My Body My Pride

My Body My Pride
16. Hari Pertunangan Yang Berantakan



Happy Reading... 😊


Kini tiba saatnya bagi Angeline untuk bertunangan dengan Dirga. Berbeda dengan Angeline yang merasa senang, Dirga justru terlihat begitu murung. Dirga sebenarnya tidak ingin melanjutkan pertunangan ini, namun Bu Isabel lah yang telah memaksanya melakukan ini.


"Ibu mohon nak, kamu harus mau ya bertunangan dengan Angeline," pinta Bu Isabel.


"Tapi aku hanya ingin menikah dengan Caterine bu, aku hanya mencintai dia!" pekik Dirga.


"Ibu tahu nak, tapi ini menyangkut masa depanmu. Jika kamu tidak bertunangan dengan Angeline bagaimana dengan perusahaan kita? Bisa-bisa kita gulung tikar, terus bagaimana kehidupan kita ke depannya?" jelas Bu Isabel.


Setelah mendengar kata-kata itu membuat Dirga termenung. Dirga merenungi kata-kata Bu Isabel, yang dikatakan ibunya ada benarnya juga. Jika ia tidak bertunangan dengan Angeline maka kehidupannya akan berubah drastis, karena ayahnya Angelina lah yang membantu perusahaan Dirga tetap berdiri hingga saat ini. Dirga pun berpikir keras dan akhirnya mau tidak mau Dirga harus melangsungkan acara ini.


"Ayolah bro, ini kan cuma tunangan. Bukan nikah!" gumam batin Dirga yang memperingatkan dirinya sendiri.


Beberapa menit setelah perbincangannya dengan sang ibu, akhirnya Dirga keluar dari kamar dengan menggunakan jas berwarna hitam dan celana hitam berbahan kain. Dirga terlihat begitu tampan dan gagah mengenakan jas itu. Semua wanita yang memandangi Dirga pun pasti akan jatuh cinta jika melihatnya. Tidak berapa lama Dirga pun bergegas menuju rumah Angeline bersama sang ibu dan adik tercintanya.


"Kakak ganteng banget sih," puji Lia sesaat sebelum masuk ke dalam mobil.


"Iya dong aku gitu loh!" ujar Dirga yang merasa sangat percaya diri.


"Gimana perasaannya mau tunangan kak?" tanya Lia.


"Entahlah, sebenarnya kakak ga mau. Tapi ibu maksa kakak!" ujar Dirga dengan penuh penenkanan.


"Tapi ini semua juga untuk kebaikan kita kan?" timpal Bu Isabel yang langsung membela dirinya sendiri.


"Iya, iya deh!" ujar Dirga lagi yang merasa tidak enak.


"kalian pergi aja duluan, aku mau pake mobilku sendiri," ujar Dirga yang bergegas menuju mobil putih miliknya.


"Loh kenapa ga bareng aja sih nak?" tanya Bu Isabel.


"Aku ingin pergi sendiri," jawab Dirga yang langsung mengeluarkan mobilnya dan bergegas pergi.


Sementara Bu Isabel hanya bisa menggeleng menyaksikan tingkah anaknya.


Dirga pun mengendarai kendaraannya dengan kecepatan penuh. Setelah dibujuk cukup lama oleh ibunya, akhirnya Dirga bergegas juga menuju rumah Angeline. Sementara ibunya dan Lia pergi menggunakan mobil lain. Dalam perjalanan Dirga merasa tidak ingin melanjutkan perjalanannya. Dirga memutar arah, ia mengurungkan niatnya untuk pergi ke rumah Angeline.


"Tidak, tidak! Aku tidak bisa bertunangan dengan Angeline. Aku tidak mau menikah dengan dia! Aku tidak mencintainya!" gumam Dirga dan langsung memutar kemudinya.


Dengan kecepatan penuh Dirga mengendarai kendaraannya. Dirga berfikir akan kemana ia pergi, namun setelah beberapa saat Dirga pun mulai menuju tempat yang ingin ia tuju. Kemana lagi jika bukan menemui Caterine. Dengan penuh semangat Dirga langsung menuju apartemen Caterine.


Ting... tong...


"Siapa ya? Tumben ada tamu," gumam Caterine setelah selesai makan malam.


"Dirga?" tanya Caterine tidak percaya.


"Boleh kan aku masuk?" ujar Dirga sesaat sebelum masuk.


"Mmh, boleh," jawab Caterine yang terlihat terkejut dengan kedatangan Dirga yang tiba-tiba.


"Aku buatkan minum dulu, kamu mau minum apa?" tanya Caterine.


"Ya sudah kalau begitu tunggu sebentar," pamit Caterine kedalam dapur.


Dirga duduk disofa tanpa rasa bersalah. Dia benar-benar tidak datang dalam acara pertunangannya sendiri. Tapi Dirga tidak memberitahukan apa-apa pada Caterine. Ia sengaja tidak memberitahukan yang sebenarnya pada Caterine.


Sementara ditempat lain, semua tamu undangan sudah hadir. Begitupun dengan Bu Isabel dan Lia yang sudah tiba sejak tadi.


"Lia, kemana kakakmu belum datang juga?" tanya Bu Isabel yang mulai khawatir.


"Ga tau mih, aku sudah telpon kakak dari tadi tapi ponselnya masih tidak aktif," jawab Lia yang ikut merasa bingung karena acara akan segera dimulai tapi kakaknya masih belum datang juga.


Ditempat itu begitu ramai pengunjung. Makanan yang tersedia pun begitu banyak dan beraneka ragam. Hampir semua orang-orang penting menghadiri acara tersebut.


"Dimana Dirga ya? Kok masih belum datang juga," gumam batin Angeline yang mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Dirga. Namun sejauh mata memandang tidak ada seseorang yang dicarinya. Setelah beberapa lama, akhirnya Angeline menghampiri Bu Isabel dan adiknya.


"Tante, mana Dirga?" tanya Angeline to the point.


"Kamu cantik sekali," puji Bu Isabel.


"Mmh, dia masih belum datang juga ya?" tanya balik Bu Isabel yang pura-pura merasa tenang.


"Maksud tante apa?" tanya Angeline yang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Bu Isabel.


"Begini loh nak, sebenarnya Dirga sudah pergi sejak tadi. Tapi yang kami heran dia masih belum kelihatan juga ya?" jawab Bu Isabel.


"Apa? Terus sekarang Dirga dimana tante?" geram Angeline.


"Justru itu yang tante tidak mengerti, kenapa dia masih belum kelihatan juga. Seharusnya dua sudah berada disini lebih dulu," lirih Bu Isabel.


"Mungkin kak Dirga ga mau tunangan sama kak Angeline mih. Makanya kakak tidak jadi kemari," ujar Lia yang ceplas-ceplos.


"Apa? Jadi seperti itu? Kenapa tidak sejak awal saja dia bilang seperti itu," tanya Angeline yang merasa terkejut dengan apa yang di dengarnya.


"Hush kamu ini, kalau ngomong dijaga!" tegur Bu Isabel kepada anaknya karena merasa tidak enak dengan Angeline.


"Iya mih aku minta maaf," ujar Lia.


"Maaf nak, kamu yang sabar ya mungkin sebentar lagi Dirga juga datang," ujar Bu Isabel yang mencoba menenangkan.


"Ya sudah kalau begitu, aku permisi ke ayah dulu," lirih Angeline yang bergegas pergi menghampiri ayahnya.


"Tapi mungkin sebentar lagi Dirga datang, aku akan menunggunya," gumam Angeline yang mencoba menenangkan dirinya sediri.


Lima menit, sepuluh menit sudah berlalu. Bahkan kini sudah hampir satu jam Angeline masih menunggu kedatangan Dirga. Tapi kini Angeline mulai kesal.


Angeline pun segera menjelaskan apa yang terjadi pada ayahnya. Mendengar penjelasan Angeline membuat Pak Jhon tidak percaya. Setahu Pak Jhon Dirga adalah anak yang baik dan penurut kenapa bisa-bisanya ia melakukan hal ini. Pak Jhon sangat marah dan kecewa terhadap Dirga.


"Sialan! Awas saja kau berani-beraninya mempermainkan hidup anakku!" geram Pak Jhon.


Dengan sangat terpaksa Pak Jhon pun membubarkan acara yang sudah dibuatnya. Meski merasa malu karena sudah banyak tamu yang datang, akan tetapi Pak Jhon tidak bisa berbuat apa-apa. Pak Jhon hanya merasa kesal dan marah atas kejadian semua ini.