
Keesokan harinya
Baik Kinara maupun Gibran sudah mulai tenang. Mereka pun menjalani hari- hari seperti biasanya.
Hari ini kuliah Kinara libur. Ia menghabiskan waktunya dirumah dengan menggambar yang sudah menjadi hobinya sejak kecil.
Kemanapun ia pergi Kinara akan membawa alat gambarnya. Setiap ia merasa bosan, kesal, senang akan ia luapkan dalam gambarannya.
Kinara sangat suka menggambar dan juga traveling karena itu ia bercita-cita menjadi seorang seniman travelers.
Dia ingin menikmati masa mudanya untuk menggambar dan pergi menuju tempat yang ia sukai. Yahh itulah impiannya saat ini,apalagi setelah beberapa masalah dihidupnya ia ingin menjauh dari orang-orang dan menikmati kesendirian.
Kinara hanyalah gadis polos yang hatinya lembut, rasa sayangnya begitu besar dan tulus kepada orang yang ia cintai. Dia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti orang yang dikasihinya.
Namun rasa kecewa yang pernah dia alami mengubah semuanya. Kinara berubah bukan lagi seorang Kinara yang ceria namun menjadi Kinara yang pendiam dan enggan bersosialisasi luka dihatinya mengubah sifatnya.
~
Saat ini Kinara sedang berada di balkon kamarnya, tempat favoritnya untuk menggambar.
Ketika sedang asyik menggambar Kinara mendengar ketukan pintu kamarnya. Ketika ia membuka pintu ternyata ayahnya yang datang. Kinara tersenyum kepada Gibran berusaha melupakan kejadian kemarin.
"Boleh Ayah masuk?." Tanya Gibran.
"Boleh lahh yahh. "
Mereka berjalan menuju balkon kamar Kinara . Ayah Kinara duduk sofa panjang bersama Kinara disampingnya.
Melihat alat gambar berceceran di atas meja Gibran tertarik untuk melihat-lihat hasil karya Kinara.
"Gambaran kamu makin bagus aja sayang." Puji Gibran.
"Yaiya dong yah kan calon seniman berbakat." Jawabnya menyombongkan diri.
"Ha ha ha Anak ayah satu ini emang dehh dipuji dikit langsung bengkak kepalanya. " Jawab Gibran tertawa.
Kinara membalasnya dengan senyum manis dan melanjutkan gambarnya ditemani oleh Gibran disampingnya.
" Nara sebenarnya ada yang pengen ayah bicarakan sama kamu. " Ucap Gibran ragu.
"Apa yah, ngomong aja." Jawab Kinara masih terus menggambar.
"Sebelumnya, Ayah minta maaf ya udah ngebentak kamu kemarin. " Ucapnya penuh sesal.
"Iya Ayah, Aku tau kok ayah sebenernya ga bermaksud buat bentak Nara. " Ucapnya tulus.
" Makasih sayang." Ucap Gibran mengelus puncak kepala Kinara. Dibalas anggukan dan senyuman.
"Sekarang Ayah tanya. Menurut kamu El itu orangnya gimana?. " Tanya Gibran membuat Kinara menghentikan aktivitasnya.
" Kenapa ayah tiba-tiba tanya begitu?.." Jawab Kinara curiga.
" Ayah cuma tanya. " Jawab Gibran. .
" Aku gatau dia orangnya gimana. Menurutku dia orangnya aneh baru kenal aja dia kaya udah tau banyak hal tentang aku. " Jawab Kinara jujur.
" Dan ngomong- ngomong soal itu sebenarnya apa sih yang ayah rencanain. Dari awal ayah, mami sama kak Dav berusaha bujuk Nara untuk ikut perayaan perusahaan dan tiba-tiba ayah ngenalin bang El. " Tanya Kinara.
" Ternyata kamu udah curiga ya. Kayanya ayah emang harus ngomong sekarang. Ayah sama om Ivan mau jodohin kalian berdua. " Jawab Gibran membuat Kinara sangat terkejut.
" Ga aku gamau. " Jawabnya spontan.
" Ayah tau kamu pasti nolak. Emangnya kenapa kamu gamau?. " Tanya Gibran tenang.
" Yajelas aku nolak dong yah. Umurku aja baru 18 tahun ada banyak hal yang mau aku lakuin. Lagipula aku belum siap nerima orang baru di hidup Nara." Jawab Kinara pada Gibran.
" Emangnya siapa yang bilang kalian akan nikah sekarang?."
" Ehh!. Tetep aja pokoknya Nara gamau titik. " Jawab Kinara tegas.
" Kamu tenang aja Ayah ga maksa. Tapi ayah minta kamu kasih kesempatan El buat deketin kamu. Kalo emang nantinya kamu ngerasa ga cocok kamu bisa nolak. "
" Kalo emang begitu gue bakal bikin bang El ga betah sama gue. "Batin Kinara tersenyum sinis.
" Oke aku akan kasih kesempatan buat bang El. "
" Oke makasih ya Nara. Kalo gitu Ayah keluar dulu. " Ucap Gibran meninggalkan putrinya.
~
Lama kelamaan Kinara malah kepikiran dengan perjodohannya. Ia merasa jenuh dan akhirnya memilih berjalan-jalan untuk merefresh pikirannya.
Kinara pergi tanpa berpamitan karena saat ia keluar dari kamarnya tidak ada orang di rumah ,jadi ia langsung pergi menaiki taxi dan berhenti di sebuah taman yang cukup jauh dari rumahnya.
Kinara terus berjalan menyusuri hangatnya sinar mentari di sore hari. Menghirup dalam-dalam udara disekitarnya. Kemudian duduk di salah satu bangku yang berada dipojok taman yang sepi. Kinara diam menghadap ke arah matahari sambil memejamkan matanya menikmati hangatnya sinar matahari.
Setelah cukup lama berdiam diri......
" Kamu ngapain disini?.. " Ucap seseorang mengejutkan Kinara.
" Hahh sejak kapan kamu disini?. " Ucapnya terkejut melihat Aldi yang tiba-tiba sudah duduk disampingnya.
" Taman ini jauh dari rumah kamu. " Ucapnya lagi.
" Kenapa kamu harus disini juga!. Di kota ini ada banyak taman kenapa harus disini!." Jawab Kinara kesal.
" Karena aku suka tempat ini. " Jawab Aldi membuat Kinara terdiam.
Kinara menghela nafasnya berat beranjak pergi meninggalkan Aldi.
" Kenapa?.kamu bilang di kota ini ada banyak taman kenapa kamu juga milih taman ini?. Aku tau kamu belum bisa lupain hal itu. " Ucap Aldi membuat Kinara menghentikan langkahnya.
" Stop jangan pernah ngungkit masa lalu!. Aku udah lupain semua hal tentang kamu!. Cuma satu hal yang ga pernah aku lupain dan kamu tau apa yang aku maksud!.. " Jawab Kinara melepaskan tangan Aldi dan beranjak pergi.
" Asal kamu tau itu semua ga sepenuhnya salahku. Tapi percuma dijelasin karena kamu cuma lihat dari satu sisi. "Ucap Aldi membuat Kinara berhenti sebentar namun kembali berjalan.
Kinara berjalan cepat sambil menahan rasa kesalnya, yang membuatnya tidak memperhatikan jalan.
Brukkkkk!!....
Kinara menabrak seseorang dan hampir terjatuh, untungnya dia spontan menangkap tubuh Kinara dengan kedua tangannya. Jadilah posisi mereka saling berhadapan satu sama lain.
"Kamu gapapa Ra?. " Tanyanya.
"Hahhhh!!!... Kenapa abang bisa disini juga??.. " Tanya Kinara terkejut dan langsung menegakkan tubuhnya ketika melihat Gabriel lah yang ia tabrak.
" Waktu aku ke rumah kamu, om Gibran bilang kalo kamu pergi ga pamit. Beliau minta tolong aku buat cari kamu. " Jawab Gabriel.
" Darimana abang tau aku ada disini?. " Tanya Kinara heran.
" Menurut kamu?."
" Alfaaaaa!!!. " Gerutu Kinara kesal.
"Udah ayo pulang serumah nyariin kamu. " Ajak Gabriel menarik tangan Kinara.
"Tunggu!. Ada yang mau aku bicarain. kita jangan pulang dulu. " Ucap Kinara menghentikan Gabriel.
Karena kebetulan bertemu sekalian saja Kinara ingin membahas tentang perjodohan mereka berdua.
"Kita cari tempat buat ngobrol. " Ucapnya lagi meninggalkan Gabriel untuk mencari tempat disekitar taman.
Gabriel pun mengikuti langkah Kinara hingga menuju sebuah bangku ditengah taman. Kinara berdiri dengan melipat kedua tangannya.
" Kamu mau ngomong apa?.. " Tanya Gabriel berdiri disebelah Kinara memasukkan kedua tangannya kedalam saku.
" Abang tau tentang rencana perjodohan kita??. " Tanya Kinara to the point.
"Iya tau. " Gabriel mengiyakan.
" Abang terima??.. "
Gabriel mengangguk.
" Apa!!!. Kenapa abang Terima?." Tanya Kinara kesal.
" Itu permintaan orang tuaku. Aku gabisa nolak. " Jawab Gabriel.
" Kenapa abang langsung terima gitu aja?. Kenapa abang ga berusaha untuk nolak?.. "
" Aku satu-satunya anak mereka, harapan mereka. Selama ini mereka sudah berkorban banyak hal. Mana mungkin aku tega nolak permintaan mereka." Jawab Gabriel membuat Kinara diam.
"Aku gamau dijodohin. " Tolak Kinara.
" Aku tau. Ayo pulang. " Jawab Gabriel singkat.
" Lah maksudnya?.. " Batin Kinara bingung.
" Ngapain diem masih mau jalan-jalan?. " Tanya Gabriel membuyarkan pikiran Kinara.
" Ga!. Ayo pulang. " Ucap Kinara mengakhiri perbincangan mereka.
Dalam perjalanan pulang Kinara hanya diam mencerna ucapan Gabriel. Sebenarnya dia juga memikirkan hal yang sama dengan Gabriel namun dia benar-benar tidak bisa menerima perjodohan ini.
Kinara terpaksa harus melakukan upaya terakhirnya yaitu membuat Gabriel tidak nyaman bersamanya.
~pilihan yang kamu putuskan hari ini akan menentukan masa depanmu nanti~
.
.
.
.
.
.
.