My Body My Pride

My Body My Pride
22. Penyesalan Tiada Guna



Beberapa hari setelah pembalasan Caterine, akhirnya Dirga beserta ibu dan juga adiknya di penjara karena dugaan pembunuhan berencana. Mereka menyesal karena sudah melalukan hal itu pada Caterine.


Namun penyesalan tiada guna, karena semua sudah terjadi. Berita penangkapan keluarga Dirga pun terdengar ke telinga keluarga Angeline.


"Ayah tahu keluarga Dirga ternyata ditangkap polisi karena dugaan pembunuhan?" ujar Angeline saat sedang diruang tamu.


"Apa? Ternyata mereka keluarga yang buruk," timpal sang ayah.


"Iya yah, untung aku tidak jadi bertunangan dengannya," tukas Angeline lagi.


"Iya sayang, kamu wanita yang baik berhak mendapatkan keluarga yang baik juga," ucap ayah Angeline.


"Iya yah, saat ini aku sedang tidak ingin membicarakan hal itu yah. Toh nanti juga ada saatnya jika sudah ada jodohnya yah," ujar Angeline.


"Iya nak ayah mengerti, kali ini ayah tidak akan memaksa atau menjodohkan kamu lagi," timpal sang ayah.


Sementara di tempat yang lain, Caterine merasa senang karena akhirnya tujuannya tercapai. Caterine merasa sangat puas dengan apa yang terjadi saat pesta itu berlangsung.


"Selamat Caterine akhirnya rencanamu berhasil," ujar dokter Sarah yang menyalami Caterine.


"Terima kasih banyak dok, ini juga terjadi karena dukungan dokter," timpal Caterine yang merasa bahagia.


"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" tanya dokter Sarah yang menautkan kedua halisnya.


"Entahlah dok, mungkin aku akan melanjutkan pendidikan ku saja. Aku ingin sekolah lagi sambil bekerja dok," jawab Caterine yang penuh percaya diri.


Meski dulu Caterine berasal dari keluarga yang sederhana tapi ia sangat mengutamakan pendidikannya. Uang yang ia peroleh saat bekerja sebagai model ia kumpulkan untuk membuka usaha.


"Baguslah kalau seperti itu. Aku senang mendengarnya. Oiya ada seseorang yang ingin aku kenalkan kepadamu Caterine," ujar dokter Sarah yang memanggil seseorang.


"Caterine kenalkan ini Devan," ujar dokter Sarah yang memperkenalkan temannya.


"Hai aku Devan, " ujar Devan yang menyodorkan tangan kanannya.


"Hai aku Caterine," ujar Caterine yang membalas menyalami Devan


Sebenarnya sudah sangat lama dokter Sarah ingin memperkenalkan Devan temannya kepada Caterine. Dokter Sarah berharap jika mereka akan memiliki hubungan yang yang spesial, sebab Devan adalah orang yang baik.


Dokter Sarah merasa yakin jika Devan adalah orang yang tepat bagi Caterine. Mereka sama-sama pintar. Devan juga merupakan pemilik perusahaan ternama yang ada dikota itu. Di usianya yang masih sangat muda, Axel sudah menjadi orang yang sukses.


Selain sukses, ia juga memiliki wajah yang tampan dan berbadan tegap. Sehingga bagi siapapun yang melihatnya pasti akan langsung jatuh cinta.


"Silahkan duduk, sampai kapan anda akan terus berdiri," ujar Caterine yang mempersilahkan Devan untuk duduk.


"Eh iya tentu," jawab Devan yang tiba-tiba membuyarkan lamunannya karena Caterine. Sedari tadi Devan memandangi Caterine, sepertinya ia jatuh cinta pada pandangan yang pertama.


Merasa malu dengan Caterine, Devan pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia merasa malu karena sejak tadi terus memandangi Caterine.


"Ekhem.. ekhem.." ujar dokter Sarah yang pura-pura batuk.


Tak terasa obrolan mereka pun berlanjut dan kini hari sudah semakin gelap.


"Maaf aku harus pulang duluan karena suamiku sudah menungguku," ujar dokter Sarah.


"Oke, Caterine biar aku yang mengantarnya pulang," tukas Devan.


"Ti, tidak usah repot-repot aku bisa pulang sendiri," jawab Caterine.