MY FIRST LOVE Story

MY FIRST LOVE Story
Ulet bulu



" Keyyy!” seru seseorang dari belakang dan membuat Kezia berbalik. Dari kejauhan tampak Tyo berlari ke arahnya.


“ Pagi kak tyo.” Sapa Kezia lebih dulu.


“ Pagi Key..” sahut Tyo dengan senyum simpul. Betapa ia merasa beruntung pagi ini, mataharinya menyapa dengan hangat. Kezia benar-benar terlihat berbeda dari terakhir mereka bertemu. “ Key, nanti siang kamu bakal ke perpus gag?”


“ Iya kak aku ke pasti ke perpus. Soalnya ada materi yang mau aku cari”


“ Okey, nanti sepulang sekolah aku tunggu di sana ya…” tutur Tyo dengan sumeringah.


“ Okeyy!” sahut Kezia sambil mengacungkan jempolnya pada Tyo. “ Aku duluan yaaa…” imbuh Kezia kemudian.


“ Silakan…”


Tyomasih memandangi arah berlalunya Kezia. Ia menggaruk kepalanya sendiri walau tidak gatal. Ia merutuki dirinya sendiri yang selalu tidak bisa berkata apa-apa pada Kezia selain mengajaknya belajar.


Tidak ada yang bisa Tyo harapkan saat ini, selain membiarkan semuanya berjalan secara alami, hingga saatnya tiba, ia akan mengungkapkan isi hatinya pada gadis yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Ayolaahh nilai bahasa indonesia gue berapa? Kenapa kosakata gue miris banget? Perpus, belajar, perpus, belajar, aaarrgghhh cewek mana yang gag bakalan bosen denger kata-kata yang selalu sama?!"  dengus Tyo mengumpati dirinya sendiri.


****


Kezia segera berjalan menuju kelasnya. Sambil berlalu Kezia melirik ruangan kelas Arland, belum banyak siswa yang datang.


“ Pagii fa….” Sapa Kezia yang telah tiba di kelasnya.


“ Pagi key.. kamu cari apa?” tanya Difa yang kebingungan melihat Kezia yang celingukan.


“ Emmm gak nyari apa-apa kok.” Jawab Kezia yang kemudian terduduk dengan salah tingkah. “ Kamu kemaren gag nonton basket fa?” tanya Kezia sambil mengeluarkan buku dari dalam tasnya.


“ Emm, gag ada yang ku suka, jadi gag nonton.”


“ Hey, emang harus selalu ada yang kamu suka dulu baru kamu dukung temen-temen?” Kezia menyenggol lengan Difa dengan sengaja.


“ Yaa harus lah, biar gag sia-sia teriak-teriak doang” jawab Difa seraya terkekeh.


Kezia ikut tertawa mendengar jawaban Difa.


Bell masuk berbunyi, semua siswa mulai duduk di tempatnya masing-masing. Kali ini pelajaran matematika dan Amar yang mengisi.


“ Selamat pagi anak-anak….” Sapa Amar dengan hangat.


“ Pagi pak…” jawab para siswa bersamaan.


Amar berjalan ke meja guru, kemudian menyimpan beberapa bukunya di sana.


“ Buka buku tugas kalian. Dan catat yang saya bacakan!” tegas Amar dengan tatapan yang menyapu seisi kelas.


“ Wahh ujian nih pak?” protes seorang siswa


“ Bukan ini latihan. Yang paling duluan jawab, saya gratiskan buku ini.” Amar memperlihatkan sebuah buku tebal aritmatika.


“Yaahh yang gratisnya buku, mana mau gue..” celetuk salah seorang siswa


“ Huuuhhh…” di balas oleh riuh teriakan siswa lain.


Amar hanya etrsenyum mendengar jawaban dari para siswa yang sudah biasa ia dengar. “ Okey kita mulai…” seru Amar membuat siswa terdiam seketika.


Amar mulai membacakan soal dan para siswa memperhatikannya dengan seksama seraya menulisnya di buku catatan mereka. Beberapa siswa malah ada yang menguap saking fokusnya memperhatikan setiap kata yang di ucapkan Amar dengan suara mendayu.


Dengan cepat Kezia mencatat soal yang dibacakan.


“ Okey, yang udah boleh kedepan.” tutup Amar yang kembali duduk dikursinya.


Kezia memejamkan matanya, mencoba membayangkan angka yang disebutkan Amar tadi. Tidak lama Kezia mengangkat tangannya.


“ Okey kezia, silakan tuliskan cara jawabnya di depan.” amar menyodorkan sebuah spidol hitam.


Kezia berjalan ke depan kelas dan mengambil spidol hitam yang disodorkan Amar lalu menulis jawabannya.


Amar memperhatikan jawaban Kezia dengan seksama. Jawabannya runtut dan mudah dimengerti. “ Okeyy, betull!!! Seratus buat kamu key. Dan ini hadiahnya.” Lanjut Amar dengan bangga menyerahkan hadiahnya.


“ Terima kasih pak..” tutur Kezia.


“ Ya sama-sama”


Kelas pun kembali berjalan dengan teori hitungan yang kembali diajarkan Amar.


*****


“ Ke kantin ya.. aku tunggu.” _ Arland


Kezia tersenyum melihat isi pesan yang di terimanya. Tanpa sepengetahuan Arland, Kezia sudah ada di area kantin bersama teman-temannya.


“ Hay gadis!" sahut Ricko saat melihat pujaan hatinya datang. "Wait, bentar..”  Ricko melap kursi untuk Sherly duduk.


“ Makasih yang.” Sambut Sherly sambil membelai pipi Ricko dengan lembut


“ Lebaayyyy!!!” ledek Kania seraya mendudukkan tubuhnya di kursi samping Sherly.


“ Sirik lo!” Sherly menjulurkan lidah pada Kania dan di sambut decikan geli.


Kezia menarik kursi di sebelah Dena seraya Arland yang duduk terhalang 3 orang di samping kirinya. Arland terlihat memperhatikan Kezia dan tersenyum tipis membuat wajah Kezia merona seketika.


"Makan apa nih kita?" Kania membuka-buka buku menu yang hampir setiap hari dilihatnya.


"Gue kayak biasa, lo?" Dena menunjuk ketiga sahabatnya bergantian.


"Boleh deh, gue ngikut." sepertinya Kania sudah putus asa.


"Gue sepiring berdua sama ayang gue." ujar Sherly seraya membuka mulutnya saat Ricko menyodorkan makanan padanya.


“ Okey. Gue pesenin dulu..” tutur Kezia sambil berdiri


“ Mau gue bantuin key?” tawar Dena.


“ Gag usah, tar ada yang bantuin dia.” Andes mendudukan Dena kembali.


Tak lama Arland berdiri dan berjalan menghampiri Kezia.


“ Heemmm gue bisa baca rencana lo cunguk!” seru Dena pada Andes. Andes hanya tersenyum mendengar ucapan Dena.


Ketiga sahabat Keziapun hanya bisa memandangi pasangan tersebut dari kejauhan.


“ Si key kaku banget yaa sama cowok, gag bisa gitu manis-manis dikit.” Gerutu Kania yang gemas melihat tingkat Kezia.


Kedua sahabatnya hanya menggelengkan kepala, miris.


****


“ Aku bantuin?” tawar Arland.


“ Emm, gag usah, cuma 4 kok.” Jawab Kezia seraya tersenyum.


“ Yaa kamu 2 aku 2…” Arland mengambil minuman kemasan dari tangan Kezia.


“ Makasih.” sahut Kezia. Arland hanya mengangguk dan tersenyum.


Kezia dan Arland berjalan menuju tempat sahabatnya berkumpul namun tiba-tiba,


“ Hay land…” sapa Irene yang langsung merangkul tangan kanan Arland yang sedang membawa minuman. Arland dengan wajah malas memalingkan pandangannya dari Irene. “ Mamah ngundang kamu sama tante buat minum teh bareng sore ini. Kamu bisa?” tanya Irene sambil mendekatkan tubuhnya pada Arland.


Kezia hanya terpaku melihat sikap Irene pada Arland.


“ Aduuhh ini ulet bulu ganggu banget sih! Dimana-mana kegatelan yaa…” seru Kania yang dengan sigap menghampiri Kezia dan Arland.


“ Apa urusan lo sama gue? Arland itu cowok gue, paham?” seru Irene dengan wajah menyeramkan.


“ Lahluu, gue wajib percaya gituuu??” sinis Kania seraya menyilangkan tangannya di depan dada.


“ Land, kamu bilang dong sama mereka, aku ini pacar kamu!” rajuk Irene dengan manja.


“ Lepas.” tutur Arland dengan dingin


“ Gag mau!” Irene mengencangkan genggamannya.


“Lepas gag?” gertak Arland. Irene tersentak di tempatnya ia segera melepaskan genggamannya. Wajahnya terlihat sangat kesal. “ Pergi!” titah Arland.


“ Awas lo ya, bakal nyesel lo semua kayak gini sama gue! Terutama Lo!” ancam Irene sambil menunjuk wajah Kezia. Kezia hanya menggelengkan kepalanya dengan berusaha tenang. Irene pun berlalu.


“ Sialan ya tu cewek, gue abisin juga deh!” sengit Kania.


“ Udah ah, duduk yuk.” Ajak Kezia sambil terus memegangi botol yang dibawanya. Terlihat Arland melirik ke arahnya dengan tatapan cemas.


“ I’m fine okeyy..” lirih Kezia yang masih bisa di dengar Arland.


Mereka mulai menikmati makan siangnya di kantin dan tidak lagi mengingat kejadian bersitengang dengan Irene. Arland memandangi Kezia yang tengah menikmati spagetti favoritnya dengan lelehan sauce di pipinya. Arland tersenyum sendiri melihat tingkah Kezia yang begitu menggemaskan.


Suaranya, gerak bibirnya, air mukanya, kerlingan matanya, ketenangannya dan semua yang ada di diri Kezia membuat Arland merasa selalu jatuh cinta.


"Tetaplah tertawa seperti ini key, aku seneng liat tawa lepas kamu. Semoga aku bisa selalu membuatmu tertawa, jangan lagi ada air mata." batin Arland


****