
Happy Reading... 😊
Jadi kamu sudah tau jika kami memanggilmu kemari?" tanya Pak Jhon.
"Belum om, saya malah bingung sebenarnya ada apa?" tanya Dirga yang menautkan kedua halisnya.
"Begini, om sebenarnya ingin melihat kalian segera bertunangan," ujar Pak Jhon.
"Apa om?" tanya Dirga yang merasa terkejut dengan pernyataan Om Jhon.
"Kamu kenapa kok kaget begitu?" tanya Pak Jhon.
"Bu, bukan begitu om. Aku hanya belum siap saja," jawab Dirga yang terbata.
"Memangnya kenapa?" tanya Om Jhon yang menautkan kedua halisnya.
"Sebenarnya saya belum berbicara pada ibu saya om, mungkin saya akan membicarakannga dulu dengan ibu saya," jelas Dirga yang mencoba mencari alasan.
"Baiklah kalau begitu coba kamu bicarakan dulu dengan ibumu," ujar Pak Jhon yang memberikan saran.
"Kalau begitu aku pamit dulu om," pamit Dirga yang cepat pulang.
Dirga pun segera bergegas pulang. Dirga merasa bingung dengan apa yang barusan ia dengar dari Pak Jhon. Entah apa yang harus Dirga lakukan. Yang jelas saat ini ia begitu dilema. Antara memilih Angeline atau Caterine. Di sisi lain Dirga sangat mencintai Caterine. Namun di lain sisi Angeline adalah sumber kehidupannya. Jika ia menolak bertunangan dengan Angeline mungkin perusahaannya akan bangkrut.
Sesampainya dirumah Dirga segera menceritakan semua yang terjadi pada mamihnya. Namun bukannya memberikan solusi, akan tetapi Bu Isabel malah mendukungnya agar Dirga segera bertunangan.
"Mamih setuju, sebaiknya kamu segera menikah dengan Angeline sayang biar kita semakin kaya," ujar Bu Isabel yang tersenyum lebar.
"Tapi mih, aku tidak mencintai dia. Sekarang yang aku cintai hanyalah Caterine," jawab Dirga yang merasa lemas dan dilema.
"Kamu itu ya, kalau dikasih tau orang tua ya nurut. Cinta, cinta, memangnya akan menjamin kebahagiaanmu? Sekarang hanya harta yang bisa membuat kita bahagia Dirga!" jelas Bu Isabel panjang lebar.
Sebagai seorang ibu, Bu Isabel hanya menginginkan anaknya menikah dengan orang kaya agar kehidupannya semakin mapan. Dalam prinsip hidupnya, cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Yang terpenting saat ini kita memiliki banyak harta, agar semua yang kita inginka dapat terwujud.
"Tapi mih aku sangat mencintai Caterine, aku ga bisa melupakan dia begitu saja," lirih Dirga yang lagi-lagi menyebut nama Caterine.
Tidak berapa lama Dirga pun bergegas ke dalam kamarnya.
"Kamu itu kebiasaan ya kalau dibilangin, malah pergi," geram Bu Isabel yang merasa kesal karena perilaku anaknya.
Didalam kamar Dirga berbaring diatas kasur miliknya sambil menatap langit-langit kamar. Dirga tidak bisa memejamkan matanya. Ingatannya selalu memikirkan Caterine. Ia tidak mau jika harus sampai menikah dengan Angeline. Namun ia juga bingung, alasan apa yang harus ia buat untuk menentang pertunangan itu. Bahkan membayangkannya saja Dirga tidak mau.
Sementara ditempat lain, keluarga Angeline masih membicarakan pertunangan putrinya. Pak Jhon dan Bu Elisa masih mendiskusikan pertunangan anaknya. Sebagai seorang ibu yang melahirkan anaknya, Bu Elisa tidak ingin menikahkan putrinya buru-buru. Ia masih belum percaya jika Dirga adalah pria yang tepat untuk Angeline. Berbeda dengan Pak Jhon yang sudah sangat percaya dengan Dirga. Pak Jhon ingin Dirga bisa hidup bersama anaknya, karena ia yakin jika Dirga sangat mencintai Angeline.
"Menurut mamih, jangan buru-buru pih. Mamih masih belum yakin jika Dirga adalah pria yang tepat untuk Angeline," ujar Bu Elisa setelah menyodorkan segelas kopi untuk suaminya.
"Tapi papih percaya sama Dirga mih, kita kan sudah kenal dia lama. Masa iya dia akan mengkhianati kita," jelas Pak Jhon yang sesekali menyeruput kopinya yang panas.
"Tapi kan kenal lama juga bukan jaminan kalau dia orang yang baik," jawah Bu Elisa yang tetap pada pendiriannya.
"Iya mih, lagian aku sangat mencintai Dirga," timpal Angeline yang mengelayuti tangan mamihnya.
"Kamu itu ya, memang yakin jika Dirga benar-benar mencintaimu?" tanya Bu Elisa.
"Ish mamih, kok nanyanya kaya gitu?" geram Angeline yang merasa kesal.
"Bukan gitu loh maksudnya mamih, jika dia hanya main-main gimana? Kan mamih ga mau sampai anak mamih terluka," ujar Bu Elisa.
"Mamih ini berlebihan, merekan kan beru rencana mau tunangan. Bukan nikah," timpal Pak Jhon.
"Ya sudah kalau gitu mih, aku pamit ke kamar dulu ya," pamit Angeline yang menuju ke kamarnya karena malam sudah semakin larut.
Begitupun dengan Pak Jhon dan Bu Elisa yang menyusul pergi ke dalam kamar untuk beristirahat.
Keesokan harinya..
Burung-burung berkicauan saling bersahutan antara satu dengan yang lainnya. Caterine yang masih tertidur pulas, merasa malas untuk berangkat ke kantor hari ini. Tubuhnya menggeliat dan masih merasakan kantuk yang teramat sangat.
Hoaamm...
"Rasanya masih ngantuk," ujar Caterine yang merasa malas untuk bangun.
"Tapi jika aku tidak pergi ke kantor, bagaimana dengan misiku," gumamnya lagi.
Dengan cepat akhirnya Caterine pun bergegas mandi dan bersiap ke kantor. Jika teringat akan sakit hatinya, Caterine pun kembali bersemangat untuk. Caterine baru melakukan awalnya saja mendekati keluarga Dirga, namun ia belum melakukan hal apapun juga. Setelah pulang dari kantor nanti, Caterine berencana untuk mengerjai ibu dan adik iparnya dulu.
Selesai bersiap, ternyata terdengar suara mobil Dirga yang datang menjemput.
Tidid...
"Itu kan suara klakson mobil Dirga," ujar Caterine yang mempercepat dandanannya.
"Hai sayang," sapa Dirga saat Caterine baru membuka pintunya.
"Hai, kok jemput ga bilang dulu?" tanya Caterine yang menautkan kedua halisnya.
"Masa aku harus izin dulu jemput pacar sendiri," jawab Dirga yang merasa kesal dengan pernyataan Caterine.
"Ya maksudnya kabarin dulu kek, biar aku siap-siap dari tadi," ujar Caterine lagi mencari alasan.
"Tapi sekarang kan udah beres juga," jelas Dirga yang tidak mau kalah.
"Iya juga sih," ujar Caterine yang tersenyum kikuk.
Mereka pun bergegas pergi menuju kantor bersama. Caterine hanya terdiam saat berada dalam mobil. Pikirannya melayang memikirkan hal apa lagi yang akan ia lakukan selanjutnya.
"Caterine?" tanya Dirga sambil memegang tangan Caterine dan tangan yang satu tetap memegang kemudinya.
"Eh iya, kenapa?" tanya Caterine yang merasa terkejut karena kaget.
"Kamu kenapa? Sepertinya sedang memikirkan sesuatu?" tanya Dirga.
"Mmh, tidak," jawab Caterine ragu.
"Oiya apa kamu sudah sarapan?" tanya Dirga.
"Belum sih, kamu sendiri memangnya udah?" tanya Caterine lagi.
"Belum juga sih, hehe," jawab Dirga sambil terkekeh.
"Ya sudah kita makan dekat kantor saja," ajak Caterine.
"Boleh, boleh," jawab Dirga setuju.
Tidak berapa lama akhirnya mereka tiba dikantor. Dirga segera memarkirkan mobilnya dan segera keluar bersama Caterine untuk mencari sarapan pagi.