My Body My Pride

My Body My Pride
15. Rencana Caterine



Happy Reading... 😊


Sudah beberapa hari Bu Isabel tidak enak badan. Seluruh badannya terasa ngilu,serta kepalanya terasa begitu pusing akhir-akhir ini. Lia yang sedang disibukkan dengan tugas kuliahnya tidak bisa menjaga ibunya secara maksimal. Untuk itu, Dirga meminta tolong kepada Caterine untuk menemani ibunya dirumah. Beruntung hari ini adalah hari libur, jadi Caterine terpaksa harus menjaga Bu Isabel. Namun sudah beberapa hari Dirga harus bekerja diluar kota.


Hal ini membuat Caterine berfikir jika ia akan memanfaatkan keadaan ini. Karena sakit hatinya yang terdahulu, membuat Caterine ingin memulai misi balas dendamnya. Caterine mulai memikirkan berbagai cara untuk memulai membalaskan dendamnya. Beruntung tidak berapa lama akhirnya Lia pulang.


"Caterine!" teriak Bu Isabel dari dalam kamarnya.


"Iya tante," jawab Caterine.


"Tante lagi kepengen makan bubur, tolong dibuatkan ya!" pinta Bu Isabel.


"Iya tante," jawab Caterine.


"Seenaknya aja ini nenek sihir nyuruh-nyuruh," gumam batin Caterine kesal.


Hal ini membuat Caterine untuk menjalankan aksinya. Caterine pun langsung memanggil Lia ke dalam kamarnya.


Tok.. tok..


"Lia," panggil Caterine dari luar kamar.


"Iya kenapa kak?" tanya Lia saat membuka pintu kamar karena sejak tadi ia sedang disibukan membuat skripsi.


"Itu, ibu minta dibikinin bubur. Tapi kakak ada pekerjaan sebentar, nanti kalau udah selesai kakak pasti kembali kesini lagi," ujar Caterine.


"Iya kak siap!" jawab Lia yang segera bergegas menuju dapur.


Dengan cekatan Lia pun segera menyiapkan alat dan bahan untuk membuat bubur. Pertama beras, lalu air ia masukan ke dalam panci kecil dan mulai mengaduknya hingga butiran beras itu berubah menjadi hancur. Sebelum menyanjikannya ke dalam mangkuk, Lia ingin pergi ke toilet untuk membuang air kecil.


Hal itu dimanfaatkan Caterine untuk menambahkan garam yang banyak ke dalam bubur itu. Karena sejak tadi Caterine tidak pergi kemana-mana, ia hanya memperhatikan Lia dari kejauhan dan berniat akan mengerjainya. Setelah selesai menambahkan garam yang banyak, akhirnya Caterine segera pergi meninggalkan dapur dan bersembunyi kembali.


Tidak berapa lama Lia kembali ke dapur dan menuangkan buburnya ke dalam mangkuk. Dengan sangat hati-hati Lia membawa mangkuk itu karena masih sangat panas.


"Buburnya sudah jadi bu," ujar Lia saat membuka pintu kamarnya.


"Wah wanginya harum sekali," ucap Bu Isabel yang mencium aroma bubur itu.


"Iya dong, siapa dulu yang masak," ujar Lia dengan penuh rasa bangga.


"Loh Caterine kemana? Bukannya tadi ibu minta tolong sama dia," tanya Bu Isabel.


"Kak Caterine katanya ada pekerjaan mih, jadi harus segera berangkat," jawab Lia.


"Oh.. ya sudah sini buburnya," pinta Bu Isabel.


Dengan perlahan Bu Isabel segera menyendokan bubur yang sebelumnya ia tiup terlebih dahulu karena masih sangat panas. Setelah Bu Isabel memasukan sendok ke dalam mulutnya, tiba-tiba..


"Mmh, bubur apa ini?" pekik Bu Isabel yang segera melepehkan buburnya karena terlalu asin.


"Kenapa mih?" tanya Lia yang terkejut melihat mamihnya memuntahkan buburnya.


"Kamu coba sendiri makan buburnya," titah Bu Isabel.


"Ish, apaan nih asin banget!" pekik Lia setelah mencoba bubur yang dimassaknya tadi.


"Tuh kan, kamu aja yang masaknya bilang asin," ujar Bu Isabel.


"Tapi tadi aku coba rasanya udah pas kok mih," ucap Lia.


"Masa iya bisa jadi asin gitu," geram Bu Isabel.


"Apa jangan-jangan rumah kita ada hantunya mih," ujar Lia yang bicara kemana saja.


Sementara dari kejauhan Caterine menertawakan mereka berdua. Caterina merasa senang karena mereka menjadi berselisih paham hanya gara-gara bubur. Sebelum menyuruh Lia membuatkan bubur, Caterine pura-pura pamit untuk sebuah pekerjaan. Padahal Caterine hanya mengumpat saja. Tidak berapa lama, Caterine pura-pura kembali.


"Gimana udah masak buburnya tante?" tanya Caterine saat baru masuk kedalam kamar Bu Isabel.


"Udah, tapi sayang buburnya asin," jawab Bu Isabel.


"Kok bisa?" tanya Caterine pura-pura tidak mengerti.


"Ga tau tuh tanya aja sama Lia!" pekik Bu Isabel.


"Mungkin rumah kita ada hantunya kak," ujar Lia yang membisikan kata-kata itu ke telinga Caterine.


"Kamu ini ada-ada aja," ujar Caterine.


"Padahal aku yang udah nambahin garemnya," gumam batin Caterine sambil terkekeh dalam hatinya.


"Ya sudah kalau begitu kita pesan aja buburnya ya tante," usul Caterine.


"Boleh, boleh," jawab Bu Isabel.


Caterine pun segera membuka aplikasi khusus untuk memesan makanan secara online. Di zaman digital seperti ini semua bisa kita pesan lewat ponsel kita. Caterine segera memesankan bubur untuk Bu Isabel. Tidak berapa lama, akhirnya pesanan mereka datang. Dengan penuh perhatian Caterine menghidangkan bubur untuk Bu Isabel.


"Ini buburnya tante sudah datang," ujar Caterine setelah membuka pintu kamar.


"Makasih Caterine, kamu sudah sangat baik sama tante," ucap Bu Isabel.


"Sama tante," jawab Caterine dengan senyum yang dipaksakan.


"Nah ini baru enak," ujar Bu Isabel setelah memakan beberapa sendok bubur kedalam mulutnya.


Beberapa hari kemudian Dirga akhirnya pulang.


"Makasih Caterine karena kamu sudah mau menjaga mamih aku," ujar Dirga.


"Sama-sama," jawab Caterine.


"Gimana sama kerjaan kamu Dirga?" tanya Caterine.


"Alhamdulillah kerjaan aku lancar dan semuanya sudah beres," ucap Dirga.


"Ya sudah kalau begitu aku pamit pulang ya, lagian tante juga udah sehat," pamit Caterine.


"Biar aku yang antar kamu pulang," tawar Dirga.


"Ah ga usah, kamu kan baru pulang dari luar kota," ujar Caterine.


"Ya sudah kalau begitu, biar supir yang antar ya," pinta Dirga.


"Ya sudah kalau begitu," jawab Caterine.


"Tante, aku pulang dulu ya," pamit Caterine pada Bu Isabel.


"Iya Caterine, hati-hati dijalan ya! Makasih karena kamu sudah menjaga dan mengurus tante," ujar Bu Isabel.


"Sama-sama tante," jawab Caterine.


Setelah beberapa hari menginap dirumah Dirga, akhirnya hari ini Caterine pulang juga. Beberapa hari berada dirumah orang lain rasanya melelahkan. Meski sebenarnya tidak mau, akan tetapi Caterine harus pura-pura mau dan pura-pura baik dihadapan Bu Isabel. Namun hal itu juga membuat Caterine senang karena ia bisa mengerjai mantan ibu mertuanya yang sangat kejam itu.


"Itu bukan apa-apa, semua ini hanya awalnya saja. Tunggu saja pembalasaku yang selanjutnya," gumam batin Caterine yang penuh dengan amarah. Entah kenapa rasa sakit hati itu masih saja terasa hingga saat ini. Kata-kata dan sikapnya saat itu masih terasa sampai sekarang.


Sementara di tempat lain Angeline sedang disibukan memilih kartu undangan. Ia ingin mengadakan pertunangannya bersama Dirga secara meriah. Untuk itu ia ingin mengundang semua teman-temannya dan semua orang-orang penting kenalan ayahnya.