
“ Dasar nyebelin banget sih tuh cowok!” gerutu Kezia dalam hati.
Di cucinya kedua tangan di wastafel yang ada di toilet wanita seraya menatap pantulan wajahnya dari cermin yang ada di hadapannya. Wajahnya terlihat merah dengan keringat masih membasahi dahinya. Kezia mengumpulkan rambutnya yang terurai dan menariknya ke salah satu sisi. Tak lama ia pergi ke toilet dan menutup pintu serta menguncinya.
Tiba-tiba saja lampu toilet mati. Terdengar derap langkah kaki masuk ke toilet, dan
“ Byyuuuurrrr…..” seember air dengan beberapa bongkahan Es menyiram tubuh Kezia. Kezia terkejut di tempatnya.
dari balik pintu terdengar kekehan tawa beberapa orang yang rasanya tidak asing. Mereka berlarian kemudian mengunci toilet dari luar. Kezia segera membuka pintu, namun pintu terkunci dari luar. Diambilnya handphone yang berada di dalam saku, tapi ternyata handphonenya mati karena basah.
“ SHIT!” dengus Kezia yang mulai panik. “ Heyyy siapa di situu? Tolong jangan becanda!!!!” seru Kezia dari dalam toilet seraya menggedor pintu.
Berkali-kali ia berteriak, tapi tidak ada satu orangpun yang menjawab.
"Shit!!!" Kezia meninju pintu toiletnya dengan kepala tangan yang mulai memerah dan terasa sakit. Tidak ada cara yang bisa ia lakukan selain menunggu seseorang datang ke toilet dan menolongnya.
Kezia hanya bisa duduk di atas toilet, dengan tubuh menggigil kedinginan seraya memeluk tubuhnya dengan kedua tangannya sendiri.
****
Di kantin
“ Ini beneran nih kita d traktir?” tanya Andes pada Kania.
“ Iyyaaa , berisik lo ah!” Jawab Kania dengan sinis. “ Udah lo mau makan apa, kita traktir. Hitung-hitung say thanks udah ngajarin kita basket” Lanjut Kania sambil terus mencatat menu pesanan teman-temannya.
“ Wah thanks nih girls! Jadi enak...” sahut Ricko dengan senyum sumeringahnya.
Terlihat Dena sedari tadi duduk tak tenang. Beberapa kali dia terlihat menghubungi seseorang tapi keliatannya tidak tersambung.
“ Lo kenapa sih na?” tanya Sherly yang memperhatikan keresahan Dena.
“ Ini si keyy kemana sih, lama banget ke toilet. Mandi apa tidur dia di toilet?” celoteh Dena dengan wajah cemas.
“ Iya yah, lama banget tuh anak. Dia gag mungkin mandi, kan bajunya juga di gue!” seru Sherly.
“ Gue susul!” seru Dena sambil beranjak.
*****
“ Keeyyy,, kezia lo dimana…” teriak Dena di sekitar toliet perempuan. Tidak ada suara yang menyahuti panggilan Dena. Dena memutar gagang pintu toilet tapi tidak bisa dibuka, sepertinya terkunci.
“ Kok di kunci sih?” Gumam Dena yang merasa ada yagng tidak beres. Dena segera berjalan ke ruangan tempat penjaga sekolah. Di sana mang Ujang sedang menyeruput segelas kopi hitam dengan nikmatnya.
“Mang!” seru Dena sambil berjalan mendekat.
“ Iya Non… “ jawab mang Ujang yang menaruh kembali cangkir kopi di atas piring kecilnya.
“ Kok toilet cewek di kunci ya?” tanya Dena dengan serius
“ Ah masa sih neng, gag saya kunci kok!” sahut mang Ujang sambil mencari kunci toilet perempuan. “ Nih kuncinya di saya!” mang Ujang menunjukkan kuncinya pada Dena. Perasaan Dena makin tak tenang.
“ Ayo mang kita ke toilet cewek sekarang!” Dena segera menarik tangan mang Ujang dan berjalan dengan cepat.
Tidak butuh lama mang Ujang membuka pintu toilet. Toilet tampak sepi. Hanya ada sebuah ember dan genangan
air yang membasahi lantai toilet yang biasanya kering.
“ Keeyyy, lo disini keyyy?” Seru dena sambil membuka satu persatu pintu dalam toilet. Tidak ada jawaban sedikitpun.
"Mang, yang ini kekunci!" seru Dena pada sebuah pintu toilet.
Mang ujang segera mencari kuncinya dan begitu menemukannya ia segera membukanya.
Dena begitu terkejut saat mendapati sahabatnya setengah tak sadar terduduk dengan menggigil di atas dudukan toilet.
“ Keeyyy!” teriak Dena sambil menangis. “Key lo kenapa!” di hampirinya Kezia yang menggigil kedinginan
“ Ya ampun Gusti…” seru mang Ujang sambil membopong Kezia keluar toilet dalam.
Keziapun terkulai tidak sadarkan diri.
“ Keeyy lo jangan becanda key, ini gag lucu….” seru Dena yang panik setengah mati. Di peluknya Kezia erat-erat. Dengan tangan gemetar Dena menekan keypad ponselnya dan menghubunginomor telpon Sherly.
“ Sher tolong sher, kezia pingsan!” seru Dena sambil terisak.
Setelah berbicara, handphone Dena terjatuh begitu saja. Dipeluknya kembali tubuh Kezia yang dingin seperti es. Wajahnya pucat dengan bibir kebiruan dan sekujur tubuh yang basah kuyup.
“ Na, lo jangan becanda, kezia kenapa?” tanya Sherly sambil berteriak. Namun tidak ada jawaban dari sebrang
sana, yang terdengar hanya suara tangis Dena yang memanggil-manggil nama Kezia.
“ Sher kenapa?” tanya Kania yang dengan penasaran.
Tanpa menjawab Sherly segera berlari menuju toilet. Di susul oleh Kania, Ricko, Arland, Andes dan Tedy.
“ Astaga key!” seru Sherly seraya berlari menghampiri Kezia.
Tidak ada respon dari Kezia. Arland pun berlari menghampiri. Di ambilnya jaket motor yang sedari tadi disimpannya di dalam tas. Di selimutinya Kezia dengan jaket tersebut.
“ Ayoo cepet bawa ke rumah sakit!” seru Andes.
Tanpa menghiraukan ucapan Andes, Arland segera menggendong Kezia dan membawanya ke parkiran mobil Sherly.
“ Sial, kamu bener-bener ngelakuin semuanya!” dengus Arland dalam hati.
Arland membaringkan Kezia di jok baris kedua mobil Sherly dengan paha Dena di jadikan bantalan kepalanya. Dena terus menangis dan memanggil-manggil nama Kezia tapi Kezia masih tidak merespon.
“ Gue yang nyetir.” Ujar Arland yang merebut kunci dari tangan Sherly. Sherly hanya terpaku karena masih shock.
Ricko menghampiri dan mencoba menenangkannya. “Tenang, kezia gag akan kenapa-napa” ujar Ricko pada Sherly. Sherly hanya mengangguk sambil menyeka air mata di pipinya.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Tak sampai sepuluh menit mereka tiba di Instalasi Gawat Darurat Rumah sakit Pusat kota. Beberapa perawat menghampiri mobil Sherly dan segera menurunkan Kezia dan membaringkannya di atas blankar. Dena dan teman-temannya menunggu di luar. Mereka tampak cemas, tak terkecuali Arland dan ketiga sahabatnya yang ikut tegang.
Arland menjauh dari teman-temannya kemudian menghubungi seseorang lewat ponselnya.
“Hay sayaaang, kamu udah liat hasilnya kan?” sapa suara di sebrang sana yang begitu nyaring.
“Kamu perempuan jahat ren, sampe kapan kamu bakal kayak gini?” seru Arland dengan geram.
“Hihihi aku gag jahat sayang, aku cuma berusaha melindungi segala sesuatu yang memang milikku. Dan lagi dia terlalu lemah buat kamu land.” Jawab perempuan di sebrang sana yang kemudian terkekeh.
Arland mengeram kesal, ditutupnya telpon tersebut dan segera kembali bergabung dengan teman-temannya. Wajahnya masih terlihat sangat kesal.
Tidak lama berselang, dokter yang memeriksa Kezia keluar dan menghampiri mereka.
“Kalian teman-temannya pasien di dalam?” sapa doker Eko dengan ramah
“Iyaa dok. Gimana kondisi sahabat saya?” tanya Dena dengan segera
“Pasien sudah siuman tapi kami masih perlu melakukan observasi. Kalau kondisinya baik, dalam 4 jam sudah boleh pulang.” terang dokter Eko.
“Syukurlahh, terima kasih dok..” tutur Kania dengan nafas lega.
“Kami boleh jenguk teman kami dok?” tanya Sherly dengan kecemasan yang belum sepenuhnya hilang.
“Silakan, saya permisi dulu.” tutup dokter Eko yang berlalu meninggalkan teman-teman Kezia.
Dena dan teman-temannya segera masuk ke ruang IGD. Dari kejauhan terlihat Kezia yang sedang menyandarkan tubuhnya ujung tempat tidur yang di tinggikan.
“Keyy…” seru Dena yang berlari lalu memeluk Kezia. Diikuti oleh Sherly dan Kania.
“Gue baik-baik aja girls,,” tutur Kezia yang mengetahui kecemasan teman-temannya.
“Lo selalu bilang lo baik-baik aja, padahal gue tau lo gag baik-baik aja.” Ujar sherly sambil mengisakkan tangisnya di bahu Kezia. Kezia hanya terdiam dan meresapi perhatian mendalam ketiga sahabatnya.
“Gue akan selalu baik-baik aja karena ada kalian di samping gue.” Tegas Kezia sambil menatap sahabatnya
bergantian. “Guys, makasih ya, maaf udah bikin kalian repot.” ujar Kezia sambil tersenyum pada Arland dan teman-temannya.
“Sama-sama keyy. Cepet sembuh yaaa..” jawab Ricko mewakili.
Sementara itu Arland hanya terdiam, ia menatap Kezia dengan penuh rasa bersalah.
*****