My Body My Pride

My Body My Pride
9. Mulai Jenuh



Happy Reading... 😊


Untuk yang kedua kalinya Dirga memandang wajah Caterine dengan begitu dekat. Wajah itu sepertinya membuat Dirga jatuh cinta kepada Caterine. Meski baru pertama kali bertemu, entah mengapa ada saja hal-hal yang membuat mereka lebih dekat satu sama lain. Hal ini benar-benar diluar rencana Caterine.


"Mungkin sebentar lagi kamu akan mulai jatuh cinta sama aku mas," gumam batin Caterine.


Beberapa bulan kemudian hubungan diantara Caterine dan Dirga pun semakin dekat. Dirga merasa jika ia sudah mulai jatuh cinta pada Caterine, hanya saja Dirga masih bersama Angeline. Setiap hari, bahkan setiap saat Angeline selalu menanyakan Dirga sedang apa? Dan dimana? Hal itulah yang membuat Dirga sangat muak dengan Angeline. Bahkan pertengkaran kecil diantara mereka pun selalu menjadi lebih besar.


"Caterine," ujar Dirga disela-sela pekerjaannya.


"Iya pak ada apa?" tanya Caterine yang terlihat santai.


"Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan," ujar Dirga.


"Iya pak, katakan saja," ucap Caterine.


"Tapi nanti saja kita bicarakan diluar," jelas Dirga yang tidak jadi mengutarakan perasaannya.


"Baik pak," jawab Caterine singkat.


Tidak lama terdengar suara ponsel berdering.


📲 "Iya halo!" jawab Dirga yang langsung meletakan benda pipih itu ditelinganya.


📲 ".............."


📲 "Baiklah kalau begitu aku akan segera menjemputmu," jawab Dirga.


📲 "Bye..."


Dirga dengan segera menutup telponnya. Sebenarnya ia sangat malas untuk mengangkat telpon dari Angeline, akan tetapi Angeline pasti akan sangat marah pada Dirga.


Tidak berapa lama percakapan itu berakhir.


"Siapa yang menelpon mas Dirga ya? Apa itu pacarnya? Awas saja aku akan membuat hubungan kalian menjadi renggang," gumam batin Caterine yang tertawa sinis.


Selepas panggilan itu, Dirga dengan sigap langsung menjemput Angeline di sebuah salon ternama. Setiap hari selalu ada saja pembiayaan yang harus keluar. Padahal jelas-jelas mereka masih belum menikah hingga saat ini. Angeline memang sangat royal, dia selalu berfoya-foya dengan menggunakan uang Dirga. Mungkin karena Dirga sangat mencintai Angline sehingga ia rela memberikan apa saja untuk kekasihnya. Satu jam kemudian akhirnya Dirga tiba disalon langganan Angeline.


"Sayang!" teriak Angeline dari kejauhan.


"Hai! Maaf menunggu lama," ujar Dirga.


"Kamu kemana aja sih kok lama?" tanya Angeline dengan sedikit kesal.


"Maaf tadi dijalanan sangat macet," jelas Dirga.


"Lain kali aku tidak mau sampai menunggu ya!" pekik Angeline.


"Iya, iya! Memangnya aku supir pribadimu apa!" gumam batin Dirga yang merasa kesal.


Begitulah sikap Angeline jika Dirga melakukan kesalahan walau hanya sedikit saja. Dia akan begitu sangat marah. Dirga seperti supir yang terlambat menjemput tuannya. Bukannya tidak mau membalas perbuatan Angeline, akan tetapi orang tua Angeline adalah investor terbesar dalam perusahaannya sehingga Dirga harus menuruti apa saja yang anaknya mau.


"Kita makan dulu ya!" ajak Angeline yang begitu manja pada Dirga dan melingkarkan tangannya pada tangan Dirga.


"Ya sudah ayo!" jawab Dirga.


Selepas dari salon, Dirga pun langsung membawa Angeline ke salah satu restoran yang begitu mewah. Ditempat itu begitu ramai pengunjung. Banyak pasangan-pasangan muda yang berada ditempat itu.


"Mas, mas!" teriak Angeline pada salah satu waitress yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Iya bu, silahkan mau pesan apa?" tanya waitress itu sambil menyodorkan buku menu.


"Kamu mau pesan apa sayang?" tanya Angeline pada Dirga.


"Samain aja lah," jawab Dirga lesu.


"Itu aja mas, semuanya double yah!" pinta Angeline.


"Siap bu, mohon ditunggu sebentar," pamit waitress.


Angeline hanya menganggukan kepala. Ia melihat ada yang aneh pada Dirga hari ini. Dirga terlihat begitu pendiam dan lain dari biasanya. Tidak terlalu banyak kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ia berbicara hanya seperlunya saja.


"Kenapa sama kamu?" tanya Angeline to the point.


"Memangnya kenapa? Aku tidak apa-apa," jawab Dirga.


"Tapi kamu tidak seperti yang biasanya. Kamu lebih pendiam," ujar Angeline.


"Aku tidak apa-apa. Itu hanya perasaanmu saja," jawab Dirga.


Padahal Dirga memang merasa tidak nyaman berada ditempat itu. Raganya memang berada bersama Angeline, akan tetapi pikirannya masih melayang memikirkan Caterine. Entah kenapa sejak tadi, Dirga terus memikirkan Caterine. Sebenarnya Dirga tidak ingin lama-lama bersama Angeline. Rasanya sudah sangat muak dan jenuh bertahun-tahun berpacaran dengan Angeline.


"Kamu sedang apa Caterine? Aku sangat merindukanmu" gumam batin Dirga yang sejak tadi memikirkan Caterine.


Entah mengapa bayangan Caterine tidak bisa lepas dari ingatannya. Dirga selalu mengingat saat Caterine akan terjatuh, dialah yang menangkap Caterine ke dalam pelukannya. Dirga benar-benar tidak bisa melupakan kejadian itu.


"Dirga, Dirga!" pekik Angeline yang merasa kesal karena sudah memanggilnya sedari tadi. Namun Dirga masih saja melamun.


"Iya kenapa? Kamu membuat aku kaget saja!" ujar Dirga yang merasa terkejut.


"Tuh kan apa aku bilang! Ini cepet makan dulu, nanti keburu dingin," ujar Angeline yang langsung melahap makanannya.


"Iya, iya," jawab Dirga kesal.


Begitupun dengan Dirga yang langsung memasukan makanan ke dalam mulutnya sedikit demi sedikit. Dirga seolah kurang nafsu makan, rasanya terasa hambar. Entah apa yang kurang dari makanan itu. Padahal makanan itu sangat lezat sekali.


"Kalau begitu kita pulang saja!" ujar Angeline setelah selesai meyantap makanannya.


"Kamu yakin?" tanya Dirga memastikan.


"Iya, yakinlah," jawab Angeline kesal.


Biasanya setelah selesai makan, Angeline akan mengajak Dirga untuk berbelanja. Tapi, kali ini tidak. Bahkan bisa seharian penuh jika Angeline sudah mengajak Dirga untuk menemaninya shopping. Tapi hari ini, Angeline ingin segera pulang karena melihat Dirga yang tampak lain dari biasanya. Melihat Dirga yang begitu pendiam membuat Angeline muak, dan merasa tidak suka berada didekatnya.


"Sebenarnya apa yang sedang terjadi sama kamu Dirga?" gumam batin Angeline.


Setelah menghabiskan makanannya, Dirga pun segera bergegas mengantar Angeline pulang. Dengan kecepatan yang sangat tinggi Dirga melajukan kendaraannya dan tidak lama akhirnya mereka tiba dirumah Angeline.


"Kamu tidak mampir dulu?" tanya Angeline sesaat sebelum ia turun dari mobil.


"Tidak, terima kasih. Aku ingin segera pulang dan tidur," jawab Dirga.


"Ya sudah kalau begitu, aku masuk ya!" pamit Angeline yang langsung masuk ke dalam rumahnya.


Biasanya Dirga akan betah berlama-lama dirumah Angeline setelah seharian pergi jalan-jalan. Akan tetapi, hari ini rasanya sangat malas. Bahkan melihat wajahnya saja Dirga tidak mau.


Sementara Dirga merasa senang karena sudah terlepas dari Angeline.


"Akhirnya bisa terlepas juga dari nenek sihir," ujar Dirga sambil menyetir kendaraannya.