MY FIRST LOVE Story

MY FIRST LOVE Story
Penyelesaian



“Mah, zia mandi dulu ya…” seru kezia pada Eliana yang sedang olahraga di teras belakang.


“Jangan lupa sarapan nak!” seru Eliana


“Siap!” jawab Kezia sambil berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Diambilnya handuk berwarna merah muda yang berada di rak samping pintu masuk kamar mandi. Dengan semangat Kezia melangkah menuju kamar mandi. Terdengar lantunan lagu dari mulutnya. Dilepasnya piyama yang membalut tubuhnya dan tak lama gemericik air mulai membasahi tubuh semampainya.


Diusapnya setiap inci tubuhnya dengan sabun. Rambutnya yang panjang, giginya yang putih semua ia bersihkan dengan  menyeluruh. Lima belas menit waktu yang cukup untuk membuat tubuh Kezia kembali segar.


Kezia membalut tubuhnya dengan handuk sementara rambutnya dibiarkan terurai. Kezia berjalan menuju meja rias dan menyisir rambutnya dengan lembut. Kezia tidak suka mengeringkan rambutnya dengan pengering, ia lebih suka rambutnya dibiarkan kering secara alami. Diambilnya baju model jumsuit selutut berwarna dusty pink dengan polesan bedak tipis dan sedikit lip balm di bibir yang menyempurnakan penampilannya.


Selesai berdandan Kezia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang yang akan ia ajak bertemu.


Kezia menyelempangkan tas kecil yang berisi handphone dan dompet. Tak lupa dipakainya sepatu cats berwarna putih sebagai alas. Dia berjalan keluar kamar dan berhenti sejenak untuk membuka lalu menutup kembali pintu kamarnya.


“Mah, zia keluar sebentar ya…” pamit Kezia


“ Mau kemana nak?” tanya Eliana yang masih duduk di meja makan sambil memainkan laptopnya.


“ Ada urusan dulu. Setelah makan siang zia pulang kok. Mamah stay di rumah kan?”


“ Iya nak, mamah di rumah aja.”


“ Okeyy bye mah, love you..” seru Kezia sambil mencium kedua pipi Eliana dengan semangat.


“ Hati-hati nak…” jawab Eliana sambil mengecup pucuk kepala Kezia. Kezia berlalu sambil melambaikan tangannya.


Di halaman rumah sudah menunggu taksi online. Iapun segera masuk dan menuju tempat tujuannya.


*****


Kezia masuk ke sebuah café yang terlihat sangat nyaman. Kursi model minimalis di tata dengan rapi dan mengisi setiap sudut ruangan. Di pintu masuk ada seorang pelayan yang menyambutnya. Sementara di bagian dalam, terdapat beberapa tempat duduk dengan view yang instagramable. Mungkin pemiliknya seorang milenial yang mengerti kebutuhan calon konsumennya, yang tidak lain adalah berfoto.


Dilihatnya ada seorang laki-laki yang duduk membelakanginya. Kezia sangat mengenal postur itu. Tanpa menghiraukan sapaan pelayan yang berada di pintu masuk, Kezia segera berlari dan memeluk pria tersebut dari belakang.


“ Miss you pah…” bisik Kezia dengan tangis tertahan.


Martin berbalik dan mengecup pucuk kepala Kezia.


“ Duduk sayang…” ujar Martin sambil menepuk kursi di sampingnya.


“ Papah apa kabar? Selama ini papah tinggal dimana? Apa papah baik-baik saja?” Kezia memberondong Martin


dengan banyak pertanyaan. Martin yang gemas mencubit pipinya dengan perlahan.


“ Pertanyaan kamu banyak sekali nak, papah harus jawab yang mana dulu?”


“ Yang manapun boleh, asal papah jawab semuanya.”


“ Okeyyyy…” Martin menghena nafas perlahan. “ Papah baik-baik saja nak, karena papah tau, kamu selalu mendo’akan kebaikan untuk papah. Lalu selama ini papah sewa apartemen dekat kantor dan papah tidak mungkin baik-baik saja tanpa mamah dan kamu.” Tutur papah sambil memeluk Kezia. “Terima kasih nak, kamu sudah percaya papah dan mau datang ke sini…” lirih Martin


“ Tunggu, siapa bilang zia percaya sama papah?” Kezia melepaskan pelukan Martin dan menatapnya dengan tajam. “ Aku masih banyak pertanyaan yang perlu aku tanyakan sama papah.” Ujar Kezia dengan serius.


“ Tanya lah nak, papah akan menjawabnya dengan sejujurnya.” sahut Martin dengan yakin


“Ini foto siapa pah?” tanya Kezia sambil menyodorkan sebuah foto ke hadapan papahnya. Di foto tersebut tampak seorang wanita berusia sekitar 30 tahunan dengan anak perempuan berusia 5 tahun di pelukannya. Martin menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Kezia.


“ Okey, dia adalah asisten papah di kantor. Dia seorang single mother karena suaminya meninggal.” Jawab Martin.


“ Ya kami dekat secara profesional nak, tidak ada yang lebih..” jawab Martin sambil mengangkat bahunya.


“ Untuk apa papah nemenin dia ke pesta dan bersedia mengelap es krim yang jatuh di baju anaknya?”


“ Kamu tau dari mana nak?” Martin bertanya balik.


“ Aku tau dari akun media sosial dia pah. Coba papah liat video ini, siapapun yang melihat video ini akan mengira papah adalah ayah dari anak ini dan istrinya lah yang memvideokannya.” terang Kezia.


Martin memperhatikan video yang di putar oleh Kezia. Tampak seorang wanita dengan kamera depan merekam adegan, ketika Martin Kezia melap es krim yang jatuh di baju anak tersebut kemudian sang wanita berujar “ Ohhh so lovely, thanks gentle man!” kemudian tertawa dengan riang.


Martin memegangi kepalanya. Diremasnya rambutnya yang sudah di susun rapi.


“ Coba papah liat komennya, ini yang komen teman mamah sama papah. Gimana bisa mamah gag yakin kalo papah selingkuh!” seru Kezia sambil menaruh handphonenya di meja tepat di hadapan Martin.


Tanpa terasa air mata meleleh di mata Kezia. Dia terisak sambil menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya.


“Zia malu pah, mereka berkomentar seolah mereka sangat mengenal papah sebagai tukang selingkuh dan mamah sebagai wanita yang tidak bisa mengurus suaminya. Dan yang membuat zia kesal, zia gag bisa lakuin apa-apa untuk membela kalian.” Imbuh Kezia yang kemudian tersungkur di meja yang berada di hadapannya. Tangisnya masih jelas terdengar.


“ Nak, dengerin papah. Ini gag seperti yang kamu fikirkan. Anak ini terkena tumpahan es krim karena papah menyenggolnya saat dia berjalan ke arah papah. Dan ini bukan pesta sayang, ini pertemuan dengan klien. Dan kami sedang menunggu klien.” Terang Martin sambil memegang tangan Kezia yang masih tertunduk.


“ Papah bilang hubungan papah hubungan profesional, Lalu untuk apa papah bertemu dengan klien sambil bawa


anak orang?” lanjut Kezia.


“ Dia pulang sekolah nak dan sebelum kami ketemu klien asisten papah minta di antar menjemput anaknya karena


kemungkinan akan pulang malam. Tolong percaya sama papah…” lanjut Martin yang mengeratkan genggaman tangannya.


“ Lalu kenapa papah sering video call dengan anak itu di depan mamah, apa papah memang sengaja pengen bikin mamah sakit hati dengan melihat kemesraan kalian?” cerca Kezia.


“ Papah sengaja melakuakn video call di depan mamah, papah tidak mau ada yang papah sembunyikan dari mamah. Dan papah ingin mengingatkan dia kalau papah memiliki istri yang sangat papah cintai.” Tukas Martin sambil tertunduk


“ Kalau begitu, pecat dia!” seru Kezia sambil menatap Martin dengan tatapan sinis.


“ Tapi nak…”


“ Okeyyy kalo papah gag bisa, zia akan mengambil sikap yang sama dengan mamah.” Ancam Kezia. “ Apa papah gag ngertii maksud dari perempuan ini memposting setiap kegiatannya bersama papah? Apa papah juga gag ngerti maksud perempuan ini membalas pesan mamah? Apa papah lebih rela kehilangan keluarga di banding seorang asisten?” tukas Kezia. Kezia pun segera berdiri hendak meninggalkan Martin.


“Nak tunggu. Apapun yang kamu dan mamah minta bisa papah lakukan. Tapi tolong jangan pernah ragukan kasih


sayang papah terhadap kalian…” lirih Martin


Kezia menghela nafasnya dalam. Ia ingin mencoba percaya pada Martin. “Pulang lah pah dan jelaskan  semuanya sama mamah. Sikap zia kedepannya tergantung sikap papah terhadap mamah.” Seru Kezia yang kemudian berjalan keluar Café.


Beberapa orang di café melirik ke arah Kezia namun ia tidak mempedulikannya. Sementara Martin hanya mematung dengan wajah kebingungan. Dikejarnya Kezia yang sudah berjalan lumayan jauh.


“ Nak, kamu mau kemana? Ayo kita selesaikan semuanya di rumah.” Seru Martin.


“ Zia perlu waktu sendiri pah. Papah dan mamah pun perlu waktu bicara. Nanti zia akan menyusul pulang. Tolong


pertahankan keluarga kita pah…” tegas Kezia yang kemudian menghentikan sebuah taksi dan menaikinya.


Martin sadar, putrinya sudah tumbuh dewasa dan ia pun harus menyelesaikan masalahnya dengan cara yang dewasa.


"Iya sayang, papah akan menyelesaikan semuanya dengan benar." batin Martin


****