
Peluit tanda permainan berakhir dibunyikan. Skor terakhir permainan, SMA harapan bangsa unggul dari SMA Taruna Jaya sebanyak 4 poin. Penonton bersorak menyambut kemenangan mereka. Para pemain bersalaman kemudian berfoto bersama. Mereka mulai berjalan keluar lapangan.
"Sayaaang kamu hebat deh! Sekolah kita menang….” Seru sherly sambil merangkul lengan kanan Ricko.
" Kalo basket itu kerja tim, kalo sampe menang, berarti timnya yang hebat.” Jawab Ricko sambil melakukan “Tos” dengan Arland.
Tiba-tiba Seseorang menghampiri mereka.
"Land, selamat ya… Kamu hebat! Ini aku bawain handuk buat lap keringet kamu dan ini air minum biar kamu gag dehidrasi.” Irene menyodorkan kedua barang tersebut pada Arland.
" Makasih. Tapi aku udah bawa di tas.” Jawab Arland sambil melirik ke arah Kezia. Kezia dan sahabatnya masih terpaku.
" Emm, okey. O iya, sore ini aku ada janji sama mamah kamu buat belanja bareng. Kalo bisa sepulang sekolah aku ikut ke rumah kamu ya…” pinta Irene sambil merangkul tangan kanan Arland. Arland mencoba mengibaskannya.
Kezia memalingkan wajahnya dari Arland yang sesekali meliriknya. Ada bongkahan batu besar yang mengganjal di dadanya. Ada rasa kesal yang tidak bisa ia gambarkan.
" Mereka sudah sedekat itu… Tapi apa juga peduliku, toh dia bukan siapa-siapa.” lirih Kezia dalam hati
Kania melihat gelagat tidak nyaman Kezia.
"Okeeyyy! Kita cabut duluan yaa… Gag enak ngeliat urusan rumah tangga orang depan mata.” Cetus Kania. Kezia melongo mendengar ucapan Kania.
Di tariknya tangan Kezia dengan kuat oleh Kania. Mereka segera berlalu meninggalkan Arland dan Irene.Ingin sekali Arland menahan Kezia untuk tidak pergi, tapi untuk alasan apa? Apa yang kemudian harus ia jelaskan?
"Bisa gag kamu gag usah ganggu terus?” tutur Arland pada Irene.
"Ooohh… Kamu berani ngebentak aku gara-gara cewek itu hah? Itu penghinaan buat aku land. Apa belum cukup peringatan aku buat kamu?” seru Irene dengan wajah sangarnya.
" Aku gag takut. Kamu ganggu dia, aku gag akan tinggal diam.” Tegas Arland sambil berlalu meninggalkan Irene.
" Arland, kamu akan menyesal!” teriak Irene dengan geram dan Arland berlalu begitu saja tanpa menggubris kata-kata Irene.
****
" Key , lo baik-baik aja kan?” Tanya Kania pada Kezia yang sejak tadi terdiam.
"Kenapa gue harus gag baik-baik aja ka?” Kezia berusaha tersenyum di akhir kalimatnya namun mulutnya benar-benar mengkhianati hatinya.
" Kalo lo ngerasa gag nyaman, lo boleh cerita sama kita-kita.” Tutur Sherly menambahkan.
" Key lo sahabat yang gue sayang. Gue gag mau liat lo bersedih okeyy…” imbuh Dena.
Kezia tersenyum pada ketiga sahabatnya. "Kalian liat, gue baik-baik aja” tutur Kezia.
Kania merangkul Kezia dengan hangat.
"Lo gag pandai berbohong Key…” lirih Kania dalam hati.
# Flash back On
"Okey anak-anak, tas kalian simpan di sini. Lalu kalian lakukan peregangan dulu baru masuk ke air ya…” jelas Bu Anna pada seluruh siswa kelas 3 SMP.
Siang itu, Kezia ada pelajaran olahraga. Olah raga kali ini adalah praktek renang. Semua siswa dikumpulkan di
sebuah kolam renang dengan 3 kolam yang memiliki kedalaman berbeda.
"Key, lo mau turun gag?” tanya Kania yang mulai bersiap.
"Nggak ah ka, gue gag bisa berenang.” Jawab Kezia sambil bergidik.
"Ah lo cemen! Ini kan cetek kali kolamnya.” Tutur Kania sambil terus menggerak-gerakan kakinya hingga memercikkan air.
"Gue nungguin lo aja di sini…”
"Okey!" seru Kania yang mulai meluncur dengan gaya punggungnya.
Kania melanjutkan renangnya. Kolam dengan kedalaman 150 cm menjadi tempat Kania melakukan berbagai gaya. Untuk ukuran anak SMP kolam sedalam itu cukup dalam. Sementara anak lainnya berenang di kolam yang kedalaman 60-75 cm dan sebagian besar anak laki-laki berenang di kolam yang lebih dalam lagi dengan kedalaman sampai 170 cm.
Kezia tampak mengeluarkan handphonenya dan beberapa kali menekan tombol rekam, hendak merekam Kania yang tampak senang berenang kesana kemari. Gerakan Kania begitu indah dengan berbagai gaya dia gunakan. Namun tiba-tiba..
Melihat Kejadian tersebut kezia tampak panik. "Ka, lo kenapa?” teriak Kezia dari pinggir kolam. Tidak ada siapapun yang berada di sekitar mereka.
Terlihat kepala Kania sebentar muncul dan sebentar tenggelam. Kezia semakin panik. Dia tidak bisa berenang tapi tidak mungkin membiarkan temannya meregang nyawa di dalam air.
" Tolong!!! Tolongg!!! Ada yang tenggelam!!!” Teriak Kezia sambil mondar mandir tidak tentu arah karena saking paniknya.
Tidak ada satupun sahutan suara yang ia dengar. Perlahan Kania terlihat tidak lagi bergerak. Hanya kepalanya yang terlihat muncul di permukaan. Kezia semakin panik. Diambilnya beberapa tas selempang dan mengikatkannya satu sama lain. lalu dia kaitkan pada keran besar yang terbuat dari besi tebal. Dia masuk kedalam air dan melupakan kalau ia tidak bisa berenang.
Perlahan Kezia menggerakkan kakinya dengan tangan yang terus berpegangan pada tali tas yang di rangkainya. Di tariknya tubuh Kania yang terapung di air. Wajahnya sudah pucat pasi.
Cukup lama Kezia berjuang berenang tepian kolam. Diangkatnya tubuh Kania yang berukuran lebih besar dari badannya. Entah darimana asal tenaga yang tidak pernah terpikirkan oleh Kezia. Yang ia tahu ia harus menyelamatkan sabahatnya.
" Ka, bangun ka! Tolong jangan diem aja!!” seru Kezia sambil mengguncang-guncang tubuh Kania. Kania tidak merespon membuat Kezia semakin panik.
Kezia mencoba mendengarkan suara jantung dan nafas Kania. Jantungnya masih terdengar berdetak sementara nafasnya tidak terdengar. Selintas Kezia teringat almarhum kakaknya yang terbaring dengan posisi yang sama dengan Kania.
Tanpa pikir panjang, Kezia melakukan gerakan resusitasi seperti yang dia lihat saat dokter melakukannya untuk
menyelamatkan nyawa kakaknya.
" Ka, tolong bangun ka!” seru Kezia sambil terus melakukan resusitasi. " Ka, ayo bangun!!!!” teriak Kezia makin keras dan makin keras pula ia memompa dada Kania.
" Ka, jangan tinggalin gue… Gue mohon ayo berjuang… Bangunlaahh!!!” seru Kezia setengah berteriak dengan air mata yang tidak henti menetes.
Seseorang melintas di kolam renang dan melihat apa yang Kezia lakukan. Ia segera berlari menghampiri Kezia dan Kania. Dan tiba-tiba..
“Huek!!” Kania memuntahkan seluruh air yang menghalangi pernafasannya. Dengan serta merta Kezia membangunkan tubuh Kania.
" Ka… Lo bangun ka,,, Ayo muntahin semua airnyaa….” Seru Kezia yang begitu senang melihat respon bagus dari Kania. Namun tubuhnya masih sangat lemah.
" Dia kenapa de?” Tanya laki-laki dewasa yang baru tiba.
" Tadi dia tenggelam kak, ayo bawa dia ke rumah sakit…” tutur Kezia dengan tangis yang tak tertahankan. Ia memeluk Kania dengan erat. seolah rasa cemasnya tidak hilang hanya dengan melihat Kania bangun.
Kania masih setengah sadar dan dia merasakan pelukan hangat juga detak jantung Kezia yang tidak beraturan karena panik. Ia hanya bisa menyandarkan tubuhnya pada bahu Kezia seraya mengatur nafasnya yang masih terrengah.
" Okey , biar aku gendong dia, kita bawa ke mobil. Kamu bawa barang-barangnya.” Ujar lelaki tersebut yang serta merta menggendong tubuh Kania dengan setengah berlari.
****
Kania mulai menggerakan jemarinya. Matanya mengerjap dan mulai tersadar. Dilihatnya lingkungan yang begitu asing dengan cat serba putih dan lampu yang terang menyilaukan matanya. Ada bau yang dia kenal seperti bau disinfektan atau sejenisnya.
"Rumah sakit” lirih Kania dalam hati. Di liriknya Kezia yang sedang tertidur di sofa dengan selimut tebal menutupi tubuhnya.
“Key…” tutur Kania dengan perlahan.
Kezia yang tertidur segera terperanjat saat mendengar suara Kania menyebut namanya.
"Ka, lo udah sadar? Mana yang sakit? Kasih tau gue, biar gue bilang ke dokter” tutur Kezia dengan mata sembab. Tangannya mengecek suhu tubuh Kania dengan gemetar.
"Key, lo udah nyelametin hidup gue. Makasih banyak.” ujar Kania dengan air mata meleleh di pipinya.
"Lo sahabat gue ka, gue gag mau kehilangan lo.” terang Kezia sambil memeluk Kania dengan erat. “ Tolong jangan kayak gini lagi, gue bisa mati liat lo hampir sekarat kayak gitu…” lanjut Kezia sambil terisak.
"Nggak akan terulang Key, gue janji…” jawab Kania yang mengeratkan pelukannya.
"Orang tua kita, temen-temen dan guru kita ada di luar, lo mau ketemu?”
"Gag usah, ada lo disini udah cukup.” Lirih Kania.
Kezia membalasnya dengan senyuman.
# Flash back Off
***