My Bias Is My First Husband

My Bias Is My First Husband
#15 pelukanmu



Ketika mendapat informasi dari pak Dino mengenai pembangunan proyek di Bali Jestin menghela nafas lega.


karena semua pembangunan proyek berjalan sesuai rencana, untuk hutang kepada Recta Cons Jestin memilih untuk melunasinya langsung.


supaya Jestine bisa fokus mencari si koruptor, yang membuat tim perusahaan kocar kacir kehilangan dana 4M,


walaupun nominal itu terbilang kecil untuk ukuran perusahaan sebesar Walton grup, tetap saja akan menjadi pengaruh buruk di kemudian hari apabila tak segera diselesaikan.


mengingat ada banyak investor dan pemegang saham yang turut menanamkan modal di perusahaan tersebut.


"Vi, adakan pertemuan nanti jam 10.00 mengenai proposal desain furniture interior villa ya, sesuai dengan konsep vila yang mengusung semi tropis" Jestin memberikan selembar kertas yang berisi informasi mengenai Villa tersebut


Luvi yang sedari tadi disibukkan dengan setumpuk dokumen yang harus di salin, berdiri dan mengambil lembaran kertas tersebut.


dan berlalu keluar untuk menyampaikan Informasi meeting ini kepada karyawan.


dan begitulah kesibukan mereka selama seminggu ke depan, menyiapkan berbagai keperluan yang dibutuhkan untuk merampungkan pembangun villa tersebut.


*****


"Jest, ini cicilan hutangku" Luvi menyerahkan amplop kecil berwarna krem kepada Jestine


"hutang apa?" Jestine bingung, namun tetap mengambil dan membuka amplop tersebut.


disana terdapat 30 Lembar uang warna merah bergambar Soekarna Hatta.


"itu cicilan pertama apartement" Luvi tersenyum sangat manis dan hmengambil sumpit untuk menikmati spagethy yang dipesannya.


Luvi menyisakan 30% dari gajinya untuk menyicil apartemen yang jelas-jelas telah diberikan Jestine kepadanya.


Luvi merasa tak enak hati hanya menerima mentah-mentah pemberian Jestin. sebelumnya dia juga telah berjanji akan menyicilnya.


"memang sih gak seberapa dibanding kekayaan kamu yang melimpah ruah itu, tapi itu bagiku tetaplah bernilai, tolong diterima ya"


Luvi memasukkan amplop itu ke dalam genggaman Jestine, dan mengarahkan jari jemari Jestin untuk menggenggamnya rapat.


Jestine hanya diam terkesima menatap wajah teduh Luvi, sungguh dia kagum dengan wanita di hadapannya ini.


"Ekhemmmm" Luvi sengaja terbatuk untuk membuyarkan lamunan Jestine yang terlihat mematung menatapnya


"ayo buruan dimakan" Luvi memberikan sumpit kepada Jestine,


"Aku akan menyimpannya" Jestine tersenyum dan mengambil Sumpit dari tangan Luvi


suasana riuh obrolan pengunjung di restoran bersahutan dengan suara piring dan petugas yang tampak sibuk dengan aktivitas mereka.


Jestine dan Luvi menikmati makan malam mereka dengan nikmat, setelah berhasil menyelesaikan pekerjaan padat selama seminggu ini.


rencananya karena besok weekend, Jestine menawarkan diri untuk menemani Luvi mencari buku referensi untuk keperluan skripsinya.


"Jest, kenapa kamu begitu baik sama aku?" Luvi bertanya sambil memandangi jalanan lurus di kaca depan mobil.


"karena kamu Luvi" Jestin menjawab dan masih fokus menyetir


"kenapa?"


"karena aku kaya" Jestine tersenyum tanpa dosa dengan ucapan sombongnya.


Luvi memutar bola matanya malas seraya menirukan ucapan Jestine tanpa suara..


Luvi menyadari perlakuan Jestin sangat manis dan lembut, berbeda dengan kata-katanya yang sering membuat naik darah.


Bagi Luvi sangat menyebalkan membahas hal serius dengan Jestin karena Jestine akan bercanda terus menerus, kecuali masalah kantor.


Jestine akan berubah dingin, dan profesional apabila pembicaraan menyangkut pekerjaan dan kegiatan perusahaan.


Mobil Mercedez Benz tersebut sampai di Lobby Tower A tempat kamar Luvi berada.


Luvi melepas seatbelt nya dan membuka pintu kiri depan, Jestine pun ikut turun.


"besok ku jemput kamu jam 10.00 ya" Jestine mengusap puncak kepala Luvi.


perlakuan Jestin itu selalu membuat jantung Luvi berdegub tak karuan.


"Iya, awas aja kalo telat" ancam Luvi menatap tajam Jestine.


Luvi membersihkan dirinya dan berendam di bathup, seraya memutar lagu kesukaannya.


rasanya melegakan, pekerjaan yang membuatnya lembur selama seminggu sudah selesai.


dia bisa fokus mengerjakan skripsinya yang terbengkalai, agar cepat-cepat lulus.


Luvi mengambil handuk dan memakai pakaian santainya, seperti biasa kaos oversize dan celana pendeknya.


Luvi tak terbiasa memakai piyama, karena menurutnya itu sedikit ribet


Luvi merebahkan tubuhnya dikasur empuk, dia akan beristirahat dengan tenang malam ini...


"hhhhhh Leganya" Luvi menghirup udara dalam, dan tersenyum puas


Thinggg...


ponsel Luvi berdering menandakan ada pesan masuk.


Luvi meraih ponsel bermerk samsung itu diatas nakas, membuka kunci ponsel dan mengecek pesan yang masuk.


ternyata berisi transferan dari rekening bernama Jestine Walton sebanyak 300 juta. Luvi menghitung nol setelah angka 3 dan jumlahnya ada 7.


Luvi terbelalak melihat angka-angka itu.


layar ponsel itu menampilkan pesan dari Jestine.


"ini cicilanku, karena kau selalu menemaniku" begitulah isi pesan tersebut.


membuat Luvi tersinggung. rasanya dia seperti barang yang seolah-olah di cicil dan di bayar karena telah menemani Jestine.


"ayo bertemu" balas Luvi dengan singkat, karena hatinya sudah diselimuti kekesalan dengan kata-kata Jestin


"buka pintunya, aku sudah di depan" notif pesan dari Jestine yang tampak timbul dari layar ponsel


Luvi terperanjat, tak percaya. secepat itu? ah ada urusan apa dia kesini? sengaja kesini? Luvi menerka-nerka namun kekesalan nya belum lah runtuh


Luvi membuka pintu dengan raut wajah malas, tergambar jelas diwajahnya menggambarkan kekesalan.


"aku kesini karena aku tau kamu akan kesal membaca pesan itu" Jestine berlalu menenteng sebuah paper bag berisi martabak coklat durian kesukaan Luvi


Luvi masih diam memangku tangannya mengikuti Jestine menuju sofa.


"aku bukan barang Jest, aku bukan menemani lalu kamu bayar" nada berat suara Luvi tampak menahan tangis, sepertinya Luvi benar-benar tersinggung.


Jestine berdiri dan meraih tangan Luvi, lalu merangkul dan memeluknya.


namun dengan wajah kesal menahan amarah, Luvi mendorong tubuh atletis itu hingga tersentak ke dinding.


"Vii.. dengerin aku dulu" Jestine berusaha menenangkan Luvi yang tampak mulai menangis.


sungguh bukan begini rencana Jestine, melihat Luvi menangis Jestine merutuki dirinya sendiri dalam hati.


"apa aku serendah itu? apa aku semiskin itu dimata kamu?" Luvi menahan airmatanya agar tak jatuh, namun butiran bening itu tetap saja membasahi pipinya.


"Vi.. aku tak bermaksud seperti itu" Jestine mengeluarkan suara tingginya.


Luvi terdiam mendengar suara tinggi Jestine, sungguh Luvi merasa takut dan sedih...


melihat wajah gugup dan takut Luvi, Jestine kembali merangkul dan memeluknya.


"Maaf" sebuat kata penuh penyesalan terucap dari bibir tipis itu


Luvi hanya diam mematung dalam pelukan Jestine, walaupun dia begitu kesal pada Jestine, pelukan inilah yang menenangkan nya, pelukan seperti inilah yang dibutuhkan nya.


"begitulah rasanya saat kamu memberikan amplop uang tadi kepadaku" Jestine bersuara tenang sambil mengusap pundak Luvi


"kau menganggap ketulusanku memberi adalah sesuatu yang harus kau cicil. padahal aku tak menjualnya" Jestin bersuara dengan nada sedih


Luvi meneteskan airmatanya kembali mendengar penuturan Jestine,


"bukan begitu maksudku" Luvi berusaha menjawab dengan suara beratnya


"akupun tak bermaksud seperti yang kau pikirkan" Jestine menjawab cepat, dan mengeratkan pelukannya.


Luvi menyadari tak seharusnya ini dipermasalahkan, Luvi juga baru mengerti bahwa Jestine juga tersinggung atas perlakuannya dengan amplop tadi.


"Maaf" suara Luvi begitu pelan... diliputi rasa bersalah.


Jestin merenggangkan pelukannya, menangkup kedua pipi Luvi, dan menatap wajah yang basah dan merah karena menangis itu.


"Vi, semua yang ku berikan tulus, jangan pernah hargai itu dengan uang"


"sama seperti yang kamu rasakan, aku juga seperti itu ketika kamu memberiku uang" Jestine berucap serius dengan mata sayu.


Luvi menunduk terharu, dia menyadari tingkahnya lah yang membuat kacau. harusnya dia bersyukur memiliki seorang Jestine yang begitu baik dan peduli padanya.


tak semua kebaikan harus dibalas dengan uang.


Luvi memeluk pinggang ramping Jestin, yang mengenakan kaos oversize sama seperti dirinya.


Luvi membenamkan wajah malu dan rasa bersalahnya di dada Bidang Jestin.


sungguh bagi Luvi ini sangat nyaman, rasanya ingin setiap hari seperti ini. rasanya ingin memiliki tubuh ini sepenuhnya, memeluknya setiap saat.


Jestin membalas pelukan Luvi dengan lembut, rasanya ingin waktu berhenti saat ini, betapa nyamannya pelukan ini. pelukan orang yang sangat di kaguminya, pelukan orang yang ingin dia lindungi lahir dan batin.


"udah.. jangan menangis lagi" Jestine mengusap airmata Luvi dan mengajaknya duduk di sofa.


mengambil ponsel dikantongnya dan Crekk....


wajah sembab Luvi terpampang dilayar ponsel Jestine.


Jestine memotret dengan cekatan, hingga tangan Luvi terlambat tuk menutupi wajahnya


"kirim ke Jungkook ah" Jestine menggoda Luvi dengan suara khasnya


"Jestinee hapus" Luvi berusaha mengambil ponsel itu, tapi dijauhkan oleh Jestine.


Luvi manyun dan berdecak kesal.


Cupp.... bibir itu dikecup sekilas oleh Jestine.


"apa apaan sih jest" wajah Luvi bersemu malu menepuk mulut Jestin.


"mau gak ya, Jungkook berbagi wanita nya dengan aku" Jestine menatap poster Jungkook di dinding dengan mimik wajah memohon.


seketika Bibir Luvi melukis senyum, terharu dan bahagia melihat tingkah Jestine, sungguh Jestine selalu bisa mengobati keresahan di hatinya.


...■■■■■■■■...


...happy reading, tinggalin jejak ya. mari kita saling support....