My Body My Pride

My Body My Pride
10. Perasaan Yang Sebenarnya



Happy Reading.. 😊


"Ya sudah kalau begitu, aku masuk ya!" pamit Angeline yang langsung masuk ke dalam rumahnya.


Biasanya Dirga akan betah berlama-lama dirumah Angeline setelah seharian pergi jalan-jalan. Akan tetapi, hari ini rasanya sangat malas. Bahkan melihat wajahnya saja Dirga tidak mau. Sementara Dirga merasa senang karena sudah terlepas dari Angeline.


"Akhirnya bisa terlepas juga dari nenek sihir," ujar Dirga sambil menyetir kendaraannya.


Dirga mengendarai kendaraannya dengan begitu cepat agar ia bisa lebih cepat sampai dirumah. Dirga merasa lelah setelah seharian bekerja lalu menjemput Angeline dan mengantarnya makan. Sesampainya dirumah Dirga bergegas mandi dan cepat-cepat membaringkan tubuhnya diatas kasur king size miliknya. Tidak lama Dirga pun tertidur begitu pulasnya karena kelelahan.


Keesokan harinya...


Karena hari ini merupakan hari libur, Dirga berencana untuk mengajak Caterine jalan-jalan. Walaupun sedikit ragu karena Caterine takut menolaknya, akan tetapi Dirga tetap mencobanya. Melalui benda pipih miliknya, Dirga mencoba menghubungi Caterine.


"Hallo Caterine apa kamu sedang sibuk?" tanya Dirga yang langsung to the point.


"Iya hallo pak! Ada yang bisa saya bantu?" tanya Caterine disebrang sana.


"Begini Caterine, apa kamu ada acara hari ini?" tanya Dirga.


"Mmh, sepertinya tidak pak. Memangnya ada apa?" tanya Caterine yang menautkan kedua halisnya.


"Apa kita bisa bertemu?" tanya Dirga.


"Boleh pak!" jawab Caterine.


"Ya sudah kalau begitu, aku tunggu satu jam lagi di resto x ya!" ujar Dirga.


"Baiklah kalau begitu aku akan bersiap," jawab Caterine.


Setelah panggilan itu, Dirga segera bersiap-siap mandi dan bergegas pergi ke tempat yang sudah direncanakan tadi.


Ditempat lain, Caterine juga sedang bersiap untuk bertemu dengan Dirga.


"Ada apa mas Dirga minta ketemuan? Apa dia akan mengungkapkan perasaannya," gumam batin Caterine.


Caterine pun mencari pakaian yang terbaik. Dia berdandan secantik yang ia bisa agar Dirga bisa jatuh cinta kepadanya.


Satu jam kemudian, Dirga sudah menunggu ditempat itu.


"Kemana dia belum datang juga," gumam batin Dirga.


Lima menit, sepuluh menit pun berlalu. Dirga sudah tidak tenang menanti kedatangan Caterine. Namun saat Dirga akan berdiri, tiba-tiba Caterine datang dengan penampilan yang sangat berbeda saat berada dikantor. Caterine terlihat begitu cantik dengan balutan dress berwarna merah muda dan rambut yang terurai panjang, serta make up yang tidak terlalu berlebihan membuat dirinya terlihat begitu cantik.


"Maaf telat pak," sapa Caterine yang menundukan wajahnya saat tiba dihadapan Dirga.


"Tidak, tidak apa-apa. Apa kamu benar-benar Caterine?" tanya Dirga yang masih tidak percaya dengan seseorang yang berada dihadapannya.


"Iya pak, saya Caterine. Memangnya kenapa?" tanya Caterine yang menautkan kedua halisnya.


"Tidak, hanya saja kamu terlihat sangat berbeda dari biasanya. Kamu terlihat sangat cantik," puji Dirga yang terus memandangi wajah Caterine.


"Ah bapak bisa aja," mendengar pujian Dirga Caterine pun merasa malu.


"Kalau lagi diluar gini gak usah panggil pak, panggil Dirga aja," ujar Dirga menjelaskan.


"Baik pak! Eh, baik Dirga!" ucap Caterine.


"Nah gitu kan enak manggilnya jadi lebih akrab," timpal Dirga.


"Hehe iya," jawab Caterine sambil tertawa.


"Sebenarnya ada apa sampai bapak ngajak kita ketemu?" tanya Caterine.


"Tuh kan mulai lagi manggil bapak!" ujar Dirga kesal.


"Eh iya maaf, lupa," timpal Ceterine.


"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," jelas Dirga.


"Sebenarnya aku, aku mulai menyukaimu Caterine," jelas Dirga yang merasa malu mengungkapkan perasaannya.


"Apa? Beneran mas?" tanya Caterine tidak percaya.


"Iya bener, aku sudah menyukai kamu saat pertama kali melihatmu," jelas Dirga lagi.


Mendengar kata-kata Dirga membuat Caterine tidak percaya. Caterine merasa sangat senang karena akhirnya Dirga menyukainya. Caterine bersyukur karena semua berjalan seperti yang telah ia rencanakan.


"Caterine," sapa Dirga.


"Eh iya," jawab Caterine yang merasa terkejut ditengah lamunannya.


"Kamu kenapa? Tidak suka ya aku bilang seperti ini," lirih Dirga.


"Bukan, bukannya seperti itu. Apa ini tidak terlalu cepat," ujar Caterine.


"Terlalu cepat gimana?" tanya Dirga yang menautkan kedua halisnya.


"Maksudnya kita kan baru ketemu, masa iya kamu udah suka sama aku," jelas Caterine.


"Tapi memang beneran aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Jadi gimana?" tanya Dirga.


"Gimana apanya?" tanya Caterine yang pura-pura tidak mengerti.


"Apa kamu mau jadi pacar aku?" tanya Dirga seperti anak ABG.


"Apa aku harus menjawabnya?" tanya Caterine datar.


"Iyalah harus," jelas Dirga.


"Ya sudah kalau begitu iya," jawab Caterine.


"Beneran?" tanya Dirga memastikan.


"Iya bener," jawab Caterine.


"Yes," sorak Dirga yang merasa kegirangan.


Sejak saat itu, Dirga dan Caterine pun menjalin sebuah hubungan. Dirga tidak perduli dengan hubungannya bersama Angeline. Yang terpenting sekarang Dirga sudah mengutarakan tentang perasaannya pada Caterine. Meski sebenarnya Dirga merasa khawatir tentang hubungannya bersama Angeline, tapi ia bersikap untuk tetap tenang. Dirga merasa lega karena akhirnya ia bisa berkata jujur pada Caterine.


Sementara Caterine merasa sangat senang, akhirnya Dirga benar-benar jatuh cinta kepadanya. Hal ini membuat rencana Caterine berjalan dengan sangat mudah. Caterine tidak perlu repot-repot membuat Dirga jatuh cinta kepadanya, karena sekarang ia sudah jatuh cinta pada Caterine. Hanya tinggal beberapa langkah lagi, Caterine akan bisa membalaskan dendamnya.


Rasa sakit hati yang sudah bertahun-tahun ia terima dan ia rasakan. Kini mereka juga harus merasakan hal yang sama. Luka dibalas dengan luka. Sakit hati dibalas dengan sakit hati.


"Oiya Caterine, aku berniat buat ngenalin kamu sama ibu dan adik aku," ujar Dirga.


Uhuk.. uhuk..


Seketika Caterine pun tersedak saat sedang minum. Mendengar ibu mertua dan adik iparnya disebut membuat Caterine teringat akan sikap mereka yang semena-mena pada Caterine.


"Kamu kenapa? Tidak apa-apa?" tanya Dirga yang merasa khawatir melihat Caterine yang tiba-tiba tersedak.


"Tidak mas, aku tidak apa-apa," dusta Caterine.


Padahal Caterine sangat familiar dengan kedua orang itu. Rasanya Caterine ingin segera membalaskan dendamnya juga kepada mereka berdua. Perilaku dan kata-kata mereka berdua selalu menyakiti Caterine.


Mereka bertindak sesuka mereka tanpa memikirkan perasaan Caterine. Bukan hanya itu, bahkan kata-kata yang mereka lontarkan pun seenaknya mereka saja. Mereka selalu memanggil Caterine dengan sindiran-sindiran pada fisiknya.


"Beneran kamu tidak apa-apa?" tanya Dirga lagi memastikan.


"Beneran mas aku ga apa-apa," jawab Caterine.


"Syukurlah kalau begitu," ujar Dirga yang merasa tenang.


Sangat tidak mungkin bagi Caterine untuk menceritakan semuanya. Dulu saja Dirga tidak pernah membela Caterine sedikitpun, ia justru malah ikut-ikutan menghardik dan menyakiti perasaan Caterine waktu itu.