
Kezia duduk di bangku taman tempat biasa dia kunjungi saat merasa tidak nyaman. Perlahan ia membuka ponselnya lalu menghubungi seseorang. Foto profil Angga menghiasi layar handphonenya dengan notifikasi menyambungkan panggilan video. Tak lama menunggu, Angga menjawab panggilannya.
“ Ya key,,, “ sapa Angga sambil mengerjapkan matanya yang terlihat baru bangun. “Heyy kamu kenapa?” tanya Angga yang segera menyadari Kezia sedang menangis.
“ Kak aku mau tanya satu hal, tolong jawab ya…” tanya Kezia dengan serius.
“ Yaaa okey aku akan jawab tapi tolong berhenti dulu nangisnya. Nanti aku beneran beli tiket dan langsung ke
sana.” Jawab Angga tidak kalah serius.
“ Jangan ke sini, jangan dalam kondisi seperti ini.” sahut Kezia yang kembali terisak.
“ Okeeyy tapi tolong berhenti nangisnya.” Pinta Angga dengan wajah panik. Kezia menyeka air matanya dengan punggung tangannya.
“ Kak, menurut kakak, apa alasan seseorang berselingkuh?” tanya Kezia dengan serius.
Angga tampak mengernyitkan dahinya, menurutnya pertanyaan Kezia terlalu unik. “ Ya kalo menurutku karena dia tidak bersyukur dan tidak punya komitmen. Apa kamu diselingkuhin key?” tanya Angga dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
“ Aku gag punya pacar mana ada diselingkuhi..” cetus Kezia dengan senyum kecut.
“ Lalu apa yang membuat kamu berfikir tentang selingkuh?”
Kezia hanya tertunduk. Dia tidak tau apakah akan membicarakan hal ini dengan Angga atau tidak. Ditatapnya wajah Angga dengan mata berkaca-kaca.
“ Kenapa dia harus di anggap tidak bersyukur dan tidak memiliki komitmen saat dia selingkuh?” Kezia balik
bertanya.
“ Karena dia meninggalkan yang nyaman untuk mencari yang baru kemungkinan nyaman dan tidak punya komitmen atas pilihan yang dia buat sebelumnya. Dia hanya memikirkan kesenangan sesaat dan mengorbankan sesuatu yang berharga.” terang Angga.
Kezia mengangguk. Pikirannya yang sempit mulai terbuka. Kezia sadar, dalam segala hal, Eliana dan Kezia adalah prioritas bagi Martin. Lantas apa yang harus membuatnya ragu?
*****
Kezia berjalan menuju pintu utama rumahnya. Terlihat suasana sangat sepi. Dibukanya pintu perlahan lalu di tutupnya kembali. Kezia berjalan melewati rungan tamu suasana masih sangat sepi. Dilangkahinya sebuah anak tangga yang menuju ruang keluarga. Tampak Eliana sedang duduk terisak dengan kedua telapak tangan menutupi wajahnya. Tidak ada Martin didekatnya. Di hadapan Eliana hanya ada sebuah laptop yang masih menyala dan memutar video yang tadi Kezia lihat bersama Martin.
“ Mah…” Sapa Kezia yang menghampiri Eliana.
Eliana menoleh, “ Kemari nak…” tutur Eliana dengan perlahan sambil menepuk sofa di sampingnya.
Kezia segera mengambil tempat di samping Eliana.“ Mah, tolong jangan dilihat lagiii…” pinta Kezia sambil menutup laptop di hadapan Eliana.
“ Mamah sudah memutarnya beribu kali nak dan rasa sakitnya selalu sama bahkan bertambah.” Ujar Eliana sambil
kembali terisak. Kezia memeluknya dengan erat.
“ Mah, tolong jangan seperti ini. Zia hanya ingin mamah dan papah selalu di samping zia, tidak ada keinginan lain.” bisik kezia di telinga Eliana. Perlahan Eliana melepaskan pelukannya. “ Apa mamah memberikan papah kesempatan untuk menjelaskan?” selidik kezia
“ Mamah merasa, saat ini mamah banyak kehilangan hal yang mamah kenali dari papah. Kami lebih mengenali pekerjaan kami masing-masing dibanding pribadi kami masing-masing. Kedekatan kami sudah memiliki jarak. Kami butuh waktu masing-masing untuk mengenali kembali perasaan kami dan perasaan masing-masing.” Terang Eliana sambil menyeka air mata.
“ Mah tolong jangan biarkan papah pergi lagi. Kenali lah satu sama lain dari jarak yang terdekat. Jangan buat celah untuk siapapun.” Tutur Kezia mengutip perkataan Angga tadi siang.
“ Hemmm…. Bahkan mamah tidak mengenali anak mamah sekarang. Dari mana kamu belajar sikap dan kata-kata
seperti ini nak?” tanya Eliana sampil mengusap pucuk kepala Kezia.
“ Dari drama korea mah…” cetus Kezia sambil tersenyum. Eliana memeluk Kezia dengan erat. Terbit rasa syukur di hatinya. Benar adanya bahwa anak bisa menjadi perekat hubungan sebuah keluarga.
“ Maaf kan mamah yang terlalu sering mengabaikan kamu nak. Begitu sering salah menyadari kebutuhan kamu. Begitu sering merasakan tersisih hanya karena kesibukan kami.” lirih Eliana kembali terisak.
Kezia hanya terdiam. Kezia merasa Eliana dua belas tahun lalu telah kembali. Eliana yang selalu menganggap Kezia adalah segalanya.
“ Papah kemana mah?” tanya Kezia sambil melepaskan pelukan Eliana.
“ Papah sedang mandi. Dia akan makan bersama dengan kita.” Terang Eliana sambil mencubit hidung mancung Kezia.
“Makasih mah…” seru Kezia sambil kembali memeluk Eliana.
“ Apa kamu sekarang tameng papah?” tanya Eliana sambil terkekeh. Kezia mengangguk dengan yakin.
“ Tameng kalian berdua.” Jawab Kezia dengan senyum riang.
****
“ Mah , pah, aku pergi dulu yaa…” pamit Kezia yang baru keluar dari kamarnya.
“Kamu mau kemana nak, kamu belum makan loh dari pagi.” Seru Eliana yang sedang duduk di meja makan bersama Martin. Kezia datang menghampiri.
“ Tapi aku nanti ada acara makan-makan sama temen-temen. Dan lagi temenku udah nunggu di depan.” Seru
Kezia
“ Okelah suapin aku, dari mamah sesuap, dari papah sesuap!” Ujar Kezia sambil membuka mulutnya. Martin
menyuapkan sesendok makanan ke mulut Kezia. Kezia mengunyahnya dengan cepat.
“ Temen mu laki-laki atau perempuan nak?” tanya Eliana sambil menyuapkan nasi pada Kezia.
“ Ohookk.. oohookk…” Kezia terbatuk.
“Ya ampun, minum nak….” Eliana menyodorkan segelas air putih. Kezia meneguknya kemudian menyimpan gelas kosong bekasnya.
“ Temen sekolah mah. Aku berangkat , bye!” seru Kezia tak ingin di introgasi lebih lanjut.
“ Yang mamah tanya jenis kelaminnya loh nak…” ucap Martin setengah berteriak.
“ I know pah, bye!” Kezia hanya melambaikan tangan tanpa berbalik dengan senyum tipis di bibirnya.
Kezia segera membuka pintu dan menuju halaman rumah. Disana tampak Arland yang sedang duduk di atas motornya dengan helm di taruh di atas tanki motor. Saat itu Arland mengenakan celana panjang berwarna cream dengan atasan sweater hitam yang lengannya di gulung hingga ke sikut.
Sementara di dalam sweater terlihat ada kerah yang berdiri rapi menutupi lehernya dan spatu cats berwarna putih, sangat maskulin. Sementara Kezia mengenakan celana Jeans warna biru dengan kesan robek di lutut dan tungkai kakinya. Atasannya mengenakan Kaos putih polos dengan jaket denim berwarna senada dengan celana. Sepatu cats biru muda membungkus kakinya hingga ke mata kaki, sangat tomboy.
Arland tersenyum melihat kedatangan Kezia. Dipakainya helm yang sejak tadi dihadapannya. Lalu disodorkannya helm yang terkunci di jok pada Kezia.
“ Sory nunggu lama…” ujar Kezia sambil menerima helm yang Arland sodorkan
“ Cewek emang hobi bikin cowok nunggu yaaa…” tutur Arland dengan senyum tersungging di bibirnya.
“ Kamu sering banget yaa nungguin cewek?” tanya Kezia sambil mengernyitkan dahi.
“ Ya, karena mamahku pun cewek key…” Arland kembali tersenyum, mengerti maksud pertanyaan Kezia.
“ Termasuk pacarmu mungkin.” lanjut Kezia sambil duduk di boncengan Arland.
“ Selain mamah, cuma kamu yang pernah aku tungguin.” Jawab Arland sambil memutar gas di stang kanannya. Dan merekapun melaju dengan kecepatan sedang. Kezia tersipu mendengar jawaban Arland.
Arland mulai melajukan kuda besinya dengan santai dengan rasa berdebar yang sangat menyenagkan di dadanya.
****
"Ehhmm!” Dena berdehem sambil mengampiri Kezia. “ Di jemput key?” tanya Dena sambil tersenyum jahil ke arah Kezia. Mereka telah sampai di cafe langganan mereka.
"Gue gag minta kok!” seru Kezia sambil menyerahkan helm pada Arland.
Arland membalasnya dengan senyum.
"Iyaa gue yang minta tolong arland buat jemput lo key…” ujar Ricko sambil menepuk bahu Arland. “ Thanks bro!” imbuh Ricko sambil mengajak Arland tos.
" Iya sama-sama. Karena searah aja gue mau.” Cetus Arland sambil melirik Kezia. Kezia memalingkan wajahnya dan Arland tersenyum gemas.
"Lo gag salah nyuruh pacar orang jemput kezia?” tanya Dena sambil menyenggol lengan Ricko.
" Pacar orang? Siapa?” tanya Ricko yang keheranan.
"Iyaaa… Orang gue sama kezia pernah ketemu dia nganter ceweknya beli boneka. Iya kan key?” Dena menatap Kezia dengan tajam.
" Iyaaaa…” jawab Kezia sambil memegang handphone yang diambilnya dari dalam tas selempangnya.
" Kok gue gag tau lo punya cewek bro!” seru Ricko pada Arland.
"Emang harus ya, di bahas di sini dan sekarang?” tanya Arland sambil menatap Kezia.
" Bukan urusan gue juga!” seru Kezia sambil berlalu pergi. Wajah terlihat sangat Kesal. Arland terus memandangi punggung Kezia yang berjalan menjauh.
" Key tunggu… “ seru Dena setengah berlari. Kezia terus berjalan kemudian duduk di samping Sherly.
"Lo kenapa gag ngomong sih sama dia?” tanya Ricko setengah berbisik pada Arland.
" Atas dasar apa gue harus ngomong masalah irene ke dia? Bukannya itu berarti gue ngakuin irene adalah pacar gue?” Arland balik bertanya.
" Ya lo ngomong apa adanya kalo lo emang mau ngejar dia.” Sahut Ricko.
Arland hanya tertunduk di atas motornya sambil memutar-mutar handphone yang ada di tangannya. Perhatiannya tidak pernah beralih dari Kezia.
****