My Body My Pride

My Body My Pride
11. Bertemu Kembali



Happy Reading... 😊


Uhuk.. uhuk...


Seketika Caterine pun tersedak saat sedang minum. Mendengar ibu mertua dan adik iparnya disebut membuat Caterine teringat akan sikap mereka yang semena-mena pada Caterine.


"Kamu kenapa? Tidak apa-apa?" tanya Dirga yang merasa khawatir melihat Caterine yang tiba-tiba tersedak.


"Tidak mas, aku tidak apa-apa," dusta Caterine.


Padahal Caterine sangat familiar dengan kedua orang itu. Rasanya Caterine ingin segera membalaskan dendamnya juga kepada mereka berdua. Tapi Caterine berusaha untuk tetap bersikap tenang. Caterine berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja dihadapan Dirga. Luka itu bahkan masih terasa hingga saat ini.


Setelah selesai makan, Dirga pun mengantar Caterine pulang.


"Kamu ga mampir dulu mas?" tawar Caterine.


" Tidak terima kasih, lain kali saja," tolak Dirga yang langsung bergegas pulang karena hari sudah larut malam.


Dengan kecepatan yang tinggi Dirga mengendarai mobilnya. Dirga ingin segera tiba dirumah. Satu jam kemudian akhirnya Dirga tiba dirumah.


Ting.. tong..


"Aku pulang," pekik Dirga saat pembantunya membukakan pintu.


"Kamu dari mana saja baru pulang jam segini?" tanya Bu Isabel yang sedang menonton tv diruang tamu.


"Aku habis dinner mih," jawab Dirga.


"Pasti sama Angeline," tebak Bu Isabel.


"Bukan mih, tapi sama Caterine," jawab Dirga.


"Siapa lagi Caterine?" tanya Bu Isabel yang menautkan kedua halisnya.


"Cewe baru aku mih, dia sangat cantik," ucap Dirga.


"Kamu ini ya, gimana dengan Angeline?" tanya Bu Isabel.


"Aku sudah muak dengan dia mih, dia itu selalu semena-mena," ujar Dirga.


"Memangnya dia kenapa?" tanya Bu Isabel.


Dirga pun menceritakan semua tentang sifat Angeline yang sebenarnya. Bu Isabel tidak pernah tahu jika calon menantunya itu ternyata selalu bersikap semena-mena. Bahkan Angeline selalu memerintah Dirga. Mendengar hal itu membuat Bu Isabel merasa ilfil terhadap Angeline. Namun walau bagaimanapun Dirga harus tetap bersikap baik jika ia ingin tetap hidup enak.


"Mamih masih ga nyangka loh kalau Angeline ternyata bersikap seperti itu," ujar Bu Isabel.


"Makanya mih, aku sebenernya sudah muak dengan dia!" pekik Dirga.


"Kamu tidak boleh seperti itu. Walau bagaimanapun ayahnya adalah investor terbesar diperusahaan kita. Jika tidak ada ayahnya mungkin perusahaan kita sudah gulung tikar," ujar Bu Isabel.


"Aku tahu mih, tapi saat ini aku sangat mencintai Caterine," ujar Dirga.


"Siapa dia? Anak siapa? Bagaimana dengan bibit, bebet dan bobotnya?" tanya Bu Isabel.


"Dia sekretaris baruku mih. Dia anak tunggal dan tapi dia pekerja keras. Dan yang paling penting dia sangat cantik mih," ujar Dirga yang sangat antusias menceritakan tentang Caterine.


"Apa jadi dia hanya seorang sekretaris?" tanya Bu Isabel.


"Iya mih, tapi dia sangat cantik," ujar Dirga.


"Dan besok aku akan mengenalkan dia pada mamih," ujar Dirga lagi.


"Ya sudah kalau begitu besok ajak saja kesini, mamih sangat penasaran dengan yang namanya Caterine itu secantik apa sih sampai anak mamih jatuh cinta kaya gini," ujar Bu Isabel.


"Siap mih, besok aku akan ajak dia kesini," ucap Dirga dengan penuh semangat.


"Kalau gitu aku ke atas dulu mih," pamit Dirga yang langsung berlari menuju kamarnya.


"Iya," jawab Bu Isabel yang bergegas menuju kamarnya karena malam sudah larut.


"Caterine!" pekik Dirga.


"Kamu ikut aku ya?" ajak Dirga.


"Tapi kemana pak?" tanya Caterine dengan menautkan kedua halisnya.


"Aku ingin ngenalin kamu sama mamih aku," jawab Dirga.


"Tapi apa harus secepat ini pak?" tanya Caterine lagi.


"Iya, memangnya kenapa? Apa kamu keberatan?" tanya Dirga.


"Ya bukan gitu juga sih," jawab Caterine.


Sebenarnya bagi Caterine ini sangatlah menyenangkan karena ia ingin segera cepat-cepat bertemu dengan mereka dan segera membalaskan dendam kepada mereka. Entah kenapa jika ia mengingat kejadian itu, Caterine ingin segera membalaskan dendammya itu.


"Caterine! Kamu kenapa?" tanya Dirga yang tiba-tiba melihat Caterine terdiam.


"Tidak, tidak aku tidak apa-apa," jelas Caterine.


"Ya udah ayo kita berangkat!" ajak Dirga.


"Iya mas ayo!" Caterine langsung mengekor dibelakang Dirga dan langsung masuk kedalam mobil Dirga.


Mereka berdua pun bergegas menuju rumah Dirga. Sebenarnya ada rasa canggung yang Caterine rasakan karena sudah bertahun-tahun Caterine tidak bertemu dengan mereka. Terakhir bertemu Caterine sedang diperlakukan tidak adil oleh mereka semua. Bukan hanya ibu mertua, bahkan adik ipar dan Dirga pun sama saja. Mungkin karena mereka masih satu keluarga sehingga mereka semua memiliki sifat yang jahat karena turunan mereka.


"Tunggu mas, apa tidak sebaiknya kita membawa buah tangan untuk ibu kamu?" ucap Caterine yang mengusulkan sesuatu.


"Boleh juga tuh," jawab Dirga.


"Kita beli apa ya? Oiya, ibu kamu suka makan apa mas?" tanya Caterine antusias.


"Apa saja mamih suka kok," jawab Dirga.


Caterine pun akhirnya mampir ke sebuah toko kue yang cukup terkenal dikota itu. Caterine bergegas masuk ke dalam toko itu. Disana banyak berjejer kue-kue cantik yang tertata rapi. Mulai dari ukuran terkecil hingga ukuran yang paling besar pun tersedia ditoko itu. Akhirnya Caterine memilih kue yang berukuran sedang dengan rasa coklat, karena rata-rata semua orang pasti akan menyukai rasa coklat.


"Mudah-mudahan mamih kamu suka dengan apa yang aku bawa ya mas?" ucap Caterine.


"Pasti mamih suka dong!" jawab Dirga.


"Kalau misalnya mamih ga suka gimana?" lirih Caterine yang merasa pesimis.


"Tidak mungkin, mamih pasti suka. Apalagi yang bawainnya cantik begini," goda Dirga sambil tersenyum saat menyetir.


"Kamu bisa aja mas!"


Satu jam kemudian akhirnya mereka tiba dirumah Dirga. Untuk sesaat Caterine terdiam karena mengingat masa-masa kelam saat berada dirumah itu. Dari awal kedatangannya sampai ia pergi dari rumah untuk yang terakhir kalinya. Bayangan-bayangan itu seolah muncul kembali.


"Ayo Caterine! Kamu kenapa?" ajak Dirga.


"Aku hanya kagum saja, ternyata rumah kamu besar sekali mas," ujar Caterine yang terpaksa berbohong.


"Silahkan!" ujar Dirga yang membukakan pintu mobil untuk Caterine.


"Terima kasih," ucap Caterine setelah turun dari mobil.


Perlahan tapi pasti mereka pun bergandengan tangan menuju rumah Dirga.


"Mih, mamih.." teriak Dirga saat masuk kedalam rumahnya.


"Iya sayang," jawab Bu Isabel yang baru saja turun dari kamarnya.


Bu Isabel memperhatikan Caterine dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bu Isabel benar-benar tercengang melihat kecantikan Caterine.


"Wah Dirga memang benar, wanita ini sangat cantik," gumam batin Bu Isabel.