
Siang itu, Kezia berada di kantin ditemani segelas Jus Jeruk di depannya. Pikirannya melayang entah kemana.
Sepulang sekolah Kezia memilih untuk diam di kantin sambil membuka-buka buku Matematika Favoritnya. Keinginannya hanya ingin berganti suasana. Namun pikirannya terdestrkasi saat dia teringat Arland.
“ Ni anak kemana sih, gag keliatan seharian.” gerutu Kezia sambil memutar-mutar sedotan yang ada di gelas jusnya. Tangan kirinya menopang dagu lancipnya.
Kezia tampak mengeluarkan handphone dari saku rok abu-abunya. Ia mencoba menghubungi Arland tapi tidak di jawab.
“ Isshh bete!” gerutu Kezia sambil menjatuhkan kepalanya di atas bantalan lengannya. Entah sejak kapan, kehadiran Arland menjadi sebuah kebiasaan bagi Kezia.
Tangan kanannya mencoba mengirim pesan pada teman-temannya, tapi tidak ada yang membalas. Kezia bangkit dengan malas. Lalu berjalan menuju kelasnya. Saat melintasi kelas Arland , tampak Ricko menolehnya dari dalam kelas.
“ Key! Belum pulang?” tanya Ricko seraya menghampiri Kezia.
“ Belum, masih ada yang di pelajarin.”
“Sendirian?” lanjut Ricko. Kezia hanya mengangguk sambil menyudutkan bibirnya.
“ Mau latihan basket?”
“ Nggak, justru mau pulang. Soalnya anak-anak juga pada gag ada.” Terang Ricko.
“ Emang pada kemana?” Kezia tampak memperhatikan kelas Ricko yang memang sudah sepi.
“ Arland gag masuk, ada urusan di kantor ibunya. Yang lainnya udah pada pulang duluan.” Terang Ricko seolah menjawab rasa penasaran Kezia.
“ Ya udah aku ke kelas dulu ya, mau ngambil buku.”lanjut Kezia sambil melambaikan tangannya.
“ Jangan pulang sore-sore ya !” seru Ricko. Kezia hanya mengangguk sambil mengacungkan ibu jarinya.
Kezia terus berjalan ke arah kelasnya. Suasana kelas sudah sangat sepi tidak ada siswa di sana. Dilihatnya kelas sudah sangat rapi. Rupanya teman-temannya telah selesai piket Kezia berjalan perlahan menuju bangkunya. Diambilnya buku catatan yang tadi tertinggal di bawah meja lalu memasukkan semuanya ke dalam tas.
“ BRUK!!!” sebuah suara yang begitu keras membuat Kezia terperanjat. Terlihat pintu kelasnya yang tertutup rapat dengan sendirinya. Kezia berlari ke arah pintu tapi rupanya orang tersebut menguncinya.
“ Hey, siapa di luar hey! Tolong buka pintunya.” Teriak Kezia dengan panik.
Tidak ada jawaban yang terdengar dari luar sana.
“ Heyyy, tolong jangan becanda ini gag lucuu!!” seru Kezia dengan keras. Masih tidak ada satupun suara yang merespon.
Kezia mengeluarkan ponselnya yang ada di saku kemudian menyalakannya, tapi sepertinya baterainya habis.
“ Shit! Ini kenapa sih” dengus Kezia dengan kesal. Kezia melihat jam yang melingkar di tangannya, sudah jam 3 sore. Kezia kembali mendekati pintu dan menggedornya dengan keras.
" Hooyy!! Gue mau pulang, tolong jangan becanda kayak gini” seru Kezia semakin keras.
Suasana sekolah semakin hening, benar-benar tidak ada yang menjawab. Kezia menyalakan lampu kelasnya kemudian duduk di kursinya. Badannya sudah lemas karena terus berteriak. Kepalnya memerah bekas memukul-mukul daun pintu. Dia pasrah, tidak lagi berontak. Seluruh tenaganya nyaris habis.
Tak lama terdengar rintik hujan di luar jendela. Kezia menoleh ke arah jendela. Tampak kilat-kilat kecil menghiasi langit. Seketika, ingatan Kezia membawanya pada kejadian 12 tahun lalu.
# Flash Back On
Siang itu para siswa pulang lebih awal karena telah selesai melaksanakan ujian tengah semester. Kezia kecil menunggu Dika sang kakak di depan kelasnya. Kezia dan Dika bersekolah di sekolah yang sama. Kezia kelas satu SD sementara Dika, kelas 4 SD. Kezia keluar lebih awal, sementara Dika masih dikelasnya, sedang membereskan buku pelajaran. Sesekali Kezia memandangi Dika dari jendela. Dika melihat bayangan adiknya kemudian menoleh. Dika tersenyum pada Kezia. Selesai membereskan buku, Dika segera keluar menemui adik kesayangannya.
"Kamu udah lama nunggu kakak de?” Tanya Dika dengan lembut seperti biasanya.
"Iyaaa,, kakak lama banget. Aku udah laper…” keluh Kezia dengan ekspresi manjanya.
" Ya udah ayo, tapi kamu antar kakak ke suatu tempat dulu, nanti kakak beliin ayam goreng. Kamu mau?”
"Mau mau mau…” seru Kezia dengan semangat. Kezia dan Dika berjalan beriringan. Dika menggenggam tangan adiknya dengan erat.
"Kita mau kemana sih kak?” Tanya Kezia sambil mengernyitkan dahinya.
"Kita beli kue dulu sebentar, buat hadiah ulang tahun mamah…” terang Dika sambil tersenyum.
"Kakak punya uang?” selidik Kezia.
"Ada dong! Kakak pecahin celengan ayam di rumah. Uangnya lumayan banyak…” jawab Dika dengan wajah gembira.
"Aku gag punya uang kak, aku gag bisa ngasih hadiah buat mamah…” terlihat raut sedih di wajah Kezia kecil.
" Heemmm kamu jajan terus sih, jadi gag bisa nabung…” balas Dika sambil mengusap pucuk kepala adiknya dengan lembut.
"Aku gag mau pulang, nanti mamah cuma cium kakak, tapi gag cium aku….” Kezia menghentikan langkahnya.
"Loh jangan berhenti di sini, kita belum sampe…” Dika menarik lengan sang adik yang merajuk manja.
" Aku gag mau ikut.” Kezia mengibaskan tangan Dika. Dika hanya tersenyum melihat tingkah menggemaskan adiknya.
"Okeeyy! Aku janjiii…” seru Kezia seraya mengacungkan jari kelingkingnya dan Dika membalasnya dengan mengaitkan kelingkingnya di kelingking Kezia.
"Ya udah, yuk jalan lagi…” Dika kembali menggenggam tangan Kezia berjalan beriringan di trotoar jalan.
Setelah cukup lama berjalan mereka sampai di sebuah toko kue. Dari jendela tampak beragam jenis kue yang terpajang di eralase dan tampak menggiurkan. Mereka masuk ke dalam toko dengan mata berbinar-binar. Di tatapnya satu-per satu kue yang ada disana. Terlihat sangat lezat. Air liur kedua anak tersebut hampir saja menetes.
" Kak yang itu bagus…” Tunjuk Kezia pada sebuah kue berwarna putih dengan tiga buah cherry di atasnya.
"Kalau kamu suka, kita pilih yang itu.” Seru Dika , setuju.
Mereka meminta pelayan untuk membungkuskan kue tersebut. Dengan segera pelayan tersebut memasukkan kue tersebut kedalam dus khusus kue. Diluarnya diberi pita berwarna merah. Dika mengeluarkan uang dari saku celana merahnya. Dia menghitungnya beberapa saat lalu memberikannya pada pelayan.
"Ini kue buat mamah, ini buat kamu. Ayo kita makan dulu.” Dika menyodorkan sepotong chesse cake dengan selai blueberry favorit Kezia.
"Asyikk!! Ayo kita makan kak!” seru Kezia sambil berjalan keluar toko kemudian duduk di bangku yang ada di depan toko.
Kezia mulai menikmati kue yang ada di tangannya. Sesekali Dika tertawa meihat Kezia yang belepotan dengan selai blueberry di pipi dan hidungnya. Dika mengusapnya perlahan. Kezia tersenyum manis mendapat perlakuan yang baik dari kakak yang sangat di sayanginya.
"Kak , kayaknya hujan deh…” tutur Kezia yang melihat titik-titik air jatuh membasahi pelataran toko.
"Oh iya, ayo kita pulang. Nanti mamah marah…” seru Dika sambil menggenggam tangan Kezia. Kezia meninggalkan sisa kuenya di bangku dan ikut berjalan dengan cepat mengikuti langkah kaki sang kakak yang lebih panjang.
"De, ayo lebih cepat jalannya, hujannya tambah deras…”
Dika menarik tangan Kezia dan mengajaknya berlari ke arah jalan raya. Dilihatnya taksi sedang berhenti di sebrang sana. Dika mengajak Kezia menyebrang jalan, namun tanpa mereka sadari, sebuah mobil sedang melaju dengan
kecepatan tinggi dan,
"Cekkittt…”
"BRAK!!!"
"KAKAK!!!!” teriak Kezia histeris.
Tubuh Dika terpental lumayan jauh. Hamburan kue tart mengelilingi tubuh Dika yang bercampur dengan darah segar.
Mobil sudah berhenti, setelah beberapa detik lalu menghantam tubuh kecil Dika. Kezia berlari menghampiri sang kakak. Tampak lumuran darah menutupi wajah Dika. Dika terkulai tidak sadarkan diri.
"Kak, kakak banguunn, ayo kita pulaang” teriak kezia sambil mengguncang-guncangkan tubuh Dika yang tetap terpaku. “Kak, kakak jangan berdarah, zia takut liat darah kak,,, Ayo bangun kak, nanti zia bantu cuci…” ujar Kezia dengan air mata berurai bersamaan air hujan yang turun begitu deras.
Tak lama, orang-orang disekitar yang melihat kejadian tersebut segera mendekati Kezia. Seorang pria yang keluar dari mobil sedan segera menggendong Dika dan membawanya masuk ke dalam mobil. Kezia segera mengikuti langkah cepat kaki pria tersebut.
Kezia duduk dibelakang bersama Dika. Kakinya dijadikan bantalan kepala Dika. Roknya basah dengan darah yang keluar dari telinga dan mulut Dika.
" Kak bangun kak, zia janji mulai besok zia gag akan ngompol, gag akan jajan permen dan gag akan rewel sama mamah… Zia juga mau nabung.” teriak Kezia sambil terus menangis. “ Om tolong om, kakak gag bangun-bangun…” seru Kezia pada lelaki di depannya tapi lelaki itu hanya terpaku dengan tatapan nanar dan cemas memandangi Kezia dan Dika.
Kezia melap air matanya dengan punggung tangannya , darah Dika memenuhi wajah Kezia dan tubuhnya.
Pria tersebut terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak lama berselang mereka tiba di sebuah rumah sakit. Beberapa orang dengan cepat membuka pintu dan mengangkat tubuh Dika yang sudah tidak berdaya. Seorang perawat perempuan datang dan menggendong Kezia yang terus menangis. Beberapa orang membawa tubuh Dika ke sebuah ruangan yang bertuliskan “ Ruang resusitasi” lalu menutup pintu kaca dan gordennya dengan segera.
"Jangan, jangan bawa kakak, kakak sakitt!! Jangan di ambilll!!!” Teriak Kezia yang berusaha berontak.
Perawat yang menggendong Kezia semakin mengeratkan pelukannya.
"Tenang sayang, kakakmu akan ditolong sama dokter. Kamu tunggu di sini sama ibu yaa…” bisik perawat tersebut dengan lirih.
"Aku mau kakak, aku mau kakak..” ronta Kezia sambil menggigit tangan perempuan paruh baya tersebut.
Perawat pun terpaksa menurunkan Kezia. Kezia berlari menuju pintu ruang resusitasi kemudian mendorongnya dengan kuat. Tapi pintu terkunci. Dipukul-pukulnya pintu kaca tersebut sambil berteriak memanggil kakaknya, hingga tangan kecilnya terasa sakit. Namun tak ada satupun yang menoleh ke arahnya dan membukakan pintu untuknya.
Kezia terduduk lemas kemudian menyandar pada pintu kaca. Jejak darah memenuhi kaca yang ada di hadapan Kezia. Sedikit terlihat oleh Kezia dokter sedang membuka baju Dika kemudian menekan-nekan dadanya cukup kuat namun sepertinya tubuh Dika tak berespon.
Tak lama, dokter mengambil dua buah alat berwarna putih yang dikenakan ke dada Dika. Tubuh Dika tampak tersentak beberapa kali. Kezia tidak mampu mencerna apa yang dilakukan oleh orang-orang di dalam sana pada kakaknya. Dia terus menangis sejadi-jadinya sambil memanggil kakaknya hingga suaranya parau. Lalu para dokter tersebut melepas semua alat yang terpasang di tubuh Dika. Dirapihkannya baju yang Dika Kenakan. Lalu, selembar kain putih menutupi sekujur tubuh Dika.
Kezia terpaku melihat yang dilakukan oleh tim medis. Tidak ada lagi tangis yang keluar dari mulutnya. Tak lama,
orang-orang yang di dalam berjalan ke luar ruangan. Seorang lelaki muda menghampiri Kezia kemudian mengusap pucuk kepala Kezia tanpa sepatah kata pun dan berlalu pergi begitu saja.
" Hubungi keluarganya, semua sudah selesai.” Tutur dokter tersebut pada perawat yang sejak tadi menjaga Kezia.
# Flash Back Off
" DHUAR!!!” suara petir membuyarkan lamunan Kezia. Air mata menetes dipipinya begitu saja. Bayangan Dika berkelebatan dalam ingatannya.
"Kakak….” Lirih Kezia sambil terisak.
****