MY FIRST LOVE Story

MY FIRST LOVE Story
Di Jemput yaaa



“ Key kamu lagi apa sih? Sibuk banget kayaknya” tanya Angga di layar handphonenya.


Terlihat Kezia sedang mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam tas dan sakunya. Kemudian diambilnya pula buku catatan yang sudah kering setelah tersiram air beberapa hari lalu.


“ Ini kak, aku mau nyocokin tulisan” jawab Kezia tanpa menoleh Angga.


“ Tulisan apa? Resep dokter?” ledek Angga.


Kezia mengangkat dua lembar kertas bersamaan.


“ Menurut kakak, tulisannya sama gag?” tanya Kezia dengan serius.


Angga memperhatikan tulisan tersebut dengan seksama.


“ Itu surat cinta ya?” terka Angga.


“ Heeyy yang aku tanyakan sama apa nggak tulisannya, bukan komentarin isinya.” Seru Kezia dengan wajah Kesal


“ Iya beda!” jawab Angga sambil menekuk wajahnya. “ Kamu punya pacar key?” lanjut Angga dengan tatapan nanar.


“ Nggak!” sahut Kezia. “ Kalo ini sama nggak?” Kezia memperlihatkan surat cintanya dan buku catatan yang


berisi tulisan misterius.


“ Itu sama!” jawab Angga dengan kesal. “ Kamu punya berapa fans di sekolah?” Angga memperlihatkan ekspresi ketidaksukaannya tapi Kezia tidak menyadarinya.


“ Kak aku gag suka cowok yang gag gentle, kalo dia suka aku, dateng langsung lah, ngomong langsung. Jangan sok pake kode-kodean.” Terang Kezia dengan polos.


Angga menelan salivanya kasar mendengar ucapan Kezia. “ Key apa kamu menganggap aku kakakmu?”


“ Yaps!” sahut Kezia yakin.


“ Akan selalu jadi kakakmu?”


“Tentu!”


“Tidak akan berubah?”


“ Selamanya tidak akan ada berubah, kamu akan selalu jadi kakakku. Tidak ada yang bisa menggantikan!” tegas Kezia seraya mengepalkan tangannya dan tersenyum lebar.


“ Hem, okeeyy…" timpal Angga dengan lemas. Bukan itu yang ingin ia dengar. "Key, aku udah ngantuk. Tidur duluan yah…” Angga melambaikan tangannya dan mengakhiri panggilannya.


“ Ihhh dasar maen tutup aja. Kamu Aneh!” gerutu Kezia dengan kesal.


Sementara Itu, di kamar tidur Angga terus-terusan mendengus kesal. Digerakkannya kursi roda mendekati ranjangnya. Lalu perlahan ia memindahkan tubuhnya dengan kedua tangannya. Sedikit demi sedikit menggeser tubuhnya ke tengah ranjang dan menyandar pada pinggiran tepat tidur. Pikirannya melayang, memikirkan perkataan Kezia tadi.


“ Bukan itu jawaban yang aku tunggu Key…” gumam Angga.


Diambilnya handphone yang ada di sampingnya. Lalu dipandanginya wajah Kezia yang  ia jadikan Wallpaper. Sesekali Angga mengelus layar ponselnya dengan lembut seolah tengah membelai wajah Kezia.


Mata Angga perlahan mulai terpejam tapi tidak dengan pikirannya. Terbayang dalam ingatan kejadian beberapa waktu lalu saat Angga memiliki seorang gadis yang begitu dicintainya tapi semuanya harus berakhir karena Angga divonis sakit Leukemia. Keluarga calon tunangannya memutuskannya bahkan berani menghina Angga di hadapan kedua orang tuanya.


Dada Angga merasakan sakit tatkala mengingat kenangan itu dan kehadiran Kezia perlahan mulai mengobati rasa sakit dan kesendiriannya.


“ Key, asalkan kamu selalu disampingku, walau hanya sebagai kakakmu, aku bersedia.” Lirih Angga yang tidak ingin kehilangan Kezia untuk alasan apapun.


****


Kezia mengetuk pintu kamar Eliana dengan lumayan keras.


“ Siapa?” suara Eliana terdengar dari dalam kamar.


“ Ini zia mah, boleh zia masuk?” tanya Kezia yang masih mematung di depan pintu


“ Masuklah Nak..” jawab Eliana dengan suara tidak terlalu bersemangat


Kezia memutar gagang pintu dan mendorongnya perlahan. Tampak Eliana yang sedang bersandar di atas tempat tidur dengan laptop menyala di atas pangkal kakinya. Kezia kembali menutup pintu lalu berjalan menghampiri  Eliana dan ikut bersandar di sampingnya.


“ Mah, mamah belum tidur?” tanya Kezia sambil memperhatikan Eliana. Waktu sudah menunjukan pukul 23.12  tapi Eliana masih terlihat segar.


“ Mamah belum ngantuk nak.” Jawab Eliana tanpa menoleh Kezia. Jemarinya menari dengan lincah di antara huruf dan angka yang tersusun rapi.


“ Mamah marah sama zia?” Kezia menyandarkan kepalanya di bahu Eliana. Eliana menutup laptop dan menaruhnya di meja samping tempat tidurnya.


“ Mamah, kecewa sama kamu nak. Kamu gag mendukung keputusan mamah. “ tutur Eliana sambil menatap entah ke arah mana.


“ Mah, zia bukan bermaksud tidak mendukung keputusan mamah tapi zia belum bisa mempercayai semuanya…” tutur Kezia sambil menggenggam kedua tangan Eliana dan menatapnya hangat. Eliana balik menatap Kezia. “Mah, zia hanya ingin keluarga yang utuh.” Lanjut Kezia yang kemudian tertunduk.


“ Papah kamu yang merusak keutuhan keluarga kita zia, bukan mamah.” Tegas Eliana sambil melepaskan genggaman tangan Kezia dan bersidekap.


“ Tapi mah, kita masih belum tau kebenarannya. Kita gag pernah ngasih papah kesempatan buat ngasih penjelasan. Kita gag pernah sama-sama berjuang mencari tau kebenarannya. Dan kita sama-sama gag pernah beranjak dari kecewa. Hanya menerima semuanya tanpa berbuat apapun.” Seru Kezia dengan air mata meleleh di kedua pipinya. “ Mah, zia gag mau kehilangan mamah dan papah. Zia juga kecewa sama papah tapi kita gag tau


kondisi sebenarnya apa benar seperti itu atau nggak.” Imbuh kezia sambil terisak.


“ Kamu lihat jawaban perempuan itu kalau kamu gag percaya mamah.” Cetus Eliana sambil memperlihatkan barisan pesan di ponselnya.


Kezia mengambil handphone tersebut lalu melihat pesan yang Eliana maksud.


“ Apa kamu menyukai suami saya?” Eliana


“ Bapak adalah orang yang baik dan berkharisma. Tidak mungkin ada wanita yang tidak menyukainya” _081….


“ Apa kamu berselingkuh dengan suami saya?” Eliana


“ Tapi mah ini cuma jawaban diplomatis dari perempuan itu, belum tentu kebenarannya.” Kezia berusaha mengingatkan Eliana.


“ Perempuan itu adalah seorang janda. Dia asisten papah kamu. Bahkan anaknya sering melakukan video call kalau papah di rumah. Apa itu belum cukup jelas?” sanggah Eliana.


“ Apa papah sembunyi –sembunyi saat menerima video call dari perempuan itu?” selidik Kezia.


“Dia terang-terangan di depan mamah nak. Mamah melihatnya sendiri.” Tegas Eliana dengan berapi-api membuat Kezia mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


“Ada yang salah dengan ini semua mah. Zia akan mencari tau kebenarannya.” tekad Kezia dengan serius.


"Jadi sekarang mamah yang gag kamu percaya?” cetus Eliana.


“ Mah, zia ada di pihak mamah. Kalau papah salah, ziapun akan menyalahkan papah. Tapi tolong kasih zia waktu


untuk nyari tau papah bener-bener salah atau nggak.” tandas Kezia.


Seketika perkataan Kezia begitu membekas di hati Eliana. Bagaimana pun ia tak ingin membuat Kezia kecewa dan sedih dengan masalahnya bersama Martin. Tapi ia tak bisa menerima, jika hati laki-laki yang dicintainya terbagi.


“Bayi mamah sudah besar, tolong jangan kecewakan mamah ya nak…” tutur Eliana sambil memeluk Kezia.


“ Pasti mah… Malam ini zia tidur di sini boleh?”


“ Tentu. Ayo kita tidur, peluk mamah nak…” tutur Eliana dengan air mata meleleh.


****


 


“Dddrrtt.. dddrtttt…”


“ Nak bangun nak…” bisik Eliana di telinga Kezia yang masih terlelap di bawah selimut tebal. “Ziaaa….  Ayo bangun nak, itu telpon kamu getar terus….” Eliana mengusap rambut Kezia sambil menciumnya.


“ Aku masih ngantuk mah….” Keluh Kezia masih dengan mata tertutup.


“ Takutnya penting loh. Jangan salahin mamah gag ngasih tau yaaa…” Eliana beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya.


Hari itu matahari bersinar terang. Udara pun terasa begitu hangat. Angin perlahan masuk ke celah jendela yang terbuka. Sulit sekali bagi Kezia membuka mata.


“ Ddrrtttt,, ddrrttt…” lagi-lagi handphone Kezia bergetar. Kezia menggapai Handphonenya lalu menekan tombol terima panggilan.


“ Hheemmm siapa yaa…” ujar Kezia dengan suara serak khas orang bangun tidur.


“Eemmm… Good ya anak perempuan jam segini belum bangun.”


“ Ini hari libur kali kak, jangan gangguin bisa kan?” sahut kezia tanpa membuka mata


“ Kakak? Kakak siapa?”


Kezia mengerjapkan matanya dan membuka lebar-lebar matanya. Di lihatnya tidak ada nama di layar ponselnya.


“ Emang ini siapa sih? Iseng banget ganggu orang!” seru Kezia


“ Aku arland.” Sahut suara tersebut sambil terkekeh. Kezia terperanjat, ia segera bangun dari tempat tidurnya dengan rambut acak-acakan. Bibirnya menggigiti jari tangan kirinya bergantian.


“ Ngapain kamu telpon pagi-pagi?” Kezia berusaha menutupi kepanikannya. Terdengar suara nafas Arland yang sedikit berat.


“ Aku di suruh ricko ngabarin, nanti sore mau ada acara. Kamu bisa dateng gag?” tanya Arland sedikit terengah-engah.


“ Acara apa? Kamu lagi ngapain sih ngos-ngosan gitu?” tanya Kezia beruntun. Kezia merasa bergidik mendengar suara nafas Arland yang seolah meniup telinganya seperti tempo hari dan membuat Kezia terus terbayang.


“ Lagi lari pagi lah…” jawab Arland. “ Gimana bisa dateng gag?”


“ Ricko yang ngundang, kenapa kamu yang nelpon?” tanya Kezia dengan pipi merona dan mata menyipit malu.


“ Mana aku tau, kamu tanya aja sama ricko.” Jawab Arland sembarang.


“ Dih mauan banget di suruh orang. Jangan-jangan udah nikah nanti kamu susis lagi!” seru Kezia dengan tawa geli


“ Dihh jauh banget fikiran kamu sampe ngebayangin aku susis setelah nikah.” ti mpal Arland yang terkekeh geli.


“ Ah shit! Aku salah ngomong” gerutu Kezia sambil menepuk dahinya.


“ Apa?!” tanya Arland dengan suara keras. “ Kamu ngomong apa barusan?” tanya Arland yang mendengar sedikit gerutu Kezia. Tersungging senyum di bibir Arland.


“ Itu aku nanya, acaranya jam berapa?” Kezia mengalihkan pembicaraan.


“ Oooo… Jam 3 sore.” Jawab Arland


“ Kumpulnya dimana?”


“ Di café biasa. Mau di jemput?”


“ Aku gag minta, bisa berangkat sendiri..”


“ Aku gag keberatan. Jam 3 ya!” seru Arland. Kezia hanya tersipu mendengar ucapan Arland dan panggilanpun terputus.


Kezia tertawa geli. Dia berguling di kasur dan tertawa cekikikan sambil mengangkat kaki di udara dan mengerak-gerakkannya seperti orang mengayuh sepeda.


Sementara Arland melanjutkan berlarinya di sebuah taman tempat dia dan Kezia bertemu. Bagi Arland taman itu terlihat lebih indah saat ini.


****