
Akhirnya mau tidak mau, Caterine pun pulang bersama Devan. Caterine terpaksa harus pulang bersama Devan karena hari sudah larut.
"Biar aku yang akan mengantarmu pulang Caterine," ujar Devan.
"Tidak usah repot-repot, aku bisa pulang sendiri," tukas Caterine yang merasa tidak enak jika harus pulang diantar oleh Devan karena mereka baru pertama kali bertemu.
"Ah tidak apa-apa, aku tidak merasa direpotkan," ujar Devan lagi.
"Ya sudah kalau begitu," tukas Caterine lagi yang akhirnya mau menerima tawaran Devan.
Dengan senang hati Devan mau mengantar Caterine pulang. Meski sebenarnya merasa tidak enak tapi Caterine akhirnya mau juga. Caterine pulang diantar Devan menggunakan mobil mewah milik Devan.
Devan merupakan CEO perusahaan terbesar dikota itu. Selain tampan dan kaya, Devan juga sangat baik dan rendah hati. Ia tidak pernah menjelaskan tentang statusnya kepada siapapun.
"Terima kasih Devan karena sudah mengantarku pulang," ujar Caterine sesaat sebelum turun dari mobil.
"Iya Caterine sama-sama, kalau begitu aku pergi ya," pamit Devan yang segera meninggalkan halaman parkir.
"Ya Devan, hati-hati," ujar Caterine yang segera bergegas masuk ke dalam apartemennya.
Devan segera bergegas pergi karena ini sudah terlalu larut malam. Tidak baik bagi seorang laki-laki berlama-lama bersama seorang perempuan dimalam hari.
Sesampainya didalam kamar, Caterine segera merebahkan tubuhnya diatas kasur miliknya. Caterine merasa lelah setelah hampir seharian menghadiri acara makan-makan bersama dokter Sarah.
Kini Caterine juga merasa lega karena akhirnya ia bisa membalaskan dendamnya. Setelah melakukan hal ini entah apa yang akan dilakukan Caterine. Yang jelas rasanya ia tidak ingin melakukan apa-apa.
Sudah cukup bagi Caterine melakukan segalanya. Kini ia hanya ingin fokus pada kehidupannya. Ia ingin lebih memikirkan tentang hidupnya sendiri. Caterine tidak ingin memikirkan hal lain selain tentang dirinya saja.
Setelah membongkar tentang keluarga Dirga yang sebenarnya, Caterine pun segera keluar dari perusahaan Dirga karena memang ia hanya pura-pura saja bekerja dikantor itu. Selain itu perusahaan Dirga pun terancam gulung tikar karena ayah Angeline sudah tidak mau bekerja sama lagi dengan perusahaan Dirga semenjak anaknya batal bertunangan dengan Dirga.
Selain itu ayah Angeline pun berhenti menjadi investor pada perusahaan Dirga. Padahal ayah Angeline lah yang menjadi investor terbesar di perusahaan Dirga.
Beberapa hari kemudian Caterine berencana untuk pergi makan disalah satu restoran favoritnya. Ia merasa jenuh karena sudah beberapa hari ini berada dirumah terus. Setelah menyelesaikan pekerjaan rumahnya, Caterine segera bergegas menggunakan taksi online.
Caterine berdandan sesuai karakternya yang sedikit cuek. Satu jam kemudian akhirnya Caterine tiba di sebuah restoran favoritnya.
"Mas,mas," panggil Caterine pada salah seorang waitress yang berlalu di hadapannya.
"Iya bu, silahkan mau pesan apa?" tawar waitress itu dengan tersenyum simpul dan menyodorkan buku menu.
"Saya pesan spageti dan es mocachino ya," ujar Caterine setelah beberapa saat memilih-milih makanan.
"Baik bu, mohon di tunggu," pamit waitress itu yang segera pergi meninggalkan Caterine.
Beberapa saat kemudian akhirnya pesanan Caterine datang.
"Ini silahkan pesanannya bu," ujar waitress itu sambil menghidangkan makanan di atas meja.
"Ya terima kasih," tukas Caterine yang segera menyantap makanannya.
Namun tidak berapa lama terdengar suara seseorang yang memanggilnya.
"Caterine," teriak seseorang itu.