MY FIRST LOVE Story

MY FIRST LOVE Story
Math



“ Tok tok tok!”


Terlihat Arland sudah berdiri di pintu perpustakaan saat Kezia menoleh ke arah datangnya suara.


“ Hay, ada apa?” sapa Kezia. Entah mengapa rasa canggung pada Arland perlahan semakin berkurang. Ia mulai merasa nyaman melihat Arland berada di sekitarnya.


Arland berjalan menghampiri kezia dan duduk disampingnya. Tangan kanannya ia taruh di atas meja dan digunakan untuk menopang dagunya. Di tatapnya Kezia lekat-lekat seraya tersenyum.


“ Kamu kenapa sih?” tanya Kezia menyentuh wajahnya sendiri karena khawatir ada sesuatu di wajahnya.


“ Bisa gag iketan rambutnya di buka?” tanya Arland. Saat itu Kezia mencepol rambutnya dengan beberapa helai rambut yang jatuh menutupi tulang pipinya.


“ Emang kenapa? Keliatan tembem ya?” tanya Kezia sambil memegangi wajahnya.


“ Aku gag suka orang lain ngeliatin leher kamu.” Jawab Arland sambil mendekat ke wajah Kezia.


Perlahan tangannya menarik simpul yang menyatukan rambut Kezia membuat rambut Kezia jatuh terurai. Disentuhnya pipi Kezia yang merona dengan jari telunjuknya seraya menyibak rambut yang menutupi wajah Kezia. Arland semakin mendekat dan tampak jelas kedua manik hitam itu tengah menatap Kezia dengan laman.


Kezia menahan nafasnya karena gugup dengan jantung yang berdetak tidak menentu. Perlahan Kezia menutup matanya. Untuk alasan apa ia melakukannya, ia sendiri pun tak tahu.


“ Key!” panggil seseorang dari  belakang.


Kezia dan Arland terperanjat. Kezia segera menoleh ke arah datangnya suara. Tampak Tyo yang baru datang dengan nafas terengah-engah. Arland memalingkan wajahnya dari Tyo lalu menggerutu dengan suara yang tidak terlalu jelas.


“ Sory telat, tadi habis dari ruangan pak amar.” Tutur Tyo sambil berjalan masuk ke perpustakaan. Kezia hanya


tersenyum. Dadanya masih berdebar kencang.


“ Aku pergi dulu. Jangan kebiasaan tidur di perpus.” bisik Arland sambil berlalu. Kezia tercengang mendengar ucapan Arland. Darimana ia tahu Kezia sering ketiduran di perpus. Tidak hanya di perpus sebenarnya tapi di kelas juga.


Arland berlalu tanpa memperdulikan Tyo yang sedari tadi memperhatikannya.Terlihat seringai sebal di bibirnya saat berpapasan dengan Tyo.


“ Pacarmu key?” tanya Tyo dengan suara berat.


“ Temen kak..” sahut  Kezia tanpa melirik pada Tyo.


Tyo terangguk paham. Ia duduk bersisihan dengan Kezia.


“ Aku ada hadiah buat kamu…”  Tyo mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. “ Nih!” Tyo menyerahkan sebuah


kotak yang diikat dengan pita berwarna merah muda.


“ Apa ini kak?”


“ Kamu buka aja…” Tyo menyodorkan hadiah tersebut.


Kezia membukanya perlahan. Ternyata sebuah buku matematika yang berisi cara cepat pengerjaan soal beserta latihan essay dari seorang penulis terkenal.


“ Wah makasih kak. Udah lama aku nyari buku ini. Dari beberapa toko buku yang aku temuin, katanya ini limited edition.” tutut Kezia dengan mata berbinar.


“ Semoga kamu makin semangat ya belajarnya..”


“ Pasti kak. Makasih makasih makasih.” Kezia tampak begitu senang membuat Tyo ikut tersenyum.


“ Ya udah ayo kita mulai belajar.” Tyo mulai membuka halaman pertama buku tersebut. Sejenak jemarinya terlipat, ia menghitung jumlah kosakata yang bertambah satu untuk berbicara dengan Kezia. "Buku." Ya itu jadi kosakata baru dari Tyo untuk Kezia.


Mereka terlarut dalam rumus-rumus yang ada disana. Sesekali Kezia berdecak kagum melihat cara penulis menjabarkan isi materi dalam buku tersebut. Ia sungguh menikmati saat ia belajar dengan serius.


****


“ Gimana, makananya enak nak?” tanya Eliana pada Kezia yang begitu lahap menikmati makan malamnya.


“ Iya mah enak banget. Cumi gorengnya kriuk…” jawab Kezia dengan mulut penuh makanan.


Eliana tersenyum melihat ekspresi Kezia.  Malam itu Martin, Eliana dan Kezia makan malam bersama di rumah. Eliana memasakkan makanan special kesukaan Kezia. Semua menu Kezia cicipi tanpa tersisa.


Kezia meneguk segelas air putih.


“ Aaahhh, kenyang banget mah….” Tutur Kezia sambil mengusap-usap perutnya. Disandarkannya tubuhnya pada sandaran kursi.


“ Anak perempuan papah, makannya kayak kuli.” ledek Martin yang tersenyum geli


“ IIhh papah ngasal deh.” Bela Eliana sambil mengusap rambut Kezia. Mereka saling berbalas senyum di meja makan.


“ Nak, gimana persiapan olympiade mu? ” Tanya Martin sambil menyuap sesendok makanan.


“ Ya lancar pah, banyak yang dukung zia. Hari ini zia dapet buku bagus dari kakak kelas..” ungkap Kezia dengan semangat.


“ Kapan sih pelaksanaannya nak?” Eliana ikut berbicara


“ Minggu depan mah. Hari jum’at zia berangkat. Nginep semalem di sana sebelum acara. Olympiadenya sekitar 2


hari kalo buat matematika.” terang Kezia dengan terperinci.


“ Goodluck ya sayang, maaf mamah sama papah gag bisa nemenin.” Sahut Martin


“ It’s okey pah…” jawab Kezia yang merasa sudah sangat terbiasa dengan kalimat yang dilontarkan Martin. “ Aku ke kamar dulu ya, ada yang harus aku pelajari.” Lanjut Kezia.


“ Okey, jangan tidur malem-malem ya…” Eliana mengecup pucuk kepala Kezia.


“ Iya mah…”


****


“ Hay,,,” sapa Kezia pada seseorang yang ada di seberang sana.


“ Malem  schnucki!” sapa Angga dengan sumeringah.


“ Hah? Apa kak?” Tanya Kezia seraya mengernyitkan dahinya mendengar kata yang diucapkan Angga.


“ Hay Schnucki…” Angga mengulang sapaannya.


"Apaan sih, aku gag ngerti!” seru Kezia sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“ Gag apa-apa, itu cuma panggilan kamu aja key….” Terang Angga sambil terkekeh


“ Apa kak artinya?”


“ Nanti lah kamu cari tau…” jawab Angga yang tidak ingin menjelaskan. “ Gimana hari ini belajarnya?” Angga


berusaha mengalihkan pembicaraannya.


“ Lancar sih kak. O iya, hari ini aku dapet hadiah dari kak tyo.” Tutur Kezia sambil berjalan menuju meja


belajarnya. Ditaruhnya handphonenya di docking handphone.


“ Hadiah apa sih? Tanda jadian ya?”


“ Bukan lah… Gag ada ceritanya aku jadian sama kak tyo.” acuh Kezia seraya mengeluarkan bukunya satu per satu.


“ Terus emang siapa yang kamu suka?” selidik Angga.


“ Yang aku suka?” Kezia tampak berfikir dengan wajah malu-malu.


“ Iya laahh…” Angga merasa tidak sabar menunggu jawaban Kezia.


“ Emmm… Nanti deh aku cerita.” Jawab Kezia yang membuat Angga semakin penasaran. Ia kembali menari bukunya. “ Nah ketemu!” seru Kezia dengan wajah sumeringah. “ Ini nih kak, buku yang aku ceritain…” tutur Kezia. Ia memperlihatkan buku tersebut pada Angga. Angga mengeryitkan dahinya lalu tersenyum.


“ Kamu  suka sama buku itu?”


“ Iya kak. Aku bayangin orangnya pasti pinter banget. Penulisnya namanya Ryanggara P Wibawa. Usianya 26 tahun. Gila kan kak, semuda ini udah bisa bikin buku yang bagus kayak gini…” seru Kezia dengan mata berbinar-binar.


“ Kamu kayaknya ngefans banget sama dia?” selidik Angga


“ Iya lah kak… Aku nanti umur 26 tahun jadi apa ya?” Kezia membayangkan dirinya sendiri kelak


“ Mungkin sudah jadi Ibu satu anak yang kerja di kantoran key…” tebak Angga sambil terkekeh.


“ Hemmpphh .. Aku gag mau jadi wanita kantoran. Aku ingin jadi dokter spesialis onkologi yang memiliki tempat


perawatan sendiri dan memiliki alat-alat yang canggih. Aku ingin memberikan harapan baru untuk orang-orang yang sudah tidak memiliki harapan. Paling tidak, mereka bisa bersama keluarganya lebih lama.” tutur Kezia sambil memelankan suaranya.


“ Apa aku masih akan ada di saat itu schnucki?” tanya Angga dengan mata berkaca-kaca.


“ Ya tentu! Kakak akan mendampingiku wisuda dan mengantarku di hari pertama aku kerja. Okey!” seru Kezia yang berusaha agar Angga tetap optimis..


Angga hanya tersenyum.


“ Aku ke toilet bentar kak” seru Kezia sambil berlari. Kezia masuk ke dalam toilet lalu ia terisak. Ucapan dan kkspresi wajah Angga benar-benar menyentuh hatinya.


“ Aku harusnya tidak menjanjikan yang tidak bisa aku pastikan…” lirih Kezia dengan air mata berurai. Ada sesal di sudut hatinya, yang mungkin akan menyiksanya jika janji itu tak bisa ia tepati.


Sementara itu Angga hanya terdiam, dengan rasa sedih sekaligus bahagia yang bercampur di dadanya. Betapa saat ini ia merasa begitu diinginkan oleh seseorang.


Tidak lama Kezia membuka pintu kamar mandi dan kembali menghampiri Angga.


“ Hay kak, sorry nunggu.” Seru Kezia dengan senyum yang kembali mengembang. “ Kakak baik-baik aja kan?” Kezia melihat perbedaan raut di wajah Angga. Angga hanya tersenyum dengan sebuah anggukan kecil.


“ O iya kak, katanya di olympiade nanti Ryanggara P Wibawa ini bakalan hadir. Cuma juara pertama yang bisa mendapatkan koleksi buku terbarunya.” Lanjut Kezia mengalihkan pembicaraan.


“ Oo iyah? Kamu bakalan ketemu dia dong?” sambut Angga


“ Iya lahh… nanti aku mau minta tanda tangan dia dan foto bareng. Jadi aku harus berusaha keras supaya bisa jadi juara” seru Kezia.


“ Okeyy, kamu belajar yang semangat ya, semoga kamu bisa ketemu dia" Jawab Angga.


Kezia terangguk dengan semangat. “ O iya kak, Olympiadenya kan dilaksanakan di kota tempat Kakak tinggal, kita ketemuan yuk…”


“ Liat nanti yaa…” jawab Angga dengan ragu.


“ Kakak bisa gag sih bilang iya buat aku? Selalu gag bisa ngasih janji buat aku, gag pengen banget kayaknya liat aku seneng.” Kezia menekuk wajahnya dengan kesal.


“ Lohh kok gitu sih ngomongnya. Okeeyy aku janji, minggu depan kita ketemu. Seneng?”


“Yeeaaayyy!!! Iya dong aku seneng…” seru Kezia dengan diiringi tawa ringan.


“ Kak, maafin aku yang bikin terpaksa harus melakukan yang gag sama-sama kita sukai, yaitu berjanji. Aku hanya mau kakak punya semangat dan punya harapan untuk masa depan.” batin Kezia seraya memandangi Angga yang tersenyum tipis.


****