MY FIRST LOVE Story

MY FIRST LOVE Story
5 volt



Malam terasa begitu dingin dengan semilir angin yang berhembus lembut. Kezia tengah duduk di depan meja belajarnya dengan kaki dinaikan ke kursi. Di punggungnya ia sampirkan kain pantai yang membungkus tubuhnya. Dia masih asyik membuka-buka buku latihan matematika. Sesekali dia tampak berfikir sambil  mengetuk-ngetukkan pensil kedahinya lalu mencoret kembali tulisannya saat dia tau kalau jawaban yang ia tulis keliru.


Layar ponsel Kezia tampak menyala dengan sebuah panggilan video di sana. Kezia menempatkan handphone-nya bersandar pada tumpukan buku sebelum kemudian menjawab panggilan tersebut.


“ Belum tidurr?” sapa seseorang di sebrang sana sambil tersenyum


“ Emang kamu pernah liat orang tidur sambil melek?” Sahut Kezia tanpa memalingkan wajahnya dari buku yang tengah ia baca. Angga hanya tersenyum melihat ekpresi menggemaskan Kezia saat tengah berfikir serius.


“ Lagi ngapain sih kayaknya serius banget?” lanjut Angga yang penasaran


“ Ini lagi latihan matematika, tapi dari tadi jawabannya salah mulu” cetus Kezia, kesal.


“ Mana coba saya liat..” pinta Angga


Kezia mengangkat buku tulisnya dan mengarahkannya ke layar persegi miliknya. Sejenak Angga mengernyitkan


dahinya. “Kamu salah rumus key.” seru Angga segera. Kezia memperhatikan kembali tulisannya.


“ Masa sih kak?” Kezia kembali termenung memperhatikan lekat tulisannya.


“ Coba kamu pake rumus akar kuadrat dulu, baru dikurangin.” tutur Angga. Kezia mulai mencorat-coret kembali bukunya. Ia tampak serius mengikuti arahan Angga.


“ Waahh iyaa benerrr!!!” seru Kezia sambil tersenyum riang. “ Kok kamu tau sih kak?” seru Kezia kagum.


“Yaa kalo ngitung kayak gitu mah aku bisa lah… kalo mau lebih cepet, rumusnya pake kebalikannya. Hasilnya sama tapi kamu ngitungnya lebih cepet nantinya.” Terang Angga. Kezia kembali mencoba saran Angga dan jawabannya tepat.


“ Waahhh iyaaa kereennn…. Hebat kamu kak.” puji Kezia dengan wajah sumeringah. “ Kamu juga suka matematik ya?”


“ Yaa.. saya suka matematik. Kamu lagi latihan soal buat olimpiade?”


“ Iyaaa… aku ikut olympiade bulan depan”


“ Okeeyy yang semangat dong belajarnya…” seru Angga dengan wajah penuh semangat


“ Kamu temenin aku belajar, bisa kak?”


“ Tentu dong!!!”


Mereka pun mulai membahas satu per satu soal yang sedang dipelajari Kezia. Kadang mereka berlomba untuk  menjawab cepat dan beberapa kali Angga lebih dulu menjawab. Namun melihat ekspresi Kezia yang kesal dengan jawaban Angga yang selalu benar, beberapa kali pula Angga mengalah. Bahkan Angga memberitahu cara cepat menjawabnya, sangat berguna bagi Kezia. Terdengar tawa renyah di antara keduanya saat soalnya di kerjakannya ternyata penuh dengan jebakan.. Hingga tanpa Kezia sadari malam akan berlalu menjemput pagi.


****


Pagi itu, dengan tergesa-gesa Kezia memakai sepatunya dari atas ranjang tempat tidur. Sesekali aia melirik jam yang ada di tangan kirinya. Kemudian ia berjalan menuju meja belajarnya dan memasukkan semua buku hingga tasnya terisi penuh. Diikatnya rambutnya dengan sembarang. Terlihat leher jenjangnya yang putih halus. Beberapa helai rambutnya tidak terikat dan jatuh di samping telinga nya.


Dimasukkannya atasan seragam putih ke dalam rok abu-abu yang memiliki panjang sekitar 2 jari di atas lututnya. Setelah perlengkapannya selesai ia kemas, ia segera berlari menuruni anak tangga.


“Mah, pah , zia langsung berangkat yaa!!!" Seru Kezia sambil mengambil sepotong roti dimeja makannya.


“Gag di anter pak mad nak?” seru Eliana yang tahu Kezia sudah terlambat pergi ke sekolah


“Naik ojek online mah, lebih cepet.!” Sahutnya seraya mengecup pipi Eliana dan Martin bergantian.


Eliana dan Martin hanya saling pandang sembari menggelengkan kepalanya melihat tingkah Kezia. Di halaman rumah sudah menunggu ojek online yang siap mengantar Kezia. Dengan segera mengambil Helm yang di sodorkan dan duduk di belakang sang pengemudi.


“ SMA Harapan bangsa non?”


“Hemmhh.” jawab kezia sambil mengangguk dengan potongan roti di mulutnya.


tetap dengan posisi aman. Tidak sampai lima belas menit kezia sampai disekolah. Dilihat jam di lengan kirinya, sekitar delapan menit lagi bel masuk berbunyi. Segera dia mengembalikan helm nya dan berlari ke gerbang sekolah.


“ Keyy!! Keziaa!!!” seru seseorang dari arah kelas IPA. Kezia pun memalingkan pandangannya ke arah suara.


Tampak ketiga sahabatnya sedang berkumpul di kelas Dena. Kezia menhampirinya dengan segera.


“ Hayyy!!!” seru Kezia dengan sumeringah


“ Tumben lo kesiangan…” tanya Sherly pada Kezia


“ Iyaa niihh tumben. Udah gitu jarang banget gabung lagii!” tambah Dena


“ Aduuuhh girls… Gue lagi pemantapan buat olympiade, jadi maaf kalo jarang gabung sama kalian…” jawab Kezia dengan penuh sesal.


“ Iyaa, tar lama-lama lo bawa kasur sama alat mandi juga ke perpus ya!” seru Kania meledek


“ Jangan gitu dong… Gue janji nanti sore kita jalan deh. Gue juga agak jenuh!”


“ Okeeyy deh! Lo yang semangat yaa… Bawa piala lagi buat sekolah kita” sahut Sherly.


“ Thanks sher atas pengertian lo, sama lo dan lo juga” ujar Kezia sambil menatap ke arah Kania dan Dena seraya menggenggam tangan ketiga sahabatnya. “ Gue ke kelas dulu ya, pelajaran pertama , jadwalnya pak amar, gag bisa gue lewatin!” lanjut Kezia


“ Iyaa.. goodluck yaa…” sahut ketiga sahabatnya seraya melambaikan tangan.


Kezia pun segera berlalu dari hadapan teman-temannya. Kezia berjalan dengan cepat menuju kelasnya. Tapi langkahnya melambat saat dia melihat sekelompok anak laki-laki di koridor Perpustakaan yang persis sebelah kelas IPS. Arland pun tengah berada di sana dan berbincang dengan teman-temannya.


Kezia menghentikan langkahnya, kemudian berbalik merapikan rambut dan pakaiannya.


"Ngapain juga gue mesti rapi-rapi? Emang dia mikirin juga penampilan gue macam mana?" Logika Kezia berputar begitu saja. namun nyatanya tak sejalan dengan hatinya. Ia tetap merapikan baju dan rambutnya, bahkan ia berusaha tersenyum sebelum kembali berbalik.


“Ya salaammm!!!!” dengus Kezia


Langkah Kezia terhenti, saat ternyata Freeze boy ada di hadapannya. Menatapnya dengan senyum tipis di bibirnya. Serasa ada listrik 5 volt yang mengalir dari tatapan Arland. Kali ini Kezia benar-benar membeku. Bibirnya kelu tak bisa berkata apapun. Tangannya terasa dingin namun wajahnya terasa hangat.


"Gag salah gue namain dia Frezze boy, bikin gue beku dan mati kutu!" ceracaunya dalam hati.


“Pagii…” sapa Arland dengan ramah


“Eemmm pagi…” Kezia tertunduk malu. Jantungnya berdetak tak menentu. Ia menggigit bibirnya sendiri karena gugup.


“Di bawah gag ada koin jatuh…” ujar Arland dengan garis bibir yang melengkung.


“Hah?”


Kezia menengadahkan wajahnya, menatap Arland yang lebih tinggi darinya.


“Astaga, mimpi apa aku semalem..” batin Kezia yang tak bisa menghindar dari pesona Arland. Mereka saling bersitatap untuk sejenak. Sama-sama menikmati debaran halus di rongga dadanya.


“Bro! masuk kelas!”


Sebuah suara membuyarkan lamunan keduanya. Arland hanya tersenyum lalu berlari meninggalkan Kezia yang masih terpaku. Kezia melihat Arland yang berlari menjauhinya. Di usapnya dada kiri yang masih bertalu tak menentu. Terbit senyum manis di bibir Kezia.


Di sentuhnya tengkuk yang meremangkan bulu kuduknya tiba-tiba, hembusan angin terasa meniupnya dan membuat kezia bergidik. Kezia berlari kecil menuju kelasnya dengan sesekali menatap ke arah berlalunya Arland. Tergambar senyum kecil di bibirnya.


***