
Jestine sampai di kantornya kembali. Dia segera masuk lift dan menekan nomor 10, menuju ruangan Mendiang pak Wira.
Jestine memandangi foto pak Wira yang terpajang di lemari, mata nya menerawang jauh mengingat semua kejadian masa lalu bersama papanya.
"Pa..aku merindukanmu" lirih jestine, matanya sudah berkaca-kaca.
Tak mampu di tahan, buliran airmata itupun jatuh di pipi mulus Jestine...
Jestine sangat merindukan papanya. pak Wira selalu menemani Jestine menonton bola, bermain catur, bermain golf atau tenis lapangan ketika weekend.
di sela-sela itu, pak wira mengajarkan bisnisnya, karena Jestine lah penerusnya...
Setelah puas mencurahkan perasaan rindunya, Jestine menuju ruangannya di lantai 11. Rencananya besok dia akan berkunjung ke makam papanya.
Karena sudah malam, Jestine memilih untuk tidur di kantor, kamar tersembunyi dalam ruangannya berukuran sedang, sangat nyaman dan tenang.
Dia menjatuhkan tubuhnya di kasur dan mengambil ponsel.
Jestine hendak menelpon Luvi, namun tak ada jawaban. Sepertinya sudah terlelap.
Sudah menunjukkan pukul 01.00 Jestine juga belum mengantuk, dari tadi dia menghabiskan setengah malam dengan bermain game kesukaan nya.
Jestine mengambil laptop dimeja kerja nya dan beberapa berkas, buku catatan Luvi juga dibawanya ke kamar tersembunyi itu.
"Apa Luvi sudah punya pacar ya?" Gumam Jestine memasuki kamar itu
Jestine membuka lagi buku catatan biru teduh itu.
Dia membaca halaman demi halaman.
"Wah disini hanya ada tentang Jungkook, Jungkook dan Jungkook" Jestine masih terus bermonolog sendiri.
"Luvi... bisakah aku jadi jungkook dihidupmu" Jestine memandangi buku itu dengan mata sayu lalu menutupnya dan menyimpannya di lemari.
Jestine rupanya tertidur dalam keadaan laptop yang masih menyala dan berkas-berkas yang masih berantakan. Memikirkan Luvi membuatnya lelah dan mengantuk.
~pagi hari~
Jestine bangun tepat waktu walaupun dia tidur larut malam, hari ini Jestine berencana mengajak Luvi ke makam pak Wira.
"Vi... kamu temani saya keluar ya" ajak Jestine sepihak
"Kemana?"
"Nanti kamu akan tahu" Jestine menjawab dingin
Luvi bergegas mengambil tasnya, dan segera turun menuju mobil Jestin yang telah turun duluan menunggu di mobil.
"Sebenarnya mau kemana Jest?" Tanya Luvi bingung dan penasaran
"Ke rumah papa"
"Ke makam pak Wira?" Luvi membelalakan mata. Luvi telah mengetahui informasi itu dari orang di kantor, bahwa pak Wira meninggal karena kecelakaan oleh karena itu Jestine lah yang menggantikkannya.
"Hmmmmmmm" Luvi manggut2
Jestine membeli satu bucket bunga yang masih segar di toko flower dekat makam, kemudian membawanya dan meletakkan diatas makam pak Wira.
"Pa... aku sekarang sudah bisa menjadi orang yang benar2 papa percaya"
"Aku sangat merindukan papa, papa akan tetap hidup di dalam hatiku" Jestin termenung menatap nama yang terukir di sebuah gundukan tanah itu.
"Aku juga punya sekretaris yang luar biasa pa" Jestine memalingkan wajahnya menatap Luvi yang berdiri di belakangnya.
Jestine berdiri perlahan dan maju.. satuu.. duaa... tiga langkah.
Dan tepat dihadapan Luvi, dia merentangkan tangan dan meraih tubuh Luvi ke dalam dekapannya.
"Vi, kamu ga sendirian, aku juga merasakan hal yang sama seperti kamu" sontak Luvi terkejut, namun berubah sayu ketika mendengar ucapan Jestine.
Luvi pun selalu merindukan ayahnya, bahkan Dia sering terbangun di pertengahan malam dan menangis.
Dia begitu rindu dengan sosok seorang ayah yang selama ini sangat menyayanginya.
Luvi membalas dekapan itu perlahan, kemudian mengeratkan pelukannya. Dia menangis...
"Menangislah Vi, itu bisa membuatmu lebih baik"
Jestine menyadari perasaan nya pada Luvi sudah tumbuh semenjak tiga bulan terakhir ini, tapi Luvi seperti tak pernah tertarik kepadanya.
Jestine sering menatap Luvi, memperhatikan Luvi, mengantar dan jemput meski Luvi menolak tapi tetap dilakukan Jestine itu semua adalah bentuk ungkapan perasaanya pada Luvi.
Tapi dia tak mau mengakui itu. Jestine merasa malu apabila ditertawakan oleh Luvi.
"Sehabis menangis, kamu harus lebih bahagia"
"Aku mengajakmu kesini bukan untuk bersedih, tapi mengingatkan kamu bahwa aku juga sama sepertimu"
"Dan mari kita terima semuanya dengan lapang, simpan papa kita di dalam hati, mereka akan tetap hidup disana"
Luvi tersenyum dalam tangisnya, rasanya sangat nyaman, sungguh nyaman seperti ini. Mempunyai seseorang yang menguatkan, memahami dan begitu peduli.
Sudah menjelang siang, mereka pun meninggalkan area pemakaman itu.
"Kita cari makan dulu ya" Jestine merangkul bahu Luvi dan membukakan pintu kiri mobil
"Stttttttt, gak penting" belum selesai Luvi bicara Jestine mengacungkan telunjuknya di bibir Luvi.
Luvi hanya menghela nafas pelan, bertanya sekali lagi pun pasti tak akan di jawab Jestine.
Jestine menyalakan mobil dan melaju dengan kecepatan sedang.
"Jest, kamu dekat banget ya sama papa kamu. Sama kayak aku dekat dengan ayah"
"Iya, dia papa yang sempurna, aku ingin seperti papa"
"Sama. Aku juga pengen punya suami seperti ayahku, ayah yang sempurna untuk kami anak2 nya" senyum mengambang menghiasi wajah Luvi
Tanpa disadari Jestine terpaku menatap Luvi setelah mendengar penuturannya itu, Jestine terpana menatap wajah ceria itu.
Hinga....
"AWWWhhh" kepala Luvi terbanting ke kaca mobil karena Jestine tiba2 menabrak lubang, dan untuk menghindari lubang lainnya. Jestine membanting stir ke kiri.
Jestine menepikan mobilnya, segera membuka seatbellnya dan memegangi kepala Luvi
"Vi.. kamu gak apa-apa?"
Luvi tertawa dan menampol wajah Jestine yang begitu dekat dengan wajahnya
"Aku gegar otak"
Wajah Jestine yang panik tak bisa disembunyikan, tapi mendengar candaan Luvi dia menghela nafas.
"Berarti gak ingat dong siapa aku?" Tanya Jestine sudah paham dengan candaan Luvi
"Gak, kamu siapa?" akting luvi seolah memang tidak tau siapa Jestine
"Aku suamimu, kita baru aja pulang dari RS check kehamilanmu" spontan Jestine berbicara apa yang ada dalam pikirannya
Luvi yang mendengar itu merasa malu, dan memukul lengan Jestine
"Apaan sih, galucu becandanya" jawab Luvi dengan pipi merona...
"Vi.. kalau aku jadi suami mu gimana?"
"Berarti aku jadi istrimu" Luvi menjawab enteng
"Kamu mau?"
"Ya gak lah, siapa yang mau jadi istri CEO aneh semacam kamu"
"Huh, kamu kira aku mau jadi suami kamu, kamu yang lebih aneh" gerutu Jestine tak mau kalah
merekapun sampai di sebuah restorant dan makan siang disana, setelah itu mereka menuju kembali menuju ke kantor.
di kantor Jestine dan Luvi tetap seperti atasan dan bawahan, itu semua mereka lakukan sebagai etika profesional dalam bekerja.
Jestine yang telah duduk di kursi kebesarannya saat ini, meraih ponsel hendak menghubungi Clara sahabat Luvi.
namun dia tak memiliki nomor ponselnya, Jestine pun menelpon Sam
"hallo"
"Sam, bagi nomor Clara"
"apaan si Lo jest, itu gebetan gue" Sam menjawab dengan lantang
"elah, minta nomornya doang. kaga gue gaet. gue ada perlu. buruan"
"kenapa gak minta sama Luvi aja?" Sam terus beralasan
"Dia lagi gak masuk kerja" bohong Jestine
"kan bisa lu telpon"
"gak aktif"
"datangilah ke rumahnya"
"Jauh"
"ngajak ribut lo ya sam, buruan. gue butuh" nada bicara Jestine mulai meninggi.
"iya..iya, gue kirim"
Jestine mematikan telepon tersebut tanpa aba-aba.
"Dasar nih si CEO gak ada sopan santunnya, bilang makasih kek" gerutu Sam memandangi panggilan yang terputus itu
*
Jestin menghubungi Clara untuk mengajaknya bertemu namun tidak boleh diketahui oleh Luvi.
...■■■■■■■■...
hayo Jestine mau ngomongin apa? happy reading. jangan lupa like and comment vote ya. dukung terus author yang tak sempurna ini. luv u💜