
"Aku ingin melamarmu dan aku ingin segera menikah denganmu," tukas Dirga sambil menyematkan sebuah cincin pada jari manis Caterine.
"Apa ini tidak terlalu cepat? Kita belum terlalu lama saling mengenal," jawab Caterine yang pura-pura menolak Dirga secara halus.
"Tapi aku sangat mencintaimu, aku sudah merasa cocok denganmu. Jadi bagaimana apa kamu menerima lamaranku?" tanya Dirga lagi.
Tanpa berkata apa-apa Caterine pun meganggukan kepalanya.
"Jadi itu artinya kamu menerima lamaranku?" tanya Dirga memastikan.
"Iya tentu," jawab Caterine sambil tersenyum.
"Tidak lama lagi Dirga, tidak lama lagi aku akan benar-benar membalaskan dendamku. Tunggu saja tanggal mainnya," gumam batin Caterine sambil tersenyum simpul.
"Yes akhirnya aku akan menikah dengan Caterine," sorak Dirga yang merasa sangat senang.
"Nikmati saja masa-masa indahmu selagi masih ada kesempatan," gumam batin Caterine.
Beberapa minggu setelah lamaran itu, Dirga sudah menyiapkan segalanya. Dirga sengaja menyiapkan segalanya agar ia bisa segera menikah dengan Caterine.
"Apa kamu sudah yakin akan menikah secepat ini dengan Caterine nak?" tanya Bu Isabel yang terkadang tidak mengerti dengan pemikiran anaknya yang suka mendadak.
"Iya bu, aku sangat mencintai Caterine. Aku tidak ingin dia sampai menjadi milik orang lain," ujar Dirga yang memang sangat yakin dengan pilihannya. Dirga memang sangat tergila-gila pada Caterine. Saat pertama kali dia bertemu dengan Caterine dia tidak bisa melupakannya hingga saat ini.
"Ya sudah jika memang itu sudah menjadi keputusanmu, ibu tidak bisa berbuat apa-apa. Ibu harap ini akan menjadi pernikahanmu yang terakhir nak," tukas Bu Isabel yang menginginkan hal yang terbaik untuk anaknya.
"Apa kamu sudah melupakan Kia? Kamu tidak mencintainya lagi Dirga?" celetuk Bu Isabel.
"Untuk apa ibu membicarakan si gendut itu lagi! Lagipula dia sudah mati!" tukas Dirga yang merasa kesal karena tiba-tiba saja ibunya mengingatkannya pada mantan istrinya. Kia yang saat itu selalu Dirga sakiti hingga akhirnya ia kecelakaan dan meninggal.
"Tapi bagaimana kalau tiba-tiba saja dia datang dan balas dendam pada kita ga," ujar Bu Isabel lagi.
"Ibu ini pasti kebanyakan nonton sinetron makanya berfikiran seperti itu," timpal Dirga.
"Ya sudah kita tidak usah membicarakan dia lagi. Aku harus berangkat karena sudah siang," pamit Dirga yang segera bergegas ke kantornya.
"Baiklah nak, hati-hati," jawab Bu Isabel.
Dirga pun segera keluar rumah menuju mobil berwarna putih kesayangannya. Dengan kecepatan tinggi Dirga segera melajukan kendaraannya. Didalam mobil ia senyum-senyum sendiri mendengarkan lagu cinta yang menggambarkan perasaannya.
Dirga tiba-tiba teringat pada Caterine yang menjadi pujaan hatinya saat ini. Dirga juga teringat masa-masa indah bersama Caterine. Akan tetapi entah mengapa tiba-tiba saja ia teringat pada Kia.
"Astaga! Kenapa tiba-tiba aku teringat pada wanita gendut itu!" umpat Dirga yang merasa sangat kesal.
"Semua ini pasti gara-gara ibu tadi membicarakan dia, makanya aku jadi ingat sama dia," gumamnya lagi.
"Aku akan menjemput Caterine terlebih dahulu," ujar Dirga yang segera membelokan mobilnya menuju rumah Caterine. Dirga sengaja tidak mengabari Caterine terlebih dahulu untuk membuat Caterine terkejut.
"Ah pasti Caterine sudah berangkat sejak tadi. Bodohnya aku tidak memberitahukan dulu jika aku akan menjemputnya," umpat Dirga dalam hatinya. Dirga pun segera bergegas melanjutkan perjalanan nya menuju kantor.
Sementara ditempat lain Caterine sedang menikmati secangkir kopi diteras rumah dr. Sarah. Caterine sengaja berangkat lebih awal untuk menemui temannya dr. Sarah. Seseorang yang selama ini sangat berjasa dalam hidupnya.
Entah apa yang akan terjadi jika dr. Sarah tidak menemukannya saat itu. Mungkin Caterine tidak akan menjadi seperti ini.
"Jadi gimana perkembangan kamu sama Dirga?" ujar dr. Sarah membuka pembicaraan.
"Hanya sebentar lagi dok. Sebentar lagi dia akan mengajakku menikah, dan saat itu pula aku akan membongkar semua kejahatannya," jawab Caterine yang berbicara dengan sangat serius. Sekali-kali ia menyeruput kopinya dan membuang nafasnya dengan kasar.
Rasanya sudah tidak sabar bagi Caterine untuk membalaskan demamnya. Rasa sakit yang selama ini ia tahan karena perbuatan suami dan juga juga keluarganya. Hal itu tidak akan pernah terlupakan sampai kapanpun.
"Apapun itu aku akan selalu mendukungmu Caterine. Apa yang bisa aku bantu untuk menjalankan rencanamu nanti?" tanya dr. Sarah.
"Aku ingin saat aku membongkar rahasianya, polisi sudah ada di tempat kejadian. Aku ingin dia dihukum seberat-beratnya," jawab Caterine yang sudah tidak sabar ingin menjalankan misinya.
"Ok! Hal itu bukanlah hal yang sulit," timpal dr. Sarah.
"Ya sudah kalau begitu aku pamit ya. Sudah siang ternyata, aku bisa terlambat masuk kantor," pamit Caterine.
"Aku akan mengantarmu dulu sebelum pergi ke rumah sakit," ujar dr. Sarah.
"Tidak usah dok, itu sangat merepotkan. Lagi pula arah kita berbeda," timpal Caterine lagi yang segera menghabiskan sisa kopinya.
"Itu tidak akan merepotkan,aku tidak keberatan sama sekali," tukas dr. Sarah.
"Tidak perlu dok. Ya sudah aku pergi ya," pamit Caterine.
"Kamu ini memang kebiasaan, tidak mau merepotkan orang lain," ujar dr. Sarah sambil tersenyum.
"Aku bangga padamu Caterine. Kamu wanita terhebat dan terkuat yang pernah aku kenal. Aku akan mengenalkanmu pada teman baikku," ujar dr. Sarah setelah kepergian Caterine.
Tidak lama dr. Sarah pun segera bergegas pergi menuju rumah sakit. Rumah sakit yang selama ini menjadi rumah keduanya. Sudah beberapa tahun menikah tapi dr. Sarah masih belum dikaruniai anak. Untuk itu dia lebih suka berada dirumah sakit dibandingkan di rumahnya sendiri.
Meski suaminya tidak pernah mengungkit atau memaksa agar dr. Sarah hamil, tapi ibunya lah yang selalu menyindir dr. Sarah. Kata-kata mertuanya itu yang selalu membuat dr. Sarah tidak betah berada dirumah.
"Kemana Caterine sudah pulang?" tanya dr. Axel yang merupakan suami dari dr. Sarah. Seorang dokter spesialis anak yang sangat tampan juga berhati baik. Suaminya tidak mempermasalahkan akan adanya buah hati. Justru dia lah yang selalu memberikan support bagi dr. Sarah bahwa nanti akan tiba saatnya kita diberikan keturunan di waktu yang tepat.
Kata-kata itu yang selalu dr. Sarah ingat dari suaminya. Sebelum mengenalkan Caterine pada temannya, dr. Sarah pun meminta pendapat dari suaminya terlebih dahulu. Axel pun setuju dengan rencana dr. Sarah.
"Caterine orang yang baik, dia juga harus mendapatkan pasangan yang baik," ujar Pak Axel.
"Iya sayang, sepertinya dia akan cocok dengan temanmu itu. Dia juga sudah lama menyendiri," tukas dr. Sarah.