Okeyyy!” jawab Kezia dengan segera beranjak dari tempatnya dan pergi meninggalkan Eliana dan Martin yang masih memandanginya seraya tersenyum.
Berbeda dari biasanya, kali ini langkah Kezia terasa ringan dan berirama. Terdengar bibirnya bersenandung lirih khas seseorang yang tengah jatuh cinta.
Tiba di depan kamarnya ia segera membuka pintu kamarnya dengan perlahan lalu ditutupnya rapat-rapat. Untuk beberapa saat ia memilih menyandarkan tubuhnya ke daun pintu, tangannya bergerak menyentuh dada kiri yang masih terasa berdebar tidak menentu.
Di lemparnya tas ransel ke atas tempat tidur dan diikuti oleh tubuhnya. Kezia membenamkan wajahnya di atas kasur sambil sesekali tersenyum. Kezia berbalik telentang. Di tatapnya langit-langit kamar yang seolah berubah menjadi awan biru yang cerah. Wajah Arland tergambar di hadapannya dengan senyum manisnya yang membuat Kezia tak tega memejamkan mata.
“ Kamu ganggu banget sih!” seru Kezia sambil tersenyum. “ Apa tadi itu berarti arland nembak aku ya? Aduuhh beg*k banget sih, kenapa gag aku jawab iya aja??? Belum tentu nanti dia nembak lagi. Kalo kayak gini kan jadi hubungan tanpa status..” Kezia merutuki dirinya sendiri.
Kezia beranjak dari tepat tidurnya. Di tatapnya wajahnya yang polos tanpa make up. Dalam bayangannya wajah Arland terlihat memantul dari cermin.
“ Isshh ni orang ada dimana-mana yaaa…” gerutu Kezia sambil menutup wajahnya. “ Gila, aku merem juga masih aja kamu keliatan!” lanjut Kezia yang meracau tak jelas.
"Astaga, apa ini namanya jatuh cinta?" lanjut Kezia seraya menatap wajahnya yang memerah.
****