My Body My Pride

My Body My Pride
12. Seperti The Javu



Happy Reading... 😊


Bu Isabel memperhatikan Caterine dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bu Isabel benar-benar tercengang melihat kecantikan Caterine yang seperti model, berkulit putih, berhidung mancung serta memiliki bentuk tubuh yang sangat ideal.


"Wah Dirga memang benar, wanita ini sangat cantik," gumam batin Bu Isabel.


"Hai jadi ini yang namanya Caterine?" sapa Bu Isabel ramah.


"Iya tante salam kenal," ujar Caterine yang langsung menyalami Bu Isabel.


"Salam kenal juga cantik," jawab Bu Isabel yang tersenyum sumringah.


"Kok ibu baik banget ya, apa karena gara-gara wajahku yang cantik," gumam batin Caterine yang benar-benar terkejut melihat sikap mantan mertuanya yang sangat berbeda saat ia bertemu dengannya sebagai Kia.


"Oiya, mana Lia bu? Kok ga keliatan?" tanya Dirga yang biasanya mendengar suara adiknya yang biasanya terdengar cerewet.


"Dia sedang ada kuliah, sebentar lagi juga pulang," jawab Bu Isabel.


"Eh ada tamu," timpal seseorang dari arah belakang.


"Itu dia," tunjuk Bu Isabel.


"Kenalin ini adiku," ujar Dirga.


"Hai kak aku Lia," sapa Lia yang langsung menyalami Caterine.


"Wangi parfumnya kaya kenal, tapi parfum siapa ya?" gumam batin Lia sesaat sesudah berkenalan dengan Caterine.


"Hai aku Caterine," jawab Caterine juga yang langsung membalas menyalami Lia.


"Lia juga begitu berbeda, dia ramah banget. Apa mereka hanya pura-pura saja," gumam batin Caterine.


Sebagai seseorang yang pernah tinggal satu atap bersama mereka tentu Caterine merasa aneh. Dulu saat pertama kali bertemu Caterine selalu diperlakukan semena-mena, bahkan Caterine selalu dicaci dan dimaki oleh mereka berdua. Tapi kali ini, mereka tidak berkata apa-apa. Apa hanya gara-gara fisik Caterine yang tidak sempurna dan terlalu gemuk.


Kini disaat tubuh Caterine yang sudah sempurna, mereka justru bersikap dengan ramah serta sangat baik hati. Perbedaan itu terlihat begitu jelas. Wanita dihargai dan dihormati karena kecantikan dan bentuk tubuhnya yang sempurna. Saat Caterine bertubuh besar dan gemuk, Caterine malah dipandang sebelah mata.


"Kenapa kak?" tanya Lia yang melihat Caterine terdiam.


"Tidak, tidak apa-apa," jawab Caterine canggung.


Setelah berkenalan mereka makan bersama. Ada rasa senang yang Caterine rasakan karena tidak lama lagi dia akan segera membalaskan dendamnya. Rasa sakit hati yang selalu ia terima, kini mereka juga harus merasakan sakit hati itu.


Betapa ramah dan hangatnya keluarga Dirga. Perlakuan mereka sangat berbanding terbalik dengan apa yang pernah mereka tunjukan pada Kia. Kini mereka terasa begitu hangat dan ramah. Tidak hanya Dirga, Bu Isabel dan Lia pun kompak melakukan hal itu. Entah karena kecantikan wajah Caterine sehingga membuat mereka bersikap seperti itu. Dulu saat pertama bertemu Kia, mereka tidak pernah tersenyum sedikitpun. Jangankan tersenyum, menoleh saja tidak.


Kia benar-benar tidak dianggap berada ditempat itu. Meski ingin melupakan, tapi Caterine tidak pernah bisa melupakan kejadian waktu itu. Ingatannya selalu kembali pada masa-masa itu.


"Silahkan dimakan dulu nak," tawar Bu Isabel.


"Iya tante," jawab Caterine sungkan.


"Biar tante yang ambilkan ya!" tawar Bu Isabel lagi.


"Ti, tidak usah tante. Biar aku sendiri saja," jawab Caterine.


"Sudah tidak apa-apa, kan calon mertua" timpal Dirga yang terkekeh setelah mengatakan itu.


"Kamu ini mas," ujar Caterine yang merasa malu.


"Sekarang aja kaya gini, nanti pas udah nikah ga tau gimana," gumam batin Caterine yang menggerutu kesal.


Mereka pun mulai memakan makanan mereka. Betapa hangat suasana dimeja makan saat itu. Kehadiran Caterine membuat keluarga Dirga semakin ramai. Padahal Angeline tidak pernah diperlakukan seperti ini.


"I, iya," jawab Caterine.


Semenjak sedot lemak waktu itu membuat nafsu makan Caterine menjadi berkurang. Kini Caterine hanya makan secukupnya saja, bahkan tidak sampai satu piring. Untuk makan nasi Caterine hanya makan satu kali sehari. Maka dari itu kini Caterine memiliki tubuh yang begitu ideal.


"Kak, kakak cantik banget sih kaya model,rahasianya apa kak?" ujar Lia yang penasaran melihat kecantikan Caterine.


Sebagai seorang wanita, Lia saja memuji akan kecantikan Caterine. Apalagi laki-laki yang melihat wajah Caterine.


"Iya bener, kamu cantik sekali nak," timpal Bu Isabel saat mengunyah makanannya.


"Hehe terima kasih tante, Lia. Aku jadi malu karena sejak tadi kalian selalu memujiku," ujar Caterine yang merasa malu.


"Tapi kamu memang cantik," timpal Dirga yang malah memandangi wajah Caterine.


Caterine pun hanya menggeleng. Setelah semua orang selesai makan, Caterine pun berniat membereskan piring kotor bekas mereka makan.


"Kamu mau apa nak?" tanya Bu Isabel.


"Aku mau mencuci piring tante," jawab Caterine.


"Tidak usah repot-repot segala, kan ada pembantu," ujar Bu Isabel.


Seketika Caterine terduduk kembali.


"Perasaan kaya si Kia, setiap beres makan pasti langsung dia beresin," gumam batin Bu Isabel.


Saat bersalama tadi Bu Isabel juga merasa tidak asing dengan parfum yang ia cium saat berdekatan dengan Caterine. Bu Isabel seperti pernah mencium wangi parfum itu, tapi entah milik siapa.


"Trus tadi minyak wanginya juga kaya aku kenal, tapi wangi siapa ya?" gumam Bu Isabel yang bertanya-tanya dalam hatinya.


"Kenapa bu?" tanya Dirga yang melihat ibunya melamun.


"Mmh, tidak. Tidak apa-apa," jawab Bu Isabel.


Selepas makan, mereka berbincang diruang tamu. Dirga merasa senang karena ibunya dan Lia sudah bisa menerima Caterine walaupun mereka baru pertama kali bertemu.


"Sepertinya sudah malam, aku harus pulang," ujar Caterine sesaat setelah melihat jam ditangannya menunjukan pukul 8 malam.


"Kamu menginap saja disini," tawar Bu Isabel.


"Tidak tante, terima kasih. Saya mau pulang saja," jawab Caterine.


"Ya sudah biar aku antar pulang," timpal Dirga yang langsung berdiri mengambil kunci mobil.


"Kalau begitu saya pamit dulu tante, Lia," pamit Caterine yang sebelumnya bersalaman pada Bu Isabel.


"Iya kak, hati-hati yah!" ujar Lia yang langsung melambaikan tangannya.


"Iya nak sama-sama, hati-hati dijalan ya!" seru Bu Isabel.


Dirga dan Caterine pun bergegas pergi meninggalkan rumah.


Setelah Caterine pulang. Bu Isabel dan Lia pun berbincang membicarakan Caterine. Mereka membanding-bandingkan Caterine dengan Angeline. Secara fisik Caterine memang lebih cantik jika dibandingkan dengan Angeline. Dan mereka lebih menyukai Caterine daripada Angeline, sebab Caterine lebih baik dan lebih kaya dibandingkan Angeline.


"Aku lebih suka kak Dirga sama Caterine deh mih daripada sama Angeline," ujar Lia yang tiba-tiba mengutarakan pendapatnya.


"Mamih juga ngerasa kaya gitu sih, maamih lebih srek sama Caterine daripada Angeline. Dia itu udah kaya nenek sihir," ujar Bu Isabel.