MY FIRST LOVE Story

MY FIRST LOVE Story
Manis



“ Teng.. Teng.. teng…”


Terdengar suara Bell memanggil siswa tanda harus berkumpul di lapangan. Kezia yang baru sampai di sekolah segera bergabung bersama siswa lain di lapangan upacara. Hanya dalam hitungan menit para siswa sudah berkumpul dan berbaris dengan rapi.


Dihadapan mereka berdiri wakasek kesiswaan yang sedang mengatur tinggi tiang microphone. Diketuk-ketuknya mic yang ada dihadapannya, memberi tanda agar siswa segera memperhatikannya.


"Selamat pagi anak-anak!” seru Wakasek kesiswaan dengan semangat.


"Selamat pagi pak…” jawab siswa dan siswi bersamaan.


"Baiklah, mohon perhatiannya sebentar karena ada pengumuman yang penting.” Siswa yang sedang berbincang pun terdiam sesaat. “ Hari ini kita kedatangan tamu dari SMA Taruna Jaya. Mereka ingin mengajak kita bertanding  basket. Maka dari itu, kami pihak sekolah, menunggu partisipasi kalian untuk mendukung teman-teman kalian di Club Basket. Apa kalian siap?” tanya Wakasek yang disambut gemuruh sorakan para siswa.


“Tapi ingat, walaupun hari ini kalian tidak ada kegiatan belajar dan menjadi pendukung untuk anak-anak di club basket, kalian tetap harus menjaga diri dan nama baik sekolah kita. Mengertiii??”


"Mengerti pakkkkk.” Jawab seluruh siswa bersamaan.


"Baiklah, tanpa penghormatan, bubar jalan!”


Para siswa pun berhamburan dan suasana menjadi riuh seketika. Mereka segera kembali ke kelas masing-masing dan menyiapkan segala bentuk dukungan untuk para pemain basket.


"Keyyy, tunggu!!!” terdengar seseorang memanggil nama Kezia dengan cukup keras. Kezia berbalik dan terlihat Dena yang berjalan ke arahnya.


"Hay na!” sambut Kezia dengan segera.


"Hay! Key lo mau nonton pertandingan basket gag?”


" Belum tau nih, gue harus ke kelas dulu ngambil buku kak tyo yang ketinggalan terus nyari pak amar buat nanyain tugas gue sebelumnya.” terang Kezia


"Ya udah ayo gue temenin…” tawar Dena. Kezia mengangguk setuju.


Kezia dan Dena berjalan menuju kelas Kezia. Sepanjang koridor tampak siswa sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Sesampainya di mulut kelas, terlihat Difa sudah duduk disana. Melihat kedatangan Kezia dan Dena, Difa melambaikan tangannya dengan segera. Kezia dan Dena pun menghampiri.


"Key, tuh ada lagi!” seru Difa dengan mata berbinar-binar. Telunjuknya mengarah ke benda yang ada di atas kursi Kezia.


Pandangan Kezia beralih ke arah kursi yang di tunjuk Difa. Terdapat setangkai mawar putih dengan tulisan di kertas


berwarna cream. Kezia mengambilnya dan mulai membacanya.


" For a while I couldn’t see you, but u’r shadow fills every cavity in my heart and my mind. How can this not be


homesick?” barisan syair tertulis di sana. Kezia tersenyum kecil melihat tulisan tersebut. Tulisan tangan yang mulai familiar baginya.


"Jadi kamu udah tau belum cowok misterius itu siapa?” Tanya Difa


"Belum fa, yang jelas bukan tulisan kak tyo.” Jawab Kezia dengan yakin.


Wajah Kezia tampak bersemu kemerahan. Walaupun ia menganggap ini bukan tindakan gentle seorang laki-laki, namun tetap saja, seorang wanita yang mendapat sanjungan seperti ini ada perasaan geli yang yang menggelitik hatinya.


*****


" Yang semangat yang….” Seru Sherly dari tribun penonton.


Terlihat Ricko berlari dan mencari celah untuk mengambil bola dari lawannya. Sementara Arland berjaga tidak terlalu jauh dan menunggu operan bola dari rekan satu timnya.


" Ini si dena sama key kemana sih? Masih belum dateng aja!” gerutu Sherly sambil mengecek handphonenya.


"Lo juga sih tadi gag nungguin mereka, malah maen cabut aja!” seru Kania dengan kesal.


"Yaa kan yayang gue mau main, masa gag gue dukung.” Sahut Sherly.


Terlihat sesekali Arland dan Ricko menoleh ke bangku penonton yang hanya ada Sherly dan Kania. Ricko melambaikan tangannya pada Sherly dan Sherly membalasnya dengan histeris.


" Aahhh bebep gue seksi banget keringetan gitu!” seru Sherly dengan gemas.


"Heemm mentang-mentang baru jadiaaannn,  dunia indah banget yaaa dan cuma milik lo berdua…” ledek Kania.


“Ya iya laahh!! Makanya lo punya cowok, biar tau indahnya dunia.” Jawab Sherly sambil tertawa kegirangan. Kania hanya mengerlingkan matanya kesal mendengar ujaran Sherly.


“ O iya, kayaknya si arland tuh suka ya sama si key. Tapi si key sok adem-adem gitu. Gemes gue..” lanjut Sherly sambil menatap Kania.


"Gue sih ngerasanya si key juga suka, tapi dia tau kalo si Arland tuh punya cewek… Dia gag mau kalo di bilang ngambil cowok orang,..” terang Kania.


"Emang arland punya cewek ya?”


"Noh liat, si arland liat-liat ke sini mulu. Nyari kezia kali, lemes gitu larinya” timpal Sherly yang terus memperhatikan lapangan.


Tidak lama berselang Dena dan Kezia datang menghampiri Sherly dan Kania.


"Woy!!! Rumpi mulu!” seru Dena dari belakang. Sherly dan Kania terperanjat di tempatnya.


"Ihhh lo ya, dari mana aja sih? Di cariin tuh!” seru Kania sambil menunjuk ke arah lapangan.


"Di cariin siapa?” Tanya Dena sambil mengernyitkan dahinya.


"Bukan lo, tapi lo key… Dari tadi Arland celingukan mulu nyariin Lo.” Tutur Kania.


" Ngapain nyariin gue, gue kan gag bisa main basket!” cetus Kezia dengan santai, lalu duduk di bangku penonton. Diambilnya botol minum yang ada di dalam tasnya kemudian meneguknya.


"Ya lo gag bisa main basket tapi bisa mainin perasaan sama pikiran dia! Hahay” seru Sherly.


"Uhuukk!!” Kezia nyaris tersedak mendengar ucapan Sherly.


"Wah parah lo, hati – hati dong!” seru Dena sambil mengusap punggung Kezia. Kezia menutup botol minum yang ada di tangannya lalu menelan habis sisa air yang mengisi rongga mulutnya.


"Ngapain nyariin gue. Noh tim horenya udah semangat banget teriaknya!” seru Kezia pada sekelompok gadis yang berteriak-teriak memanggil nama Arland dari bangku penonton paling bawah.


Pandangan ketiga sahabatnya beralih ke arah gadis-gadis yang sedang meneriaki nama Arland.


"Tuh yang rambutnya agak merah, yang ngaku pacarnya arland. Iya kan na?” Tanya Kania sambil menunjuk ke arah Irene.


"Uuuhhh cakepan lo kemana-mana key! Pantesan si arland liatnya ke sini mulu.” Seru Sherly seraya menyenggol tangan Kezia membuat Kezia ikut memperhatikan permainan Arland di lapangan. “ Lo sama si Arland kan udah kayak P’shone sama P’nam, hahaha” lanjut Sherly sambil tertawa riang.


(Yang gag tau P’shone sama P’nam, silakan googling dulu.)


"Lebay!” seru Kezia sambil terus memperhatikan Arland yang sedang bermain. Arland melihat ke arah Kezia dan melemparkan senyum tipis dari bibirnya. Tapi tiba-tiba,


“BRUG!” tim lawan menyikut Arland dengan lumayan keras. Arland terjatuh dan suasana lapangan tampak sedikit ricuh.


"Ah curang tuh anak taruna jaya!” seru Dena seraya menunjuk salah satu pemain.


"Tau tuh, main kekerasan begitu. Sakit pasti tuh perutnya arland.” Tutur Kania sambil melirik ke arah Kezia yang mulai berdiri saat melihat kejadian tersebut. Sepertinya ia mulai peduli dan khawatir.


"Duh cemas gue sama yayang gue juga. Jangan-jangan tar dia juga di curangin. Turun yuk!” seru Sherly sambil menarik tangan Kania.


Kania mengiyakan kemudian mereka turun. Kezia dan Dena mengikuti dari belakang. Kini Sherly dan Kania berada di bangku penonton yang sejajar dengan lapangan. Di sebrang mereka terlihat Irene dan teman-temannya masih meneriakan nama Arland.


Terlihat Ricko mengulurkan tangannya pada Arland dan membantunya berdiri.


"Are you okey bro?” seru Ricko.


"Yaps!” jawab Arland sambil menerima uluran tangan Ricko.


Pelatih memberi kode untuk istirahat karena melihat kaki Arland yang terluka. Wasit membunyikan peluit tanda permintaan di setujui. Beberapa pemain berjalan keluar lapangan untuk sekedar beristirahat.


"Kamu gag apa apa land?” Tanya pelatih pada Arland.


"Saya baik-baik aja pak.” Jawab Arland sambil melirik Kezia. Kezia hanya terdiam seraya menyentuh rambutnya canggung.


"Okey minum dulu.” Seru pelatih sambil berlalu menghampiri seorang pelatih lain yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.


"HAP!” Arland merebut botol minum yang ada di tangan Kezia kemudian meminumnya dan sebagian lagi ia basuhkan ke kepala dan wajahnya. Tak lama Arland menyerahkan kembali botol kosong tersebut pada Kezia.


Kezia hanya terpaku melihat tingkah Arland. Benar kata Sherly, tubuh seorang laki-laki yang berkeringat, terlihat sangat seksi. Garis roti sobeknya terlihat karena baju yang basah karena keringat membentuk lekuk tubuh Arland dengan jelas.


"Airnya manis. Bekas kamu ya?” Bisik Arland dengan senyum jahil. Kezia hanya terpaku melihat kelakuan Arland. Arland pun segera berlari kembali ke arah lapangan saat peluit kembali ditiupkan.


"Aahh so sweet, dia ngomong apa key?” Tanya Kania sambil menyenggol lengan Kezia membuat lamunan Kezia buyar seketika.


" Cuma bilang makasih!” sahut Kezia sambil kembali duduk dan memperhatikan Arland dari kejauhan.


Jantungnya masih berdegub kencang dengan pipi yang merah merona. Ada rasa panas di tubuhnya yang membuat Kezia mengucurkan keringat di dahinya. Tanpa Kezia sadari ketiga sahabatnya memperhatikan Kezia dengan seksama.


****