My Captain Or My CEO

My Captain Or My CEO
#Chapter 22



" Mi maafin Al ya. "


" Mami ngerti kok perasaan kamu. Buat kejadian ini jadi pelajaran kalo perasaan yang berlebihan itu ga baik. Mami tau kamu ga pengen kehilangan waktu sama Nara karena kamu merasa akan tersingkir sama kehadiran Aldi. Dan dengan kejadian ini kamu jadi tau kan kalo kamu tetep prioritas buat Nara. Mami rasa kamu lebih tau Kinara kaya gimana. Jadi mulai sekarang coba bersikap sebagaimana sahabat seharusnya. "


" Mami ga marah sama Al?. "


" Kenapa harus marah, kamu itu udah mami anggep sebagai anak kandung mami sendiri. Jadi kalau kamu berbuat kesalahan itu wajar. Asalkan.. Jangan diulangin lagi. " Ucap Amira mengelus pundak Alfa.


" Tapi masalah ini serius mi. "


" Tapi kejadiannya kan udah dulu. Kalo sekarang mami marah ke kamu itu ga akan merubah apapun. Lebih baik kamu pikirin gimana caranya baikan sama Kinara. Mami rasa itu PR yang akan bikin kamu lebih pusing lagi. " Ucap Amira membuat Alfa sadar.


" Oiyaaa!!!!.. gimana dong mi nanti kalo Kia jadi benci sama Al gimana?. Kalo Kia gamau temenan sama Al gimana?. " Jawab Alfa panik.


" Hmm gimana ya?. " Ucap Amira menggoda Alfa.


" Mamiiii serius dong. " Alfa memelas.


" Kan mami udah bilang itu PR buat kamu. Kamu kan tau sifat Kinara kaya gimana seharusnya kamu juga tau dong gimana caranya bujukin dia. "


" Iya mi tapi bakalan susah ini. "


" Ya salah sendiri bikin gara-gara sama Nara. Orang Kinara kalo marah sama David aja bisa sampe seminggu diem-dieman padahal masalah sepele. Apalagi ini. "


" Mami ah malah nakut-nakutin Al. "


" Udah kamu pasti bisa!. Ayo sekarang mami anter ke kamar. "


" Makasih mi. " Amira membawa Alfa untuk kembali ke kamarnya.


" Gue beruntung punya mami dia ga marah sama gue padahal udah nyakitin anaknya sendiri. Gue berhutang banyak sama keluarga ini. " Batin Alfa.


Sesampainya di kamar Amira membantu Alfa naik ke ranjangnya. Tidak hanya itu Amira juga mengelap badan Alfa agar tidak gerah dan juga menyuapinya seperti anak sendiri.


~


Setelah kapal Aldi berangkat tubuh Kinara mendadak oleng.untungnya Gabriel dengan sigap menahan tubuh Kinara agar tidak jatuh.


" Kamu kenapa?. " Tanya Gabriel khawatir.


" Badanku mendadak lemes lagi. " Jawab Kinara lemah.


" Yaudah kita balik ke rumah sakit aja. " Gabriel menggendong Kinara masuk ke dalam mobil.


Gabriel membawa Kinara menuju rumah sakit di kota dan tidak kembali ke rumah sakit sebelumnya karena terlalu jauh dari pelabuhan dan juga kediaman Adhitama.


Sesampainya dirumah sakit Kinara segera ditangani oleh tim dokter. Gabriel juga menelfon Amira untuk memberitahunya bahwa Kinara ia bawa kerumah sakit di kota.


Selesai ditangani Kinara tertidur karena kelelahan dan juga kondisi tubuhnya yang belum stabil. Gabriel terus berada disana menemani Kinara sambil menunggu kedatangan Amira.


~


" Apa Bapak yakin tidak ingin memenjarakan anak ini?. " Tanya polisi kepada Gibran dibalas gelengan kepala olehnya.


" Saya ingin dia dirawat. Dia punya masalah kejiwaan penjara bukan tempat yang tepat buat dia. " Jawab Gibran.


" Lalu siapa yang akan menanggung biayanya?. Perusahaannya tidak mungkin berjalan jika dia dirawat. "


" Saya akan bertanggung jawab atas semua biaya perawatannya. Dan saya akan meminta orang kepercayaan saya untuk mengelola perusahaannya agar tetap berjalan. " Jawab Gibran.


" Dan saya minta kasus ini jangan sampai menyebar ke media masa. "


" Baik pak kalau begitu silahkan urus surat-suratnya. "


~


Di dalam perjalanan Aldi terus tersenyum membuat teman-temannya menatap Aldi bingung bercampur takut.


" Apa ni misi bener-bener berat ya?. Sampe tu orang ga sehat daritadi senyum mulu?. " Ucap Dirga kepada Vino.


Sedangkan Vino juga ikut tersenyum melihat Aldi yang tampak bahagia.


" Vin!!. Lo ikutan gila ya?. Senyum-senyum lihat Aldi. Jangan-jangan kalian berdua gay ya?. " Tanya Dirga membuat Vino langsung menatapnya.


" Otak lo tuh gay!. " Vino momukul topi yang dipakai Dirga.


" Lagian lo berdua baru masuk kapal udah senyum-senyum sendiri. Gue takut liatnya. " Jawab Dirga.


" Ntar aja lo tanya sama Aldi gue gaberani ngomong. Tapi ntar kalo udah di ceritain jangan patah hati. "


" Lah apaan sih?. Kenapa cuma gue yang gatau?. Dan kenapa gue bakal patah hati?. " Tanya Dirga penasaran.


" Udah ntar aja tanya sendiri ama orangnya elah lu kepo amat jadi orang. "


" Kalo sampe gue mati penasaran lo gue gentayangin tiap hari!. " Ancam Dirga.


" Dih lo mati cuma gegara penasaran?. Mendingan lo mati gue bunuh aja Vin lebih keren daripada mati penasaran. " Canda Vino.


" Lah kan gue menghindarkan lo dari mati konyol. "


" Bodo lah serah lu. " Kesal Dirga mengakhiri percakapan mereka.


~


" Al mami harus ke rumah sakit Kinara. " Ucap Amira.


" Loh Nara ga balik kesini lagi?. "


" Engga, lagipula kejauhan kalo harus balik kesini. Om juga udah punya rencana buat pindahin Kinara biar lebih deket dari rumah. " Jawab Amira.


" Mi kalo gitu Alfa ikut pindah aja. Masa Al disini sendiri. "


" Tenang udah mami siapin. Bentar lagi tunggu ambulance. "


" Ih mami baik banget sih. " Puji Alfa.


" Mami kan udah baik dari dulu. "


Tiba-tiba David masuk ke kamar Alfa membawa tas Kinara. Dan mendapati Amira berada disana.


" Lah mami disini?. Kinara mana?.tadi David ke kamarnya kok ga ada orang." Tanya David.


" Kinara udah pindah rumah sakit. Ini mami juga mau kesana sekalian pindahin Alfa juga. "


" Lah Kinara sama siapa?. " Tanya David.


" Sama Gabriel. " Jawab Amira kemudian ada perawat yang datang memberitahu bahwa ambulance untuk pindah Alfa sudah siap.


" Kenapa ga bareng David aja sekalian?. " Tawar David.


" Gue yang ogah bang. Lo naik mobil kek ngajak mati. Ntar gue ga sampe rumah sakit malah ke kuburan iya. " Tolak Alfa.


" Dih biar cepet sampe. "


" Sampe surga iya!. "


" Pede banget lo kalo mati bakal langsung masuk surga."


" Udah-udah ayo kita malah ga berangkat-berangkat kalo kalian berdua debat terus. " Lerai Amira.


Tak lama kemudian perawat datang untuk membantu Alfa masuk Ambulance.


" Mi ini tas Kinara gimana?. " Tanya David ketika melihat Amira ikut masuk ambulance.


" Ya kamu bawalah biar ikut ke rumah sakit ga keluyuran sendiri. " Ucap Amira.


" Gue kenapa jadi kek babu disini?. " Batin David berjalan masuk kedalam mobilnya.


~


2 jam tertidur Kinara akhirnya bangun. Ia melihat Gabriel yang sedang duduk menyilangkan tangannya sambil memejamkan mata.


" Pasti bang El kecapean dari kemaren ngurusin gue sama Alfa. " Batin Kinara tersenyum memandang Gabriel.


Senyumnya perlahan memudar ketika mengingat perkataan Alfa.


" Kenapa Alfa tega ngelakuin itu semua. Gue ga pernah nyangka dia bakal berbuat kaya gini. " Batin Kinara kecewa.


Tiba-tiba pintu terbuka kemudian David datang membawa tas Kinara lalu memberikannya kepada Kinara.


Kinara segera membuka tasnya dan mengecek satu persatu barangnya.


" Bang HP gue kok ga ada?. " Tanya Kinara tidak menemukan ponselnya didalam tas.


" Lah mana gue tau-. " Kinara membekap mulut David karena berbicara terlalu keras.


" Ssstt. " Ucap Kinara menunjuk Gabriel.


" Gue gatau tadi ayah cuma kasih tas doang ya gue kira ada disitu semua. " Ucap David berbisik.


" El udah lama tidurnya?. " Tanya David kemudian.


" Gatau tadi waktu gue bangun bang El udah tidur. " Jawab Kinara.


" Lagian ini udah malem juga dia pasti cape. Liat tuh masa lo ga suka sih sama laki-laki se perfect Gabriel. " Tanya David.


" Kalo lo suka ambil aja kali jeruk kok muji jeruk. Btw mami dimana bang?. "


" Masih ngurus Alfa. "


" Emangnya Alfa pindah kesini juga?. " Tanya Kinara dibalas anggukan oleh David.


Kinara memutar bola matanya malas mendengar hal itu.