MY FIRST LOVE Story

MY FIRST LOVE Story
Hujan dan Petir



Terlihat sebuah sepeda motor sport terparkir di depan rumah Kezia. Sang empunya dengan badan basah kuyup mengetuk pintu rumah Kezia dengan segera. Diketuknya pintu rumah sebanyak tiga kali, tak lama Eliana membukakan pintu.


"Selamat sore tante…” sapa Arland dengan sopan.


"Selamat sore nak. Ada perlu apa?” sapa Eliana sambil memperhatikan tubuh Arland yang basah kuyup.


"Saya arland tante , temennya kezia. Kezianya ada?” Tanya Arland dengan segera.


"Oooo, nak arland. Anu nak, zia –nya belum pulang. Ada perlu apa ya?” Eliana bertanya balik pada Arland. Arland tampak tercengang mendengar Kezia belum pulang padahal hari hampir berganti malam.


"Oo gitu ya tan, kalau gitu saya permisi dulu…” tutur Arland sambil mencium tangan Eliana. Eliana membalasnya dengan senyuman.


Eliana terlihat tenang-tenang saja karena mengira Kezia pergi ke rumah salah satu temannya seperti biasa.


Perasaan Arland tak karuan, Ia segera menaiki kembali kuda besinya lalu memacunya dengan kecepatan tinggi menuju sekolah. Tak banyak waktu yang dihabiskan Arland di perjalanan. Sesampainya di sekolah, Arland segera


memarkir motornya di dekat pintu gerbang. Arland berjalan menuju tempat mang ujang yang sedang bersantai di ruangan piketnya.


"Mang, liat kezia gag?” Tanya Arland yang membuat mang ujang terperanjat.


"Aduh den, kaget saya.” seru mang ujang sambil mengusap dadanya. “ Aden nyari siapa?” Tanya mang ujang sambil berjalan mendekati Arland.


"Itu mang, gadis cantik yang waktu itu saya gendong ke UKS!” seru Arland sambil memperagakan.


"Oohhh,, non key… Emang belum pulang den?” mang ujang balik bertanya.


Arland mengabaikan pertanyaan mang ujang. Ia memutuskan untuk mencari langsung Kezia yang sedari tadi tidak bisa di hubunginya. Saat bertanya pada teman-temannya pun mereka mengatakan tidak sedang bersama Kezia.


Arland menghampiri tempat yang biasa kezia datangi dengan mang Ujang mengekorinya di belakang. Semua pintu ruangan kelas yang dilewatinya, didorongnya kuat-kuat untuk mengecek keberadaan Kezia. Ia melewati perpustakaan dan toilet lalu melakukan hal yang sama tapi dia masih tidak menemukan Kezia membuat perasaannya semakin tidak tenang.


Langkahnya dipercepat menuju kelas Kezia , lalu didorongnya pula pintu tersebut dengan kuat namun tidak terbuka. Arland baru menyadari, dari semua ruangan di sekolah, hanya kelas Kezia yang lampunya menyala. Arland melihat ke dalam dari kaca jendela sebelah pintu. Tampak Kezia sedang terduduk seraya tertunduk di sendirian kursinya.


"Keyy!” teriak Arland yang membuat Kezia menoleh.


"Arland!!” seru Kezia sambil berlari menuju pintu kelasnya.


"Key jangan depan pintu!” seru Arland sambil menendang pintu kelas kezia. Namun pintu masih belum terbuka.


"Den…” bisik mang Ujang pada Arland yang masih menendang-nendang pintu kelas.


"Apa?” Teriak Arland dengan kesal


"Ini kuncinya ada di saya…” tutur mang Ujang sambil menyodorkan kunci kelas Kezia.


"Ya udah lo buka, kenapa diem aja!” gertak Arland. Etikanya hilang seketika karena panik


Dengan tangan gemetar mang Ujang membukakan  kunci pintu kelas Kezia dan pintupun terbuka. Dengan serta merta Arland berlari menghampiri Kezia yang masih mematung kemudian memeluknya dengan erat.


"Syukurlah kamu baik-baik aja…” lirih Arland yang tanpa sadar mengecup pucuk kepala Kezia.


Kezia hanya terdiam. Suasana terasa begitu sepi, hening tidak ada suara, yang terdengar di telinga Kezia, hanya detak jantung Arland yang berdegub dengan kencang dan bunyi nafasnya yang sesekali terdengar lebih panjang. Tubuhnya terasa dingin karena basah.


"Den, saya boleh duluan?” Tanya mang Ujang yang salah tingkah.


Arland hanya mengibas-ibaskan tangannya ke arah mang Ujang. Mang Ujang pun berlalu dengan cepat.


Arland membawa Kezia untuk duduk di salah satu kursi ruangan tersebut. Arland berlutut dihadapannya. Dilihatnya


tangan Kezia yang kebiruan.


"Apa tadi kamu begitu ketakutan?” Tanya Arland dengan penuh kecemasan.


Kezia hanya mengangguk lalu tertunduk. Arland mengangkat wajah dan memegangi pipi kiri Kezia dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya menggengam kuat kedua tangan Kezia. Di tatapnya kedua mata Kezia dalam-dalam.


"Maaf, harusnya hari ini aku gag biarin kamu sendirian.” Lirih Arland. Ia menyesalkan keadaan yang mengharuskannya tidak di dekat Kezia dan seolah menjadi celah bagi seseorang untuk kembali menganggu Kezia.


Kezia menghela nafasnya dalam. Rasa takut di hatinya masih belum sepenuhnya hilang walau ia sudah merasa lebih tenang. “Land, antar aku pulang…” pinta Kezia dengan air mata meleleh di pipinya. Arland menganggukinya lalu membantu Kezia berdiri dan membawanya keluar dari ruangan kelas.


****


Roda kuda besi Arland terus berputar dengan cepat. Melewati jalanan yang basah karena genangan air hujan. Kezia berpegangan dengan erat pada kaos polo yang dipakai Arland. Sementara Arland tetap focus mengendalikan laju kendaraannya. Tak lama mereka sampai di depan rumah Kezia. Kezia turun kemudian berlari membuka pintu gerbang.


Arland membawa masuk motornya. Hujan masih turun dengan derasnya membuat mereka berlari menuju pintu rumah dan melindungi diri dari hujan dengan menggunakan tas ransel Kezia. Perlahan pintu rumah terbuka. Tampak Eliana dengan wajah cemas membukakan pintu. Kezia berlari memeluk Eliana.


"Kamu dari mana nak, jam segini baru pulang? Terus kok hujan-hujanan gini?” Tanya Eliana sambil memeluk tubuh Kezia yang menggigil.


Kezia tidak menjawabnya. Arland terpaku melihat kehangatan ibu dan anak tersebut. Sebuah senyuman tersungging di bibir Arland.


"Saya permisi pulang dulu tante, sudah malam.” Ujar Arland dengan sopan.


"Loh, jangan, jangan pulang dulu. Ayo masuk, badan kamu basah gitu, nanti sakit.” Tutur Eliana dengan cemas.


Arland mengikuti permintaan Eliana. Mereka berjalan beriringan masuk kedalam rumah. Martin yang sedang asyik dengan laptopnya segera bangkit melihat kedatangan Kezia dan Arland yang basah kuyup.


“ Dhuuaarr!!!” petir kembali menggelegar. Kezia memeluk tubuh Eliana lebih erat. Martin pun berlari menghampiri Kezia.


"Tenang sayang, kamu udah di rumah. Ada mamah sama papah.” Lirih Eliana.


"Kalian darimana, kenapa hujan-hujanan?” Tanya Martin dengan tegas.


"Husshh! Udah pah, nanti lagi tanya-tanyanya. Kasih nak arland handuk dulu, badannya basah, nanti dia sakit.” Tutur Eliana sambil mengusap lengan Martin.


Martin berjalan menuju kamar. Kemudian mengambil handuk untuk Arland.


"Nak, kamu nanti bisa ganti baju di kamar tamu. Disana ada beberapa baju om. Tante ke atas dulu, bawa zia.” Terang Eliana. Arland hanya mengangguk sebagai respon. Eliana dan Kezia pun berlalu.


Terlihat sebuah ranjang dengan ukuran kasur nomor dua dengan sprei berwarna putih tulang mengisi kamar tersebut. Kamarnya tidak terlalu luas namun cukup nyaman. Di sana ada sebuah lemari  dan kamar mandi di dalamnya. Di sebelah lemari ada sebuah kaca besar dengan pinggiran ukiran kayu menempel di dinding.


Arland menutup pintu kamar lalu masuk ke kamar mandi. Dengan segera ia membersihkan badannya. Airnya terasa lebih hangat saat mengguyur tubuh Arland yang mulai menggigil. Diraihnya handuk yang tergantung. Arland mematikan keran lalu membalut tubuhnya dengan handuk. Di pakainya handuk yang menutupi pusar hingga ke lututnya. Potongan roti sobeknya tertata dengan indah.


Dibukannya pintu lemari. Ada beberapa kaos berkerah dan celana selutut. Arland mengambil celana jeans selutut berwarna hitam dan kaos berkerah berwarna navy. Dikeringkannya rambutnya dengan handuk yang tadi dipakainya. Arland merapihkan rambutnya dengan tangan dan membiarkannya kering alami.


Setelah merasa rapi Arland berjalan keluar kamar. Diputarnya gagang pintu dan mendorong pintu perlahan. Sejurus Arland melihat Martin sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton tv. Arland menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Rupanya Martin menyadari kedatangan Arland.


"Duduk sini!” Martin bersuara dengan tegas. Arland berjalan mendekati Martin lalu duduk disampingnya. “ Siapa tadi namamu?” Tanya Martin dengan tatapan tajam.


"Saya Arland. Arland ardiansyah putra, om.” jawab Arland dengan tenang.


"Kamu anak dari pak ardiansyah putra?” tanya Martin tercengang.


"Betul om. Om mengenal almarhum papah?” Lirih Arland. Martin memandangi wajah Arland yang terlihat sendu, ia terangguk.


" Yang sudah pergi, cukuplah dikenang, jangan terus disesali. Biarkan mereka berada di dunia barunya dengan tenang.” Tutur Martin sambil terus memandangi Arland dengan rasa kasian.


Sebenarnya Martin mengatakan hal tersebut untuk mengingatkan dirinya sendiri yang sering kali masih menyesali kepergian anak pertamanya.


"Iya om, saya sudah ikhlas. Saya yakin papah lebih bahagia di sana” tutur Arland sambil menengadahkan wajahnya melihat kilauan lampu. Martin mengangguk setuju.


" Okey, tapi om belum nanya, kenapa kamu membawa kezia hujan-hujanan. Kamu ingin membuat dia mengingat traumanya?” Tanya Martin dengan serius.


" Maksud om?” Arland tampak keheranan.


" Kezia sangat takut dengan hujan apalagi petir. Dia trauma dengan kejadian 12 tahun lalu saat kakaknya meninggal.” Ujar Martin menggantung kalimatnya. Arland berusaha mencerna yang dituturkan Martin.


"Ehm!” tiba-tiba suara Eliana menghentikan pembicaraan Martin dan Arland.


Arland dan Martin menoleh bersamaan.


"Udah dulu ngobrolnya pah, kasian nak arland belum makan.” Tutur Eliana sambil tersenyum.


" Eemm okey, papah sama arland segera ke sana. Mamah panggil dulu zia.” sahut Martin dengan lembut. Eliana mengangguk kemudian berlalu.


Martin masih menatap Arland dengan tajam membuat Arland menelan salivanya kasar-kasar. "Apa tadi saat kamu ketemu kezia dia menangis sambil teriak-teriak?” selidik Martin.


"Nggak om, ketika saya datang, key memang terlihat sangat ketakutan. Tapi tidak teriak-teriak atau pun menangis histeris. Tadi di perjalanan pulang pun dia sudah lebih tenang.” Terang Arland sambil mengingat kejadian tadi.


"Apa anak ini bisa menenangkan zia begitu saja?” gumam Martin dalam hati sambil terus menatap Arland.


"Ya udah ayo kita makan dulu.” Ajak Martin sambil menepuk bahu Arland. Arland hanya mengangguk dengan senyum tersungging di bibirnya.


Arland dan Martin berjalan beriringan menuju meja makan. Di sana tampak Eliana dan Kezia sudah duduk berdampingan.


"Ayo nak, kita makan dulu…” ajak Eliana dengan senyuman ramah.


Arland menatap Kezia yang masih terpaku. Piringnya masih kosong. Mereka bertemu pandang kemudian saling


tertunduk.


"Papah mau makan sama apa?” Tanya Eliana sambil mengambilkan nasi untuk Martin.


"Wah ini makanan favoritnya zia semua nih, tolong ambilin itu aja mah.” seru Martin sambil menunjuk beberapa lauk.


"Nak, ambilin nasi buat nak arland.” Pinta Eliana sambil memberikan wadah berisi nasi.


Kezia mengambil wadah tersebut lalu menyendokkan sesendok besar nasi dan menaruhnya di piring Arland. Arland


menatap Kezia sambil tersenyum sementara Kezia hanya terdiam. Setelah mengisi piring Arland dengan nasi, Kezia mengisi piringnya dengan sedikit nasi.


"Ayo nak, jangan sungkan.” Eliana memandang kedua remaja tersebut yang terlihat canggung.


"Iya tante”, jawab Arland sambil mengambil beberapa lauk.


Mereka mulai makan sambil sesekali saling lirik.


"Nak, kalian kenapa tadi bisa pulang ujan-ujanan?” Tanya Eliana pada Kezia yang sejak tadi belum mau cerita.


Semua pandangan tertuju pada Kezia.


"Kita sedang makan mah, apa mamah tetep pengen zia cerita sekarang?” Tanya Martin yang mengerti keengganan Kezia untuk bercerita.


"Apa kalian bertengkar seperti pasangan-pasangan remaja lainnya?” Tanya Eliana dengan menyelidik. Entah mengapa ia sangat antusias dengan hubungan sang putri dengan remaja tampan di hadapannya.


"Mah….” Ujar Martin seraya menatap Eliana. Eliana tersenyum tipis.


"Kayakanya mereka salah paham…” lirih Kezia dalam hati. Di tatapnya Arland yang tak menjawab sepatah kata pun seperti mengiyakan bahwa mereka adalah pasangan yang sedang ada masalah.


" Tadi nak arland ke sini loh nyari kamu sebelum akhirnya kalian pulang bersama. Mamah kira kamu main ke rumah dena atau sherly...” Lanjut Eliana.


Kezia tercengang, dia tidak menyangka Arland bisa begitu cemas padanya.


"Zia ada masalah di sekolah. Tapi gag ada hubungannya sama arland mah, pah…” Kezia memberanikan diri memulai pembicaraan.


Kezia mengakhiri suapan nasinya. Lalu menceritakan kejadian yang menimpanya dengan sejujurnya. Berkali-kali Eliana menggeleng tak percaya atas apa yang diceritakan Kezia. Martin ikut kesal atas apa yang dialami putri kesayangannya. Arland pun mulai tahu, kenapa Martin begitu khawatir pada Kezia yang sering ketakutan ketika ada hujan dan petir tanpa seseorang di sampingnya.


Dalam pikiran Arland , nama Irene muncul sebagai satu-satunya orang yang mungkin melakukan ini pada kezia.


****