
Di kantin
“ Ini si key kemana sih dari tadi di teponin gag di angkat.” Dena yang mulai kesal karena beberapa kali menelpon Kezia tapi tidak ada jawaban.
“ Coba sini gue yang nelpon” Kania merogoh ponsel di sakunya dan mulai menghubungi Kezia.
Saat ini Dena dan teman-temannya sedang berada di kantin karena jam istirahat sudah lama berlalu. Mereka menempati meja seperti biasa dengan anak-anak basket di samping meja mereka.
“ Halo, “ jawab suara di sebrang sana. Mata Kania terbelalak mendapati suara yang asing baginya.
“ Gila, yang jawab cowok!!” seru Kania sambil menutup speaker ponselnya dengan tangan kiri. Perhatian anak club basket pun ikut tertuju pada Kania.
“ Ya lo tanya lah itu siapa begok!” seru Sherly dengan kesal. Kania mengangguk paham.
“ Haloo, ini siapa ya?” ketus Kania.
“ Saya tyo, kania. Kezia lagi di ruang UKS, tadi kakinya keseleo dan ini lagi di urut.” Terang Tyo dari sebrang sana.
“ Ohh okey, makasih kak tyo, kami ke sana sekarang.” Kania menutup telponnya dengan segera.
“ Kezia lagi sama kak tyo di UKS. Kakinya keseleo dan sekarang lagi di urut. Kesana sekarang yuk!”
“ Ya udah ayoo!” sahut sherly. Sherly dan kawan-kawannya segera menuju UKS.
****
“ Ini nanti sedikit sakit ya neng, tapi di tahan ya, jangan di tarik kakinya.” Terang laki-laki setengah baya yang sedang memegangi kaki Kezia.
"Kalo kamu sakit, boleh pegangan sama aku key..” tawar Tyo.
“ Iya kak makasih.”
“ Saya mulai ya neng…” izin laki-laki tersebut memberi aba-aba. Kezia mengangguk kemudian memalingkan wajahnya ke sebelah kanan tepat di hadapan Tyo yang terduduk di sampingnya.
“ AWWW!!!!!” teriak Kezia tanpa aba-aba.
Digenggamnya tangan Tyo dengan kuat menahan sakit. Tyo mengenggam balik tangan Kezia dengan erat. Wajahnya terlihat begitu cemas.
Sementara itu di luar UKS berdiri ketiga sahabatnya dan anak-anak club basket termasuk Arland. Arland terlihat sangat geram. Kesal karena bukan dia yang ada di Kezia dan kesal karena mungkin dialah yang menjadi penyebab Kezia mengalami kemalangan ini.
****
Handphone Kezia berdering di dalam saku roknya. Diambilnya handphone tersebut kemudian di jawabnya.
“ Iya mah,,,”
“ Nak, sepulang sekolah kamu bisa ke tempat pengacara mamah gag?”
“ Emang ada apa mah?”
“ Mamah mau membicarakan masalah mamah dan papah. Mamah harap kamu bisa menjadi pendukung mamah."
“ Tapi mah…”
“ Sayang, tolong datang yaa, nanti mamah kirim alamatnya.”
“ Tuuttt tuutt tuttt” panggilan terputus.
Kezia hanya tertunduk. Dadanya begitu sesak menahan tangis. Diremasnya benda persegi yang ada dalam genggamannya.
“ Ada apa key, kamu baik-baik aja kan?” Tanya Tyo yang sedari tadi duduk di samping kezia.
Mereka tengah menikmati seporsi spageti di kantin yang sudah sepi.
“ Kak, boleh gag kalo aku gag masuk kelas lagi? Aku mau istirahat.” Tutur Kezia yang masih tertunduk.
“ Kamu mau pulang key? Aku antar ya?” tawar Tyo yang masih terus memandangi wajah Kezia yang berubah sendu.
“ Gag usah kak. Kakak masih ada kelas, aku aja yang bolos.”
“ Okey ku ambilin dulu tas kamu ya…” ujar Tyo seraya beranjak.
Kezia hanya mengangguk sambil tersenyum. Tyo pun berlalu pergi ke arah kelas kezia.
*****
“ Pak, saya turun di depan aja…” pinta Kezia pada pengemudi taksi online.
“ Yakin non turun di sini?”
“ Ya pak, anggap saja saya sudah sampai tujuan”
Tamannya sepi, hanya ada seorang penjual minuman yang sedang beristirahat jauh di sebrang Kezia. Tamannya tidak terlalu besar. Di tengah taman ada sebuah sungai kecil dengan air yang jernih. Beberapa ekor ikan berenang di sana. Kezia menjatuhkan tubuhnya di bangku dan bersandar.
Ia menatap layar ponsel yang sejak tadi digenggamnya. Tampak foto Kezia dan kedua orangtuanya sedang tersenyum bahagia. Didekapnya handphone tersebut di dadanya. Kezia memejamkan matanya tapi tidak mampu menghalangi buliran air mata yang meleleh di pipinya.
“ Apa memang semuanya harus berakhir? Kenapa mamah dan papah gag mempertimbangkan perasaan zia?” lirih Kezia.
Kezia menekan beberapa tombol pada layar ponselnya lalu menghubungi seseorang yang cukup lama tidak dilihatnya.
” Pah….” Lirih Kezia
” Nak, akhirnya kamu mau bicara sama papah.” Ujar Martin dengan penuh haru.
”Pah, apa papah benar-benar mengkhianati mamah?” Tanya Kezia langsung pada point pentingnya.
”Apa kamu berfikir kalau papah sejahat itu terhadap kalian?” Martin balik bertanya pada Kezia. Kezia hanya terdiam. ”Papah mungkin orang tua yang banyak kekurangan tapi papah bukan orangtua yang tidak mencintai kamu dan mau mengecewakan kamu sayang…” lanjut Martin dengan nafas tersengau.
Air mata kembali menetes di pipi Kezia yang ia usap dengan kasar. Wajahnya menengadah seraya menarik nafas dalam-dalam. Ia ingin mempercayai perkataan Martin tapi Eliana sangat yakin dengan bukti yang dimilikinya.
”Jaga diri baik-baik pah, zia sayang papah.” Tukas Kezia yang mengakhiri panggilannya.
Ia tidak sanggup lagi untuk berbicara. Semuanya begitu abu-abu. Tergambar di ingatannya kenangan saat bersama Martin. Namun Kezia pun tak bisa menafikan rasa sakit yang dirasakan Eliana saat mendengar orang satu-satunya laki-laki yang ia cintai mengkhianatinya.
Kezia kembali memandangi ponselnya dan mengetik sebaris pesan.
“ Mah , tolong jangan hari ini, zia belum siap.”
Kezia mengirimkan pesan tersebut pada Eliana. Berulang kali dia melakukan in hale eks hale untuk mengurangi rasa sesak di dadanya yang tidak lantas hilang.
Tanpa Kezia sadari ada seseorang yang memperhatikannya dari kejauhan. Lelaki tersebut berjalan menghampiri Kezia kemudian duduk di samping Kezia tanpa permisi.
“ Berhentilah menangis, hidungmu merah seperti jambu air” ujar Arland sambil memberikan sapu tangannya. Kezia
memalingkan wajahnya dan mengusap air mata yang menetes dengan punggung tangannya. "Apa hidupmu begitu sepi sampai harus menangis tersedu sendirian?” lanjut Arland sambil terus memandang titik di depannya.
Kezia menoleh Arland yang ada disampingnya kemudian mengambil sapu tangan yang Arland sodorkan. Dibuangnya ingus di sapu tangan tersebut.
“ Apa isi kepalamu begitu kosong sampai harus memikirkan urusan orang lain?” Tanya Kezia sambil menatap Arland dengan kesal.
Arland menolehnya lalu tersenyum. “Bicaralah sebanyak yang kamu mau, aku suka mendengar makianmu.” sahut Arland sambil menatap hangat Kezia.
Kezia memalingkan wajahnya. Rasanya kini pipinya yang memerah dan dadanya kembali berdegub kencang.
“ Pergilah, aku baik-baik saja. “ cetus Kezia sambil mengibas-ibaskan tangannya. Arland tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangannya dari Kezia.
“ Apa kamu masih dendam dengan kejadian di lapang basket?”
“ Kekanakan! Aku tidak suka mengingat kenangan buruk.” Jawab Kezia berbalik menatap Arland.
“Hemmm, jadi buat kamu itu sebuah kenangan?” Arland kembali bertanya dan dengan lekat memandangi bola mata Kezia. Kezia hanya terdiam dengan perasaan yang tidak karuan.
“ Aku pulang!” seru Kezia sambil berdiri.
“ Aku antar!” Arland ikut berdiri di sampingnya.
“ Aku tak meminta”
“ Aku tak keberatan.” Pungkas Arland.
Arland berjalan menuju motor sport yang terparkir tidak jauh dan Kezia mengikutinya dari belakang. Disodorkannya helm berwarna merah pada Kezia.
“ Helm pacarmu? “
“ Apa aku terlihat seperti seseorang yang punya pacar?” Arland menarik tangan Kezia dan memaksanya menerima
helm yang ia sodorkan.
“ Mungkin lebih terlihat seperti laki-laki yang senang mengganggu anak orang.” jawab Kezia sambil memakai helm
dan memasangkan kunci pengait helm namun tidak menemukannya.
“ Apa kamu terganggu?” Tanya Arland sambil memasangkan pengunci helm di bawah dagu Kezia. Kezia hanya terpaku melihat wajah Arland yang begitu dekat di hadapannya. Arland menyadarinya namun tidak balas menatap dengan alasan tidak ingin lebih canggung. “ Naik lah!” lanjut Arland.
Kezia menaiki motor Arland dengan perlahan karena kakinya masih sedikit sakit. Dipegangnya sebagian jaket Arland yang dulu pernah dipinjamkannya pada Kezia. Arland memperhatikan tangan Kezia dari spion kirinya. Arland menyentakkan motornya membuat Kezia memeluknya karena takut terjatuh. Hati Arland berdesir dengan sebuah senyuman yang ia coba sembunyikan. Sementara Kezia hanya terpaku dalam perasaan yang bergemuruh tidak menentu.
"Kenapa aku gag bisa nolak?" batin Kezia yang menyembunyikan wajahnya di pungung kekar Arland.
*****