My Bias Is My First Husband

My Bias Is My First Husband
#9 Jungkook bikin kesel



Jestine kembali ke ruangannya, dengan perasaan aneh, belum pernah dia merasakan hal seperti ini sebelumnya, kali ini sangat berbeda. Dan sulit untuk dijelaskan.


Jestine duduk dikursi kebanggaan nya itu, dan kembali lagi kejadian barusan seakan diputar ulang terus menerus tanpa jeda dalam pikirannya.


Dia memijat pelipisnya perlahan sambil memejamkan mata, dan bibir tipis itu melukis senyum tanpa ia sadari..


"Apa kamu sakit Jest?" Pak Dino baru memasuki ruangan melihat Jestine memijat kepalanya


"Tidak"


"Pak Dino, tolong tinjau pembangunan proyek di Bali, aku tak bisa ikut serta" Jestine mendudukkan dirinya memandang serius kepada pak Dino


"Hubungi aku jika terjadi apa-apa"


"Baik"


***


Sore hari, Jestine bersiap pulang, merapikan berkas dan dokumen di mejanya. Dan tak sengaja dia menemukan sebuah buku catatan kecil berwarna biru teduh..


"Ahh ini buku catatan yang Luvi lemparkan kepada ku tempo hari"


"Aku belum sempat membacanya" Ide usil Jestine muncul


Jestine membuka lembar cover ke halaman pertama dan terpampang foto Luvi bersama seorang pria, sudah berumur dan terlihat renta.


Foto itu dilatari background ruang rawat di rumah sakit, sepertinya itu adalah ayahnya Luvi yang sedang sakit, karena tampak duduk di ranjang dan mengenakan infus di tangan kananya.


Mata Jestine beralih ke tulisan dibawah foto tersebut.


"My father is my superhero in my life"


"RIP AYAH, 27 Desember 2020"


"Ayah, dahulu kau selalu meyakinkan dan menguatkan aku bahwa aku akan baik-baik saja, saat aku pergi jauh di tempat ini. Tapi sekarang kau yang pergi jauh, sangat jauh dan takkan pernah bisa kembali,, selamanya"


Seketika Jestine merasa sesak di dadanya membaca kalimat tersebut, Jestine bisa merasakan betapa sayangnya Luvi kepada ayahnya,


betapa rindunya dia ketika tinggal jauh dari orangtuanya, ayahnya pergi jauh untuk selamanya, bukan kehendak ayahnya.. bukan pula kehendak Luvi.. tapi sudah takdir, sudah waktunya.


Airmata Jestine jatuh, dia merasakan semua yang Luvi rasakan. Sama sepertinya yang dirasakan Jestine ditinggal papanya tiba-tiba, kecelakaan, membuat dia tak bertemu dengan papanya untuk selamanya. Sungguh memilukan.....


Ternyata dia dan Luvi sama-sama tidak memiliki ayah lagi, suatu kesedihan yang sama2 mereka rasakan.


Jestine mengusap airmatanya, kemudian lanjut membuka halaman berikutnya.


Disana terdapat beberapa quotes penyemangat yang di gambar dan di tulis indah oleh Luvi, lengkap dengan hiasan-hiasan stiker menambah kesan indah...


Lembar berikutnya...


Tampaklah nama2 para penyemangat Luvi..


Yang menjadi sorotan Jestin adalah ...


"JEON JUNGKOOK" Masuk dalam daftar.


Ahhh.... Jestine buru2 menutup buku itu. Dia seketika merasa ingin marah saat membaca kalimat di bawah nama Jungkook yang berisi...


"Jungkook ah, meski kau tak mengenalku. Aku sangat mencintaimu melebihi seorang idol"


Jestine ingin membanting buku tersebut tapi diurungkannya.


"arrrgghhhh"


"Apasih si jungkook, jungkook, jongkok kali" dia kembali menyimpan buku tersebut dan berlalu keluar kantor, memasuki mobilnya dan melaju pulang ke rumahnya.


"bikin kesel tu si Jungkook" gerutu Jestine terus menerus


"Luvi kamu cinta sama artis yang gak kenal kamu.. hahaha" Jestine tertawa sambil memutar stir untuk memarkirkan mobil di sebuah Caffe, dia sengaja mampir untuk membeli Coffe dulu.


Sambil menunggu pesanan nya, Jestine merogoh ponselnya dan masuk ke laman pencarian.


Mengetikkan nama "Jungkook BTS"


Muncul lah beberapa gambar Jungkook, mulai dari yang lucu menggemaskan, anak gaul kekinian, hingga yang manly sampai yang hot...


"Hmmmm.. seperti ini" Jestine bergumam sambil memonyongkan bibirnya.


Karena pesananya telah selesai, dia kemudian pulang menuju rumahnya.


"Hai mam... aku pulang" Jestine memasuki rumah dengan sapaan ramahnya


"Hai Jest, cepat mandi, supaya makan malam, dan beristirahat ya" mama Lusi sedang menonton TV


Jestine merebahkan tubuhnya di kasur nya yang empuk, dia kembali lagi membayangkan kejadian siang tadi saat Luvi terjatuh dalam dekapanya..


Kemudian.. ayahnya yang meninggal. Pasti sangat sulit bagi Luvi karena dia hanya tinggal sendiri di kota besar ini, pasti dia sangat kesepian.


Dan Jungkook... jestine langsung duduk mengingat nama jungkook..


Sehebat apa sih si artis itu sampai si Luvi cinta sama dia.. pantes aja semua barang-barang Luvi, dipenuhi tulisan, stiker, gambar, foto.. Jungkook JK BTS


Mulai dari case hp, hoodie, kaos, liontin kalung, hiasan kamar, ahh semuanya...


Ditengah lamunannya, Jestine teringat janjinya semalam. Yang akan membantu Luvi membawa barang-barangnya ke apartemen.


Dia mengambil ponsel dan menekan nomor Luvi,


Sesaat kemudian...


"Udah Jest, aku bersama Clara jadi cepat"


"Eh, bagaimana keadaan Clara?" Jestine tiba2 menanyakan Clara


"Hmmm... baik dia baikk, kenapa? Khawatir ya sama Clara?" Luvi meledek Jestine dengan melirik Clara


"Eh, aku mastiin si Clara gak di apa-apain si buaya jantan itu" gerutu Jestine kesal dengan ledekan Luvi


"Apaan sih" Clara yang tak mengerti arah pembicaraan bertanya kala mendengar namanya disebut.


"Jestin.. di sana ada berapa kamar?"


"2, kamar utama dan kamar tamu"


"Hmm dikamar utama ada beberapa fotoku, jangan kamu pindahin ya" Jestine yang telah tau luvi akan menghias kamar itu melarangnya secara tak langsung


"Terus ada beberapa poster kesukaanku"


"Iya iyaa..." Luvi hanya mengiyakan.


"Jam 8 aku sampai disana, daaa" Jestine buru-buru menutup telepon nya.


Jestine setengah berlari mengambil kunci mobilnya, tanpa berganti pakaian dia menuruni anak tangga menuju garasi.


"Ma, aku pergi dulu ada urusan" Jestine membuka pintu dan keluar.


Lusi yang telah terbiasa melihat hal itu hanya geleng-geleng kepala.


Jestine menuju ke toko aksesoris, dia membeli lem gunting bingkai, poster mobil, poster actor Hollywood di film action. Cukup banyak dia beli... kemudian membayar dan kembali melesat menuju apartemennya.


Apartemen itu memang sudah dibersihkan oleh orang suruhan Jestine karena telah lama tak ditinggali pasti berdebu, tadi malam ketika pulang mengantar Luvi dia langsung menyuruh orang suruhannya itu membersihkan apartemen, karena Luvi akan tinggal disana.


Jestine bergegas memasuki kamar apartemennya, dan segera menempeli dinding-dinding kamar dengan poster yang tadi di beli nya.


Yang sebelumnya kamar kosong melompong, sekarang penuh dengan poster2 tak beraturan.. dasar si Jestine..


"Ahhh akhirnya selesai" Jestine tersenyum puas melihat hasil kerjanya.


Dia merapikan sampah, dan membersihkan semuanya, kemudian dia mandi membersihkan tubuhnya.


Pakaian Jestine masih ada di apartemen ini, karena sewaktu-waktu dia akan kesini ketika penat di kantor.


*


Jam 7.40 malam, Jestine melajukan mobilnya ke kosan Luvi.


Dia juga membeli beberapa box nasi dan ayam goreng, karena tadi pas menelpon Luvi tak sempat masak dan belum makan.


Jestine sampai dan segera memanggil Luvi, kemudian membantu membawa 2 koper besar ke dalam mobil di bagian belakang.


Clara membawa satu koper kecil. setelah aman, mereka melesat ke apartemen Jestine.


"btw, makasih loh tumpangannya" Clara membuka percakapan


"tadi malam gue mabuk, kata Bibi dirumah seorang laki2 ngantar gue balik"


"dan tadi aku baru tau dari Luvi, itu Sam" Clara terus saja berbicara


"bilangin makasih ya, sama teman lo itu"


"hmmmm" Jestine hanya berdehem pelan


syukurlah si Sam gak macam2 pikir Jestine.


"aku beli makanan, nanti sampai diapartemen makan ya ini" Jestine berhenti karena memang sudah sampai di Lobby bawah


Luvi tersenyum dan mengambil makanan tersebut.


Jestine mengeluarkan 3 koper pakaian mereka, dan memberikan kepada petugas disana, mengisyaratkan untuk diantar ke nomor 15.


Jestine memberikan access card kepada Luvi dan Clara.


"Sorry ya, gak bisa antar sampai atas, aku ada urusan"


"kalian di antar mbak ini, kalau ada apa2 hubungi aku" Jestine tersenyum senang kepada Clara dan Luvi, sungguh manis senyum itu...


"aku pergi dulu" Jestine memasuki kursi kemudi dan melesat meninggalkan gedung apartemen itu.


"Jestine... kalau dipikir2 baik banget ya" Clara masih memandangi mobil Jestine


"iya.. tapi dia ngeselin tau sebenarnya" sahut Luvi


"hmmm.. tapi dia kaya dan tampan. kamu gak jatuh cinta sama dia?" Clara kembali bertanya


"terus dia masih muda, perhatian lagi sama kamu, sama aku. jarang loh ketemu orang yang gitu" Clara terus saja berbicara


"tapi dia punya kisah cinta yang malang, sama kayak aku, diselingkuhin. gak gampang ra buka hati buat orang baru"


"ahh...lagian aku udah ada penghibur yang ga akannpernah menyakitiku, Jungkook saranghae" Luvi tersenyum memeluk tasnya


"aishhhh....." Clara mendengus kesal


...■■■■■■■■■...


...ohh ternyata Luvi pernah patah hati, pantes gak klepek2 di ditatap Jestine dengan senyuman nya yang bikin diabetes itu, plus badan atletis sempurna.. pantengin terus ya. jangan lupa tinggalin jejak. dukung author yang gak sempurna ini hehe.... bye......