My Bias Is My First Husband

My Bias Is My First Husband
#8 perasaan aneh



"ihhh lucu bangett"


"Jin hyung, Taehyung, Hobi manis banget"


"Jungkook, arrghhhh warna rambut baru lagi, gemes banget"


Luvi sibuk memandangi satu persatu photocard yang di dapatnya,


Jestine menoleh sesekali ke arah Luvi, sedikit senyum terlukis di sudut bibir tipisnya itu


"Sebegitu sukanya kamu sama mereka" celetuk Jestine masih tetap fokus mengemudikan mobil


"mereka sahabat yang selalu menemani aku, menguatkan, dan menghiburku dengan lagu mereka" masih terus tersenyum menatap foto2 itu kemudian menoleh ke kursi kemudi


"ini pacarku, masa depanku" seraya menunjukkam 1 foto kepada Jestine


"namanya Jungkook, dia paling muda dari member lain, multitalent lucu dan gemesin" Luvi berceloteh panjang lebar dengan wajah yang berseri2


Jestine hanya melihat dengan senyuman seraya mengingat nama orang yang ditunjukkan Luvi tadi "Jungkook" kemudian kembali fokus menyetir.


"Vi, kita sudah sampai" Jestine menghentikan mobilnya tepat di depan kosan Luvi


"Vi, gimana kalau kamu tinggal di apartemenku aja? kebetulan sekarang kosong, waktu aku kuliah aku disana karena lebih dekat ke kampus dan dekat juga ke kantor, dan kamu bisa lebih hemat buat nabung untuk mengejar oppa2 korea mu itu" Jestine menyampaikan maksud baiknya itu karena merasa Luvi akan kerepotan ke kantor dengan ojek online terus menerus.


hmmm... Luvi tak berpikir..


"kalau kamu takut sendiri, ajak aja teman kamu itu..siapa.. si Clara" Jestine seolah mengetahui isi pikiran Luvi


Luvi yang mendengar penuturan Jestine berpikir keras, benar juga dia bisa menabung, dan lebih hemat karena tak perlu membuang ongkos ke kantor.


"berapa sewa nya/bulan?" tanya Luvi polos


Jestine terkekeh..


"setara dengan harga hatimu" Jestine mengacak rambut Luvi hingga sedikit berantakan


"hati? aku serius Jest. aku tak mungkin tinggal begitu saja disana. bisa dicicilkan?" Luvi membenarkan rambutnya yang acak2an sambil memandang Jestine menunggu jawaban


"iya Vi bisaaa" malam besok aku bantu kamu bawa barang2 kamu ya


"thank you Jestine, bos ku yang paling baik" dia pun berjalan setengah melompat menuju kamarnya


"Dia begitu dewasa... tapi terkadang kekanak2an .. sungguh semua itu membuatku gemas" Jestine bergumam menggeleng kepala


drrrttttt drttttrttt


panggilan telepon dari seseorang


"hallo"


"Jestine, kamu dimana?" tanya sam dan kedengarannya tergesa2


"aku abis antar Luvi, oya kamu antar si Clara itu pulang ya, jangan kau bawa kemana2 dia" ancam Jestine setengah marah takut kalau2 Sam berulah


"Dia mabuk Woi, aku tak tau dimana rumahnya, apa aku bawa ke apartemenku aja?" Sam tertawa pelan dengan maksud meledek Jestine


aishhhh...


"tunggu, aku tanya Luvi alamatnya" kemudian Jestine berlari menuju kamar Luvi yang terletak di lantai 2 dan mengetuk pintu nomor 6 bertuliskan "JK is my boy"


hahaha... benar2 nih si Luvi, sampai kalimat begini taroh di depan pintu


"ada apa lagi Jestin?" seraya membuka pintu,


Jestine terperangah, melihat isi kamar Luvi yang dipenuhi photo2 member BTS, figure, aksesoris, serta quotes menggantung indah disana...


"wahhhhh...." Jestine memandangi kamar itu dengan takjub


namun ia tersadar ketika, Luvi memukul bahu nya


" Ada apa?"


"kasih tau ke sam alamat Clara, dia akan mengantar pulang, Clara mabuk" Jestine segera menyodorkan ponsel yang masih terhubung ke Sam


"Jln Angrek...bla bla bla"


Jestine yang takjub nyelonong masuk dan berbaring di kasur empuk Luvi


"Ini ponselmu, hei ngapain kamu tiduran disitu?"


"aku lelah, boleh gak aku disini aja?" Jestine menjawab acuh sambil memandangi foto2 BTS yang sengaja Luvi taroh di nakas.


satu buah bantal mendarat di wajah Jestine hingga membuat foto2 itu jatuh berserakan di kasur.


"Pulang lah Jest, ini kosan ku" gerutu Luvi menarik tangan Luvi keluar


"aww sakitt .. tanganku bisa patah"


"hanya kamu yang berani mengusir seorang CEO tampan sepertiku" jestine cemberut tak lupa menyombongkan diri


Luvi menutup pintu dengan cepat.. lalu menghela nafas dan merapikan foto2 BTS yang tadi berserakan.


"ada apa dengan si jestine kenapa beberapa hari ini aneh, apa karena baru putus dari Cia?"


"pasti dia sangat terpuruk"


"terus nyari pelampiasan, dasar lelaki"


Luvi memiringkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, wajah Jestine terus saja menari2 di pikirannya.


"aku harus membantu Jestine move on, kemudian dia mengeluarkan beberapa foto member blackpink yang ia simpan di laci nakasnya" Luvi tersenyum ntah apa yang ia pikirkan melihat foto2 itu


tiba2 Luvi tersentak, "kalo aku pindah ke apartemen nya, berarti aku harus mencopot semua poster dan mendekor ulang dong"


"capek"


"tapi kenapa Jestine begitu pengertian ya, dia tau aja kalau aku sedang menabung mengumpulkan uang" hmmmm


tak mau ambil pusing Luvi mengambil selimutnya dan terlelap bersama mimpi2 indahny


***


Jestine terbangun karena teriakan Jolyn begitu lantang dibalik pintu kamarnya.


"aishhhh, anak itu" Jestine menyibakkan selimutnya dan berjalan menuju pintu


"haii kak... kalau mau ngebo besok aja hari minggu" Jolyn memangku tangan judes


"Plakkk" kepalan Jolyn terkena jentikan jari Jestine


kemudian Jestine menutup pintu kamarnya, dan hampir mengenai wajah Jolyn


"dasar si Jestin sialan..." gerutu Jolyn marah2 sambil menuruni anak tangga


Jestine kembali berjalan gontai ke arah tempat tidurnya, tubuh atletis itu hanya di balut celana pendek dan baju kaos tipis, dengan sedikit rambut berantakan khas bangun tidur ia meraih ponselnya di nakas.


"jam 06.50" gumamnya, kemudian mengambil handuk dan segera mandi.


setelah mengeringkan rambutnya dan berpakaian rapi, Jestine melangkah keluar kamarnya dan menuruni anak tangga menuju ruang makan.


"pagi mam" Jestine menyapa ibunya ramah, dan melirik ke arah Jolyn namun dengan muka datar.


tiba-tiba...


"kak, lo sama Cia gimana?"


"kemarin aku liat di mall, dia lagi gandengan tangan sama lelaki tinggi gitu, mesra banget" celoteh Jolyn panjang lebar sambil menggigit potongan roti tanpa rasa bersalah


"mungkin pacarnya" Jestine pun menjawab dengan enteng sambil mengunyah sarapannya.


Mama Lusi yang seakan mengerti atmosfir suasana hati Jestine, menepuk pundaknya.


"mama dukung apapun keputusan kamu Jest, asalkan telah kamu pikirkan dengan matang, dan jangan mengambil keputusan dalam keadaan emosi"


"sudah lama aku ingin mengakhiri nya mam, tapi baru resmi kemarin"


"apa itu ada hubungannya dengan lebam di wajahmu?" Lusi menyelidik


"iya, selingkuhan nya yang brengsek itu memukulku, setelah aku menghantam wajahnya" Jestine seperti sedang tersulut emosi lagi


Lusi menghela nafas berat, Dia tau Jestine sudah terbawa emosi, dan dia bisa merasakan bagaimana perasaan Jestine ketika kejadian itu


"kamu sudah dewasa Jest, selesaikan masalah dengan kepala dingin. jadilah lelaki yang bijak, apalagi kamu sekarang kepala perusahaan" Lusi terus menasihati dengan bijak


"dengerin tuh kak, lagipula masih banyak wanita baik diluaran sana" Jolyn menyudahi sarapannya dan hendak berangkat ke kampus


"daaa mama sayang, daaa kak Jestine malang" Jolyn berlalu keluar sambil terkekeh


"iya Lyn, hati-hati ya. jangan ngebut bawa mobilnya" jawab Lusi


sementara itu, Jestine hanya menirukan kata-kata Jolyn tanpa suara.


"kamu harus kuat Jest, suatu saat nanti pasti kamu dapatkan orang yang benar-benar tulus padamu" Lusi memeluk Jestine dengan lembut.


Jestine selesai sarapan dan bergegas menuju mobilnya yang terparkir di garasi,


mematikan mode lock key, membuka pintu dan duduk di kursi kemudi melajukan mobilnya menuju kantor.


"pagi pak"


"pagi pak Jestine"..


sapa karyawan dan staff yang berpapasan dengannya.


sampailah Jestine dilantai 11 dan segera menuju ruangannya.


hari ini Jestine ada meeting dengan pemborong kontruksi pembangunan Vila di daerah Bali yang telah berjalan sebelum dia menjabat sebagai CEO, namun terkendala karena salah satu bawahannya menyalah gunakan dana.


"Jestine, pertemuan dengan pihak Recta Cons jam 10, ini berkas-berkas dana yang di selewengkan" pak Dino memberikan map berwarna coklat kepada Jestine


"disana tertera, dana 20M, tapi hanya 16M yang baru di terima Recta Const"


"sementara keuangan telah menyerahkan semuanya kepada kepala bangunan yang korupsi itu, disitu ada bukti penerimaanya" pak Dino menjelaskan kembali akar masalahnya.


"apakah orang itu sudah ditemukan?" Jestine bertanya penasaran


"belum, sudah 3 bulan dia menghilang"


"aishhh, bisa-bisanya dia kabur tanpa bertanggungjawab"


Pak Dino keluar ruangan Jestin saat Luvi hendak masuk, mereka berpapasan di pintu.


"pagi pak dino" sapa Luvi dengan sopan


"pagi Luvi" pak Dino tersenyum dan berlalu.


"Haii.. pagi pak Jestine" sapa Luvi menyapa Jestine yang tampak memijat pelipisnya.


"Vi, kamu siapkan dokumen ini ya, salin semua file yang ada disini untuk dibawa ke meeting nanti" Jestine memberi perintah kepada Luvi.


Luvi yang memang sudah mengetahui jadwal itu, mematuhi perinta Jestine. mengambil dan segera pergi dari ruangan Jestine.


"Vi, apakah Clara baik2 saja?" Jestine bertanya saat Luvi hendak meraih handle pintu


"aku belum menghubunginya"


"nanti selesai pekerjaan mu, tanyakan dia ya" Jestine sedikit khawatir kalau-kalau Si Sam temannya yang sialan itu berulah kepada Clara.


"iya".... Luvi berlalu keruangannya.


jam 09.30..


Luvi melirik jam tangannya dan bersiap untuk berangkat meeting bersama pak Dino dan Jestine.


Meeting berjalan lancar, pihak Recta Cons memahami penjelasan Jestin dan bersedia memberikan tenggang waktu selama 1 bulan untuk mengatasi masalah tersebut, dan pembangunan tetap berjalan.


itu semua berkat kelihaian Jestine dalam mengemukakan pendapatnya, ketegasannya dan kejelasannya dalam merencanakan hal-hal yang akan mereka lakukan, sehingga diterima baik oleh pihak Recta Cons.


mereka makan siang bersama, setelah selesai mereka mengakhiri pertemuan itu dan saling berjabat tangan. Mereka kembali menuju kantor yang tak seberapa jauh, hanya butuh waktu 15 menit mereka telah tiba di kantor.


***


Luvi kembali ke ruangannya, untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.


drrrrdddtt drrrttttt


ponsel Luvi bergetar


"Hallo"


"Vi, mau Capuccino dingin gak?"


"tidak, kau saja" jawab Luvi, ternyata Jestine yang menawarkan minuman tersebut.


tak lama kemudian..


Clek... pintu terbuka


tampak lah sesosok lelaki tampan, mengenakan kemeja tanpa jas membuat badan atletisnya tercetak jelas, gesper melingkar di pinggang rampingnya yang mengenakan celana polo sesuai dengan postur pahanya, bibir tipirnya melukis senyum yang siapa saja bisa diabetes melihatnya.


"Ini untukmu" Jestine menyodorkan 1 cup minuman kepada Luvi


"aku kan sudah bilang ti..." Luvi tertahan ketika Jestine membalikkan Cup minuman yang bagian atasnya terdapat foto BTS


"wahh...dimana kau membelinya?" Luvi segera berdiri dan meraih minuman itu.


"huft.... ini untuk pak Dino" Jestine segera meninggikan tangannya.


"ihh... aku aja, aku mau, siniin Jest" Luvi melompat berusaha meraih Cup Capuccino dingin itu.


"ini untuk pak Dino..hehehe"


Luvi yang kesal menggelitik pinggang Jestine, hingga membuat dia terhuyung dan terjatuh ke belakang, tapi tangan kanannya tak sengaja meraih pinggang kecil Luvi dan......


Jestine dan Luvi terjatuh dengan minuman berhamburan di lantai, posisi Luvi diatas tubuh Jestin, dan tangan Jestine masih memegang bahu, dan tangan kanan nya masih di pinggang Luvi.


manik mata mereka saling menatap dalam, jarak wajah yang sangat dekat sehingga setiap hembusan nafas Luvi yang menyapu wajah Jestin membuat dia begitu terpana.


dada mereka yang saling menempel membuat Jestine bisa merasakan ada dua benda kenyal yang menciptakan kehangatan disana...


seketika degub jantung Jestine tak beraturan.


rasa anehhh itu datang lagi.


"tuhkannn.... jatuhhh" Luvi segera berusaha bangkit membuyarkan lamunan Jestine


"lagian kamu sih, maksa banget" gerutu Jestine membuang muka malu nya.


kejadian itu hanya terjadi sekian detik, namun sukses membuat Jestine kacau.


perasaan aneh itu datang setiap kali dia berdekatan dengan Luvi. dan hari ini semakin menyiksa...


...■■■■■■■■...


hai readers, jangan lupa tinggalin jejak ya. supaya author semangat up nya hehe, semoga sehat selalu ya, jaga kesehatan hindari kerumunan, cuci tangan dan pakai masker. borahae💜