
Happy Reading... 😊
Setelah pembicaraannya beberapa hari lalu dengan Dirga membuat Angeline semakin penasaran. Ia ingin tahu wanita mana yang bisa membuat kekasihnya berpaling. Angeline sangat tahu jika Dirga sangat mencintainya dan tidak ingin kehilangan dirinya.
"Siapa wanita itu? Aku harus mencari tahu tentang wanita itu!" pekik Angeline yang mengepalkan tangannya.
Sejak saat itu Angeline berencana untuk mengikuti setiap gerak-gerik Dirga. Angeline mengikuti Dirga kemana pun ia pergi. Hal itu ia lakukan hanya demi untuk mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya.
Wanita mana yang bisa membuat Dirga berpaling darinya. Pengintaian pun dilakukan hari ini juga. Angeline menunggu Dirga dari kejauhan. Didalam mobil Angeline memperhatikan Dirga. Namun ia tidak menyadari itu.
Sepulang dari kantor tidak ada hal-hal yang mencurigakan. Dirga tidak menemui siapapun bahkan ia tidak pergi kemanapun juga. Dirga menyadari dan memahami sifat Angeline, ia akan mencari tahu tentang apapun yang terjadi kepadanya.
Untuk itu beberapa hari terkahir Dirga sengaja tidak menemui Caterine. Atau berbicara hal-hal penting dengan Caterine. Di kantor Dirga hanya berbicara seperlunya saja. Yang ia bicarakan hanya seputar pekerjaan saja.
"Aku sudah tahu sifat kamu Angeline. Kamu pasti akan mencari tahu tentang aku dan kekasihku yang sebenarnya," gumam batin Dirga.
Merasa lelah karena pengintaiannya tidak membuahkan hasil, Angeline pun mulai menyerah. Ia tidak mau lagi mencari tahu tentang siapa kekasih Dirga yang sebenarnya. Biarlah waktu yang akan menjawab semua pertanyaannya.
"Mungkin aku akan mencari laki-laki lain saja. Ya sepertinya aku harus membuka hatiku untuk orang lain," gumam batin Angeline.
Sejak saat itu Angeline pun berusaha untuk melupakan Dirga. Meski sangat berat tapi Angeline akan berusaha sekuat tenaga agar ia bisa move on dari Dirga. Angeline ingin laki-laki yang bisa memahami dan membahagiakan dirinya, serta menyayangi kedua orang tuanya.
Ditempat lain Caterine tampak sedang santai. Sambil duduk dan meminum kopi, Caterine tiba-tiba memikirkan sesuatu. Ia merasa harus sudah berbuat sesuatu pada Dirga. Caterine sudah benar-benar ingin membalas rasa sakit hatinya.
"Sebenarnya aku sudah lelah menyamar seperti ini. Aku tidak mau lagi berpura-pura sebagai orang lain. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri," gumam batin Caterine.
Akan tetapi ia masih belum mendapatkan tujuannya. Caterine harus melakukan sesuatu agar tujuannya tercapai.
"Apa lagi yang harus aku lakukan," ujar Catherine.
"Aku harus bisa menikah dengannya dan pergi meninggalkannya agar ia bisa merasakan apa yang aku rasakan saat itu," ujar Caterine.
Caterine ingin segera membalaskan dendamnya. Dia ingin Dirga bisa merasakan apa yang Caterine rasakan. Tapi hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Tiba-tiba ditengah lamunannya terdengar suara ponsel yang berdering. Saat ia lihat siapa yang memanggilnya, ternyata Dirga mantan suaminya. Sebenarnya Caterine sangat malas mengangkat telpon darinya, namun ia harus mengangkatnya agar Dirga tidak curiga.
"Iya halo," jawab Caterine yang langsung menjawab telponnya dengan malas.
"Hai Caterine, kamu sedang apa?" tanya Dirga dari sebrang sana.
"Aku sedang duduk saja, sambil menikmati secangkir kopi. Kamu sendiri?" tanya Caterine yang sebenarnya malas.
"Aku sedang memikirkan kamu," jawab Dirga sambil terkekeh.
"Oiya, apa kamu belum mengantuk Caterine?" tanya Dirga.
"Sebenarnya aku sudah mengantuk," jawab Caterine yang ingin segera mengakhiri pembicaraannya dengan Dirga.
"Ya sudah kalau begitu kamu istirahat sana," titah Dirga.
"By Caterine," jawab Dirga dengan tersenyum simpul.
Mengakhiri panggilan itu membuat Caterine merasa lega. Sebenarnya ia sudah malas berbicara dengan Dirga. Jangankan berbicra, melihat orangnya saja Caterine tidak mau. Caterine benar-benar merasa sangat sakit hati atas perbuatan Dirga dimasa lalu.
Meski kejadian itu sudah cukup lama, tapi Caterine tidak akan pernah bisa melupakan kejadian itu. Wanita mana yang tidak akan kecewa jika suaminya sendiri mencaci fisik istrinya sendiri.
Wanita mana yang tidak akan sakit hati jika, suaminya sendiri membawa wanita lain ke rumahnya sendiri. Selain itu, Dirga tega membunuh istrinya sendiri. Hal itulah yang tidak akan mungkin Caterine lupakan seumur hidupnya.
Sementara Dirga merasa cukup senang karena akhirnya ia bisa mendengar suara Caterine. Beberapa hari tidak berbicara dengan Caterine membuat Dirga merasa rindu. Entah mengapa rasanya ada sesuatu yang hilang saat tidak bersama Caterine.
Dirga masih senyum-senyum sendiri meski panggilan mereka sudah berakhir.
"Dirga.." pekik Bu Isabel.
"Itu anak kemana ya, apa dia sudah tidur?" gumam batin Bu Isabel bermonolog.
Merasa penasaran, Bu Isabel pun akhirnya melihat Dirga ke kamarnya. Namun saat ia lihat ternyata Dirga sedang senyum-senyum sendiri.
"Dirga kamu sedang apa? Dari tadi mamih perhatikan senyum-senyum sendiri?" tanya Bu Isabel yang menautkan kedua halisnya.
"Memangnya aku kenapa mih? Aku tidak apa-apa," jawab Dirga.
"Apa kamu sedang jatuh cinta?" tanya Bu Isabel.
"Apaan sih mamih, aku gak kenapa-napa,"jawab Dirga yang merasa malu untuk mengakui jika ia sedang jatuh cinta kepada ibuny sendiri,
"Alah, mamih juga pernah muda. Makanya mamih tahu," ujar Bu Isabel.
Dari situ Dirga mulai menceritakan tentang perasaannya kepada Bu Isabel. Dirga merasa telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Dirga benar-benar mencintai Caterine.
"Oh sekarang mamih tahu, jadi karena ini kamu tidak datang ke acara pernikahanmu sendiri," ujar Bu Isabel yang bisa menebak tentang anaknya.
"Iya mih, lagipula Dirga tidak mau bertunangan dengan Angeline. Apalagi jika aku sampai menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Aku tidak mau mih," lirih Dirga.
"Iya sayang mamih tahu, mamih mengerti. Tapi bagaimana dengan nasib perusahaan kita kedepannya, bagaimana jika orang tua Angeline tidak mau bekerja sama dengan kita lagi. Dari mana kita akan mendapatkan modal besar," jelas Bu Isabel yang malah mengkhawatirkan masa depannya.
"Mamih jangan khawatir, aku sudah atur semuanya. Aku sudah menyimpan sebagian keuntungan perusahaan kita ke dalam buku rekeningku mih. Jadi walaupun ayahnya Angeline mengambil perusahaan kita, kita masih bisa mendirikan perusahaan yang baru mih," tukas Dirga yang memberikan penjelasan panjang lebar.
"Beneran ga? Wah, mamih ga nyangka kalau anak mamih ini sangat jenius," puji Bu Isabel yang merasa bangga dengan putranya sendiri.
"Iya dong mih,anak siapa dulu. Anak mamih,"ujar Dirga yang langsung memeluk ibunya.
"Iya, iya memang anak mamih ini bukan hanya tampan tapi jenius," puji Bu Isabel lagi yang langsung membalas pelukan anaknya.
Kini Bu Isabel merasa sudah lega setelah mendengarkan pernyataan anaknya. Tidak ada lagi ketakutan yang ia rasakan seperti sebelumnya.