
Beberapa saat kemudian akhirnya pesanan Caterine datang.
"Ini silahkan pesanannya bu," ujar waitress itu sambil menghidangkan makanan di atas meja.
"Ya terima kasih," tukas Caterine yang segera menyantap makanannya.
Namun tidak berapa lama terdengar suara seseorang yang memanggilnya.
"Caterine," teriak seseorang itu.
Mendengar ada yang memanggil namanya Caterine pun spontan berbalik melihat siapa yang memanggilnya.
"Devan?" gumam batin Caterine.
"Hai Caterine! Kamu sendirian disini? Boleh aku gabung disini?" tanya Devan yang sebelum nya meminta izin terlebih dulu sebelum ia duduk.
"Tentu Devan, silahkan," jawab Caterine dengan tersenyum simpul.
Akhirnya mereka duduk di satu meja yang sama. Entah apa yang dirasakan Devan, setiap kali ia bertemu dengan Caterine dadanya selalu berdebar tak karuan. Mungkinkah jika Devan telah jatuh cinta pada pandangan yang pertama.
Sedangkan Caterine yang selama ini merasa kesepian merasa senang saat bisa mengenal Devan yang baik hati.
"Caterine, boleh aku mengatakan sesuatu," ujar Devan sebelum ia mengatakan apa yang ingin dikatakannya.
"Ya Devan tentu, katakan saja," tukas Caterine.
"Entah mengapa aku seperti sudah lama mengenalmu Catetine ujar Dirga yang sesekali memandang wajah Caterine.
"Apa? Kenapa bisa seperti itu," timpal Caterine yang merasa tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Devan.
"Entahlah Caterine, sejak pertama kali aku melihatmu, aku langsung merasa seperti itu," tukas Devan.
Caterine berfikir sejenak, sebenarnya ia juga merasa seperti itu. Caterine merasa jika ia pernah bertemu dengan Devan, tapi entah dimana. Yang jelas saat ini Caterine merasakan hal yang sama dengan Devan. Hanya saja ia tidak memberitahukan yang sebenarnya.
"Ti, tidak. Aku tidak apa-apa," jawab Caterine gugup.
Tak berapa lama mereka pun menghabiskan makanan mereka berdua.
"Ayo kita pulang," ajak Devan.
Caterine hanya mengangguk mendengar ajakan Devan. Mereka segera pergi meninggalkan tempat itu. Sesampainya di tempat parkir, Caterine tidak mengikuti Devan.
"Loh kenapa diam saja Caterine, biar ku antar pulang," ujar Devan yang menautkan kedua halisnya.
"Tidak perlu Van, aku ingin pulang sendiri saja," tukas Caterine yang merasa tidak enak karena Devan selalu mengantarnya pulang.
"Ya sudah kalau begitu, aku pulang duluan ya!" pamit Devan..
"Ya, hati-hati di jalan," teriak Caterine sambil melambaikan tangannya.
Didalam mobil, Devan pun melambaikan tangan. Sebenarnya ia tidak tega saat harus meninggalkan Caterine. Namun ia juga tidak bisa memaksa Caterine untuk pulang bersamanya.
Sementara Caterine berjalan kaki menuju jalan besar, sambil menunggu taksi yang lewat Caterine duduk di sebuah bangku panjang yang ada dipinggir jalan. Pikiran Caterine menerawang jauh, ia kembali mengingat seperti pernah melihat Devan tapi entah dimana.
Wajahnya serasa familiar. Lalu aroma minyak wangi Devan sepertinya Caterine tahu.
"Siapa sebenarnya Devan? Apa aku pernah mengenal dia sebelumnya?" gumam batin Caterine.
Tak berapa lama, lewatlah sebuah taksi yang ia tunggu sejak tadi. Caterine spontan melambaikan tangannya dan otomatis mobil itu berhenti dihadapannya.
"Ke jalan mawar pak," ujar Caterine sesaat setelah masuk ke dalam mobil.
"Baik bu," jawab supir seraya melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Di dalam mobil Caterine melihat-lihat pemandangan dari balik jendela. Caterine yang melihat gedung-gedung pencakar langit yang berjejer rapi di sepanjang jalan. Pikiran nya kembali mengingat tentang sosok Devan.