
Arland berjalan dengan langkah gontai, menyusuri setiap senti jejak kakinya. Dari balik pintu rumahnya terdengar suara Linda yang tengah berbincang.
"Iya sayang, nanti tante pasti ngomong sama arland. Kamu yang sabar yaa, tante minta maaf atas nama arland." Ujar Linda dengan suara memelas.
Arland membuka pintu rumah dengan malas dan tampak Linda sedang duduk di sofa yang baru mengakhiri panggilan suaranya dengan seseorang.
"Malem mih..." Sapa Arland dengan wajah kusut.
"Kamu dari mana land, jam segini baru pulang."
"Habis ada urusan." sahut arland seraya menjatuhkan tubuhnya di samping Linda. Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.
Linda memandanginya dengan seksama. Anak laki-lakinya ini begitu mirip dengan suami yang sangat dicintainya.
"Land, kamu berantem lagi sama irene? Kenapa kamu bikin dia sampe nangis?" selidik Linda yang baru menerima aduan dari Irene lewat telpon.
"Aku udah males mih ngeladenin dia." sahut Arland tanpa menoleh sedikitpun.
"Land, kamu kan udah janji mau baik-baikin dia. Kamu juga tau, kita ngelakuin ini semua demi keluarga kita."
"Arland udah males mih liat tingkah laku dia yang makin ke sini makin seenaknya."
"Tapi land, kalo kamu gag berteman sama irene lagi, perusahaan kita bisa bahaya. Inget, mereka mau bantu kita karena kamu mau berteman sama irene. Kalo kamu sampe menjauh dari irene..."
"Mih, udah, cukup! Mamih selalu bilang ini demi keluarga kita, demi perusahaan kita, demi melanjutkan cita-cita papih, tapi papih gag pernah ngajarin kita untuk memberikan harga diri demi harta!" sela Arland yang merasa sudah muak dengan semua retorika yang diterimanya.
"Arland! Apa yang kamu banggakan dengan harga diri yang tinggi? Tidak ada! Tanpa kekuasaan kita hanya diinjak!" seru Linda yang sudah mulai terpancing dengan sikap Arland.
"Pokoknya arland gag mau kalo harus ladenin maunya irene lagii. Arland mau hidup sebagai diri arland sendiri. Bukan sebagai binatang peliharaan wanita yang melakukan segala cara untuk mendapatkan yang dia mau!" Tegas Arland dengan menggebu-gebu.
"PLAK!" sebuah tamparan mendarat di pipi Arland dengan darah segar yang menetes di sudut bibirnya. Arland tak bergeming sedikitpun. Meski tamparan itu terasa sangat sakit, tapi tidak lebih sakit karena ibunya sendiri tidak mau memahami maksud yang ia sampaikan.
Tangan Linda masih gemetar dengan emosi yang belum reda. Ia menatap arland yang tertunduk di hadapannya dengan tajam. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia menampar wajah putra semata wayangnya. Ada rasa sesal di sudut hatinya, namun amarahnya jauh lebih besar melahap semua yang ia sebut kasih sayang.
Tidak ada lagi pembicaraan di antara keduanya. Arland bergegas pergi ke kamarnya, sementara Linda kembali terduduk di sofa seorang diri, merenungi apa yang baru ia lakukan.
*****
“Pagiii mah…” Sapa Kezia sambil menarik kursi di sebelah Eliana.
“Pagi sayang..” dikecupnya pipi Kezia dengan hangat.
“Tumben kamu pake sweater nak…” tanya Eliana sambil mengoleskan selai di rotinya dan menaruhnya di piring depan Kezia.
“Iya mah, badan zia agak dingin” Jawab Kezia sambil merangkul tubuhnya sendiri. Eliana menepatkan punggung tangannya di kening Kezia.
“Apa kamu lagi kurang sehat nak? Biar mamah izinin ke pihak sekolah.”
“Nggak mah, zia ada tugas yang harus diserahkan ke guru…” jawab Kezia dengan segera.
“Emm okey, kamu baik-baik di sekolah. Nanti mamah pulangnya agak malem, mamah akan suruh bi ida nginep di sini buat temenin kamu.” Ujar Eliana sambil menatap Kezia yang sedang meminum susu coklatnya.
“Zia berangkat dulu ya mah…” jawab Kezia tanpa mengiyakan ujaran Eliana.
“Hati –hati sayang…” sahut Eliana.
Kezia melangkah meninggalkan ruang makan. Ada perasaan sedikit kesal di hati Kezia mendengar perkataan Eliana. Padahal biasanya pun kedua orangtuanya pulang larut malam untuk mengurusi pekerjaannya. Tapi kali ini terasa berbeda. Ada rasa sesak saat ia harus membayangkan kembali sendirian di dalam rumah dan hanya di temani Bi Ida.
Tapi pada kenyataannya, ini lah yang harus Kezia hadapi sekarang.
****
“Pagi keeyyy…” sapa Difa sesampainya di kelas.
“Pagi fa…” sahut Kezia dengan lemas. Kezia segera menaruh tas nya di atas meja dan duduk di bangkunya.
“Key bentar, itu ada yang lo dudukin…” seru Difa sambil memegangi tangan Kezia. Kezia kembali berdiri dan terlihat di kursinya ada sebuah amplop berwarna putih tulang dengan pinggiran garis berwarna merah muda.
“ Dari siapa ini?” tanya Kezia mengambil surat yang ada di kursinya. Dibolak baliknya surat tersebut tapi tidak ada nama pengirimnya.
“ Buka aja key!” seru Difa dengan semangat.
Kezia kembali duduk, kemudian membuka amplop tersebut.
Ada mentari di matamu,Yang membuatku terpukau,
Tertundukku dalam takjub,
adakah sinar itu untukku kelak?
Kezia tersenyum simpul membaca surat tersebut.
“Siapa pengirimnya key?” Difa begitu penasaran.
“Gag ada namanya fa..” jawab Kezia sambil mengendikkan bahunya.
“Ah gag gentle, beraninya pake surat.” Sahut Kezia sambil tertawa. Difa ikut tertawa mendengar cetusan Kezia.
“Tookk tookk tookk” seseorang mengetuk pintu kelas Kezia.
Kezia memalingkan kepalanya ke arah pintu masuk. Seseorang melambaikan tangannya.
“Jangan-jangan dia key..” bisik Difa
“Gue cari tau dulu.” Jawab Kezia dengan bibir masih tersenyum pada Tyo yang berada di pintu kelas.
Tyo berjalan menghampiri Kezia dan tak berselang lama kini sudah ada di hadapan Kezia. Dimasukkannya surat tersebut kedalam tas selempang Kezia dengan segera.
“Pagii key..” Sapa Tyo.
“Pagi kak, ada apa kak?”
“Kamu bisa ikut aku ke ruangan pak amar gag?” tanya Tyo dengan wajah tenangnya.
“Oo iya, bisa. Bentar kak aku ambil catatanku dulu.” Jawab Kezia sambil memutar badannya mencari buku catatan yang ada di dalam tasnya. “ Yuk!” lanjut Kezia sambil beranjak. “ Pergi dulu ya fa..” imbuh Kezia. Difa hanya mengangguk sebagai respon.
Kezia dan Tyo berjalan berdampingan menuju ruang guru. Sepanjang perjalanan Tyo menceritakan pengalaman lucunya saat mengikuti olympiade. Sesekali Kezia tertawa geli mendengar cerita Tyo. Beberapa pasang mata tampak tertuju pada Tyo dan Kezia yang sedang bersenda gurau. Tapi Kezia dan Tyo tidak menyadarinya. Tak lama, mereka sampai di koridor ruang guru. Mereka memasuki ruang guru tidak begitu ramai. Sepertinya sebagian belum tiba di sekolah.
“Sini key, tyo!” seru Amar sambil melambaikan tangannya. Kezia dan Tyo bergegas menghampiri Amar.
“Pagi pak…” sapa Tyo dan Kezia bersamaan. Amar menjawabnya dengan anggukan
“Ini tugasnya pak…” Kezia menyodorkan buku catatannya pada Amar.
“Ok iya saya periksa dulu, nanti saya kabarin lagi yaa..” jawab Amar sambil membuka buku yang ada dihadapannya.
“Baik pak, kami permisi” ujar Tyo.
“Okeeyy silakan, selamat belajar.” tutur Amar dengan wajah penuh semangat.
Kezia dan Tyo keluar dari ruangan guru. Mereka kembali berjalan beriringan.
“O iya kak, boleh minta tolong tulis alamat tempat olympiade dilaksanakan?” tanya kezia sambil mengeluarkan selembar kertas dan ball point.
“Nanti aku sms-in ya…” jawab Tyo yang mencari celah untuk menghubungi Kezia.
“Gag apa-apa kak, tulis di sini aja.” Kezia kembali menyodorkan kertas tersebut.
Tyo menerimanya dengan sedikit terpaksa. Hilanglah kesempatannya untuk berkirim pesan atau telponan dengan Kezia. Harus jujur Tyo akiu, selama ini Tyo tidak pernah menemukan ide bahan pembicaraan dan alasan untuk menghubungi Kezia selain soal Olympiade dan Amar. Dan akhirnya saat ini pun Tyo menulis alamat tempat olimpiade tersebut di kertas yang Kezia berikan.
“Makasih kak” seru Kezia sambil tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.
“Sama-sama key…” Tyo tersenyum dengan jantung yang nyaris copot melihat senyum Kezia.
Kezia memasukan kertas dan ballpointnya ke dalam saku. Tiba-tiba,
“Bruuggg!” seseorang menabrak Kezia dari belakang membuat Kezia terdorong hingga hampir jatuh. Seseorang yang menabraknya langsung berlari dan wajahnyatak terlihat. Yang pasti dia seorang laki-laki.
“Keyy, kamu gag apa-apa?!” dengan Sigap Tyo memegangi pundak Kezia.
“Aku gag apa-apa kak.” Kezia masih berusaha berdiri. “ Aww!” dengus Kezia yang kesakitan.
“Kayaknya kaki kamu terkilir deh!” Tyo berlutut dan melihat kondisi pergelangan kaki Kezia. “ Ini sakit gag?” tanya Tyo sambil tetap menunduk.
“Sakit kak.” Kezia meringis menahan sakit di pergelangan kakinya.
“Ya udah kita ke UKS dulu key, biar sekalian aku cari tukang urut.”
“ Iya kak.”
“ Kamu bisa jalan?” Tyo kembali berdiri di samping Kezia.
“ Bisa kak, tapi pelan-pelan aja ya.”
Tyo memapah Kezia menuju UKS. Di rangkulnya bahu Kezia dengan tangan kanannya. Beberapa siswa yang melihat kejadian tersebut ada yang bersorak dan ada juga yang berdecik.
“ Pasti Barisan Fans beratnya kak tyo.” batin Kezia saat melihat para gadis itu berteriak histeris.
Dengan susah payah Kezia dan Tyo sampai di ruang UKS. Tyo membantu Kezia naik ke tempat periksa.
“Kamu tunggu dulu di sini yaaa, aku nanya guru dulu buat nyari tukang urut.”
“Iya kak, makasih…” Kezia menyahuti
Tyo segera berlalu. Dicarinya seseorang untuk meminta bantuan mencari tukang urut. Kezia menunggu cukup lama. Perlahan kezia membaringkan tubuhnya dan matanya terpejam hingga tanpa terasa Kezia pun mulai terlelap.
****